""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Rabu, 31 Oktober 2012

Purnama Langit Pasuruan


Bergelut mendung terbirit pada malam yang biru
aku akan biarkan malam tanpa kisah andai purnama tak menembang
aku paksakan mengerti daripada berandai tentang diammu
ribuan kali kuketuk berkali pula kau tusuk

ini entah kali keberapa wajahmu menjenguk, menunduk merenda cahaya menyingkap kisah lama di bawah purnama langit pasuruan
aku ingin sekali masuk pada ruang itu, ingin kubuka cerita itu
kuhapus luka-luka dan kurangkai kalimat baru agar kembali menyatu

bergelut mendung terbirit pada malam yang biru
bahkan purnama tak pernah nikmati cahayanya sendiri
yang aku sembunyikan di setiap relung, kusimpan dan kujaga

ingin kuajak kau duduk di sini, di bawah purnama
lalu kubacakan kembali cerita itu,
agar kau mengerti cerita itu telah kuperbaiki
 Pasuruan, 31 Oktober 2012

Senin, 29 Oktober 2012

Bergelayut pada Reranting Rapuh

Selembar daun keraguan kembali mengering dan
bergelayut pada reranting rapuh
pagi merangkak perlahan diiringi kicau menyayat
memori tumpah meleleh di sudut hati

gurat kenangan kembali menggenang pada kolam luka
tersaji sajak dalam doa bagai tembang lirih menghiba

Sabtu, 27 Oktober 2012

Berharap pada Senja yang Sama

Kembali hening senja hadirkan parasmu
lamunan berujung pada kerinduan

kutatap bayang dicermin dan kau tiada di sana
disudut korneaku, tiada lagi senyum itu, entah

geliat membuncah bergumul bersama mendung mengulum senja
luruh panjang mendekap gigil di pucuk rantingkegelisahan

kudekap rindu berharap kau berpaling pada senja yang sama
menebar pandang  walau tak pernah temukan makna

Selasa, 23 Oktober 2012

Sebuah Catatan yang Hilang


Ingin kukabarkan kepadamu tentang pesisir, ingin kuceritakan kepadamu tentang burung putih bermain di sisa lumpur basah dan di kering pepohonan mempurba terbenam sebagian, serta kepiting kecil berlarian menghindari gelombang. Semua masih di sana, tetapi bayangmu di atas sebongkah papan di rindang pohon  pergi entah ke mana.

Kususuri kembali pasir biru lembut membasah, masih saja belum kutemukan, sementara camar seperti dulu bercanda dengan nelayan sekembali melaut. Ah camar, seperti kamu meliuk  lincah bercengkerama.
Aku tulis ini ingin kembali kukabarkan kepadamu, di pesisir ini aku masih saja mencari sebuah catatan yang belum sempat kurapikan pada sebuah sajak.

Minggu, 21 Oktober 2012

Lukisan Lalu

Tatap lukisan lalu berbingkai sajak hati
diammu membisu,
pandangan kosong tanpa makna
tak lagi kulihat aku terlukis dalam korneamu

relung terasa sepi
tipis kabut silaukan tatapanmu
menyerbu rasa tiba-tiba, teriakkan ketidakmengertian ini
kau angkuh dengan sejuta pertanyaan
tidak percaya itu adalah lukisan lalu
akankah panjang  perhentian tanpa sapa ini

Jumat, 19 Oktober 2012

Pada pertengahan Oktober

Terbang sesaat bersandar pada sayap kupu-kupu putih
singgah pada pucuk benangsari yang pernah terlewati
menunduk layu tiada sapa, 
retak sayap hempaskan sekotak kenangan
menguap bersama rinai satu-satu, merintik
pada pertengahan Oktober

Selasa, 16 Oktober 2012

Tetes Bening pada Ujung Daun

Tetes bening pada ujung daun perlahan bergelayut
ceritakan tentang sajak angin yang tak tersampaikan
terngiang sapa gemulai lembutmu,
wangi dan harum menelusup dalam pori-pori hati

kuhidangkan perjamuan hati
pada perhelatan singkat suatu saat nanti

berharap tetes bening pada ujung daun
kembali sejukkan
sajak rindu yang meradang

Rabu, 10 Oktober 2012

Kucium Hangat Mendung

Kucium hangat mendung
berharap singkap gelap dalam sentuhan dingin malam
mendung masih berarak di langit Jakarta
di atas tugu proklamasi bulan sabit mengintip dan sembunyi

tenggelam jagat hentikan langkah
menghampar bisu bebaskan jiwa
dari kefanaan dunia

kucium hangat mendung
berharap singkap gelap agar kau menjelma
seperti lengkung emas terpahat abadi pada ranum pipimu

ah hangat mendung masih saja berarak
sembunyikan lengkung itu
kuharap pundakmu rindukan sandaran sajakku

Sabtu, 06 Oktober 2012

Pada Gerimis Senja Awal Oktober

Pandang sayu pada gerimis membadai menjelang senja
adalah dongeng lama yang hadirkan cerita lalu
aku berenang dalam korneamu ditiap rintik satu-satu

tut tut keyboard berirama iringi detik yang berdetak
pada dinding bisu abadikan masa lalu

Kau bukanlah igau bagiku tapi kau adalah irama
menderas seiring waktu
ciptakan nada bersama gemericik, sergap senyum
hadirkan  belahan indah pada ranum pipimu

Ah gerimis
hujan
selalu hadirkan yang lalu
hingga sajak kembli hadirkan cerita baru

Selasa, 02 Oktober 2012

Masih Kusimpan Catatan Itu

Masih saja kusimpan catatan itu
pada sebuah ruang bernama kenangan

kenangan yang selalu menyala bila larut tlah tiba
bagai lampu di kota tua yang teronggok bisu
walau tiada lagi kau sentuh tuk menyalakannya