Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Tuesday, May 13, 2014

Lelaki Terluka

NASKAH MONOLOG LELAKI TERLUKA
(by Didik Al Mahadhir dan Istiqomah almaky)

(Panggung gelap, suara teriakkan berat terdengar perlahan semakin mengeras seiring lampu perlahan terang, sosok lelaki menggenggam pena dan secarik kertas membelakangi penonton)

“Akan kutulis ratusan puisi atau bahkan cerita bahwa aku sebenar-benarnya terluka!!!
Berkali kupahami peristiwa demi peristiwa, selalu saja berakhir senyum pada bibirmu sementara aku terpuruk dalam duka.”

Tik, tik, tik, tik (pegang telinga dan menjatuhkan diri tersungkur, menggigil enggan mendengar suara detik itu)

“jangan bunyikan jam itu, buang detiknya hilangkan suaranya, aargghhhh, detik itu..., ya detik itu tlah siksa aku tlah tusuk tusuk aku bertubi dalam tiap kilometer kulalui...., matikan jam itu....”

(Mencari jam di meja dan membantingnya suasana hening lelaki itu perlahan melangkah menuju kursi panjang, merebahkan diri dan masih sibuk dengan kertas serta pena di jemarinya)

“Kulangitkan doa berharap menyibak kabut tipis di remang malam, aku berkendara kunang-kunang kugendong luka, bersenandung lagu sendu, ingin kusapa ngengat dan kelelawar, mana ngengat, mana kelelawar ingin aku bercerita tentangnya yang tlah hempaskan embun sebelum pagi menjemput, di mana mereka??”

Suara ghaib muncul tiba-tiba

“Berapa kali harus kutumpahkan kata Tentang luka yang tak layak kau bawa berlayar, Cukupkanlah padaku berkabar Jangan lagi kau tebar, Di sini saja, di sini, Di ruang dadaku raungkan dukamu, Akan kugubah agar nganga lukamu terobati.”

(lelaki itu bangun perlahan melangkah mencari suara itu dari mana asalnya, gelisah dan tergagap dia mondar mandir kiri kana depan belakang terdiam di tengah panggung)

“Tak semudah itu luka kau gubah, Aku buang segala kata Agar segera berakhir, Biarpun berlembar PUISI kutulis Tetap saja ITU luka”

Suara ghaib

“Sudah kubilang berulang kali, jangan kau dekati Luka, karena luka bagimu (lelaki) akan lebih lama Membungkam malam, diam-diam dia berda di kelopak paling dalam. Bahkan Ketika mimpi menepi Ia menyergap, menyisakan geragap lalu bayang-bayang kekasih Jadi duri paling sempurna Tajamnya. Tak cukupkah kau hentikan virus lukamu itu Atau harus kuliriskan larik-larik miris, agar Engkau makin tenggelam?,”

Lelaki itu perlahan bersimpuh

“Tenggelam dalam Luka bersimbah kenangan adalah kenikmatan tersendiri, Aku masih sanggup ubah luka mnjadi cerita Satire, mellow, atau balada sekalipun, PUISI hanyalah pemadatan Luka
Bagai kukurung di kutub yang entah kapan kan kembali mencairkan airmata luka”

(suara angin menghembus kencang diam tiba-tiba suasana merasuki panggung)

“Di mana kamu... hei di mana? Mengapa kau diam?”

(berjalan mengambil tikar dan menariknya hingga terbuka, rebahkan diri perlahan )

“aku mengenangmu dengan sebenar-benarnya mengenang, walau aku tahu mengenangmu adalah memboreh luka dengan bara. Oh Tuhan......... nyenyakkan tidurku malam ini, lelapkan mimpiku malam ini, walau pun jarum kan kembali tusuk seribu kali, entah malam ini, entah esok, aku hanya ingin dekap luka lagukan hati dalam sajak kehidupan”

(musik petikan gitar mengalun iringi tidur sang lelaki itu)

“Ingin kembali kutapaki setapak penuh cerita, Pun aku terluka kini, aku ingin mengenangmu, mengenang Bias pendar aroma wangimu, mengenang Sekerat lengkung pipi ranummu, semoga kutemukan kembali fatamorgana hati hingga hilang luka ini”

(alunan lagu iringi lampu perlahan meredup dan gelap)

@5 MEI 2014

Sunday, January 19, 2014

Monolog Luka Seorang Pecinta



Panggung Gelap perlahan lampu meremang sesosok laki-laki menunduk membelakangi penonton mengangkat kedua tangan berteriak panjang menggumamkan luka yang tertahan

“aaaaaaarrrgghhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!”

Perlahan bangkit terseok dan begitu tampak derita bathin dari pakaiannya, memegang kertas kumal catatan lalu yang pernah ditulisnya.

“Tolong, berpuralah mencintaiku, Eflina. sampai kau lupa bahwa kamu sedang berpura-pura. tolong.
setidaknya, kau mencintaiku bukan lantaran tidak ada yang mau mencintaiku, Eflina. Setidaknya.”

Suara Ghaib tiba-tiba menyapa pemuda tersebut saling bersahutan dalam dialog duka

“Sebegitunya derita yg kau mesti gendong, hingga butuh berapa nama lagi kah Agar sembuhkan lukamu?. Mengapa tak kau panggil maria magdalena pariyem, dewi sukesi, sri sumarah, atau lasi dihadapanmu”

“aku tak ingin kesakitan ini berkesudah mas. Sungguh”

“Ah,bagaimana kau bisa menerima cinta dalam kepura-puraan?meskipun nanti dia lupa bahwa sedang berpura-pura, wahai perempuan yg tlah buatmu luka, betapa cinta tlah sebegitu hebat utkmu, sepertinya kau lebih mencintai luka-luka itu”

“Setidaknya masih ada cinta untukku”

“aku mencintai luka itu sendiri. Sungguh”

“Itu bukan cinta hai pemuda gagah, Kau cintai luka dengan menghadirkn luka baru dari perempuan-perempuan barumu yang. Entah siapa itu”

“cinta itu apa?”
“bisa jadi.., bisakah itu kusebut pelarian?”

“aku tlah lihat kedahsyatan luka itu dari bicaramu”

“Sangat luka, yangg pasti,yang aku tahu tak ada kepura-puraan dalam cinta”

“ada”

“Ah,berarti aku yang tak mengerti cinta seperti itu”

“cobalah melihat cinta dari angle yang berbeda”
“Tlah aku lakoni kepura-puraan itu selama hampir seribu hari, tapi tak jua kulupa ini tak seharusnya terjadi.Aku lebih memilih terluka yang benar2 luka daripada luka karena pura-pura cinta “

“bukankah lebih indah jika mencintai dalam diam meski itu menimbulkan luka daripada mencintai dalam kepura-puraan disertai luka?”

“,,luka tetaplah luka, darimana pun muasalnya. ah!”

Pemuda itu menatap tajam penonton dan menyobek-nyobek kertas kumal itu
Music menanjak dan lampu perlahan redup

Penulis antologi "Tifa Nusantara"
(Dimaz, Anna Mariyana, Nurhadi)

Tuesday, May 27, 2008

Bawuk

(Saduran Cerpen Bawuk "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" karya Umar Kayam)
Penulis naskah: Nurhadi,S.Pd
Sutradara/pengatur laku: Nurhadi,S.Pd
Musikalisasi : Tim Komunitas Tetas
Lighting : Tim Komunitas Tetas

Scann 1
Sang surya belum sempurna kembali ke peraduannya. Langit bagaikan kanvas raksasa yang dipenuhi warna seperti merah, kuning serta nila yang sedemikian serasi dipandang mata. Nyonya Suryo duduk di kursi sambil mengamati sepucuk surat yang baru di terimanya

Nyonya Suryo: Oh! Rupanya surat dari Bawuk (MEMBUKA AMPLOP SURAT)
Alangkah asing surat dari Bawuk ini! Asing sekali.
“Akan datang Sabtu malam ini. Wowok dan Ninuk saya bawa. Sudilah kiranya Ibu selanjutnya menjaga mereka”
Kalimatnya begitu sederhana dan apa adanya. Padahal setahuku, dulu surat-suratnya selalau penuh dengan cerita tentang orang-orang di sekitarnya. Surat sep[erti itu lebih cocok dengan pribadinya yang ceria dan ramah. (BERPIKIR TENTANG SESUATU)
Kupikir semua anak-anakku mesti hadir pada waktu Bawuk datang . masih ada waktu beberapa hari untuk mendatangkan mereka semua. Tapi... apakah keputusan ini baik? Apakah ini tidak akan menimbulkan ketegangan antara anak-anakku? Bukankah kakak-kakaknya tidak begitu suka dengan aktifitas suaminya yang adalah seorang komunis? Ah... Tidak! Bagaimanapun Bawuk mesti dipertemukan dengan saudara-saudaranya.
***
Scann 2
Setelah Bawuk dan kedua anaknya mengikuti Hassan, suaminya. Mereka tinggal di daerah T dan tinggal di rumah Camat. Bawuk pun aktif dengan kegiatan organisasi dan menjadi pemimpin dari Gerwani, sedangkan Hassan masih menjalankan aktifitasnya. Sampai suatu hari masuklah info tentang pembersihan di daerah S oleh para tentara. Kerena kurir Hassan tidak muncul, maka Hassan dan anak buahnya yang terdiri dari para petani pun melakukan perlawanan.
Kekalahan dari pihak Hassan inilah yang membuat Bawuk harus tinggal berpindah-pindah untuk mencari kontak dengan suaminya. Sampai akhirnya Bawuk mendapat informasi tentang keadaan Hassan di daerah M.
PKI : Saudara Hassan sekarang berada di selatan dengan banyak kawan dari Jakarta. Setelah kehancuran pertahanannya di derah T tempo hari, dia berusaha kembali menyusun kekuatan dengan para petani.
Bawuk : Mangapa Mas Hassan tidak memberitahu saya?
PKI : Dia terlalu sibuk!
Bawuk : Sibuk? Juga terhadap istrinya?
PKI : Ya! Partai dalam keadaan sulit. Saudara tahu hal ini, kan?
Bawuk : Tahu? Selama ini, apa yang kalian kira saya kerjakan?
PKI : Kenapa masih mengeluh tidak ada kontak dengan saudara Hassan?
Bawuk : Dia suamiku. Aku istrinya!
PKI : Sudahlah! Saudara tahu, bikin kontak bisa membahayakan Saudara Hassan. Dengan demikian juga bisa bikin buyar semuanya. Harap saudara ingat! Yang kita hadapi bukan intelejen TNI.
Bawuk : Bukan?
PKI : Bukan! Yang kita hadapi CIA. Yang lainnya Cuma embel-embel saja.
Bawuk : Lantas... Apa yang mesti saya lakukan?
PKI : Menunggu. Tunggu sampai Saudara Hassan bisa menghubungimu. Waktunya pasti akan datang. Selamat siang! (BERJALAN KELUAR)
Bawuk : Hah... Bagaimana nasib kedua anakku kelak? Sudah setahun mereka tidak sekolah dan semakin hari, mereka semakin menarik diri dari pergaualan. Si Ninok akan cepat sekali merasa jengkel dan merajuk saat bermain dengan teman-temannya. Sedangkan, Si Wowok lebih suka bermain sendiri dan melihat setiap ajakan bermain dengan kecurigaan dan sikap was-was. Padahal dulu, saat Mas Hassan masih berada di sini mereke adalah anak-anak yang periang dan ceria. Tidak! Mereka tidak boleh seperti ini. Mereka harus tinggal di lingkungan keluarga yang normal, mereka harus sekolah. Tapi... dimana? (BERPIKIR) Ya! Tempat yang paling baik untuk mereka adalah rumah Mammie. Sekarang akau akan menulis surat kepada Mammie.
***


scann 3
Bawuk : Nuk, Wok, sini Ngger!
Wowok + : Dalem, Bu.
Ninuk
Bawuk : Ngger, besok kalian ibu antar ke rumah Eyang.
Ninuk : Dengan ibu?
Bawuk : Ya, ibu yang antarkan.
Wowok : Ibu cuma antarkan?
Bawuk : Ya, kalian harus tinggal bersama Eyang. Kalian mesti sekolah lagi.
Wowok : Ibu mau kemana?
Bawuk : Ibu kembali kemari. Ibu mesti mencari Bapak.
Ninuk : Bapak dimana sekarang?
Bawuk : Bapak sedang berjuang. Ibu mesti menunggu Bapak.
Wowok : Nanti kalau Ibu sudah ketemu Bapak, Ibu akan datang menjemput Wowok dan Ninuk?
Bawuk : Tentu saja, Wok.
Ninuk : Apa Eyang suka bikin bubur ketan hitam?
Bawuk : O, ya. Dan lainnya juga, ada klepon, kolak pisang, kue mangkok, semua kesukaan Ninuk, kan? Kalian pasti senga tinggal disana. Ayo sekarang bantu Ibu berkemas!
***
scann 4
Nyonya Suryo : Aku tidak tahu keadaan Bawuk yang sesungguhnya sekarang. Juga tentang rencananya selanjutnya. Yang kita ketahui Cuma maksudnya untuk menitipkan Wowok dan Ninuk. Apapun yang akan menjadi rencananya, mari kita bantu bersama-sama.
TOK! TOK! TOK!
Nyonya Suryo : Sepertinya Bawuk sudah datang. Sumi, tolong bukakan pintu, ya?
Sumi : Baik, Mammie. (MEMBUKAKAN PINTU) Wuk, kau sudah datang?
Bawuk : Iya, Yu Sumi. Mbak Yu ada disini?
Sumi : Iya.
Nyonya Suryo : Wuk, Ngger!
Bawuk : (MENCIUM TANGAN DAN KEDUA PIPI IBUNYA) Mammie, apa kabar, Mammie?
Nyonya Suryo : Baik, Wuk! Ayolah duduk! Ninuk, Wowok, ayo duduk sama Eyang! (HANYA NINUK YANG MENDEKAT, WOWOK MALAH SEMAKIN LEKAT MENEMPEL DI BELAKANG IBUNYA) Kapan kalian datang? Wok, Nuk, ayo kenalkan! Ini Budhe Sumi, yang itu Budhe Syul, lalu yang ini Budhe Tini. Ayo Nak, kasih salam kepada Budhe! Sebentar ya? Mammie ambil minum dulu ke dalam. Sebentar ya, Wuk?
Bawuk : Ya, Mammie.
Tini : Kau kaget Wuk, kami datang kesini?
Bawuk : Kaget sih tidak. Cuma heran sebentar. Tapi saya senang sekali lho!
Sumi : Wuk, kamu kelihatan tuaan sedikit. Tapi kamu tampak sehat sekali.
Bawuk : Terlalu banyak urusan, Yu Mi. Sebentar lagi saya pasti sudah keriputan semua. Sebalinya, Yu Sumi tampai makin segar dan muda saja.
Sumi : Ealah, Wuk, Wuk! Kau ini bisa saja!
Syul : Kau ini dari mana, Wuk? Kok tadi datang naik becak?
Bawuk : Wah, susah ceritanya, Yu Syul. Gonta-ganti tempat. Tadi kami datang dari M naik bus.
Tini : Naik bus? Begitu saja?
Bawuk : Ya, begitu saja.
Nyonya Suryo : (MASUK SAMBIL MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN) Sudahlah. Jangan banyak-banyak dulu kalian tanya adikmu. Wuk, kau minum dulu teh hangat ini.
Bawuk : Baik, Mammie.
Nyonya Suryo : Ayo, Nuk, Wuk, Eyang antar ke dalam. Kalian pasti lelah, kan?
(MENGANTAR WOWOK DAN NINUK KE DALAM)
Sumi : Jadi, kau masih akan kembali ke M, Wuk?
Bawuk : Ya, Yu Mi.
Sumi : Kapan?
Bawuk : Besok, pagi-pagi betul. Kira-kira waktu subuh.
Syul : Tinggal beberapa jam lagi, Wuk.
Bawuk : Benar, Yu Syul.
Tini : Apa yang kau kerjakan di M, Wuk?
Bawuk : Menunggu. Ya, menunggu, Yu Ni.
Sumi : Apa dan siapa yang kau tunggu? Hassan? Come back-nya PKI?
Bawuk : Saya tidak tahu secara pasti lagi, Yu Mi. Mungkin sekali yang mendorong saya tetap menunggu adalah Mas Hassan, suamiku.
Tini : Kalu begitu, kenapa tidak menunggu disini saja. Kau bisa menemani ibu sambil menunggui anak-anakmu. Aku bisa membantu mengusahakan perlindungan dan surat-surat yang kau perlukan.
Bawuk : Aku condong untuk tetap memilih menunggu di M, Yu Ni.
Tini : Kalau begitu, kau tidak hanya menunggu di M, kau pasti ada tugas-tugas tertentu dari kawan-kawan Hassan.
Syul : Tunggu! Tungu! Biar ganti saya yang bertanya.
Tini : Baiklah, Yu Syul.
Bawuk : Wah, ini namanya interogasi, Yu Syul.
Nyonya Suryo : (MEMASUKI RUANGAN) Bawuk, anak-anakmu sudah aku tidurkan. Mereka kelihatannya lelah.
Bawuk : Terima kasih, Mammie. Baiklah, Yu Syul. Silahkan.
Syul : Wuk, apa kau anggota PKI?
Bawuk : Bukan!
Syul : Maksud belum?
Bawuk : Aku istri Mas Hassan!
Syul : Kau tidak menjawab pertanyaanku!
Bawuk : Yu Syul... Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Aku kira, ini sudah menjelaskan denga seterang-terangnya.
Syul : Baiklah, aku harap aku bisa mengerti.
Sumi : Wuk, kalu kau bukan PKI, bagaimana kau masih bisa menjalankan tugas-tugas yang diberikan mereka.
Bawuk : Yu Mi... Terus terang saja saya sendiri kurang mengetahui secara pasti. Selama ini aku menciba mngerti hubunganku dengan PKI, ternyata tidak gampang.
Sumi : Dimana letak kesulitan itu? Kau ikut suamimu memberontak, kau patuh terhadap instruksi kawan-kawannya. Buatku, itu tidak terlalu berliku-liku untuk mengerti hubunganmu dengan PKI, Wuk.
Bawuk : Mungkin buatmu, Yu Mi... kau selalu bisa berpikir jernih dan logis sejak masih di HBS dulu.
Sumi : Lho, jangan ngeledek dong, Wuk !
Bawuk : Tidak, Yu Mi. Sungguh, aku iri dengan kemampuanmu melihat segala persoalan dengan tenang, sederhana dan begitu sistematis. Saya sendiri selalu kesulitan di dalam mencoba mengerti hubunganku dengan PKI. Satu-satunya hal yang terang bagiku hanya hubunganku dengan Mas Hassan.
Tini : Bagaimana? Di PKI kan?
Bawuk : Betul, Yu Tini. Tapi hanya itulah yang menjelaaskan kaitanku dengan PKI. Yang lainnya saya... saya kurang begitu jelas. Sungguh itu suatu yang komplek, meskipun buat saya sendiri.
Syul : Wuk, kau tahu artinya pengkhianatan buat negara?
Bawuk : Masya Allah, Yu Syul.
Syul : Baiklah, aku kan mengganti pertanyaanku kalau kau mau. Menurutmu... Menurutmu bekerja untuk PKI itu berbahaya atau tidak?
Bawuk : Berbahaya, Yu Syul. Kalau tidak saya tidak perlu menyerahkan anak-anakku kemari.
Syul : Hanya buat kau dan anak-anakmu saja?
Bawuk : Tidak, buat bayak orang. Buat kau juga.
Syul : Apa kau tidak merasa bersalah dengan membantu satu aktifitas yang membahayakan untuk banyak orang?
Bawuk : Aduh, Yu Syul. Sedih saya kalau kau bertanya tentang salah dan tidak salah. Dari sudut pandang keluarga ini, perkawinanku denga Mas Hassan memang sudah salah. Andai aku menikah dengan seorang akademikus yang bukan seorang revolusioner dan komunis seperti Mas Hassan, bukankah semua sudah beres.
Syul : Wuk, itu tidak benar. Kau tahu tak seorang pun dari kita menghalangimu waktu kau memilih Hassan sebagai jodohmu. Aku kira kau belum menjawab pertanyaanku, malah terkesan kau mau menghindari.
Tini : Wuk, kau jangan merasa terlalau kami pojokkan. Kami cuma tidak ingin kehilanganmu, Wuk. Kau adik bungsu kami dan Ibu sudah tua dan kesepian. Kenapa kau tidak terima saja usulku agar kau tinggal disini, menunggu sampai semuanya tenang kembali.
Bawuk : Yu Mi dan Mas Sun. Mas Mamok dan Yu Tini. Yu Syul dan Mas Pik. Mammie dan Pappie. Ingatkah kalian, dulu Eyang pernah bertanya tentang cita-cita kita. Yu Mi menjawab ingin menjadi istri seorang dokter, Yu Syul ingin menjadi istri seorang arsitek dan saya sendiri, kerena kecintaanku pada kebun, saya ingin jadi istri seorang landbow-consulent. Kita tahu impian kita itu adalah impian yang dibangun dari kemauan orang tua. Pappie yang adalah seorang onder dengan karier gemilang. Begitu juga Mammie, seorang Den Ayu dari Solo yang ingin melihat anaknya terus mengibarkan bendera kepriyayenan. Saya tahu tak seorang pun dari kalian menjadi seperti yang kalian inginkan. Tapi paling tidak, kalian telah mencapai apa yang orang tua kita mau. Yu Mi dapat Mas Sun, seorang Brigjen. Juga kau Yu Syul, kau dapat Mas Pik, seorang Dirjen yang tentunya lebih terpandang dari seorang arsitek. Dan Mas Mamok, meskipun meski harus melewati jalan yang berliku akhirnya bisa menjadi orang yang bertitel akademis yang cukup terpandang di masyarakat dan mendapat Yu Tini, sebagai istri. Dan aku? Aku kawin dengan seorang pemimpin gila, yang SMA pun tidak tamat. Malah berhenti sekolah, menjadi marxis, belajar intrik, kasak-kusuk lagi, mimpi lagi dan akhirnya malah memberontak.
Tapi Mas-Mas, Mbak-Mbak, Mammie dan Pappie. Itulah pilihanku, lepas dari dunia kepriyayenan. Dunia tempat Mas Hassan berada yang penuh dengan asap, mesiu, pelarian dan penejaran.
Mas-Mas, Mbak-Mbak, Mammie dan Pappie. Semua orang pasti berubah, bergeser kesana dan kesini karena kita adalah bagian-bagian dari dunia yang lain.
Itulah Mas-Mas, Mbak-Mbak, Mammie dan Pappie. Yang saya mau coba katakan. Kalian dengarkah?
Mas-Mas, Mbak-Mbak, Mammie dan Pappie. Saya telah berbicara banyak sekali dan panjang sekali malam ini. Dan tidak hanya kepada kalian, tetapi juga kepada suami-suami kalian yang tidak ada disini, bahkan juga kepada Pappie yang telah meninggal. Aku harap ini bisa menjawab pertanyaan kalian semalam suntuk ini. Aku harap kalian telah mendengar dengan baik. Dengan baik. Dengan baik.
Nyonya Suryo : (MEMANDANG BAWUK, MENDEKATINYA DAN MENEPUK PUNDAKNYA) Wuk, sudah jam empat lebih. Kau pasti lelah setelah berbicara semalam suntuk. Kau jadi segera berangakat?
Bawuk : Ya, Mammie. Aku harus berangkat.
Nyonya Suryo : Itu sudah Mammie duga. Pergilah cari suamimu itu.
Bawuk : Ya, Mammie. Saya kira saya harus berangkat segera sebelum fajar. Saya tidak akan bangunkan Ninuk dan Wowok. Mereka sudah tahu kalau mereka harus tinggal. Titip ya, Mammie?
Nyonya Suryo: Tentu, Wuk!
(BAWUK PUN MEMINTA RESTU IBUNYA DAN SEGERA BERANGKAT)
Nyonya Suryo : Wuk, hati-hati, Nduk! Kau cari Hassan sampai ketemu ya?
Bawuk : Baiklah, Mammie.
***
scann 5

Tanah di halaman masih basah. Hujan baru saja berhenti sore itu. Angin yang menghembus membawa harum tanah yang baru menyerap air. Dari beranda depan, Nyonya Suryo mendengar cucu-cucunya membaca Al-Fatekhah denga bimbingan gurunya. Di pangkuannya masih tergeletak surat kabar sore yang memberitakan tentang pemberontakan PKI.
Guru mengaji : Iyyaka na budu waiyyaaka nasta”iin. Ayo dicoba, Ngger!
Wowok + : Iyyaka na budu waiyyaa...
Ninuk
Nyonya Suryo : Wuk, dimana kau sekarang? Tahukah kamu bahwa PKI telah berhasil dihancurkan? Banyak gembong PKI yang tertembak mati. Tahukah kamu? Nama suamimu termasuk didalamnya, Wuk!
Guru mengaji : Artinya, Ngger. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.Ayo kita ulangi lagi, Ngger!
Wowok + : Iyyaka na budu waiyyaa...
Ninuk
Nyonya Suryo : Kini Hassan telah pergi. Dan kau, Wuk! Kau dimana, Nduk?
Guru mengaji : Ihdinash shirathal mustaqiim. Shirathalladziina an’amta ‘alaihim
+ Ninuk + ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladhdhaalliin. Amin...
Wowok

Ponirah (Asa Yang Hilang)

Karya Nurhadi,S.Pd

Kemiskinan, kebodohan, konflik sosial telah jadikan ponirah tersudut dalam pesakitan yang dihadapkan pada putusan sidang, sementara keluarga dengan carut marut masalah telah jadikan keluarga ponirah berantakan. Keluarga petani itu tidak dapat menikmati masa tua dikala sang ayah terkena serangan jantung akut justru kala ponirah menanti vonis pengadilan. Bagaimana dan mengapa ponirah harus mengalami ini semua.

Scanne 1
(ruangan redup sosok perempuan sedang mengaji duduk di kursi dengan merdu mengeja ayat per ayat kitab suci dipangkuannya. Hingga terdengar bentakan keras petugas dan menggelandangnya keluar)
Ibu : ada apa ini…, ponirah…, ponirah… oooo alah pak, bapak….. kenapa anakmu di bawa polisi pak? Pak…. Pak……pak!!!
Bapak : ada apa bu? Ada apa? Kenapa berantakan semua… kenapa ini Bu?
Ibu : lihat pak.., ponirah di bawa polisi.., itu pak ponirah di naikkan mobil polisi pak…, kenapa ini pak?
Bapak : oalah gustiiiii, gusti apalagi to ini…?
(ibu gemetar memandang amplop coklat dan ia pun membukanya )
Ibu : “Surat Penahanan” Ponirah di tuduh membunuh Direktur PT Angkasa Jaya tempatnya bekerja… oalah nduk kenapa kamu membunuh. (perlahan ibu itu tergeletak lemas dan di topang bapak yang segera menangkapnya)
Bapak : apa ponirah membunuh? Tidak mungkin, tidak mungkin, (tertunduk sambil menggoyang-goyangkan ibu)
(ruangan perlahan redup dan gelap)

Scanne 2
Ibu : Pak…., kenapa nasib kita jadi seperti pak?, panen gagal gara-gara tikus, modal telah habis.., bagaimana nanti mengembalikan hutang pada tuan suryo pak? Sementara ponirah masih di tahan polisi pak
Bapak : sudahlah bu.., tidak usah kau banyak berpikir.., biar aku saja yang berpikir. Aku akan tebus semua kesalahan ini. Gagal panen, hutang banyak semua kan gara-gara aku. Jadi ibu tidak usah banyak berpikir.
Ibu : Tapi pak, aku kan istrimu, sejak awal aku sudah katakan , apapun yang terjadi susah senang kita jalani berdua pak.
Bapak : masalah hutang dan sawah biar aku yang pikirkan , kamu urus saja kedua anakmu itu. Kapan kau tengok ponirah? Kalau kau tengok ponirah di tahanan, jangan pernah bercerita keadaan kita. Kasihan dia.
Ibu : iya pak. Aku tak tega lihat ponirah di tahanan. Jatah tengok kan jumat besok pak. Tapi kenapa ponirah di tahan begitu lama. Dan kenapa tidak jelas? Katanya membunuh, katanya tidak bersalah, tapi kok di kurung pak? Hokum kok mencla-mencle?
Bapak : lha mbok ya sudah mungkin ini cobaan hidup keluarga kita bu. Aku juga heran. Ponirah kan Cuma ikut-ikutan demo, dia kan minta hak-haknya sebagai karyawan tetapi kenapa malah ditangkap dan dituduh membunuh.
Ibu : iya pak, iyem!..sini yem
Poniyem : (masuk dengan dandanan modis) ada apa sih bu…. Hari gini teriak-teriak., da pa duhai ibundaku??
Ibu : oalah nduk-nduk mbok kamu eling to nduk.., kamu tu sapa?, keluarga kita bagaimana? Kamu hidup dimana? Mbok eling to nduk-nduk?
Poniyem : itulah yang aku herankan. Kenapa orang-orang desa seperti kita ini masih saja sombong dengan kemiskinannya. Mbok ya jangan bangga dengan ke konvensionalan. Bagaimana bisa berubah nasib ini, berangan-angan aja tidak, apalagi berubah.
Bapak : iyem kamu bicara sama ibumu yem…, eling to nduk... kamu memang yang bisa mengencam pendidikan. Disbanding mbak yumu yang hanya buruh pabrik. Tapi bukan berarti kamu minteri keluargamu nduk.
Poniyem : aku tidak minteri pak. Aku menunjukkan realita. Bahwa inilah hidup. Ya nasib mbak yu kalau hanya buruh. Salah sendiri tidak sekolah.
Ibu : iyem.. jaga omonganmu. Mbak yumu jadi buruh khan demi kamu, agar kamu bisa sekolah. Tapi kenapa kamu malah seperti ini.
Poniyem : lho salah sendiri. Kok sekarang aku yang disalahin. Kalau bapak dulu bapak menabung. Pasti akan punya simpanan. Lha sekarang sudah pensiun. Kenapa juga dulu bapak hutang banyak… sekarang seperti ini. Aku apa juga harus menderita.. justru aku seperti ini itu untuk tidak meratapi nasib. Tapi merubah nasib.
Ibu : iyem berani sekali kamu
Bapak : dasar anak durhaka. Iyem …..kamu mau tahu……kenapa bapak hutang….iyem…
Ibu : sudahlah jangan layani anakmu…. Ingat kondisimu pak…..ingat pak
Bapak : tidak bu…, ini harus saya katakan…..harus saya jelaskan……
(iyem tetep ketus sambil membersihkan kuku)
(tiba-tiba bapak limbung dan terkulai di lantai)
ibu : pak…! Iyem,, lihat bapakmu yem…..iyem….!
Poniyem : makanya bapak harus tahu , bahwa bapak memang sudah tua. ….
Ibu : iyem… olah gusti….gusti…. ponirah andai kau di sini bapakmu tidak akan seperti rah….
Bapak : bu…..sepertinya gusti sudah memanggilku bu…, iyem… kamu perlu tahu.., bahwa bapak hutang dulu itu kan juga untuk mengganti hilangnya motor yang kamu pinjam dulu.
Ibu : pak!!, sudahlah pak…,
Iyem : (terperanjat dan potongan kuku jatuh) (menengok perlahan kearah bapak dan ibu) jadi….jadi… jadi bukan pak suryo yang membayar… tapi bapak…. Aaaaaaa, suryo keparat.., aku telah ditipunya…. (berlari memeluk ayah dan ibunya) maafkan aku pak.., aku…. Aku.. juga telah menyerahkan kehormatanku pada suryo.. agar lunas kesalahanku.. tapi…. hu hu. Maafkan aku bu….
Bapak : jadi…jadi…. Kamu ….. oh bu .. bu ….. (bapak anfal sesaat dan tidak bergerak lagi)
(ibu dan iyem berteriak memanggil bapak dan perlahan lampu redup dengan music yang menyayat diiringi jeritan iyem)


scanne 3
(ruang redup di sebuah ruang tahanan ponirah hanya tertunduk lesu sementara teman sekamar bermain-main kartu)
Ponirah : (berjalan mengelilingi ruang tahanan) bapak….., ibu…… iyem… mengapa perasaanku tidak enak…..ada kejadian apa di sana….. aku kangen… kangen semuanya.
Jujuk : sudahlah ..! berisik kamu. Sini lho main kartu.., jangan muter-muter terus. Pusing aku perhatikan kamu.
Ponirah : tapi.., kali ini aku benar-benar tidak nyaman.
Jujuk : maka dari itu, ayo main kartu lagi. Ntar kan nyaman.
(tiba-tiba masuklah poniyem dengan sesunggukkan)
poniyem : (nangis), mbak yu…., bapak mbak……bapak.
Ponirah : kenapa dengan bapak? Katakana yem.., dan kenapa kamu nangis…, bapak kenapa yem…(sambil menggerak-gerakkan tubuh poniyem)
Poniyem : bapak.., bapak sudah pergi mbak.., bapak mati.., bapak mati gara-gara aku mbak……
Ponirah : apa.., bapak mati……oo alah gusti…… kenapa ini harus aku alami….. besok aku harus duduk di kursi pesakitan.., kenapa kamu bilang gara-gara kamu….
Poniyem : iya tadi bapak marah sama aku…..aku melawan dan….. dan… bapak jantungnya kambuh lalu bapak mati mbak….. …aku yang salah mbak…. Aku tidak tahu kalau bapak banyak hutang juga gara-gara aku……..oooohhh mbak…aku minta maaf,,
Ponirah : sudahlah iyem… smua sudah terjadi…. bapak……bapaaaak (mereka saling berangkulan
(Lampu meredup dan gelap)

scanne 4
(dua pengawal membawa ponirah ke ruang sidang)
hakim : betul kamu ponirah.., lahir di gunung kalong, 12 desember 1978. pekerjaan buruh.
Ponirah : betul pak hakim
Hakim : berdasarkan sidang-sidang sebelumnya. Berdasarkan berkes pemeriksaan perkara, dan berdasar keterangan jaksa penuntut serta pledoi pembelaan tersangka. Dengan ini pengadilan menjatuhkan vonis kepada terdakwa ponirah dalam kasus terbunuhnya tuan Suryo diningrat direktur PT angkasa jaya dengan vonis 12 tahun penjara potong masa tahanan.
Ponirah : saya tidak terima,….. saya protes pak hakim… saya protes.saya tidak bersalah.
Jaksa : ponirah. Pengadilan sudah memutuskan vonis. Kamu jangan melawan pengadilan. Itu penghinaan ponirah.
Ponirah : justru aku menginginkan keadilan. Tuan suryo memang bos saya. Tapi saya tidak membunuh. Saya hanya demo. Saya masuk keruangan karena ingin ketemu langsung. Tapi aku lihat tuan suryo sudah terkapar di tanah. Jadi bukan aku pembunuhnya.
Jaksa : tapi bukti sudah jelas ada sisik jari di pisau yang kamu pegang. Jadi cukup jelas. Kamu memang bersalah.
Ponirah : tidak..aku tidak bersalah..
Pembela : sudahlah ponirah.. kita masih bisa banding.
Ponirah : tapi.., aku tidak bersalah. Ini tidak adil.. tidak adil….. hu uuuh, kenapa harus seperti ini akhirnya.pegadilan memang sudah tidak bisa membela rakyat lagi. Semua ini fitnah. Fitnah….semua fitnah.. aku tidak bersalah….. aku tidak bersalah………………
(lampu perlahan redu

Scanne 5
(lampu perlahan menyala, terlihat gadis bersimpuh di atas batu kali.)
Poniyem: bapak…, ibu…, heee.. huuuu, mbak yu…… maafkan aku ……..akulah yang membunuh tuan suryo……… akulah yang membunuh karena suryo telah menipu bapak, juga telah mengambil kehormatanku ha ha haha hahahahahaha. Akulah yang membunuh.