Seumpama angin pesisir
Kerinduan yang semakin gigil ini
Telah setubuhiku dalam sajak
kepasrahan asa yang menggelegak
dalam wangi parfum tertiup angin gunung
Seumpama angin pesisir
Kerinduan jilati puncak dahagaku
telah basahi birahi yang mekar
dalam buai pesisir dan wangi kembang
Seumpama angin pesisir
Kerinduan sinari rongga dadaku
Ketika purnama mengambang diantara gelombang
kau begitu mesra tersenyum
Menanti kata dariku di pantai penghabisan
Seumpama angin pesisir
menjelma dan berserak seumpama daun,
kering di telapak kakiku terhempas musim
Seperti sumur-sumur kerinduan yang teramat dalam,
arwahku menghidupkan ilusi kupu-kupu
seumpama angin pesisir
Kelak aku akan pergi,
seperti mercusuar yang bercahaya di tengah laut
Kutahu inilah kebahagiaan yang bakal aku kenang
antara kerinduan dan perpisahan
Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Friday, August 28, 2009
Tuesday, August 25, 2009
Di pasar saat Ramadhan Kelima Siang itu
Senja hampir tenggelam dan langit perlahan mulai berubah warna seperti arang. Gelap. Pekat. Tanah di pesisir masih basah. Sisa ombak menggenang di atas permukaan pasir. Jejak kaki masih meninggalkan dingin di pasir biru ini. Pijar cahaya lampu di rumah bambu membiaskan warna keperakan di antara deru ombak.
Pesisir tampak lengang, tak kulihat orang melintas di pesisir. Tetapi, saat aku kembali duduk di diantara bebatuan, samar-samar, aku dengar langkah orang yang berjalan dengan langkah tersaruk. Tak lama kemudian, langkah kakinya berjingkat, lantaran menghindari air di antara riak-riak kecil. Aku melongokkan kepala. Aku lihat sosok perempuan berjalan di pasir. Separuh wajahnya tertutupi kerudung sehingga mataku tidak dapat melihat wajahnya yang mulai tampak dengan jelas kala mendekat ke arahku.
Persis di antara dua batu, perempuan itu membuatku terperanjat kaget. Mulutku serasa terkunci dan mataku terperangkap seraut wajah yang nyaris aku kira seorang pengemis yang tersesat ke pesisir jika saja senyumnya tak membuatku teringat kenangan di masa lalu. perempuan itu adalah Bulan. Kulihat wajahnya murung, tak ada sebuah percakapan sehingga membuatku hanya berdiri mematung. Aku termangu menatap sosoknya. Aku pandangi dari ujung kaki sampai ujung hidung.
"Kenapa kau memandangiku seperti orang asing yang tak pernah kau kenal?"
"Aku kira kau tidak akan datang lagi ke pesisir ini," jawabku
Aku melepaskan pandanganku, seulas senyum memburai di wajahnya yang tadi kulihat nampak letih didera perjalanan. "Maaf..., aku datang tanpa ada kabar. Mungkin aku menginap di sini beberapa hari, tepatnya di rumah budhe" ucapnya ragu, seraya duduk di atas biduk yang membisu.
Aku bengong, kutatap lekat-lekat wajahnya saat ia bercerita jika kini ia begitu menderita. Tak pernah terbersit dalam kepalaku, dia bisa mempertaruhkan hidup di atas kebahagiaan yang belum terbayar.
"Aku balik ke sini, karena ingin selamat. Untung, kini selamat dan tiba di pesisir ini. Aku memang bodoh tapi kini aku sadar bahwa jalan yang kutempuh itu salah. Aku ingin menebus kesalahanku dan ingin menyelesaikan masalahku "
Hatiku tersayat. Aku seperti dibius kesedihannya.
Hari sudah gelap, perempuan yang dulu kukenal baik itu seperti menenggelamkanku dalam duka laranya, ketika adzan maghrib menggema dari mushalla di ujung kampung. Aku bergegas ke kamar mandi, melangkah keluar menuju mushalla di malam kelima pada bulan Ramadhan ini.
***
MALAM itu langit berwarna seperti arang. Gelap. Tanah di halaman rumah masih basah, ketika aku pulang dari mushalla, sehabis tarawih. Di langit, tak kulihat cahaya rembulan. Hanya titik-titik pijar bintang yang bersinar redup. Malam murung, tetapi masih memancarkan secercah cahaya. Sayup-sayup, kudengar gema tadarus dari mushalla.
Malam merambat pelan, dan aku tertidur di ruang tengah. Televisi masih menyala, ketika aku bangun di ujung fajar. Aku bangkit, membasuh muka lalu keluar membeli nasi di warung.
Kulihat Bulan membantu Budhenya menyiapkan pesanan orang-orang yang makan sahur, kusapa dan ia pun bersiap makan sahur.
Tetapi, ia tak bernafsu melahap nasi, tidak terlihat lahap. Ia masih menyisakan beberapa suapan sebelum menuntaskan dahaga dengan menengguk teh hangat untuk menghangatkan tubuh keringnya dari dingin pagi. angin pesisir masih meninggalkan dingin di fajar buta.
"Apa kau yakin besok bisa kuat puasa?" gurauku memancing keteguhannya.
"Gampang!" jawabnya lirih, "Jika tak kuat, ya makan!"
Aku tersenyum. Ia pun tersenyum. angin masih meninggalkan gigil di kaca jendela.
Imsak akhirnya memaksa kami menutup mulut dari seduhan teh hangat. Disusul adzan subuh, lalu aku menunaikan shalat.
***
ESOK HARINYA, ia datang dari pasar dengan langkah tersaruk ketika mentari berada tepat di atas kepala. Langkah kakinya masih sempat aku dengar saat aku bangun dari tidur siangku, kala kedua kakinya menerabas masuk pekarangan. Wajahnya yang tirus kemudian nongol di balik pintu.
"Kenapa kamu kelihatan kusut hari ini"
"Kamu mungkin tak percaya dengan ceritaku ini. Tadi, saat aku ke pasar, hari ini pasar penuh sesak. Entah ini cobaan dari Tuhan atau anugrah. Aku jadi uring-uringan dan tak sabar karena rasa lapar menggerogoti ususku. Karena itu, aku berjanji dalam hati kalau selesai belanja maka akan kutuntaskan rasa laparku ke warung," ujarnya membuatku penasaran.
"Tapi ini lain, aku benar-benar merasakan lapar dan haus yang membuatku pusing! Karena itu, setelah keluar dari pasar , aku segera melangkah dan mencari warung yang dapat mengobati lapar dan hausku. Sejak dari pasar, aku clingukan untuk memastikan bahwa aku tak sedang diawasi orang, lalu aku melangkah ke arah Barat agar jauh dari pasar. Tapi, belum sempat aku menemukan warung, aku justru menjumpai pengemis cilik di perempatan jalan yang membuatku kasihan. Anehnya, di wajah pengemis cilik itu, aku melihat masa laluku. Aku tidak jadi lapar dan malu jika harus masuk ke warung. Lalu, kuberikan uangku pada pengemis cilik di perempatan jalan. Aku tak jadi batal puasa...."
Aku pikir, dia tak serius. Apalagi, dia kerap berbohong kepadaku. Tapi saat kutatap wajahnya, aku tahu ia tak bohong. Selama ini tak pernah kudengar ia mengeluh dari lapar. Kala aku mengais-ngais cerita yang pernah aku dengar, aku sadar jika dia ternyata jarang makan. Lima hari selama tinggal di rumah budhenya, bahkan dia kerap kali tak makan sahur.
Aku menatap wajahnya. Aku sadar kalau wajahnya nyaris tak dipenuhi gundukan lemak, mirip selongsong topeng yang nyaris tanpa daging. Wajahnya seperti sudah kenyang dari derita, diterpa oleh kemiskinan bertahun-tahun. Dan di bulan puasa ini, aku sadar. Ia ternyata sudah bertaubat.
Pesisir tampak lengang, tak kulihat orang melintas di pesisir. Tetapi, saat aku kembali duduk di diantara bebatuan, samar-samar, aku dengar langkah orang yang berjalan dengan langkah tersaruk. Tak lama kemudian, langkah kakinya berjingkat, lantaran menghindari air di antara riak-riak kecil. Aku melongokkan kepala. Aku lihat sosok perempuan berjalan di pasir. Separuh wajahnya tertutupi kerudung sehingga mataku tidak dapat melihat wajahnya yang mulai tampak dengan jelas kala mendekat ke arahku.
Persis di antara dua batu, perempuan itu membuatku terperanjat kaget. Mulutku serasa terkunci dan mataku terperangkap seraut wajah yang nyaris aku kira seorang pengemis yang tersesat ke pesisir jika saja senyumnya tak membuatku teringat kenangan di masa lalu. perempuan itu adalah Bulan. Kulihat wajahnya murung, tak ada sebuah percakapan sehingga membuatku hanya berdiri mematung. Aku termangu menatap sosoknya. Aku pandangi dari ujung kaki sampai ujung hidung.
"Kenapa kau memandangiku seperti orang asing yang tak pernah kau kenal?"
"Aku kira kau tidak akan datang lagi ke pesisir ini," jawabku
Aku melepaskan pandanganku, seulas senyum memburai di wajahnya yang tadi kulihat nampak letih didera perjalanan. "Maaf..., aku datang tanpa ada kabar. Mungkin aku menginap di sini beberapa hari, tepatnya di rumah budhe" ucapnya ragu, seraya duduk di atas biduk yang membisu.
Aku bengong, kutatap lekat-lekat wajahnya saat ia bercerita jika kini ia begitu menderita. Tak pernah terbersit dalam kepalaku, dia bisa mempertaruhkan hidup di atas kebahagiaan yang belum terbayar.
"Aku balik ke sini, karena ingin selamat. Untung, kini selamat dan tiba di pesisir ini. Aku memang bodoh tapi kini aku sadar bahwa jalan yang kutempuh itu salah. Aku ingin menebus kesalahanku dan ingin menyelesaikan masalahku "
Hatiku tersayat. Aku seperti dibius kesedihannya.
Hari sudah gelap, perempuan yang dulu kukenal baik itu seperti menenggelamkanku dalam duka laranya, ketika adzan maghrib menggema dari mushalla di ujung kampung. Aku bergegas ke kamar mandi, melangkah keluar menuju mushalla di malam kelima pada bulan Ramadhan ini.
***
MALAM itu langit berwarna seperti arang. Gelap. Tanah di halaman rumah masih basah, ketika aku pulang dari mushalla, sehabis tarawih. Di langit, tak kulihat cahaya rembulan. Hanya titik-titik pijar bintang yang bersinar redup. Malam murung, tetapi masih memancarkan secercah cahaya. Sayup-sayup, kudengar gema tadarus dari mushalla.
Malam merambat pelan, dan aku tertidur di ruang tengah. Televisi masih menyala, ketika aku bangun di ujung fajar. Aku bangkit, membasuh muka lalu keluar membeli nasi di warung.
Kulihat Bulan membantu Budhenya menyiapkan pesanan orang-orang yang makan sahur, kusapa dan ia pun bersiap makan sahur.
Tetapi, ia tak bernafsu melahap nasi, tidak terlihat lahap. Ia masih menyisakan beberapa suapan sebelum menuntaskan dahaga dengan menengguk teh hangat untuk menghangatkan tubuh keringnya dari dingin pagi. angin pesisir masih meninggalkan dingin di fajar buta.
"Apa kau yakin besok bisa kuat puasa?" gurauku memancing keteguhannya.
"Gampang!" jawabnya lirih, "Jika tak kuat, ya makan!"
Aku tersenyum. Ia pun tersenyum. angin masih meninggalkan gigil di kaca jendela.
Imsak akhirnya memaksa kami menutup mulut dari seduhan teh hangat. Disusul adzan subuh, lalu aku menunaikan shalat.
***
ESOK HARINYA, ia datang dari pasar dengan langkah tersaruk ketika mentari berada tepat di atas kepala. Langkah kakinya masih sempat aku dengar saat aku bangun dari tidur siangku, kala kedua kakinya menerabas masuk pekarangan. Wajahnya yang tirus kemudian nongol di balik pintu.
"Kenapa kamu kelihatan kusut hari ini"
"Kamu mungkin tak percaya dengan ceritaku ini. Tadi, saat aku ke pasar, hari ini pasar penuh sesak. Entah ini cobaan dari Tuhan atau anugrah. Aku jadi uring-uringan dan tak sabar karena rasa lapar menggerogoti ususku. Karena itu, aku berjanji dalam hati kalau selesai belanja maka akan kutuntaskan rasa laparku ke warung," ujarnya membuatku penasaran.
"Tapi ini lain, aku benar-benar merasakan lapar dan haus yang membuatku pusing! Karena itu, setelah keluar dari pasar , aku segera melangkah dan mencari warung yang dapat mengobati lapar dan hausku. Sejak dari pasar, aku clingukan untuk memastikan bahwa aku tak sedang diawasi orang, lalu aku melangkah ke arah Barat agar jauh dari pasar. Tapi, belum sempat aku menemukan warung, aku justru menjumpai pengemis cilik di perempatan jalan yang membuatku kasihan. Anehnya, di wajah pengemis cilik itu, aku melihat masa laluku. Aku tidak jadi lapar dan malu jika harus masuk ke warung. Lalu, kuberikan uangku pada pengemis cilik di perempatan jalan. Aku tak jadi batal puasa...."
Aku pikir, dia tak serius. Apalagi, dia kerap berbohong kepadaku. Tapi saat kutatap wajahnya, aku tahu ia tak bohong. Selama ini tak pernah kudengar ia mengeluh dari lapar. Kala aku mengais-ngais cerita yang pernah aku dengar, aku sadar jika dia ternyata jarang makan. Lima hari selama tinggal di rumah budhenya, bahkan dia kerap kali tak makan sahur.
Aku menatap wajahnya. Aku sadar kalau wajahnya nyaris tak dipenuhi gundukan lemak, mirip selongsong topeng yang nyaris tanpa daging. Wajahnya seperti sudah kenyang dari derita, diterpa oleh kemiskinan bertahun-tahun. Dan di bulan puasa ini, aku sadar. Ia ternyata sudah bertaubat.
Monday, August 24, 2009
Senja ini Masih Merindumu


Lembayung merah menghias ufuk barat senja ini
tertatih menyusup perlahan ke balik kelam
sepoi angin pesisir ingatkan pada kenangan
deret rel tertata rapi membujur
semakin jauh semakin menyempit hingga titik nadir
kabut tipis mempercepat kelam diantara
teriak kanak kanak berlarian menanti bedug senja ini
ramadhan ke empat aku terpekur tatap senja
di rel ini aku menanti
di rel ini aku sendiri
nikmati kebesaran Illahi saat mentari keperaduan
semburat merah pun makin menghilang
seiring raungan sirine tanda magrib telah tiba
aku melangkah sibak kabut senja
dalam buai angin pesisir senja ini
ramadhan ke empat aku masih saja merindumu
tertatih menyusup perlahan ke balik kelam
sepoi angin pesisir ingatkan pada kenangan
deret rel tertata rapi membujur
semakin jauh semakin menyempit hingga titik nadir
kabut tipis mempercepat kelam diantara
teriak kanak kanak berlarian menanti bedug senja ini
ramadhan ke empat aku terpekur tatap senja
di rel ini aku menanti
di rel ini aku sendiri
nikmati kebesaran Illahi saat mentari keperaduan
semburat merah pun makin menghilang
seiring raungan sirine tanda magrib telah tiba
aku melangkah sibak kabut senja
dalam buai angin pesisir senja ini
ramadhan ke empat aku masih saja merindumu
Sunday, August 23, 2009
Seiring Azan Subuh Ramadhan hari Kedua
Malam belum lelap betul hari ini
tak terasa pagi telah buka mata
beduk bertalu membuka korneaku
masih terasa keringat mengucur
pengap dan berhimpitan saat tarawih berlangsung
kini sepiring nasi telah menanti
saat terindah di pagi bulan ramadhan
dingin pesisir iringi sahurku
biduk masih terpekur dalam purba
tak pedulikan riak-riak berisik
sirine pun melengking tanda imsak tiba
adakah kau di sana
diantara pagi dan dingin ini
kerinduan kembali menyeruak
seiring azan subuh di hari kedua ramadhan ini
tak terasa pagi telah buka mata
beduk bertalu membuka korneaku
masih terasa keringat mengucur
pengap dan berhimpitan saat tarawih berlangsung
kini sepiring nasi telah menanti
saat terindah di pagi bulan ramadhan
dingin pesisir iringi sahurku
biduk masih terpekur dalam purba
tak pedulikan riak-riak berisik
sirine pun melengking tanda imsak tiba
adakah kau di sana
diantara pagi dan dingin ini
kerinduan kembali menyeruak
seiring azan subuh di hari kedua ramadhan ini
Friday, August 21, 2009
SAJAK DI AKHIR SYA'BAN

SEIRING TERBENAM MENTARI DI AKHIR SYA’BAN,
SEMBURAT MERAH PUN TERURAI SAMBUT KELAM
SYA'BAN PUN BERLALU BERSAMA RIAK DI PESISIR
BIDUK TENGADAH BAK TELAPAK MEMOHON
RAMADHAN PUN TERBUKA
SEGALA BERKAH SEMOGA TERCURAH
SEGALA KHILAF TERHAPUS
DAN SEGALA RAHMAT BAROKAH BUAT KITA
AKU TULIS INI SEBAGAI GANTI JABAT TANGAN,
MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKHILAFAN.
MARHABAN YA RAMADHAN
Monday, August 17, 2009
Sajak Anak Muda dan Kemerdekaan
Nyalang matanya menatap gedung penuh warna lampu,
iklan yang nyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,
dihapus dari kejujuran kata,
sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia
Anak muda sangsi hidupnya,
mengeja nasionalisme yang sekarat diterpa badai globalisasi.
Anak muda menangis memanggil ibu pertiwi.
Di hari kemerdekaan.
Yang ada hanya upacara.
Pesta. Merayakan hari-hari amnesia.
Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan?
Mengingat proklamasi Soekarno-Hatta.
Atau ledakan meriam 10 Nopember 1945.
Atau menghitung gedung-gedung mewah yang menggusur perkampungan kumuh!
Sementara mantera itu...
Menggerakkan seluruh sendi untuk terus bergerak,
bergerak, bergerak...
Pembangunan! beri aku pengorbanan,
barang selaut dua laut airmata darahmu.
barang sepetak dua petak tanahmu,
barang satu dua nyawamu
Anak muda merah matanya memandang langit:
"Adakah bahagia di sana, dalam belaian tangan-tangan malaikat.
Yang akan mengangkataku dari kekumuhan ini.
Dari keraguan memandang masa depan".
Ia bergerak dalam lautan massa.
Dalam gelora yang sama. Kata-kata menjadi generik.
Kata-kata menjadi ilusi yang menakutkan:
Penuh wajah garang dan kokangan senjata!
Sementara televisi menawarkan bahasa baru.
Menawarkan mimpi-mimpi baru:
dunia adalah perkampungan besar...
Anak muda menatap hidup penuh kabut:
"Adakah arti kemerdekaan bagiku.,
Yang tak pernah merasa merdeka.
Dari belitan sejarah.
Dan cengkraman kehidupan yang semakin sulit".
Bendera berkibar"Indonesia Raya"Indonesia Raya.
Adakah kau dengar kata-kataku ini.
Menawarkan cerita penuh luka.
Anak-anak sejarah kebingungan menatap cuaca
"Anak muda menatap Indonesia raya:"Merdeka?"
iklan yang nyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,
dihapus dari kejujuran kata,
sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia
Anak muda sangsi hidupnya,
mengeja nasionalisme yang sekarat diterpa badai globalisasi.
Anak muda menangis memanggil ibu pertiwi.
Di hari kemerdekaan.
Yang ada hanya upacara.
Pesta. Merayakan hari-hari amnesia.
Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan?
Mengingat proklamasi Soekarno-Hatta.
Atau ledakan meriam 10 Nopember 1945.
Atau menghitung gedung-gedung mewah yang menggusur perkampungan kumuh!
Sementara mantera itu...
Menggerakkan seluruh sendi untuk terus bergerak,
bergerak, bergerak...
Pembangunan! beri aku pengorbanan,
barang selaut dua laut airmata darahmu.
barang sepetak dua petak tanahmu,
barang satu dua nyawamu
Anak muda merah matanya memandang langit:
"Adakah bahagia di sana, dalam belaian tangan-tangan malaikat.
Yang akan mengangkataku dari kekumuhan ini.
Dari keraguan memandang masa depan".
Ia bergerak dalam lautan massa.
Dalam gelora yang sama. Kata-kata menjadi generik.
Kata-kata menjadi ilusi yang menakutkan:
Penuh wajah garang dan kokangan senjata!
Sementara televisi menawarkan bahasa baru.
Menawarkan mimpi-mimpi baru:
dunia adalah perkampungan besar...
Anak muda menatap hidup penuh kabut:
"Adakah arti kemerdekaan bagiku.,
Yang tak pernah merasa merdeka.
Dari belitan sejarah.
Dan cengkraman kehidupan yang semakin sulit".
Bendera berkibar"Indonesia Raya"Indonesia Raya.
Adakah kau dengar kata-kataku ini.
Menawarkan cerita penuh luka.
Anak-anak sejarah kebingungan menatap cuaca
"Anak muda menatap Indonesia raya:"Merdeka?"
aku pinjam catatan sejarah Kang Nanang S
Malang, Agustus 1995
Malang, Agustus 1995
Sunday, August 16, 2009
Berkelebat Bayang di Malam Kemerdekaan
Bayang mimpi berkelebat melintasi batas
Mengajak angan mengarungi kembali memori
Bangkitkan rasaku
Untuk sekedar bisa bertemu dengan bayangmu
Telah tersulam kebahagiaan penuh benang emas
Tiada yang paham makna kain tersebut
Dibalik semua warna
Tiada yang tahu apa sebenarnya
Sekarang,
Segalanya terasa damai dan menyenangkan
Tapi aku tak pernah menyadari
Sebuah luka tlah tergores perlahan
Senyum dan tatapanmu meyakinkan
Mengajakku bersukacita
Memimpikanmu adalah kenisbian
Aku masih berharap ada di dekatmu
seperti sabit di malam kemerdekaan ini
Meskipun temaram tapi tetap bersinar
Semua tentangmu akan abadi
Mengajak angan mengarungi kembali memori
Bangkitkan rasaku
Untuk sekedar bisa bertemu dengan bayangmu
Telah tersulam kebahagiaan penuh benang emas
Tiada yang paham makna kain tersebut
Dibalik semua warna
Tiada yang tahu apa sebenarnya
Sekarang,
Segalanya terasa damai dan menyenangkan
Tapi aku tak pernah menyadari
Sebuah luka tlah tergores perlahan
Senyum dan tatapanmu meyakinkan
Mengajakku bersukacita
Memimpikanmu adalah kenisbian
Aku masih berharap ada di dekatmu
seperti sabit di malam kemerdekaan ini
Meskipun temaram tapi tetap bersinar
Semua tentangmu akan abadi
Friday, August 14, 2009
Semarak dan Semangat HUT RI di SMA N 1 Boja









Tahun ini peringatan HUT RI ke 64 benar-benar beda dari tahun-tahun sebelumnya. Semua pihak benar-benar larut dalam suasana yang heroik, bukan masalah menang kalah, tetapi kekompakan, semangat dan kemeriahanlah yang menjadi tolak ukur kesuksesan peringatan kali ini. Mengambil tema "Dengan Semangat Kemerdekaan RI Tingkatkan Kesatuan, Kekompakan dalam Kinerja Mendidik Anak Bangsa". Lomba beregu sengaja dilaksanakan guna membina kekompakan dan kerjamasama team work. Seluruh warga sekolah menyemarakkan kegiatan ini, Kepala sekolah, Guru, karyawan serta siswa . Lomba tersebut meliputi estafet belut, estafet karung, makan kerupuk, estafet karet, dan panjat batang pisang. itulah moment-moment menarik yang dapat terekam dalam gambar. Hari ini juga masih akan berlangsung lomba2 lanjutan yang pada hari kemarin belum terselesaikan serta besok pagi semarak panggung kemerdekaan diisi pentas seni seluruh siswa dan guru.Bersamaan dengan panggung kemerdekaan di laksanakan juga Donor Darah di Hall SMA N 1 Boja sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.
Wednesday, August 12, 2009
Sembunyikah Kau di Balik Awan
aku tertegun menatap keybord
layar monitor menunggu aku tuliskan sesuatu
tapi aku hanya tertegun
sementara langit temaram dalam kedukaan
mendung tlah sembunyikan rembulanku
entah kapan aku bisa menemukannya lagi
esok malam,
ahhh kelak pasti kan ada jawabnya
sepi purba tlah naungi cakrawala
kembali kutatap langit
siapa tahu kau muncul tersenyum
menyembul dari balik awan
tapi kembali gelap
kembali kelam yang aku pandang
segelintir mimpi pun tlah tertata
walau sedetik ingin aku kembali menatapmu
biarlah keyboard dan monitorku
mencatat kegalauanku
saat rembulan sembunyi di balik awan
entah kapan rembulan kan kembali bisa kutatap
layar monitor menunggu aku tuliskan sesuatu
tapi aku hanya tertegun
sementara langit temaram dalam kedukaan
mendung tlah sembunyikan rembulanku
entah kapan aku bisa menemukannya lagi
esok malam,
ahhh kelak pasti kan ada jawabnya
sepi purba tlah naungi cakrawala
kembali kutatap langit
siapa tahu kau muncul tersenyum
menyembul dari balik awan
tapi kembali gelap
kembali kelam yang aku pandang
segelintir mimpi pun tlah tertata
walau sedetik ingin aku kembali menatapmu
biarlah keyboard dan monitorku
mencatat kegalauanku
saat rembulan sembunyi di balik awan
entah kapan rembulan kan kembali bisa kutatap
kaliwungu, 12 Agust 2009
Monday, August 10, 2009
SMA N 1 Boja Kembali Pertahankan Juara Umum Olimpiade Seni dan Budaya







Sabtu 8 Agustus 2009 yang lalu, SMA N 1 Boja mengikuti olimpiade seni dan budaya yang diadakan STIKES Kendal. Cabang yang dilombakan meliputi 6 jenis yaitu baca Puisi, Pertolongan Pertama, LCC saint dan umum, Debat Argumen, Speech Contets, dan Tari Tradisonal.SMA N 1 Boja sebagai juara bertahan memiliki beban yang lebih di banding peserta lain. setelah di mulai perlombaan satu persatu mulai kelihatan tim tim yang masuk final dan menentukan siapa pemenangnya. Dari enam cabang SMA N 1 Boja berhasil menyapu rata semua event dengan 3 emas, 2 perak dan 1 perunggu rinciannya Puisi sebagai juara I, Speech contest juara I,Tari Tradisional juara I, LCC sebagai juara II, Pertolongan Pertama sebagai juara II dan Debat Argumen juara III.
Thursday, August 6, 2009
Purnama Meredup Di Pesisir
Senja temaram dalam kebisuan
selimut jingga pun tersingkap dalam kelam
aku tertatih merayap dalam kedukaan
menyisir jalanan berkelok tembus rimbunan belukar
terhampar kerinduan diantara ranting kering
hembus angin hempaskan kantukku
aroma pesisir menyeruak
riak gelombang membisik menyusup perlahan
kutatap cakrawala di ufuk timur
purnama tersembul dalam kepucatan
menebal hitam berarak selimuti purnama
Entah apa yang berkecamuk
aku tertunduk
aku membisu
hingga purnama pun meredup
dalam bisik kerinduan pesisir
selimut jingga pun tersingkap dalam kelam
aku tertatih merayap dalam kedukaan
menyisir jalanan berkelok tembus rimbunan belukar
terhampar kerinduan diantara ranting kering
hembus angin hempaskan kantukku
aroma pesisir menyeruak
riak gelombang membisik menyusup perlahan
kutatap cakrawala di ufuk timur
purnama tersembul dalam kepucatan
menebal hitam berarak selimuti purnama
Entah apa yang berkecamuk
aku tertunduk
aku membisu
hingga purnama pun meredup
dalam bisik kerinduan pesisir
Monday, August 3, 2009
Buai Angin Pesisir awal Agustus
Dalam buai angin pesisir awal bulan Agustus
Ku tata kata tiap frasa dalam genggammu
Senja terjalin menuju rindu yang gagal kusembunyikan
Kutitip kata pada rembulan separuh meredup dalam bayangmu
sementara bintang membentuk tetris yang siap ku tata
Dalam buai angin pesisir awal bulan Agustus
ku pilih kata menjadi kalimat berbait rasa
membakar air pucat bercahaya memancar pekat
Ku rangkai kata yang terjungkal dalam hampa rasa pada embunmu
Embun yang setia menetes torehkan air kesejukan
Ku pilih kata. Ku eja rasa. Tak habis kupangkas kata.
Hingga sekelompok kata berbalut rasa memaksaku membentuk sajak
sementara wajahmu membayang bersama
buai angin pesisir awal bulan Agustus ini
Ku tata kata tiap frasa dalam genggammu
Senja terjalin menuju rindu yang gagal kusembunyikan
Kutitip kata pada rembulan separuh meredup dalam bayangmu
sementara bintang membentuk tetris yang siap ku tata
Dalam buai angin pesisir awal bulan Agustus
ku pilih kata menjadi kalimat berbait rasa
membakar air pucat bercahaya memancar pekat
Ku rangkai kata yang terjungkal dalam hampa rasa pada embunmu
Embun yang setia menetes torehkan air kesejukan
Ku pilih kata. Ku eja rasa. Tak habis kupangkas kata.
Hingga sekelompok kata berbalut rasa memaksaku membentuk sajak
sementara wajahmu membayang bersama
buai angin pesisir awal bulan Agustus ini
Wednesday, July 29, 2009
Senja di Lobi Garden Ussu
Di lobi Garden Ussu menatap pangrango kala senja hari itu
langit Cisarua mengajak bercerita tentang rindu dan cinta
aku pun kembali menepi pada tiap makna sajak
seiring denting waktu memburu kelam
saat engkau berlayar di tiap jengkal resah dalam hatiku
Hati mengembara melayang membisik pada angin gunung
larut bersama indahnya semesta
pada hamparan tingkap tingkap perbukitan hijau
yang tak lagi ranum ternoda villa dan hotel
hingga menggapai kaki langit
dingin semakin menusuk
kusampaikan rindu pada kelelawar yang mulai berkelepak
mengangkasa tak bosan melepas rindu pada malam
mematunglah aku di lobi Garden Ussu
memandang bayang wajahmu di senja kala itu
aku rasakan kau semakin dekat
bahkan lebih dekat dan membatu di korneaku
langit Cisarua mengajak bercerita tentang rindu dan cinta
aku pun kembali menepi pada tiap makna sajak
seiring denting waktu memburu kelam
saat engkau berlayar di tiap jengkal resah dalam hatiku
Hati mengembara melayang membisik pada angin gunung
larut bersama indahnya semesta
pada hamparan tingkap tingkap perbukitan hijau
yang tak lagi ranum ternoda villa dan hotel
hingga menggapai kaki langit
dingin semakin menusuk
kusampaikan rindu pada kelelawar yang mulai berkelepak
mengangkasa tak bosan melepas rindu pada malam
mematunglah aku di lobi Garden Ussu
memandang bayang wajahmu di senja kala itu
aku rasakan kau semakin dekat
bahkan lebih dekat dan membatu di korneaku
Cisarua, 25 Juli 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)