Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, August 4, 2023

Pahit

puncak dari sebuah langkah 
dua hasil yang kan hadir
manis 
pahit
bila kehendakNya memang pahit 
sebelum manis
laluilah pahit itu



Monday, July 17, 2023

Kursi

 lupa
sengaja
atau kah
ambisi
berguguran rasa satu satu
yang dulu ada padamu kini hilang semua
sirna tak tersisa


Monday, June 19, 2023

Takdir

Begitu nyata 
tiap kejadian 
bukti akan qodo dan qodarMu
semua kembali padaMu
rencana adalah skenario dan harapan
peristiwa adalah bukti KuasaMu

Wednesday, May 31, 2023

Wednesday, January 13, 2016

Menghempas Kerinduan

kenangan itu menerjang
meradang
bergemuruh bagai ombak
hempaskan kerinduan pada
pantai penantian

Saturday, October 17, 2015

kidung puisi

Kenanga, melati perlahan mewangi
di bawah langit pucat tanpa gemintang
rindu dan sepi menyatu kidungkan puisi

Malam kemarau

Debu tingkahi senja
Sayatkan kembali luka pada kemarau
Rintik tak jua sapa dinginkan hati
Sisa purnama membuncah
Menjemput malam pada peraduan semu

Ilusi Semu

Bias bening di ujung daun
bergelantung menitis pada bibir pagi
Kupinang sunyi, kutulis tentang sepoi ninabobokan ilalang
Pagi hadirkan ilusi semu, semaikan
berlembar-lembar impian, merenda dedaun, memeras sengatan pagi
Mengasingkan diri sembunyi di dingin pagi pada selembar puisi

Friday, September 25, 2015

Batu Mendesak

sebongkah batu kembali jatuh
mendesak hingga sesak

tepat pada luka yang belum mengering
pun kau tak sadar untuk entah kali keberapa

Thursday, August 13, 2015

Malam Meremang

Riuh celoteh anak-anak bermain,
simphoni sendok piring di warung tenda,
tafakur hening di atas menara masjid
dan sekelompok mata menatap tajam batu-batuan di bawah lampu,
aku hanya terdiam nikmati lesehan
di antara tiga pasang remaja berpelukan manja bersandar pada pundak malam

Monday, June 22, 2015

Fatamorgana

Pada selaksa lengkung di sudut pipimu
ada kata pernah terangkai, dan
ada sajak yang tak pernah kau maknai

Seribu Luka

senja tikam semburat merah kemudian berlalu
pun seribu luka menganga

Sunday, June 21, 2015

Sesendok Luka dari Semangkok Duka

kupeluk remah-remah cahaya bulan
pun serpihan bintang tertuang dalam semangkok duka
terombang-ambing sesal, kesal, kental kuseduh perlahan
memutar dalam guratan waktu yang tak pernah ada jawab

seorang lelaki lusuh memukul mangkok dengan selogam uang receh
denting tak berirama iringi lenguh suara yang tak jelas notasinya
pun satu denting mendendang menelusup sergap kesadaranku
serupa resah lampu-lampu, tertunduk silau pantulkan pernikpernik luka
kuteguk kembali sesendok luka dari semangkok duka
malam masih tipis bermandi remah-remah cahaya bulan

Usah Sembunyi

Usah kau sembunyi dari lukamu
pun senyum kau lakukan
luka tetaplah luka
luka t'lah menjalar
hingga akal, bibir, dan
tanganmu tak lagi sempurna



Friday, June 19, 2015

Pada Malam

Apa yang mampu kita kekalkan pada malam
selain pekat dan raungan kisahmu
kecemasan kulihat di antara getir waktu
cerita satir t'lah kau lakoni
kau rangkum dalam bulirbulir airmatamu
menjelma bait puisi

Di Bawah Temaram Langit

Tertatih arungi imaji
di bawah temaram langit menemu kamu
kau kais basah tanah tuk kumpulkan bulirbulir penyesalan
kau hanya memandangku tanpa bersuara
dari matamu aku tahu kau terluka, kau takut isak justru membisik tanpa kata

kau berlari menuju biduk
kau dayung tanpa kembali menoleh
tiada kau kayuh terombang ambing
arungi malam panjang tiada berujung
hanyut bersama isak yang justru makin mengeras
teteskan jejak pada biru air di bawah temaram langit

Thursday, June 18, 2015

Gerhana Cinta

Gelap memasung langit
rembulan pucat temaram kian pekat
duka gendong luka
gerhana cinta kala purnama bersenandung

Monday, February 23, 2015

Duka abadi

Kau sudah simak guratan lara dahiku
torehan kata serupa aksara dieja tanpa makna
tersusun dalam pelukan mendung
pada jejak terjal tersusun rindu usang

kini mendekam merindukan bulan
selaksa bening menitis pada kibasan waktu
berselendang duka berlalu tinggalkan tawa sinismu


Friday, January 30, 2015

Bendera itu Setengah Tiang sekarang

Indonesia raya berkumandang begitu bel tanda masuk dibunyikan.
Kutatap wajahwajah penuh harapan.
Tegak dan gagah kalian lantunkan, sembari memandang bendera di sudut ruang.
Kepalaku pening tibatiba angin berputar merasuk dan membuncah suasana,
denging semakin kencang menyusup di telinga
"Hukuman mati, koruptor, narkoba, polri, kpk, kurikulum,
pembunuhan, artis kawin cerai, pamer kekayaan, politik,
demokrasi membusuk, bencana, kemiskinan, racun televisi"
Kutatap kembali bendera diakhir lagu,
perlahan bendera itu turun setengah tiang,
kubuka lebar mata, berkedip dan benar bendera itu berhenti setengah di sana.
Aku hanya bergumam tanpa bs kuucap
"PR mu semakin banyak di masa mendatang anakanakku"
seiring syair "hiduplah INDONESIA RAYA.....
(28 Jan 2015)