""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Jumat, 17 Agustus 2012

Di Area Pemakaman pada Ramadhan Ke 27

Remang senja kali ini begitu menyesakkan, 16 Agustus  kembali membuka cacatan usang tentangmu. Aroma parfummu hempaskan lamunan tiba-tiba. Ya wangi itu masih saja belum hilang setiap kali mengingatmu. Seperti senja ini di jalan setapak menuju makam.

“Wis…., akankah kita kan  bertemu lagi seperti senja ini….” Bisikku

Wisma  terdiam cukup lama, digenggamnya erat tanganku, mata sayunya berkaca-kaca menatapku. Semakin aku melihat betapa ayunya Wismarini.
“Aku tidak bisa ngomong apa-apa mas…” kembali menunduk, dan peluhnya mulai berbulir di pipi nya.
                                                                            
Aku hanyalah anak seorang peternak ikan, yang pas-pasan. Bahkan untuk membiayai sekolahku, aku harus rela tidak pulang hanya menunggui jebakan udang yang tiap pagi bisa kujual.
Namun, Wismarini tetap tak peduli, Gadis putri seorang camat itu masih saja menghiba dipundakku.

Itulah terakhir kutatap wajah sendu ayu sederhana seorang gadis desa, di pematang itu senja semakin redup, Wisma pun berlalu bersama wangi tubuhnya yang membeku dalam kabut senja.
                                                                       ***
Liburan kali ini tanpa sengaja aku kembali menyusuri jalan setapak menuju pematang terakhir desa Wismarini. Aku pulang untuk nyekar selalu menjelang lebaran dan kebetulan lebaran kali ini bertepatan dengan terakhir kali pertemuan itu.

Kususuri kembali jalan setapak menuju area pemakaman, suasana masih seperti  puluhan tahun lalu  ketika aku meninggalkannya. Angin masih saja sejuk, Burung, belalang dan gemericik ikan-ikan kecil selalu seirama dengan senja. Damai sekali rasanya. Terus kuberjalan Sore itu, Belum juga sampai di makam, sesaat  dari belakang kelokan  pematang lain muncul seseorang yang sekian lama menghilang dari pandanganku. Perasaan tidak karuan muncul, dingin telapak tangan tiba-tiba menjalar sementara panas terasa di wajahku.

“Wisma… benarkah kamu Wisma?”
Perempuan itu pun  terkejut sama denganku. Wajahnya masih seperti dulu, seperti puluhan tahun yang lalu. Mata sayu itu seakan tertegun melihatku, sesaat kemudian ronanya tampak memucat, senyum mengembang sesaat dengan dekik di pipi pun kembali kulihat.

“Mas Noegroho ya…?”  tampak gugup.

Benar, dia Wismarini  yang dulu sekali pernah kukenal. Jujur saja hatiku berbunga-bunga melihatnya. Detak jantungku masih terasa berdebar.
Ku langkahkan kakiku mendekati perempuan itu. Rambut panjangnya tergerai berkibar-kibar diterpa angin. Iya, keyakinanku memang benar, perempuan itu Wismarini.

“Kapan datang Mas...?” membuka pembicaraan.
“Semalam aku sampai, bagaimana kabarmu wis?"

Kami pun akhirnya saling bercerita. Aku masih terpesona dengan ayunya, bibir merahnya, hidung mancungnya, lesung pipinya, kulit putihnya yang bersinar. Aroma wangi tubuhnya terbawa angin dan membius,  kembali membawa aku ke puluhan tahun yang lalu.
.
“Oh iya Wis kamu belum menceritakan bagaimana keluargamu? kamu  pasti bahagia sekarang“ aku sedikit penasaran
“ Ah, Mas…” dia berhenti sebentar, kemudian dia melanjutkan
“setelah kepergianmu, aku selalu menunggu dan mengharap kepulanganmu. Tapi aku tidak pernah mendengar kabar darimu. Hinga suatu saat aku mendengar bahwa kamu sudah sukses di sana bahkan kudengar Mas sudah menikah. Saat itu hancur sekali hatiku mas…apalagi berikutnya aku di uji Mas, Bapak berpulang mendahului kami semua” Wisma berhenti sambil menghela nafas.

Wajahnya sendu, seakan menyiratkan kepedihan yang dalam. Terus terang saja aku kaget mendengarnya, aku tak mengira dia masih menungguku selama itu dan Ayah Wisma sudah lama tiada.

Mas ingat Kang Abdul ustadz di madrasah itu? Teman sepermainan Mas Noe saat kecil dulu?” katanya
“O Abdul itu ”
“Dia yang selalu menghiburku, dia yang selalu menjagaku, mendengarkan tangisku saat aku merindukanmu. Dia yang selalu ada untukku. Sampai suatu saat, ketika aku sudah dianggap perawan tua di kampung ini, Dia-lah yang meminangku. Meskipun dia tahu, tak sedikitpun cintaku untuknya, tapi dia menerimaku apa adanya”

Mata Wisma mulai berkaca-kaca, Aku serba salah, aku hanya terdiam tak bersuara, menunggu dia melanjutkan ceritanya.
“Kang Abdul begitu mencintaiku, bahkan sampai menjelang kematiannya, dia tidak pernah mengecewakanku” lanjutnya sambil pandangannya menerawang ke makam tempat tujuanku berjalan.
“Dia juga yang mengajarkanku, untuk selalu bersyukur, dan mencintai apa yang ada, termasuk setiap hari hanya sekedar hidup sederhana, …” tuturnya.
Kemudian Wisma menatapku, aku tidak kuat menatap kembali matanya. Aku merasa cintanya masih tersimpan utuh di hatinya. Aku mulai merasa sangat sangat bersalah. Cita-cita telah mengubah mata hatiku. Kesibukan telah membuatku lupa, apa itu cinta sejati.
Aku terdiam. Rasa bersalah menyebar ke seluruh tubuhku. Belum pernah jantungku berdegup kencang seperti ini, mungkin memang Wisma-lah cinta sejatiku yang selama ini telah aku lupakan.
“Maafkan aku Wis…. “ bibirku bergetar

Dia menatapku dengan tatapan  sayunya. Tersudut aku dalam tatapan bisu, Ingin  kusentuh kembali wajah itu. Namun seakan ada yang menghalangiku. Wisma pun kemudian berlalu  hanya meninggalkan aroma wangi yang tersisa, dan semua kenangan yang pernah ada.

"Aku ke makam Kang Abdul dulu Mas..."

Aku mematung seperti Nisan yang membisu di atas makam pada ramadhan ke 27. Duka menyebar bersama semburat merah yang membentang. Pandangi Wisma yang terisak di atas gundukkan tanah kudengar lembut alunan Yassin dari bibirnya.

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...