Saturday, November 15, 2008

Rindu Anak negeri pada Alam

Matahari menyemburat lagi. Meresapkan kehangatan lewat pancaran sinarnya. Langit di timur jauh mulai terbias warna jingga yang perlahan berpendar ke warna kuning. Segala akifitas akan di mulai kembali. Berjuta insan mulai terbangun dan menyibak selimut hangatnya. Membuka jendela, membuka pintu, membuka hati untuk kembali menjalani rutinitas hariannya. Sebagian telah bersiap dengan diri, hendak berlomba dengan waktu, dan sebagian sudah ada yang berkubang di arena persaingan alam untuk mengejar sedikit materi, untuk menyambung satu harapan atas nama kehidupan. Riuh rendah suara alam mulai berbaur dalam satu nada yang bising.
Kami merasa terasing disini, semua begitu kabur. Semua seperti telah terprogram oleh mesin waktu yang sewaktu-waktu, ketika kita mulai lengah, ia tak segan-segan menggilas kita. Kemacetan seperti sudah menjadi keseharian yang bila sehari saja tidak terjadi, justru malah dipertanyakan. Udara yang kami cium tak lagi bersahabat. Air yang kami gunakan untuk mencuci, memasak, dan minum tidak lagi terjamin kebersihannya. Karena polusi telah menjalari semua sisi.
Dulu kami memimpikan kesenjangan disini, memimpikan taraf hidup yang lebih baik, ekonomi yang lebih mapan. Karena ketika di desa, kami selalu di iming-imingi lewat teknologi, bahwa di kota semuanya akan selalu mungkin. Lalu kami berduyun-duyun bagai gerombolan kelelawar keluar dari goa-goa gelapnya, kami berangkat dengan bekal alakadarnya untuk merantau ke kota, dengan berjuta harapan yang menyesaki rongga dada dan terpatri di benak kepala. Kamipun rela meninggalkan tanah kelahiran kami yang telah banyak memberikan ilmu kebijakan pada kami. Yang telah mengajarkan ilmu alam yang pasti. Yang telah mengajarkan ilmu bercocok tanam di waktu yang tepat.
Di desa, kami mendapat ilmu yang berlimpah tentang menghadapi musim, kapan kami menyemai, kapan kami menanam, dan kapan kami memanen. Kamipun belajar banyak untuk memanfaatkan sungai sebagai pengairan. Memanfaatkan tebing bukit sebagai perkebunan tampak siring, dan memanfaatkan padang ilalang untuk mengembala ternak.
Lalu mengapa kehidupan kami diusik oleh kehadiran orang-orang yang mengatasnamakan pembangunan?. Mereka mengumpulkan kami di balai desa, menjelaskan program terpadu yang mereka sebut sebagai pemerataan pembangunan, dengan dalih bisa meningkatkan taraf hidup kami jika kami mau mencari nafkah di kota. Mereka memaksa kami untuk menjual tanah leluhur kami yang diwariskan secara turun temurun. Dan jika kami tidak mau, mereka tak segan menyebut kami sebagai rakyat yang anti pembangunan. Lebih jauh lagi mereka menyebut kami sebagai rakyat yang anti pemerintahan.
Nyatanya semua yang kami terima hanyalah omong kosong belaka. Ketika kami menjejakkan kaki disini, di kota, hanya kebengisan yang kami lihat. Berjuta pasang mata yang mejemput kedatangan kami tampak sekali tanda-tanda yang tidak bersahabat bersemayam di dalamnya. Lantas kami dihadapkan pada kenyataan. Tak ada sejengkal tanahpun untuk kami sandarkan tubuh letih ini. Karena harga tanah disini jauh melambung tinggi dari harga tanah di desa yang kami jual secara terpaksa. Lalu kami terpaksa menjadi penghuni pinggiran kota yang hidup saling bertumpuk dengan para tetangga yang nasibnya tak jauh beda dengan kami. Kami tinggal hanya dengan beralaskan tanah kering dan berdindingkan dus-dus bekas makanan. Itu mungkin masih lebih mujur jika dibandingkan saudara-saudara kami yang terpaksa harus menghuni kolong-kolong jembatan, yang tentu saja akan susah jika musim hujan datang.
Lalu keadaan semakin sulit ketika ilmu alam yang kami dapat dari pengalaman di desa, tidak bisa kami terapkan disini. Para orang tua kami tak bisa lagi menyembunyikan penyakit tuanya karena mereka tidak bisa lagi bekerja. Padahal ketika di desa, tak ada orang tua yang berhenti bekerja sebelum ajal menjemput, meskipun umur mereka sudah lebih dari enam puluh tahun. Karena dengan bekerja, mereka merasa lebih segar dan sehat.
Pelarian terakhir mereka -para orang tua kami- adalah pinggir jalan yang membuat mereka mengais rejeki dari bising mesin kendaraan dan kepulan asap knalpot. Sekedar menengadahkan tangan, atau menyusun tutup botol. Lalu mendendangkan musik penderitaan, dengan harap belas kasihan dari para penderma.
Tak ada lagi yang bisa kami harapkan disini. Kami rasa tempat kami bukan disini. Peradaban kami adalah alam yang banyak mengajari kebijakan. Pijakan kami adalah tanah tempat menyemai benih-benih yang memberi kami harapan. Semangat kami adalah hujan yang menurunkan rejeki dan air kehidupan. Dan, nasib kami adalah angin yang membawa semangat perubahan lewat kesejukan hembusannya.
Kami harus pulang. Kami sadar bahwa kehidupan kami yang sebenarnya adalah di tempat ketika dimana kami dilahirkan dan dibesarkan.
Kami harus pulang. Kembali menata kehidupan yang telah dirampas dari kami. Semoga masih ada sejengkal harapan untuk kami sandarkan masa depan.
Namun inilah kenyataan yang kembali harus kami terima. Disini, kembali kami harus menelan mentah-mentah harapan kami.
Desa kami telah lenyap. Digusur oleh laju pertumbuhan pembangunan yang nyata-nyata tidak memihak kami, atas nama rakyat jelata.
Disini, di desa yang dulu kami tinggali, kami tidak lagi menemukan kesegaran embun pagi yang dulu selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari awal hari yang kami jalani. Kami juga tidak merasakan kesegaran udara yang dulu begitu merasuk memberi semangat untuk menyongsong hari yang lebih indah. Tak ada lagi nyanyian alam yang didendangkan aneka burung yang ditingkahi tawa riang bocah-bocah berseragam sekolah dengan tas ransel di pundaknya. Bahkan tak ada lagi beberapa potong singkong goreng dan segelas kopi hitam di atas meja untuk sebuah jamuan sarapan pagi yang begitu nikmat, tanpa harus khawatir dengan kandungan bahan pewarna, kolesterol, bakteri, lapisan lilin, ataupun bahan kimia lainnya. Semua telah lenyap. Matahari pagi tak lagi terasa meresapi jiwa-jiwa yang rindu akan hangatnya. Hanya tatapan-tatapan mata yang lelah dan air muka yang mengendapkan keletihan, yang sering kami jumpai berlalu lalang di hadapan kami, tentu dibarengi dengan mulut bungkam tak ada tegur sapa, atau sekedar permisi.
Lalu mengapa kami seperti kehilangan pijakkan kami. Tak ada bau lembab tanah yang menyegarkan penciuman kami. Atau suara lonceng dari leher kerbau yang digiring para petani untuk menggarap sawahnya. Bocah-bocah berseragam seperti kehilangan tawanya. Kehilangan masa depannya. Kehilangan cita-cita yang dulu selalu diemban di pundaknya. Mereka kini seperti kehilangan harapan. Terseok, seakan bersekolah hanya akan menjadi beban kehidupan. Tak ada lagi cita-cita. Bahkan mimpi pun lenyap sebelum tidur tiba. Angan dan asa hanya akan menjadi sandaran kecemburuan yang selalu menghantui. Lalu esok, masa depan mereka akan mereka pertaruhkan diperempatan jalan, dengan menengadahkan tangan, dengan dendangan suara parau dan sumbang yang terkadang menyayat hatinya sendiri.
Kemudian, kemanakah ladang kami, tempat dimana kami menyemai benih-benih kehidupan. Lalu kemanakah bukit kami, tempat dimana kami membuat perkebunan tampak siring. Dan kemanakah padang ilalang dan hutan kami, tempat dimana kami mengembala hewan ternak dan berburu. Kemanakah halaman luas tempat anak-anak kami bermain. Kemanakah malam terang purnama yang selalu ditingkahi tawa riang anak-anak kami yang memainkan permainan rakyat sambil menyanyikan senandung lagu yang mengantar mereka menjemput mimpi indah diantara lelap tidurnya setelah lelah bermain.
Itu mungkin hanya sebagian yang bisa kami rasakan. Sementara, kami belum mendengar lagi suara kokokan ayam yang membangunkan setiap insan untuk menyambut pagi. Kami belum mendengar lagi kicauan burung yang menyambut hari, merapalkan doa atas keagungan pagi yang indah. Lalu ketika hari beranjak sore, kamipun tak lagi mendengar bising serangga yang mengantar kami menjemput senja, menjemput pekat malam yang melindungi kami di peristirahatan ketika lelap membawa kami menjelajah mimpi.
Esok, atau di hari yang akan datang, kami tak akan berhenti berharap. Semoga masih ada secuil mimpi yang bisa kami jemput di kemudian hari, dan menjadi sandaran untuk terus berusaha. Semoga angin masih berhembus membawa kabar berita yang bisa membuat kami kembali bersemangat, meskipun harapan itu kecil adanya. Semoga masih ada rintik hujan yang menyuburkan hati terdalam kami. Dan, semoga masih ada sejengkal tanah yang bisa menerima jasad kami, ketika kami merasa letih dalam mengarungi hidup ini.
Kesadaran kami telah terlecut hingga puncaknya, bahwa tak ada lagi yang bisa kami harapkan dari semua perubahan ini. Karena perlahan tapi pasti, toh perubahan akan datang pula. Perlahan tapi pasti, kamipun akan mangkat, membawa pertanyaan besar yang entah kapan akan terjawab. Hanya saja, kami masih diliputi keraguan yang dalam, yang membuat kami masih enggan untuk mati. Satu pertanyaan yang mungkin harus Anda jawab, masihkah ada sejengkal tanah itu? Tempat dimana jasad kami berbaring, menyandarkan letih, dalam balutan tangis dan getir.

"Aku pinjam darimu wahai sahabatku"

Lelah

Letih
Maka aku tertatih
Sedang kaki ini enggan menjejak lagi
Di atas tanah yang kupercaya akulah tuannya Pikirku
bergegas ingin berlari saja
Lekas menari di ujung sana
Walaupun sementara
Namun entah bilamana Sebentar tadi tubuhku sudah menyandar
Tak mau lagi bersabar Dan aku sungguh letih Menyungkur di sudut bumi
Terkapar memeluk semangat yang mati
Seketika kudekap mimpi tak berarti
Lelah Seperti ini
Catatan ringan seorang karib

Kemana Kau akan melangkah

Memandang pada yang lain sendiri
Tinggal seperempat detik lagi,
dialog sunyi akan bernyanyi
bilur bilur sesal tak lagi mampu terampuni
Dan sajak-sajak lahir dari ketakutan yang mendalam
Pertautan seperti seutas tali lagi yang tak mampu dibatasi
Mimpi itu meneteki tanah hitam dengan seribu bahasa
Wahai,
inilah kenyataannya
Ketika jalan jalan hitammu hitam yang senyap
Catatan untuk yang terpinggirkan

Friday, November 14, 2008

Dialah segalanya (karena dia begitu sayang kamu)

Dia datang ketika kamu sedih...
dia ada saat kamu membutuhkannya...
dia tidak pernah meminta...
dia hanya tau memberi...
dia tak pernah membuat luka untukmu...
dia tak pernah memberikan kecewa padamu..
dia hanya bisa lakukan hal yang menyenangkanmu..
dia tak pernah berharap untuk kamu lihat..

dia tak pernah menghindar jika kamu dekat..
dia tak pernah lari, dari kegelisahanmu..
dia ada diharimu..
dia ada ditiap langkah kakimu..
dia mengerti,dimana harus ada..
dia mengerti dimana dia dibutuhkan...
dia tau...kamu tak melihatnya..

bahkan kamu tak pernah mau tau siapa dia..
dia hanya mengerti jika membuatmu tersenyum adalah kebahagian hatinya...
pernah kamu sadari tiap senyummu berikan dia kehidupan..
tiap tawamu, berikan dia kekuatan..
tiap katamu, mententramkan perasaannya...
walau terkadang, kata yang kau ucapkan menyakitinya,...

pernahkah kamu berpikir untuk tau, mengapa dia lakukan itu padamu??
pernahkah kamu bertanya mengapa dia mau memberi, tanpa kamu minta...
pernahkah kamu bertanya mengapa dia ada saat kamu membutuhkannya?
pernahkah kamu bertanya mengapa dia mau menunggumu, saat kamu pergi menjauh?

dia hanya bahagia, jika kamu bahagia
dia ikut menangis, saat kamu terluka
dia ikut marah, saat kamu tersakiti..

dia memberikan sepenuh hidupnya untuk memberikanmu cinta
dia memberikan hatinya untuk mencintaimu...

Aku pinjam dari "catatan Senja"

Thursday, November 13, 2008

Malam dalam rengkuhmu di bawah rona Bulan

Ilalang berjubah hitam berdesir sambil bergesekan pelan ditiup angin malam.

Kau senang?

Aku senang, tentu. Terimakasih, ya.

Aku tahu kalau kau akan senang, maka aku bawa kau ke sini.

Benar sekali. Aku memang paling senang terlihat berkilau-kilau di bawah malam. Tapi, malam biru ini, aku tidak tahu kenapa kok bulan itu sepertinya berkedip-kedip menggoda?

Dia pasti cemburu sama kita.

Mungkin.Tapi... kenapa dia harus cemburu?

Aku tahu bulan pasti sedang menggodaku. Aku tahu pasti bulan ingin aku berpaling pada dirinya. Aku tahu bulan pasti tidak rela aku membagi cintaku untukmu. Aku tahu bulan pasti akan...

Tunggu. Kau… mencintaiku?

Aku… kukira aku... tapi tadi aku.... Lupakan. Lupakan saja, kumohon.

Tidak bisa.

Kumohon. Ya?

Tidak mau. Apa itu tadi? Kau--

Ya, Tuhan. Hatiku sudah bersimpuh memintamu untuk melupakan apa yang kukatakan barusan.

Terserah kaulah.

Eh?

Eh juga. Kau lihat disana? Bulan sekarang mungkin sedang tersumat api cemburu. Kau lihat, kilauannya kadang terang kadang mendung.

Kenapa bulan harus cemburu?

Karena aku juga. Kata-katamu barusan membuatku... maksudku hatiku tiba-tiba kelu. Membuatku tidak bisa berpikir jernih lagi. Kurasa... maksudku kau tahu tidak kalau aku... aku...

Wajahmu bersemu merah. Kau kenapa?

Kau tidak tahu?

Beri tahu aku supaya aku tahu.

Kau benar-benar tidak tahu?

Aku kan sudah menjawabmu.

Aku pikir... bulan malam ini memang benar-benar sedang biru.

Apa sih maksudmu?

Seperti hatiku.

Hey, jangan menggumam. Aku tidak dapat mendengar ucapanmu barusan.

Kau tahu, mungkin kita bisa kesini lagi besok.

Boleh juga. Dan aku akan berharap sungguh-sungguh untuk tidak terlalu malu. Aku berjanji... aku akan mengatakannya lantang dan bulan pasti akan patah hati.

Jangan menggumam. Aku juga tidak bisa mendengar apa yang kau katakan barusan.

Bulan pasti bahagia malam ini.

Iya, bulan memang bahagia. Tapi tetap saja warnanya mewakili lukisan hatiku malam ini.

Aku juga.

Aku tahu kau pasti senang aku mau menemanimu.

Aku tahu kau pasti senang aku bawa kesini.

Aku harap besok masih ada kesempatan.

Aku juga sangat berharap.

Matamu berkaca-kaca?!

Matamu juga.


"Aku pinjam ceritamu Bulan"
November 2008

Bila saatnya Nanti Ku ingin

merendah hari demi hari terasa letih pada tubuh
pada jiwa ingin berhenti sejenak
di pelabuhan , di stasiun ,di terminal atau di mana saja mencari dan mencari

ingin singgah di rumahMu
kulihat pintu nya selalu terbuka tapi
seribu gelisah menghampiri ada ragu mungkin kah
Kau mau menerimaKu
kucoba terus berjalan kearah rumahMu
kini aku sudah sampai pintu dan masuk ke dalamnya

Kau begitu menyenang kan , aku senang di rumahmu aku tenang , aku teduh ,
aku ingin tidur di rumahMu
bahkan saat nya nanti mata ku tertutup kuharap aku mendengarkan panggilanMu
saat dhuhur , saat ashar , saat maqhrib , saat isya ,
saat subuh dan saat nya nanti aku menutup mata kuharap
Kau ada di seluruh jiwa dan hatiku ALLAH HU AKBAR , ALLAH MAHA BESAR

Wednesday, November 12, 2008

Diam

kadang kita perlu diam
kadang kita perlu merenung
merenung dalam diam

gak perlu melahirkan kata-kata
cuma diam
menghindari luka, menghindari sakit

dan sekarang, diam
menikmati kesunyian

Agitasi Bulan November

kutemui kelembutan, yang membuatku terbuai teduh;
kujumpai samudra, yang membuatku bebas berlayar;
kulihat angkasa biru, yang membuatku melayang ceria;
kurasakan yang termanis, yang membuatku terpikat lekat padamu.

Kadang aku duduk termenung, mengambil secarik kertas kosong
dan menyentuhkan ujung ballpoint diatasnya,
mencoba mereka-reka semua pilihan yang ada, lalu kemudian menuliskan

Berusaha membangun kembali sisa-sisa reruntuhan hati,

mengais-ngais diantara serpihan yang tertinggal untuk berusaha kubangun kembali,
sangat berat…, tapi apa dayaku saat ini, aku tak punya kuasa, bahkan untuk diriku sendiri.

Entah bagaimana awalnya, dan bagaimana prosesnya,
kali ini aku benar-benar merasa bersalah
berat.., lelah dan letih terasa jiwa ini, semuanya sangat singkat,
seperti terbangun dari mimpi buruk, tapi sakitnya beritu nyata,
masih teringat jelas saat itu, saat dimana hati ini mulai menemukan kesejukan dan ketenangan, namun seketika itu juga berubah menjadi sakit yang teramat sangat hingga menggoncang ketenangan jiwa ini ketika tersadar bahwa ini hanyalah mimpi.

Aku hehilangan sesuatu yang sangat berarti di hati,
aku tak mampu menggapainya, bahkan aku tak berdaya lagi meski hanya berharap,
entah.., aku hanya bisa mengucap maaf untukmu yang tersakiti,
tak pernah terbayangkan akan berakhir seperti ini,
maaf atas ketidakberdayaanku, maaf karena telah melukaimu,

Saturday, November 8, 2008

Doa dan Perenungan

Doa Minta Jodoh

Ya Tuhan,
kalau dia memang jodohku,dekatkanlah...
Tapi kalau bukan jodohku,Jodohkanlah....
Jika dia tidak berjodoh denganku,maka jadikanlah kami jodoh...
Kalau dia bukan jodohku,jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,selain aku...
Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku,jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku...
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh,jodohkanlah kami kembali...
Kalau dia jodoh orang lain,putuskanlah!Jodohkanlah dengan ku....
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain,biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dankemudian Jodohkan kembali dia dengan ku ...
"Amin...".

Doa di atas adalah doa terkejam dari seseorang yang sangat mencintai. Tapi coba renungkan dengan sekelumit perenungan di bawah ini

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak seperti yang kamu inginkan dan kamu harus melepaskannya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, yaitu jodohmu.

Thursday, November 6, 2008

Terimalah Salam Takzimku wahai Melati

Saat diri terfakur dalam zikir wujud, hanya ada lantunan jangkrik-jangkrik,malam yg tak pernah bosan bertasbih dan bisikan angin.. yg menyampaikan berita, serta merta alam dengan selubungnya.tapi... kurasakan damai malam ketika gagak-gagak itupun mulai mendengar suaranya,walau tikus-tikus memaki diriku, lantaran lancang membuka mata seolah takut usikku.tapi... sekali lagi kutetap pada tempat '' terfakur '' dalam diam tak berbicara, dalam tangis tak bersuara.kala kubuka hati menyapa kalbu yg lama membisu.sekali lagi.. ku terfakur dalam bisik bibir, dalam sapa hati.ketika lantunan terdengar telinga '' subhanallah, walhamdulilah, allah akbar ''kumandang tasbih seluruh tubuhku dan akupun terfakur.


Kepedihan telah membelenggu bibir,dari tawa dan senyumku tak seseorangpun yg memilikinya lagi.Aku telah mempersembahkannya hanya untukmu kasih, tapi kini kau telah pergi.biarlah... biarlah kulukiskan setangkai melati kering di balik hatiku. agar kau selalu ingat selarik senja yg telah mempertemukan kita, dan senja itu pula yg telah mematahkan tangkaimu.walaupun tangkaimu patah, tapi aku masih mengharapkan harummu.OH... melatiku...kirimkanlah harummu lewat angin yg berhembus

Renungan Hati

Laksana dahaga yang merasuk dijiwa… ditegah-tengah padang pasir cinta… hanya cintamu yang mampu sejukkan hatiku… hanya kasihmu yang bisa mengobati dahagaku… sejuk tatapanmu membuatku selalu…. ingin dekat denganmu…. selalu ingin dalam dekap hangatmu… hanya dalam pelukmu kumerasa tenang… andai kau tau begitu bermakna… kehadiranmu dalam hidupku…. cintamu adalah hal yang paling kunantikan dalam setiap langkahku… kutakkan pernah bisa lalui hidup ini… tanpa cintamu…. begitu sepi hariku tanpa kehadiranmu
Keretaku berjalan dengan laju, menelusuri rel-rel berdebu.sorak sorai ilalang dengan rumput-rumput jalang mengiringi.keretaku semakin laju dan ia pun berterima kasih pada angin, yg setia menemani perjalanan ini.keretaku laju tiada henti, membawa harapan dari setiap mimpi, tak terusik panas dan hujan, walau gerbong-gerbong telah keriput membawa sejuta kenangan, saat aku ada di dalamnya terputar tiap-tiap nostalgia diri.keretaku melaju menuju kota tuaku, karena di sana kutaburkan tiap harapan.keretaku... jangan pernah berhenti, untuk menantiku kembali dalam setiap sudut lorong tawa.
Kecupan telah aku berikan pada malam gulita, bulat dengan warna pekat.kotakupun senyap dengan hingar bingar.dengan cahaya lilin tua pada lorong-lorong megah.ternyata... kataku pada bisik malam yg gerah, ini semua fatamorgana, kusam dan usang dari bayang lilin tua.dikota usang kugelar mimpi selimuti gulita, menyusup dari sudut-sudut lorong, mencari cahaya hingarnya kotaku, agar esok dapat kupertontonkan bingarnya.

Dulu kidung itu aku senandungkan, dalam detik yg berbaur angin.meretas jalan di perkampungan, sepi tanpa suluh meski setitik sinar, dan di pertengahan musim penghujan.saat itu aku menuai luka yg tak kusangka.cinta, rindu dan rindu menjadi sayatan nyeri.beberapa lama dalam alur waktuku aku.. terluka menangisi cinta yg tak berwujud, semoga Tuhan arahkan hatinya dalam indahnya ketulusan mencintai dan menyayangi,meski tanpa balas sekalipun.

Monday, November 3, 2008

Sambutlah Dia yang Tuhan Jodohkan padamu


Mataku kemudian tertumbuk padamu saat kertas bertuliskan "Semua Akan Indah pada Waktunya" melayang lepas dari tanganmu. Ah, aku langsung tersugesti untuk menyapamu. pertama aku bertemu gadis Putih bersih dengan rambut sebahu dan lesung pipit itu.

Kau telah meninggalkan kesan bagiku. Entah itu kesan baik ataupun tidak, yang penting telah menggoreskan kenangan dalam kehidupanku. Kemudian kotak cinta ku mulai terisi helai demi helai hari, dengan penuh warna-warni. Aku ingin katakan bahwa ketika itu aku sangat berubah. Sebelum bertemu kamu, hidup terasa serius buatku. Tetapi kamu merubahnya, ternyata hidup itu lebih indah dari yang pernah aku duga. Aku pun agak berani dalam menyiasati hidup agar bisa bertemu dan meneleponmu. Selain itu, sungguh senyumanmu sangat indah dalam waktu-waktu yang biru. Ketika melihat lautan, biasanya yang kulihat hanya biru. Namun ketika melihatnya bersamamu, yang terasa adalah hati yang biru. Penuh kehangatan, kecerian, semangat, harapan, impian, dan hidup. Alangkah penuh warna-warni. Aku masih menyayangimu, Fat...mujhe tumse mohabbat kartaho (hmm, katanya sih bahasa pakistan atau India gitu)
Kau mungil Matamu ditumbuhi tunas-tunas impian, serupa nadi ia menjalar di setiap bagian tubuhku.
Ah, warung padang pinggir jalan di sepanjang yang penuh kenangan. Tidak ada yang tidak aku kunjungi mulai dari, opor ayam, tahu campur, nasi goreng hingga bebek goreng bersamamu.
Tapi sekarang kau telah terbang dangan sayapmu, Ah, betapa tidak enaknya pergi sendiri hingga terasa sunyi. Biasanya ada my lovely yang menemani. Kenangan-demi kenangan telah kulalui bersamanya. kamu adalah pribadi yang menyenangkan.
Kendaraan ku terus membelah jalanan kearah yang sunyi. Yang ada hanyalah jalan yang lengang dan kenangan yang tidak lekang denganmu . By the way, di mana ya kamu berada kini?
Kendaraan ku berhenti Ah, di sini dulu kau minta turun menuju rumahmu . Ah, di mana sih kamu sekarang?
Waow! Ini lagu kesukaanya "Syahdu albumnya Kak Rhoma" Kau suka mendengarkan tembang dangdut walau satu lagu ini. Sepanjang soreku seorang diri mengendarai hingga malam menjemput. Tiada teman kecuali rembulan dan gemintang yang mulai mengintip. Sepanjang malam, teringat dan mengenangmu. Sepanjang perjalanan, Aku mencoba mengingat kembali kisah denganmu. Mirip sebuah cerita yang seakan tiada berujung.
Sayup-sayup malam pun mulai terdengar mengantarkan sebagian orang untuk melepas lelah sesaat setelah sibuk seharian. Sepanjang perjalanan aku memandang bulan purnama yang menempelkan bayanganya . Tapi, tidak sepenuhnya bulan itu melekat pada mataku karena aku hanya berusaha mengalihkan perhatian dari bayangan senyummu.Aku tak dapat melihatmu. Tak dapat menyentuhmu. Aku hanya bisa mencium baumu. Mendengar napasmu. Menghitung detak jantungmu.Juga menikmati suara lembutmu. Suara yang memang diciptakan special oleh sang pencipta. Suara merdu sekaligus tegas.Suara serak sekaligus ramah.
"Halo?"
"Kamu sudah di mana?"
"Sudah dekat rumah. Tidak lama lagi kok."
"Oke. Hati-hati, ya."
"Ayah cepetan pulang dong? Adek kangen sama Ayah. Kok, pulangnya malam terus sih?"
"Iya, sayang. Sebentar lagi Ayah pulang. Ayo sama Ibu dulu, ya."
"Iya, Yah."
Dengan genggamanku HP tersebut ku matikan. aku masih mengemudikan kendaraanku dengan perlahan. Masih mengenangmu. Masih mengingat semua tentangmu. Kenangan sepanjang jalan. Kenangan tak terlupakan. Tentang seseorang yang pernah singgah.
"Kita Memang tak diciptakan untuk bersama," katamu menatap mataku. Akh, apa kau bisa tahu, aku merasakan bahwa tidak ada lagi pertemuan selanjutnya untuk kita. Ketika aku memandang matamu, aku menemukan samudera dengan ombak yang ganas. Aku selalu memandang dari daratan. Tapi, itu sebelum karung-karung pasir itu kau tumpuk menjadi pagar. Sejak itu kau lakukan mataku jadi terhalang dan tidak bisa melihat apa-apa. Aku hanya bisa mendengar desiran, tanpa melihatmu bermain atau bergurau. Lalu kubiarkan alunan musik dari radio tersebut mengalunkan lagu sendu "all by my self... Loving you.."

Selamat berbahagia dengan jodoh
yang tlah Tuhan berikan untukmu.




Betapa Aku Ingin Mengulang

Ingin sekali, ingin sekali
Bersamamu menghitung bintang di langit
Mendadak hujan rintik diantara dedaunan
Betapa ingin ku bersamamu
Mendengar kau ceritakan kisah lama
Mengukur dasar cinta di matamu

Betapa ingin bersamamu
Menyaksikan terbenamnya matahari di cakrawala
Agar hari terangkum jadi kenangan
Kenangan yang terindah

Betapa ingin bersamamu
Susuri gunung dan sungai
kelak-kelok ular beraspal
Agar hari terangkai jadi kenangan
Kenangan yang terindah..