""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Senin, 06 Agustus 2012

Lina dan surat Fathekah

"Bu, Lina kangen Bapak..."
"Tidak usah Kau tanya lagi tentang Bapakmu, habiskan es cream itu segera"

Percakapan singkat di atas angkot yang menarik perhatianku, sekilas terlihat pucat di wajah perempuan muda itu. sementara sikecil tetap asyik menjilati es cream dengan wajah kecewa mendapat jawaban dari sang Ibu.

"Lebaran sebentar lagi kan, tapi kenapa Bapak tak pernah temani kita sholat Ied ?"
"Lina berapa kali ibu harus bilang, tidak usah kamu bertanya lagi tentang Bapakmu, tanpa Bapakmu kan kamu tetap bisa lebaran, pakai baju baru, sepatu baru dan lain-lain"
"Tapi Lina pengen seperti sinta, Intan dan yang lain lebaran ada Ibu ada Bapak gitu.."

Perempuan muda itu hanya menerawang mendengar jawaban si kecil, kuperhatikan matanya mulai berkaca-kaca. sesaat kemudian kertas tissue pun menyeka lelehan bening yang belum sempat menyebrang di pipi ranumnya.

"Ibu nangis ya?"
"Maafkan Lina Bu, lina sudah membuat ibu menangis..., kalau Ibu nangis Lina juga pengen nangis"
"Enggak sayang, Ibu tidak nangis kok, sudah sini peluk Ibu"

Aku hanya terdiam pandang mereka berdua, terlihat begitu berat beban yang harus mereka jalani, kembali sang Ibu memandang keluar jendela sesekali menatapku yang sedari tadi memperhatikan mereka. senyum dipaksakan pun mengembang sesaat sebelum kembali menunduk. sementara si kecil menjilat untuk penghabisan es cream ditangannya.

"Bu semalam Lina sudah hafal bacaan Fathekah, ustad Imron yang mengajari Lina "
"Syukurlah Lina harus sering baca fathekah ya untuk mendoakan Ibu mendoakan Lina supaya tetap bisa menjalani amanah dari Allah ya"
"iya Bu kata ustad begitu, surat Fatekhah begitu banyak manfaatnya, kan fatekhah dibaca disetiap sholat dan sehabis berdoa bu"
"pinter kamu sayang"

Tersentak aku mendengar percakapan terakhir mereka, tanpa aku sangka sikecil begitu lancar menerangkan manfaat fathekah pada Ibunya.

"Depan berhenti pak...!!"
"Mari Mas ..turun dulu"
"Om Lina turun dulu... assalammualaikum"
"waaalikum salam warahmatullah wabarakatuh"

Sapaan mereka mengagetkanku, sepi kembali sesaat setelah angkot berjalan, masih begitu terngiang percakapan mereka, seandainya semua anak seperti Lina... .


3 komentar:

SesarJackson mengatakan...

Top Markotop! sungguh haru ..

admin mengatakan...

singkat padat berisi, pembelajaran berkarakter

Nurhadi,S.Pd mengatakan...

maturnuwun sampun singgah dan berkomentar

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...