Berdiri aku di bibir senja,
menyatu keindahan bersama selendang merona
Mereguk petang,
meraba senja.
aku kehilangan,
tenggelam dalam keraguan.
Ragu akan tatapan yang tak bertuan.
Aku terkenang terkatung dalam kegamangan.
Tanganmu menjulur tulus membantuku berdiri,
tapi hatimu hampa tanpa bias.
matamu tegar menyergap diriku,
tapi jantungmu tak berdetak atas namaku.
Matamu tak membaca pada apa yang terbalut penantian,
tapi kau selalu ada saat aku terjaga
Senja makin memerah, hatiku pun merona…..
Menyimpan tanya dalam bingkai kebimbangan
Apa yang engkau dendangkan
Aku terselip dalam dekap kebimbangan
Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Saturday, March 14, 2009
Lelaki di Cermin itu
Di depan cermin kutemukan wajah itu.
Kutatap matanya.
Mata di dalam cermin membalas tatapanku.
Aku lekat menatap mata itu.
Mata itu menatap mataku.
Demikian lekat.
Bintik hitam.
Lalu bayang-bayang.
Berhamburan dari mata itu.
Mungkin masa lalu. Sebagai kenangan.
Mungkin juga masa depan.
Sebagai harap.
Di mata itu aku temukan seorang manusia.
Ia meringkuk di sudut waktu dengan gores luka.
Diri yang lelah bertarung di hiruk pikuk jaman yang menusuk
menetak mencongkel mengaduk-aduk seluruh rasa
dengan suka-duka derita-bahagia.
Diri yang merasa sebagai pecundang yang lelah berlari
memekikkan kekalahan demi kekalahan.
Lelaki yang menerima kutuk dan maki sebagai upacara diri sendiri.
Manusia yang selalu meneriakkan nyeri perih tak henti.
Inikah wajahku. Inikah mataku.
Inikah aku. Kataku bertanya pada diri.
Saat menatap wajah dalam cermin.
Mata dalam cermin. Yang menatapku dengan lekat.
Mencoba menelusuri dan menelanjangi seluruh riwayat.
Di mana aku berada.
Dari mana aku bermula. Ke mana aku akan kembali.
Mata. Serupa jendela.
Kau katakan dapat menjenguk jiwaku.
Lewat mata. Jendela jiwa.
Padahal mungkin yang kau temukan adalah labirin kesunyian
yang gelap tak berujung cahaya.
Atau kegaduhan gelisah sendiri yang
membakar hari-hari dengan tanya tak berjawab.
Tentang diri sendiri. Tentang segala yang tak pernah dapat diketahui pasti.
Mata. Aku ingat kau sering menatap mataku.
Penuh selidik. Karena kau tahu
aku tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu jika kau tatap mataku.
Kau akan segera mengetahui apakah aku jujur
atau berbohong hanya dengan menatap mataku.
Mungkin sering pula kau temukan airmata di situ.
Ya, inilah airmata. Menyelinap dalam senyap.
gemeletar tatapmu. Sebagai cemburu.
Memburu masa lalu: peta-peta yang diberi tanda.
penanggalan dan riwayat.
Tapi siapakah yang membaca luka sebagai puisi.
Selain matamu yang menelusur jejak rasa sakit.
Hingga kau tahu, aku menanggung kutuknya sendiri.
memanggul kata-kata dan menggulirkannya dari puncak derita bahagia.
O jutaan huruf terlepas dari hati.
Bergulir kata-kata.
Di tebing pipi. Sebagai airmata, yang kau terima,
sebagai debar dalam dada sendiri. Hanya ketulusan menerima.
Sebagai muara. Mengalirkan kesah pada laut keabadian.
Cintamu.Mata serupa jendela, katamu.
Dan memang sepertinya begitu.
Aku pun membalas tatap matamu.
Aku temukan kedalaman cinta dalam tatap matamu itu.
Kedalaman rahasia. Aku coba menyelaminya.
Hingga sampai palung terdalam. Rahasiamu.
Rahasia yang kau simpan rapi dalam-dalam.
Seakan takut ada perompak yang akan merampasnya.
Peta rahasia yang kau gambar suatu ketika.
Catatan yang kau tulis suatu ketika.
Tapi entah mengapa kau biarkan aku menemukan peta itu.
Rahasia itu. Hingga kutahu riwayat mula-mula: Cinta.
O mata, yang menerbitkan cahaya rindu dalam dadaku.
Seperti cahaya dan gerimis yang menggambar pelangi.
Di lelangit harap saat kau tunggu dengan rayu dan tatapmu.
demikian manja gerimis menyapa. Cahaya di sela-sela.
Memendar pendar. Mewarna di udara.
Lengkung mimpi kanak-kanak ke langitcintamu.
Biarkan bait-bait rindu menelusup dalam mimpimu.
Huruf demi huruf yang beterbangan di buku hari-hari.
Berdiam dalam dadamu. Dalam hangat pelukmu.
o, yang mencinta. Kutemu diriku di situ di dalam dadamu.
Sepenuh cintamu.O mata, sebagai bening rindu.
Demikian hening. Ke dalam dadaku kau alirkan segala mimpi dan harap.
Tatap yang tak henti menjelajah relung-relung terdalam rahasia waktu.
Pada sketsa peta. Sebagai tanda yang harus kubaca.
Setulus cintaku. Gulir butir airmata menemu tuju.
Menemu mula segala rindu.Di negeri yang jauh.
Di langit yang jauh. Demi pemilik segala rahasiawaktu,
kutemu cinta di tatapmu, o mata.
Menerobos relung terdalam rahasia dalam dadaku!
Di matamu kekasih, kutemu negeri rerimbun pohonan menghijau daun,
gemercik alir dari mata air, jembatan bambu yang terbentang.
Kanak-kanak tertawa riang menyeberangkan mimpi dan harapnya.
O, di hati yang merangkum kasih sayang,
kanak-kanak mendekatkan kepalanya.
Tik tak kehidupan, berdetik di dada cintamu.
Pernah kulayarkan mimpiku ke dalam gelombang badai mencari negeri negeri
dimana pohonan beranting cahaya berbuah cahaya.
Kulayarkan mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri.
Angin menderu perahu terpelanting berulangkali tenggelam aku berkali-kali.
Sampai kutemu kini negeri di matamu yang cahaya,
yang menyeru: jangan lagi kau masuki negeri tak pasti.
Mata yang menderaskan airmata. Menderas.
Hingga o, berlinangan cahaya.
Dari matamu.
Dari mataku.
Cinta yang mencahaya.
Menyatu dalam lautan cahaya.
Kutatap matanya.
Mata di dalam cermin membalas tatapanku.
Aku lekat menatap mata itu.
Mata itu menatap mataku.
Demikian lekat.
Bintik hitam.
Lalu bayang-bayang.
Berhamburan dari mata itu.
Mungkin masa lalu. Sebagai kenangan.
Mungkin juga masa depan.
Sebagai harap.
Di mata itu aku temukan seorang manusia.
Ia meringkuk di sudut waktu dengan gores luka.
Diri yang lelah bertarung di hiruk pikuk jaman yang menusuk
menetak mencongkel mengaduk-aduk seluruh rasa
dengan suka-duka derita-bahagia.
Diri yang merasa sebagai pecundang yang lelah berlari
memekikkan kekalahan demi kekalahan.
Lelaki yang menerima kutuk dan maki sebagai upacara diri sendiri.
Manusia yang selalu meneriakkan nyeri perih tak henti.
Inikah wajahku. Inikah mataku.
Inikah aku. Kataku bertanya pada diri.
Saat menatap wajah dalam cermin.
Mata dalam cermin. Yang menatapku dengan lekat.
Mencoba menelusuri dan menelanjangi seluruh riwayat.
Di mana aku berada.
Dari mana aku bermula. Ke mana aku akan kembali.
Mata. Serupa jendela.
Kau katakan dapat menjenguk jiwaku.
Lewat mata. Jendela jiwa.
Padahal mungkin yang kau temukan adalah labirin kesunyian
yang gelap tak berujung cahaya.
Atau kegaduhan gelisah sendiri yang
membakar hari-hari dengan tanya tak berjawab.
Tentang diri sendiri. Tentang segala yang tak pernah dapat diketahui pasti.
Mata. Aku ingat kau sering menatap mataku.
Penuh selidik. Karena kau tahu
aku tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu jika kau tatap mataku.
Kau akan segera mengetahui apakah aku jujur
atau berbohong hanya dengan menatap mataku.
Mungkin sering pula kau temukan airmata di situ.
Ya, inilah airmata. Menyelinap dalam senyap.
gemeletar tatapmu. Sebagai cemburu.
Memburu masa lalu: peta-peta yang diberi tanda.
penanggalan dan riwayat.
Tapi siapakah yang membaca luka sebagai puisi.
Selain matamu yang menelusur jejak rasa sakit.
Hingga kau tahu, aku menanggung kutuknya sendiri.
memanggul kata-kata dan menggulirkannya dari puncak derita bahagia.
O jutaan huruf terlepas dari hati.
Bergulir kata-kata.
Di tebing pipi. Sebagai airmata, yang kau terima,
sebagai debar dalam dada sendiri. Hanya ketulusan menerima.
Sebagai muara. Mengalirkan kesah pada laut keabadian.
Cintamu.Mata serupa jendela, katamu.
Dan memang sepertinya begitu.
Aku pun membalas tatap matamu.
Aku temukan kedalaman cinta dalam tatap matamu itu.
Kedalaman rahasia. Aku coba menyelaminya.
Hingga sampai palung terdalam. Rahasiamu.
Rahasia yang kau simpan rapi dalam-dalam.
Seakan takut ada perompak yang akan merampasnya.
Peta rahasia yang kau gambar suatu ketika.
Catatan yang kau tulis suatu ketika.
Tapi entah mengapa kau biarkan aku menemukan peta itu.
Rahasia itu. Hingga kutahu riwayat mula-mula: Cinta.
O mata, yang menerbitkan cahaya rindu dalam dadaku.
Seperti cahaya dan gerimis yang menggambar pelangi.
Di lelangit harap saat kau tunggu dengan rayu dan tatapmu.
demikian manja gerimis menyapa. Cahaya di sela-sela.
Memendar pendar. Mewarna di udara.
Lengkung mimpi kanak-kanak ke langitcintamu.
Biarkan bait-bait rindu menelusup dalam mimpimu.
Huruf demi huruf yang beterbangan di buku hari-hari.
Berdiam dalam dadamu. Dalam hangat pelukmu.
o, yang mencinta. Kutemu diriku di situ di dalam dadamu.
Sepenuh cintamu.O mata, sebagai bening rindu.
Demikian hening. Ke dalam dadaku kau alirkan segala mimpi dan harap.
Tatap yang tak henti menjelajah relung-relung terdalam rahasia waktu.
Pada sketsa peta. Sebagai tanda yang harus kubaca.
Setulus cintaku. Gulir butir airmata menemu tuju.
Menemu mula segala rindu.Di negeri yang jauh.
Di langit yang jauh. Demi pemilik segala rahasiawaktu,
kutemu cinta di tatapmu, o mata.
Menerobos relung terdalam rahasia dalam dadaku!
Di matamu kekasih, kutemu negeri rerimbun pohonan menghijau daun,
gemercik alir dari mata air, jembatan bambu yang terbentang.
Kanak-kanak tertawa riang menyeberangkan mimpi dan harapnya.
O, di hati yang merangkum kasih sayang,
kanak-kanak mendekatkan kepalanya.
Tik tak kehidupan, berdetik di dada cintamu.
Pernah kulayarkan mimpiku ke dalam gelombang badai mencari negeri negeri
dimana pohonan beranting cahaya berbuah cahaya.
Kulayarkan mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri.
Angin menderu perahu terpelanting berulangkali tenggelam aku berkali-kali.
Sampai kutemu kini negeri di matamu yang cahaya,
yang menyeru: jangan lagi kau masuki negeri tak pasti.
Mata yang menderaskan airmata. Menderas.
Hingga o, berlinangan cahaya.
Dari matamu.
Dari mataku.
Cinta yang mencahaya.
Menyatu dalam lautan cahaya.
Aku pinjam catatan airmata
"gedong puisi" Maret 09
Thursday, March 5, 2009
Dalam Buai Angin Pesisir
Dalam matamu laut meluas
begitu air begitu karang
sebuah pusaran menggelora jiwa
mendamparkan sebuah pantai
membuka lebar-lebar
mendengar suasana
langit tidak terlalu biru
Pasir dengan rumput basah
menarik riak kecil
air mendinginkan bebatuan
suasana hati mengkerut menjadi sebutir pasir
dengan pongahnya larik-larik tersebut memaksa
mempelaminkan laut dan karang
Karang tak mungkin lepas dari air,
tetapi air tidaklah sekokoh karang
mendengarkan sebuah hikayat ataupun kisah tentang "mu"
Imaji-imaji bergerak bergandengan di bait
ini hanyalah sebuah penanda masa
Air pasang di malam berbintang itu
ombak bertandang berdendang
ini malam nelayan di mana bidukmu ?
tertambat di rawa bakau
lalu tebarkan jala, kelambu bagi tidurku kelak
akan kugali sendiri lubang dalam-dalam
di mana ikan-ikan berenang dan
karang bertumbuhan di mataku
nikmati saja irama lagu itu bila anda tak faham liriknya
gambarkan bagai karang, bagai jala, bagai nelayan
yang perahunya tak sampai ke tangahan
karena tersangkut di hutan bakau
Matamu Laut puisi
pernah datang satu masa ikan-ikan lepas
ketika bulan terendam setengah matang di sisi lambung
seluruh laut ia dayung ada mesin kristal di sudut matanya
di malam berbintang itu ombak bertandang ia berdendang
menyapa bulan terluka dalam buai angin pesisir
begitu air begitu karang
sebuah pusaran menggelora jiwa
mendamparkan sebuah pantai
membuka lebar-lebar
mendengar suasana
langit tidak terlalu biru
Pasir dengan rumput basah
menarik riak kecil
air mendinginkan bebatuan
suasana hati mengkerut menjadi sebutir pasir
dengan pongahnya larik-larik tersebut memaksa
mempelaminkan laut dan karang
Karang tak mungkin lepas dari air,
tetapi air tidaklah sekokoh karang
mendengarkan sebuah hikayat ataupun kisah tentang "mu"
Imaji-imaji bergerak bergandengan di bait
ini hanyalah sebuah penanda masa
Air pasang di malam berbintang itu
ombak bertandang berdendang
ini malam nelayan di mana bidukmu ?
tertambat di rawa bakau
lalu tebarkan jala, kelambu bagi tidurku kelak
akan kugali sendiri lubang dalam-dalam
di mana ikan-ikan berenang dan
karang bertumbuhan di mataku
nikmati saja irama lagu itu bila anda tak faham liriknya
gambarkan bagai karang, bagai jala, bagai nelayan
yang perahunya tak sampai ke tangahan
karena tersangkut di hutan bakau
Matamu Laut puisi
pernah datang satu masa ikan-ikan lepas
ketika bulan terendam setengah matang di sisi lambung
seluruh laut ia dayung ada mesin kristal di sudut matanya
di malam berbintang itu ombak bertandang ia berdendang
menyapa bulan terluka dalam buai angin pesisir
Monday, March 2, 2009
Angin Pesisir di Awal maret
Angin pesisir menghembus pelan
merambah dedaun, lembah, ngarai
mengembara tuk menyapa angin gunung
keramahan suasana pegunungan tlah purba
Entah mengapa? angin pesisir hanya meraba
badai tlah hanyutkan rasa
mungkin benar kabar yang kau dengar
tapi, tak semua seratus persen benar
hembus angin tlah dibumbui rasa hingga
kebenaran tergilas fitnah membara
Semua terangkai dalam rangkaian kenangan
kelam manis bersemayam dalam kubur luka
tersingkap di kala kau luka,
luka pun makin menganga saat kesadaran tiba
Angin pesisir hanya membatu bersama karang
biduk, layar, dan kepiting
sementara bangau tetap mengais lumpur di antara
bangkai kenangan usang
Hanya harap angin pesisir, semoga
tersingkap dalam hatimu
cahaya cinta yang pernah ada
Kalaulah dulu kau pernah merasa
bahagia, jangan kau ungkap sesuatu
yang justru menghapus semua
Angin pesisir tak pernah memaksa
jika ini harus terjadi
biarlah semua seperti sungai
mengalir hingga bermuara di pantai
Biduk pun terpekur dalam dengkur
tertegun memandang pegunungan
diantara balutan kabut dingin
dan membeku
merambah dedaun, lembah, ngarai
mengembara tuk menyapa angin gunung
keramahan suasana pegunungan tlah purba
Entah mengapa? angin pesisir hanya meraba
badai tlah hanyutkan rasa
mungkin benar kabar yang kau dengar
tapi, tak semua seratus persen benar
hembus angin tlah dibumbui rasa hingga
kebenaran tergilas fitnah membara
Semua terangkai dalam rangkaian kenangan
kelam manis bersemayam dalam kubur luka
tersingkap di kala kau luka,
luka pun makin menganga saat kesadaran tiba
Angin pesisir hanya membatu bersama karang
biduk, layar, dan kepiting
sementara bangau tetap mengais lumpur di antara
bangkai kenangan usang
Hanya harap angin pesisir, semoga
tersingkap dalam hatimu
cahaya cinta yang pernah ada
Kalaulah dulu kau pernah merasa
bahagia, jangan kau ungkap sesuatu
yang justru menghapus semua
Angin pesisir tak pernah memaksa
jika ini harus terjadi
biarlah semua seperti sungai
mengalir hingga bermuara di pantai
Biduk pun terpekur dalam dengkur
tertegun memandang pegunungan
diantara balutan kabut dingin
dan membeku
Saturday, February 28, 2009
Air Mata dan Cinta
Jika aku adalah air mata
Aku ingin lahir dari mata indahmu
Hidup bahagia di lembutnya pipimu
Dan berakhir manis di bibir tipismu
Tapi jika engkau adalah air mata
Aku takkan pernah sekalipun menangis
Karena aku tak ingin kehilangan dirimu
Biarlah tetap indah di mataku
Februari 2009
Rangkaian kata yang tak mungkin terwujud
Kenapa tangis harus menghalangi, padahal kutahu keputusan ini adalah yang terbaik, doaku selalu bersamamu semoga kebahagiaan selalu mengiringi hari harimu. Engkau tak perlu ragu tentangku bahwa aku tidak membencimu. Tidak dan tidak. Walau kekecewaan itu hadir karena kemarahanmu tapi batin ini berontak mengatakan aku salah jika harus membencimu bahkan mengumpatmu , sekali lagi tidak. Sebab semua ini harus kita jalani sebuah konsekuensi dari kesalahanku sendiri dan inilah bagian dari pilihan hidup.Maaf selama kuhadir denganmu kutampilkan karakter yang sepertinya bukan aku, tapi semua itu karenamu yang mencoba menggugat atas kecemburuan-kecemburuan yang mesti ditampilkan walau saat ini aku masih ragu dengan kecemburuan.
Terimakasih atas semuanya engkau terlalu baik untukku, sebab denganmu aku masih bisa tersenyum bahkan doa doa kebahagiaan untukmu takkan pernah habis. Kuingin pilihanmu dalam keihlasan, berada dalam kejujuran, biarlah hanya aku yang merasakan kebodohan itu. Sebab, tak berarti jika aku harus terus berada dalam kekecewaan, terus berada dalam bayang bayang kerinduan. Kini akan datang sosok menghantarkan bunga, dari sekian yang engkau darinya engkau meminta apa saja kan diberikannya, dia memberikanmu, moga dia dapat memberikanmu. Aku kan tetap tersenyum mengiringi kebahagiaanmu sebab itu adalah putusan terbaik, bahkan jika aku mengumpatmu berarti sama dengan membuatmu tak tersenyum satu hal yag tak kuingin itu berada dalam hari harimu.
Memang berat untuk semua ini, tapi itulah yang harus dihadapi, aku masih ingat dalam dialog terakhir kita engkau seakan menggugat diriku sebab yang kutampilkan adalah kebodohan, yang kutampilkan adalah membaca privasimu, membaca selama ini, membuat kecemburuan-kecemburuan yang tak berarti, kutampil dengan kekecewaan bahkan menghujat bahasa privasimu itu, seperti tidak tegar menghadapi putusan ini padahal seperti apa yang pernah aku katakan bahwa kita harus tetap tersenyum dan tegar dalam menghadapi apapun masalah itu.
Terima kasih ya…….., engkau masih mau memperingatkanku tentang semua itu.Tapi bisakah engkau memberiku kabar tentangmu, sebab kebersamaan yang sesaat bersama kita harus kita akhiri dan selanjutnya kita mengiringinya dengan doa doa kebahagiaan.Selamat tinggal doa untukmu selalu. Tapi jika suatu hari dia memberimu kedukaan dan kekecewaan maka batin ini tak rela itu semua sebagaimana engkau pernah merasakannya namun jangan ragu kukan tetap hadir dengan senyum untukmu jika engkau masih mengizinkan. semoga engkau dan aku tetap tegar dalam hidup ini. Semoga engkau masih memberiku inspirasi dalam melahirkan bait bait puisi atau pun catatan kumal dan sewajarnya aku minta maaf jika dalam puisi dan catatan kumal yang lahir, ada bahasa yang barangkali membuatmu kecewa ataupun tersinggung tapi yakinlah semua itu hadir sebagai sebuah refleksi dari kerinduan itu sendiri tak ada maksud untuk melukai hatimu apalagi membuatmu dalam kedukaan, dia hadir hanyalah menggambarkan dari apa inspirasi itu sendiri dan semua itu berihtiar semoga siapapun yang membacanya dapat belajar darinya kalau memang dia menangkap makna yang dikandungnya. Sekali lagi maaf jika bahasanya teramat menyakitkan bukan maksud untuk membalas atas kekecewaan, dia hadir untuk menyapa kita agar kita belajar darinya dan dia hadir bukan dalam ruang dan waktu yang kosong, kehadirannya bersama cinta itu sendiri.
Maaf untuk kesekian kalinya.Adalah bukti walau aku berada dalam kekecewaan saat ini, tetapi bait bait puisi itu tercipta dalam makna doa untukmu, sebuah doa dalam nyanyian kebahagian untukmu.walau berat kurasa tapi inilah kenyataan, selamat meniti hari hari bahagiamu dan tak ada yang harus kita tangisi, tak ada yang harus kita takuti kecuali kehilangan keberanian menghadapi hidup ini.
Cinta hadir tak pernah mengharap apa apa kecuali dirinya sendiri dan cinta tak selamanya harus bersama sebab kekuatan cinta haruslah bersimpuh dihadapan sang pencipta ini. Berjalanlah dengan senyum masuklah dalam rumah kebahagiaan itu dengan ihlas penuh harap keridhaan. Ini semua adalah kehendak cinta itu sendiri, dia hadir memberi pilihan dan harus dijalani walaupun dalam sayap cinta ada pedang yang akan melukai , tapi yakinlah semua itu merupakan ujian dari cinta itu sendiri dan semoga ketakutan lari dari kita, semoga keberanian bersama kita. Tegur sapa dalam cinta adalah kenyataan dari cinta itu sendiri bahwa cinta hadir haruslah berada dalam dialog cinta pula sebab dengannya maka kita akan memahami cinta itu dan untuk lebih mamahaminya maka kita harus mengikutinya karena panggilan cinta adalah panggilan sang ilahi yang diberi dalam hati kita.
Semoga ini adalah awal dari perjumpaan cinta kita entah di detik mana dia akan ketemu.
Srondol, 23-25 Januari 2009,
Saat cinta memanggil kembali untuk kembali tersenyum kepadanya.
Aku ingin lahir dari mata indahmu
Hidup bahagia di lembutnya pipimu
Dan berakhir manis di bibir tipismu
Tapi jika engkau adalah air mata
Aku takkan pernah sekalipun menangis
Karena aku tak ingin kehilangan dirimu
Biarlah tetap indah di mataku
Februari 2009
Rangkaian kata yang tak mungkin terwujud
Kenapa tangis harus menghalangi, padahal kutahu keputusan ini adalah yang terbaik, doaku selalu bersamamu semoga kebahagiaan selalu mengiringi hari harimu. Engkau tak perlu ragu tentangku bahwa aku tidak membencimu. Tidak dan tidak. Walau kekecewaan itu hadir karena kemarahanmu tapi batin ini berontak mengatakan aku salah jika harus membencimu bahkan mengumpatmu , sekali lagi tidak. Sebab semua ini harus kita jalani sebuah konsekuensi dari kesalahanku sendiri dan inilah bagian dari pilihan hidup.Maaf selama kuhadir denganmu kutampilkan karakter yang sepertinya bukan aku, tapi semua itu karenamu yang mencoba menggugat atas kecemburuan-kecemburuan yang mesti ditampilkan walau saat ini aku masih ragu dengan kecemburuan.
Terimakasih atas semuanya engkau terlalu baik untukku, sebab denganmu aku masih bisa tersenyum bahkan doa doa kebahagiaan untukmu takkan pernah habis. Kuingin pilihanmu dalam keihlasan, berada dalam kejujuran, biarlah hanya aku yang merasakan kebodohan itu. Sebab, tak berarti jika aku harus terus berada dalam kekecewaan, terus berada dalam bayang bayang kerinduan. Kini akan datang sosok menghantarkan bunga, dari sekian yang engkau darinya engkau meminta apa saja kan diberikannya, dia memberikanmu, moga dia dapat memberikanmu. Aku kan tetap tersenyum mengiringi kebahagiaanmu sebab itu adalah putusan terbaik, bahkan jika aku mengumpatmu berarti sama dengan membuatmu tak tersenyum satu hal yag tak kuingin itu berada dalam hari harimu.
Memang berat untuk semua ini, tapi itulah yang harus dihadapi, aku masih ingat dalam dialog terakhir kita engkau seakan menggugat diriku sebab yang kutampilkan adalah kebodohan, yang kutampilkan adalah membaca privasimu, membaca selama ini, membuat kecemburuan-kecemburuan yang tak berarti, kutampil dengan kekecewaan bahkan menghujat bahasa privasimu itu, seperti tidak tegar menghadapi putusan ini padahal seperti apa yang pernah aku katakan bahwa kita harus tetap tersenyum dan tegar dalam menghadapi apapun masalah itu.
Terima kasih ya…….., engkau masih mau memperingatkanku tentang semua itu.Tapi bisakah engkau memberiku kabar tentangmu, sebab kebersamaan yang sesaat bersama kita harus kita akhiri dan selanjutnya kita mengiringinya dengan doa doa kebahagiaan.Selamat tinggal doa untukmu selalu. Tapi jika suatu hari dia memberimu kedukaan dan kekecewaan maka batin ini tak rela itu semua sebagaimana engkau pernah merasakannya namun jangan ragu kukan tetap hadir dengan senyum untukmu jika engkau masih mengizinkan. semoga engkau dan aku tetap tegar dalam hidup ini. Semoga engkau masih memberiku inspirasi dalam melahirkan bait bait puisi atau pun catatan kumal dan sewajarnya aku minta maaf jika dalam puisi dan catatan kumal yang lahir, ada bahasa yang barangkali membuatmu kecewa ataupun tersinggung tapi yakinlah semua itu hadir sebagai sebuah refleksi dari kerinduan itu sendiri tak ada maksud untuk melukai hatimu apalagi membuatmu dalam kedukaan, dia hadir hanyalah menggambarkan dari apa inspirasi itu sendiri dan semua itu berihtiar semoga siapapun yang membacanya dapat belajar darinya kalau memang dia menangkap makna yang dikandungnya. Sekali lagi maaf jika bahasanya teramat menyakitkan bukan maksud untuk membalas atas kekecewaan, dia hadir untuk menyapa kita agar kita belajar darinya dan dia hadir bukan dalam ruang dan waktu yang kosong, kehadirannya bersama cinta itu sendiri.
Maaf untuk kesekian kalinya.Adalah bukti walau aku berada dalam kekecewaan saat ini, tetapi bait bait puisi itu tercipta dalam makna doa untukmu, sebuah doa dalam nyanyian kebahagian untukmu.walau berat kurasa tapi inilah kenyataan, selamat meniti hari hari bahagiamu dan tak ada yang harus kita tangisi, tak ada yang harus kita takuti kecuali kehilangan keberanian menghadapi hidup ini.
Cinta hadir tak pernah mengharap apa apa kecuali dirinya sendiri dan cinta tak selamanya harus bersama sebab kekuatan cinta haruslah bersimpuh dihadapan sang pencipta ini. Berjalanlah dengan senyum masuklah dalam rumah kebahagiaan itu dengan ihlas penuh harap keridhaan. Ini semua adalah kehendak cinta itu sendiri, dia hadir memberi pilihan dan harus dijalani walaupun dalam sayap cinta ada pedang yang akan melukai , tapi yakinlah semua itu merupakan ujian dari cinta itu sendiri dan semoga ketakutan lari dari kita, semoga keberanian bersama kita. Tegur sapa dalam cinta adalah kenyataan dari cinta itu sendiri bahwa cinta hadir haruslah berada dalam dialog cinta pula sebab dengannya maka kita akan memahami cinta itu dan untuk lebih mamahaminya maka kita harus mengikutinya karena panggilan cinta adalah panggilan sang ilahi yang diberi dalam hati kita.
Semoga ini adalah awal dari perjumpaan cinta kita entah di detik mana dia akan ketemu.
Srondol, 23-25 Januari 2009,
Saat cinta memanggil kembali untuk kembali tersenyum kepadanya.
Monday, February 23, 2009
Dukaku Bersama Anakmu
Andai waktu bisa kupilih
hari ini adalah dahulu saat kita menyatu
Andai waktu bisa ku review
hari ini adalah dahulu saat kau tinggalkan aku
Andai saja kau masih ingat hari ini
adalah hari saat kau putuskan masa depan kehidupanmu
Andai saja kamu tahu hari ini merah rona jantungku
kembali berdenyut
Andai saja kamu rasakan apa yang terjadi dengan
biduk di tengah gelombang kemunafikan
tentu kamu tidak akan sebahagia ini
tentu kamu tidak akan bersama dia di sana
tentu kamu tidak akan tersenyum
tapi aku sadar
bahwa kamu memang tidak tercipta untukku
bahwa kamu memang tidak menjadi jodohku
bahwa kamu memang tidak digariskan denganku
saat aku melintas di ujung waktu
terlintas bocah kecil merangkak
terlintas bocah kecil berdiri
dan kulihat bocah itu kini berlari
seperti dulu saat kau tinggalkan
cintamu bersama dukaku
seperti dulu saat kau tinggalkan
aku yang semakin membeku
hari ini adalah dahulu saat kita menyatu
Andai waktu bisa ku review
hari ini adalah dahulu saat kau tinggalkan aku
Andai saja kau masih ingat hari ini
adalah hari saat kau putuskan masa depan kehidupanmu
Andai saja kamu tahu hari ini merah rona jantungku
kembali berdenyut
Andai saja kamu rasakan apa yang terjadi dengan
biduk di tengah gelombang kemunafikan
tentu kamu tidak akan sebahagia ini
tentu kamu tidak akan bersama dia di sana
tentu kamu tidak akan tersenyum
tapi aku sadar
bahwa kamu memang tidak tercipta untukku
bahwa kamu memang tidak menjadi jodohku
bahwa kamu memang tidak digariskan denganku
saat aku melintas di ujung waktu
terlintas bocah kecil merangkak
terlintas bocah kecil berdiri
dan kulihat bocah itu kini berlari
seperti dulu saat kau tinggalkan
cintamu bersama dukaku
seperti dulu saat kau tinggalkan
aku yang semakin membeku
Wednesday, February 18, 2009
Kebo Giro
"Ning Nong Ning gung Ning Nong Ning gung........"
Mengalun perlahan dan mengumandang ketika aku masuki gang desa kemusuk, jatisari.
"sekarang dah seperti apa dia sekarang?gagahkah suaminya?"
Aku hanya bisa membayangkan wajahnya.
Intan yang kukenal anggun, manis, dengan senyum khas dan lesung pipit menghias pipinya.adakah yang berbeda? Kulangkahkan kaki menuju ke rumah yang telah penuh dengan tenda dan kursi terjajar rapi.
"Ah terlalu pagi aku datang." pikirku.
Kulihat hanya beberapa among tamu yang sudah siap di masing-masing tugasnya.
Kubelokkan arah menuju rumah pak Dhe. rumah yang selalu aku singgahi tiap kali aku main ke rumah Intan.
"apakah kumis ayahnya masih juga mbaplang di bawah hidungnya?" yang selalu membuat pemuda takut datang ke rumah Intan" tiba-tiba pertanyaan itu menggelitik hatiku.
"Intan Kasihan Ya...." tiba-tiba kudengar dua perempuan membicarakannya.
ku berhenti sejenak di bawah pohon tidak jauh dari mereka duduk.
"Iya. dia kan dulu dah pacaran apa Mas Nugroho yang mahasiswa itu. tapi kenapa dia malah memilih Shulton si preman itu....."
"ah khan Bapaknya gak setuju, habis bapaknya tlah sepakat untuk besanan dengan bapaknya Shulton. jadi Intan mengalah"
"tapi kasihan lho. walau kaya. tapi kan nggak cinta"
Kupercepat langkahku dengan tidak menengok ke arah mereka. Kutakut mereka mengenaliku. Berkecamuk dalam hatiku berbagai pikiran kotor. haruskan aku larikan Intan karena ia mencintaiku? ataukah kubiarkan dia menikah tanpa rasa cinta.
remuk, kasihan, haru menjadi satu. aku tidak tahu harus Bagaimana menghadapi ini.
"sabarlah kamu sayang. terimalah titah ini."
kuketuk rumah pakde. kumasuki dan kududuk di kursi panjang dengan pikiran yang jauh ke rumah Intan
"Ni surat dari Intan" kemarin adiknya nitip untuk kami kalau datang" kata Pak dhe
kubuka dan kubaca perlahan sambil rebaha.
"maafkan aku mas Nug. aku tak sanggup menolak putusan Bapak. aku hanya mau nitip tulisan ini untukmu namamu tak terukir dalam catatan harianku, asal usulmu tak hadir dalam diskusi kehidupanku, wajah wujudmu tak terlukis dalam sketsa mimpi-mimpiku, indah suaramu tak terekam dalam pita batinku, namun kau hidup dan mengaliri pori-pori cinta dan semangatku.sebab kau adalah hadiah terindah dari Tuhan untukku. dari yang mencintaimu, Intan
Aku kaget.. lho ini kan syair puisi dalam novel "ayat-ayat cinta" pikirku.
ah biar pun menjiplak mungkin kata-kata itulah yang mewakili hatinya saat ini.
Apapun yang kau katakan Intan. aku hanya bisa meratapi. apa yang bisa kuperbuat. apa yang bisa kuubah, toh kebo giro tlah mengalun sebagai tanda kau resmi jadi pengantin sementara aku hanya menikmati alunan dengan seribu rasa yang tak bisa kuungkap.
"Nug.... kamu jadi datang to di, ijabnya Intan sebentar lagi.." tiba-tiba budheku menyela
petir tlah terdengar. Aku hanya memandang budheku dengan tatapan kosong.
Budhe pun membisu melihat tatapanku.
Hanya alunan kbo giro semakin mengeras dan menusuk perasaanku.
Ning Nong Ning gung Ning Nong Ning gung
Mengalun perlahan dan mengumandang ketika aku masuki gang desa kemusuk, jatisari.
"sekarang dah seperti apa dia sekarang?gagahkah suaminya?"
Aku hanya bisa membayangkan wajahnya.
Intan yang kukenal anggun, manis, dengan senyum khas dan lesung pipit menghias pipinya.adakah yang berbeda? Kulangkahkan kaki menuju ke rumah yang telah penuh dengan tenda dan kursi terjajar rapi.
"Ah terlalu pagi aku datang." pikirku.
Kulihat hanya beberapa among tamu yang sudah siap di masing-masing tugasnya.
Kubelokkan arah menuju rumah pak Dhe. rumah yang selalu aku singgahi tiap kali aku main ke rumah Intan.
"apakah kumis ayahnya masih juga mbaplang di bawah hidungnya?" yang selalu membuat pemuda takut datang ke rumah Intan" tiba-tiba pertanyaan itu menggelitik hatiku.
"Intan Kasihan Ya...." tiba-tiba kudengar dua perempuan membicarakannya.
ku berhenti sejenak di bawah pohon tidak jauh dari mereka duduk.
"Iya. dia kan dulu dah pacaran apa Mas Nugroho yang mahasiswa itu. tapi kenapa dia malah memilih Shulton si preman itu....."
"ah khan Bapaknya gak setuju, habis bapaknya tlah sepakat untuk besanan dengan bapaknya Shulton. jadi Intan mengalah"
"tapi kasihan lho. walau kaya. tapi kan nggak cinta"
Kupercepat langkahku dengan tidak menengok ke arah mereka. Kutakut mereka mengenaliku. Berkecamuk dalam hatiku berbagai pikiran kotor. haruskan aku larikan Intan karena ia mencintaiku? ataukah kubiarkan dia menikah tanpa rasa cinta.
remuk, kasihan, haru menjadi satu. aku tidak tahu harus Bagaimana menghadapi ini.
"sabarlah kamu sayang. terimalah titah ini."
kuketuk rumah pakde. kumasuki dan kududuk di kursi panjang dengan pikiran yang jauh ke rumah Intan
"Ni surat dari Intan" kemarin adiknya nitip untuk kami kalau datang" kata Pak dhe
kubuka dan kubaca perlahan sambil rebaha.
"maafkan aku mas Nug. aku tak sanggup menolak putusan Bapak. aku hanya mau nitip tulisan ini untukmu namamu tak terukir dalam catatan harianku, asal usulmu tak hadir dalam diskusi kehidupanku, wajah wujudmu tak terlukis dalam sketsa mimpi-mimpiku, indah suaramu tak terekam dalam pita batinku, namun kau hidup dan mengaliri pori-pori cinta dan semangatku.sebab kau adalah hadiah terindah dari Tuhan untukku. dari yang mencintaimu, Intan
Aku kaget.. lho ini kan syair puisi dalam novel "ayat-ayat cinta" pikirku.
ah biar pun menjiplak mungkin kata-kata itulah yang mewakili hatinya saat ini.
Apapun yang kau katakan Intan. aku hanya bisa meratapi. apa yang bisa kuperbuat. apa yang bisa kuubah, toh kebo giro tlah mengalun sebagai tanda kau resmi jadi pengantin sementara aku hanya menikmati alunan dengan seribu rasa yang tak bisa kuungkap.
"Nug.... kamu jadi datang to di, ijabnya Intan sebentar lagi.." tiba-tiba budheku menyela
petir tlah terdengar. Aku hanya memandang budheku dengan tatapan kosong.
Budhe pun membisu melihat tatapanku.
Hanya alunan kbo giro semakin mengeras dan menusuk perasaanku.
Ning Nong Ning gung Ning Nong Ning gung
Matahari Enggan Tenggelam
Selimut fajar tersingkap
kuterjaga saat mentari tlah setubuhi pagi
bulan menangis dalam duka
bintang enggan memeluk
pada mentari bulan enggan bersenggama
matahari perkosa bulan
bulan menjerit dalam kepedihan
awan hanya terdiam dengar rintihan bulan
awan berlalu, angin berbisik
sementara bulan lemas dalam kepiluan
matahari semakin angkuh
matahari semakin meraja
sementara bulan redup dalam kepucatan
matahari tetap merengkuh bulan
matahari enggan berlalu
matahari enggan tenggelam
bulan menjerit
bulan teriak
bulan berduka karena bintang tiada datang
bulan bintang
ternoda karena kekejaman
matahari enggan tenggelam
Monday, February 16, 2009
Bulan Kan tetap Purnama
Saat jiwa berduka hari ini,
senandung hati melantun dari bayang bibirmu.
Kau nyanyikan lagu memori kita yang tak kau suguhkan kala hari itu.
Sajak indah yang terurai dari huruf yang terangkai dalam ingatan.
Kau isyaratkan saat pertama kali perjumpaan kita
di tempat kunang-kunang kota berkumpul di taman raden saleh.
Kau bawa aku memutari kembali ingatan itu.
Dalam sebuah sudut tempat, kau ceritakan padaku kembali kala purnama hampir bulat.
Dan sebuah isyarat kau desirkan padaku.
Di antara setiap detik waktu yang mengembara,
tlah kau suguhkan padaku setangkup sayang yang kau bungkus dengan kain putih
yang kau letakkan dalam hatiku.
Kini Kain putih itu akan pergi sesuai fitrahnya
Kuharap keikhlasanmu untuk melepasnya
biarlah smua kembali seperti sedia kala
biarlah biduk itu berlayar sendiri tanpa harus aku nahkodai dan
kau jadi penumpangnya
purnama kan tetap purnama
walau kain putih tlah pergi
senandung hati melantun dari bayang bibirmu.
Kau nyanyikan lagu memori kita yang tak kau suguhkan kala hari itu.
Sajak indah yang terurai dari huruf yang terangkai dalam ingatan.
Kau isyaratkan saat pertama kali perjumpaan kita
di tempat kunang-kunang kota berkumpul di taman raden saleh.
Kau bawa aku memutari kembali ingatan itu.
Dalam sebuah sudut tempat, kau ceritakan padaku kembali kala purnama hampir bulat.
Dan sebuah isyarat kau desirkan padaku.
Di antara setiap detik waktu yang mengembara,
tlah kau suguhkan padaku setangkup sayang yang kau bungkus dengan kain putih
yang kau letakkan dalam hatiku.
Kini Kain putih itu akan pergi sesuai fitrahnya
Kuharap keikhlasanmu untuk melepasnya
biarlah smua kembali seperti sedia kala
biarlah biduk itu berlayar sendiri tanpa harus aku nahkodai dan
kau jadi penumpangnya
purnama kan tetap purnama
walau kain putih tlah pergi
Kau Hempaskan Aku Pagi Ini
pagi cerah yang terhampar
aku berbunga sambut senyum dan sapamu
apa yang harus aku ungkapkan tiba-tiba
angin gunung begitu menyesakkan hempasannya pagi ini
aku begitu tertusuk
menganga makin lebar luka yang kurasa
Kau yang ajari aku tuk tak mendengar
semakin tinggi pohon jelas akan semakin kencang hempasannya
aku tak mempermasalahkan masa lalumu
bahkan aku tak mau tahu sedikit pun bagaimana kamu dahulu
peristiwa masa lalu tidak semua harus tergelar
andaikan lagu itu kini menderu di telingamu
angin pesisir hanya berharap angin gunung tetap sejuk berhembus
kini aku hanya ingin kau tetap tersenyum
demi lagu yang kau dengar aku justru ingin kau tak mendengar lagi
untuk itu biarlah angin pesisir menghempas ombak, nyiur, dan biduk
biarlah sementara tidak rendevous di awan
ijinkan aku untuk tetap bisa menyapamu, memandangmu
aku tak ingin hempasan bahkan puting beliung melanda
angin pesisir tetap berharap damai selalu menyertaimu
sambutlah mentari yang sebentar lagi menyinarimu
sinar baru yang lebih indah
aku berbunga sambut senyum dan sapamu
apa yang harus aku ungkapkan tiba-tiba
angin gunung begitu menyesakkan hempasannya pagi ini
aku begitu tertusuk
menganga makin lebar luka yang kurasa
Kau yang ajari aku tuk tak mendengar
semakin tinggi pohon jelas akan semakin kencang hempasannya
aku tak mempermasalahkan masa lalumu
bahkan aku tak mau tahu sedikit pun bagaimana kamu dahulu
peristiwa masa lalu tidak semua harus tergelar
andaikan lagu itu kini menderu di telingamu
angin pesisir hanya berharap angin gunung tetap sejuk berhembus
kini aku hanya ingin kau tetap tersenyum
demi lagu yang kau dengar aku justru ingin kau tak mendengar lagi
untuk itu biarlah angin pesisir menghempas ombak, nyiur, dan biduk
biarlah sementara tidak rendevous di awan
ijinkan aku untuk tetap bisa menyapamu, memandangmu
aku tak ingin hempasan bahkan puting beliung melanda
angin pesisir tetap berharap damai selalu menyertaimu
sambutlah mentari yang sebentar lagi menyinarimu
sinar baru yang lebih indah
Saturday, February 14, 2009
Mendung Sore Itu
Mendung sore itu
Bergelayut manja di selas-sela langit temaram
Senja tersipu menjemput malam
Ini adalah 14 hari sejak aku terpuruk dalam luka
Tulang terasa ngilu bergetar menopang tubuh yang kurasa renta
Angin senja menusuk tiap sendi
Aku tertatih mengembara di alam ketidakberdayaan
Kunang-kunang menyemut diantara mata dan bermahkota dikepalaku
Aku bersandar diantara kursi kumal yang begitu setia kusenggama
Entah berapa kali punggungku bersandar rebah dalam buaian kursi kumal itu
Aku tatap rinai yang mulai menitik menodai tanah
alunan kitab suci mengalun begitu anggun
mahraj tajuid terucap khusyuk
aku serasa di sebuah masjid yang begitu megah
jalinan kaligrafi emas berjajar pada dinding kokoh
Sore itu aku mengembara bersama alunan kitab suci
Serasa terbang dengan sorban sang kyai
dan beralaskan sajadah panjang sang Nabi
bergelayut diantara luka yang entah sampai kapan kering
aku serasa kecil kala luka mengujiku
aku tersudut dalam kesadaran semu, samar terdengar
hembusan-hembusan mesra sang penggoda
aku lihat sinar terang memancar menyusup ke mata hati
hati yang membisu dalam kelu
aku semakin terbelenggu
dalam penyesalan yang entah sampai kapan
aku takkan bisa melupakan
mendung sore itu
kembali menyapaku dalam
senyum kegetiran
Bergelayut manja di selas-sela langit temaram
Senja tersipu menjemput malam
Ini adalah 14 hari sejak aku terpuruk dalam luka
Tulang terasa ngilu bergetar menopang tubuh yang kurasa renta
Angin senja menusuk tiap sendi
Aku tertatih mengembara di alam ketidakberdayaan
Kunang-kunang menyemut diantara mata dan bermahkota dikepalaku
Aku bersandar diantara kursi kumal yang begitu setia kusenggama
Entah berapa kali punggungku bersandar rebah dalam buaian kursi kumal itu
Aku tatap rinai yang mulai menitik menodai tanah
alunan kitab suci mengalun begitu anggun
mahraj tajuid terucap khusyuk
aku serasa di sebuah masjid yang begitu megah
jalinan kaligrafi emas berjajar pada dinding kokoh
Sore itu aku mengembara bersama alunan kitab suci
Serasa terbang dengan sorban sang kyai
dan beralaskan sajadah panjang sang Nabi
bergelayut diantara luka yang entah sampai kapan kering
aku serasa kecil kala luka mengujiku
aku tersudut dalam kesadaran semu, samar terdengar
hembusan-hembusan mesra sang penggoda
aku lihat sinar terang memancar menyusup ke mata hati
hati yang membisu dalam kelu
aku semakin terbelenggu
dalam penyesalan yang entah sampai kapan
aku takkan bisa melupakan
mendung sore itu
kembali menyapaku dalam
senyum kegetiran
Tuesday, February 10, 2009
Purnama Darah dalam Jemari
Purnama di Atas Ranjang
Purnama di atas ranjang
air mataku adalah nafas puisi angin,
awan dan gelombang diam
kemudian desah rindu tertikam dan
sunyi mendekap dalam kelam
malam lenguh lembu di sudut desa
samar terdengar
Masihkah Ada di Aliran Darahmu?
Ia hadir dalam alir darahku darahmu
saripati kehidupan ia hadir dalam mimpiku mimpimu
guratan keinginan ia hadir dalam nafas kita yang menyatu di suatu waktu
Dengan Jemari
Dengan jemari kita diusung bebatu
membangun bangunan yang kita impikan
dengan jemari kita dipulas warna
menghias dinding yang kita angankan
dengan jemari kita dirangkum cinta
mengisi semesta yang kita rindukan
Purnama di atas ranjang
air mataku adalah nafas puisi angin,
awan dan gelombang diam
kemudian desah rindu tertikam dan
sunyi mendekap dalam kelam
malam lenguh lembu di sudut desa
samar terdengar
Masihkah Ada di Aliran Darahmu?
Ia hadir dalam alir darahku darahmu
saripati kehidupan ia hadir dalam mimpiku mimpimu
guratan keinginan ia hadir dalam nafas kita yang menyatu di suatu waktu
Dengan Jemari
Dengan jemari kita diusung bebatu
membangun bangunan yang kita impikan
dengan jemari kita dipulas warna
menghias dinding yang kita angankan
dengan jemari kita dirangkum cinta
mengisi semesta yang kita rindukan
Sepucuk Surat di Awal Februari
Maaf mungkin dengan cara beginilah aku dapat mengutarakan isi hatiku lebih leluasa, namun perlu diingat aku tidak berniat untuk menyakiti perasaanmu dengan alasan apapun, karena aku tidak berhak! dirimu adalah insan yang merdeka. Sejujurnya kukatakan kebaikan dan perhatianmu walau hanya secuil telah mampu menyentuh relung hati atas kebekuan selama ini, namun aku terlalu pengecut untuk menerima uluran tanganmu bukannya aku tak punya perasaan, akan tetapi karena ku tak ingin menyakitimu untuk kesekian kali dengan kehadiranku. Aku tahu selama ini telah memberimu dorongan maupun semangat bagimu untuk bangkit dari kenangan buruk yang selama ini telah mengoyak dan mencabik – cabik impian yang telah di bangun dengan cinta, kasih sayang, harapan dan aku akui secara tidak langsung aku telah memberimu pengharapan atas kehadiranku namun maafkan aku walau sebenarnya aku juga menyimpan kasih yang tulus, namun tak kuasa untuk ku ungkapkan. Aku sadari keadaanku tidak akan mengubah keadaan, karena tidak ada yang dapat kuberikan Karena kehidupanku bagai musafir yang kerapkali berpindah tempat tanpa arah dan tujuan, aku bagai bayang fatamorgana ada namun tiada.Jangan sesali apa yang telah terjadi karena harus terjadi tidak ada yang perlu ditangisi memang dunia begitu adanya!! ada tawa, tangis, bahagia, kepedihan dan kesengsaraan datang silih bergati selama hayat di kandung badan, Bangkitlah!!. Hadapilah dunia, jangan biarkan dirimu terpuruk dalam sepi menyesali diri hanya karena sepenggal Cinta yang dirimu pun tidak mengerti dan jangan biarkan kenangan indah masa lalu menjerat tubuhmu, biarkan ia berlalu dalam ruang dan waktu. Begitu banyak senyum yang menantimu diluar sana maka datang, hampiri dan raihlah kebahagiaan karena kaca yang pecah tidak akan kembali seperti semula dengan tangis dan amarah, begitu juga dengan hati tidak akan sembuh dengan hanya menangisi diri dan meratapi nasib.Akhirnya sekali lagi ku mohon bila di suatu masa nanti ketika dunia terasa indah di liputi senyum dan tawa ingatlah tangis dan kepedihan akan datang menjenguk, maka bersiaplah!! jika mungkin simpanlah sedikit senyum dan tawa agar ia tak menjadi tamu abadi di hatimu. Maafkan aku atas segalanya kumohon
Subscribe to:
Posts (Atom)