Thursday, January 7, 2010

Ketika Aku Kehilangan Kata-kata

Terhempas ombak berkali karang tiada bergeming
sementara mendung masih saja bergelayut tebal di pesisir ini
Aku tertunduk kehilangan kata-kata
Mulutku t’lah lelah ungkapkan rasa
Hingga mati rasa, mati kata
Kutak peduli lagi apa kata camar dipelukan angin pesisir

Hari pun seakan lelah menyapaku
bahkan bulan pun tak sadar tlah kuarungi
aku tak pernah temukan lagi kata hilang itu
letih aku rangkai kembali, kini pun lenyap tanpa muara
Mencarinya pun kini ku tak tahu entah ke mana?

ingin lupakan semua kata itu
perlahan kususun rangkaian sajak baru
kumulai tautkan kata frase klausa hingga kalimat baru
Kembali sajakku kini dengan kata-kata baru

aku terisak ketika kutemukan kata-kata baru
teringat mawar yang pernah mekar
Kuresapi dan ku rasakan
Walau mungkin suatu saat nanti mulutku tak berhenti eja
ku sadar seperti menemukan kata-kata yang hilang itu
Ya, aku berharap hati ini mampu bersajak lagi dengan kata-kata baru
seiring angin yang berhembus di pesisir ini
karang pun tetap terhempas ombak
dan aku makin tertunduk di bawah nyiur

Saturday, January 2, 2010

Berharap pada Sajak


Sajak cinta yang kurangkai dalam tiap merindumu
perlahan terombang-ambing dalam makna
tak beraturan bersama teriakanku

Sajak Rasa itu kini jadi sumbang
Seperti kamu yang selalu membayang
dan tak pernah mau menghilang

aku tulis sajak ini kala pesisir
semakin lusuh pucat tanpa cahaya
aku kabarkan padamu bahwa angin pesisir
selalu merindukan angin gunung yang sejuk

aku hanya berharap
dalam sajak-sajakku kelak
kau tetap hadir bersamaku
rangkai kata-kata tuk buat sajak baru





Sunday, December 27, 2009

Di Pesisir Ini Kembali Aku Tulis Sajak

Sepi tlah sunting senja di jendela kalbu
Senja pucat tanpa lembayung merah tergerai
cericit kelelawar tlah toreh menjadi diary rindu

aku yang terpekur dalam kepekatan pesisir
hanya bisa bersajak ke penghujung senja

jejak dan titian yang terlewati
menggamit merindumu
Bayangmu semakin larakan lenaku
dalam langkah tertancap senyum dan tatapan korneamu

Kusingkap makna sebuah kerinduan
Kudambakan rindu dalam sajakku
Di pesisir ini kembali aku tulis sajak

Saturday, December 26, 2009

Di Ruang Ini Ku.......

Di ruang ini,
detak waktu masih berjalan dalam hitungan tanggal yang membisu
awan pekat sejak siang tadi menguapkan panas
membekukan udara yang menggantung

Sketsa wajahmu membentang semu
Kau peluk kembali tubuhku
korneamu menancap perlahan rengkuh sukmaku

dan pintu kubiarkan terbuka untukmu,
mengharap langkah-langkah terdekap rindu,
seperti waktu-waktu yang tlah lalu

Friday, December 25, 2009

Saat Kusandarkan Siluet Bulan pada Langit Kerinduan

Mimpi yang rebah dalam pangkuan malam
ku eja kata yang melekat ditiap labirin otakku
kau pun berikan belaian mimpi lewat tetesan satu-satu
di tiap denting atap kerinduan

kepergianmu tlah mengalirkan sajak-sajak malam tanpa rembulan
meski kata-kata terjalin dalam sajakku
tapi mimpi itu tetap penjarakanku

mungkin malam ini takkan berhenti kurangkai sajak
meski bulan tak hadir indahkan langit malam, tapi kuyakin
esok embun kan tetap teteskan tangisnya di ujung ilalang


siluet mimpi pun terus mengalir seperti nyanyian kerinduan
di tiap detik yang berdentang diantara deret angka yang membisu
saat kusandarkan siluet bulan pada langit kerinduan


Tuesday, December 22, 2009

Pada Gerimis Desember ini

Tersentak aku dari tidur, terkesiap
menyusup perlahan alunan kitab suci
begitu mengalun dari radio tetangga
Aku hanya tertegun, termangu, dan lesu

kupandang jendela tua
berderai korden usang oleh kilatan waktu
murung dan membisu.

membisik angin perlahan,
meluncur dingin dari busur senja
sementara di luar gerimis tetap bergumam
satu-satu menjejakkan kaki ke bumi

perlahan kesenyapan merangkul gelap
menyapaku di buram kaca jendela
entah mengapa
pada gerimis di hari ke 22 ini
aku masih saja merindumu

Monday, December 21, 2009

Rintik Kerinduan di Bulan Desember

Sadaplah gelisah angin di antara riuh gerimis
yang menggemerisik di antara sunyi
tidakkah kau dengar gunjingan tentang gelisahku
ketika senja turun di kelam tak berpenghuni
ada lukisanmu pada latar cakrawala

jingga membara dan kadang-kadang lembayung
tersingkap dalam kenisbian
lihatlah pendar yang disapukan dari rasa ini
sedang malam pun tak pernah bosan sajakkan rinduku

riuh tawa dan simpul senyummu kembali tersketsa
hangatkan dan aromakan rasa dalam hati yang entah terluka
aku tapaki purnama yang tenggelam terenggut awan
dan aku ingin terbenam bersama rintik-rintik
kerinduan yang terus membara

Saturday, December 19, 2009

Jika Saatnya kan Tiba

Jika saatnya kan tiba,
musim berkelebat membuka halaman baru
gugusan awan ranum berarak
tetes satu satu pertama pada senja pertama setelah kau berlalu

Biduk tak lagi tenang menari di ombak
seakan ingin merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu merebah hasrat di dermaga rindu

Jika Saatnya kan tiba,
di semburat merah ujung senja
kan kubingkai binar korneamu
dalam album gairah jiwaku
kujadikan lukisan indah dalam sajakku

berhiaskan leleh cahaya bulan melumuri langit
dipendar semilir angin pesisir
membelai lembut kata-kata pujangga

Jika Saatnya kan tiba,
kubuat kau tak lelap tidur
bersama merajut impian yang tak segera usai,
mengalir genangan cinta dipalung kalbu
dalam getar cumbu tak berkesudahan
hingga munculkan sajak-sajak baru

Friday, December 18, 2009

Bersemayam tiba-tiba senyummu disudut sukma

Bersemayam tiba-tiba senyummu di sudut sukma
saat waktu tasbihkan kau berlalu
tangis angin menukik di sudut gedung
dan seratus kornea mata memandang senyum itu
menembus asa yang tak tersampaikan

siapa yang pahatkan rasa ini,
kala senyummu yang mungil
bagai pualam murni bersorak
dalam senja lahirkanmu

senja terlalu merah dan langit pucat di titik-titik peluhmu.

aku lukis dan kenang
garis biru di antara kelopak matamu
tipis dan lembut di setiap angan

seekor kupu-kupu tlah taburkan benih
hingga tumbuh aneka warna
seperti pendar pelangi....

Bersemayam tiba-tiba senyummu di sudut sukma
saat waktu tasbihkan kau berlalu
ku kenang saja senyummu itu



Wednesday, December 16, 2009

Entah Pada Siapakah sajak ini kutulis

Akan ke manakah senja melayang
tatkala rintik satu satu nan muram
memecah secercah senyum di balik awan
entah pada siapakah sajak ini kutulis


pekat dalam kabut rindu meradang
terbayang engkau tersenyum sambut korneaku
turun dan berbisik tepat di sampingku

belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
kuingin manja dalam dekap katamu
hingga sajakku dan sajakmu menyatu
dalam goresan dahaga kata kata

Akan ke manakah senja melayang
untuk siapa kata kurangkai hingga sajak
pecahkan bulan dalam dekap ombak
hingga gugurkan hati dalam dahan-dahan kerinduan

Wednesday, December 9, 2009

Sebuah pengakuan

Kesibukan telah bikin aku terbelenggu dalam penjara retorika. Sebuah kenistaan ketika aku melupakan sastra, aku benar-benar tidak percaya. satu bulan penuh aku terombang-ambing institusi dan keformalan. jiwa seni dan sastraku dalam berbahasa pun perlahan memudar seiring keformalan yang sering aku lisankan. kini aku pun kembali merangkak perlahan tuk bangkitkan jiwa yang meradang. maafkan aku teman, apabila abaikan sastra selama sebulan terakhir ini.

Tuesday, November 3, 2009

Secari Kertas Kala Senja dan Gerimis di Pesisir

Angin awal bulan ini menghembus semilir menuju pesisir rintikpun tlah satu-satu hujami bumi, bangau kecil mulai bermain di kecepak air diantara ilalang. Bangkai kayu purba mulai terekah, debu menyingkir menghiba pada dedaun kering.

Terseok Si Nang melangkah menuju pantai, Emak hanya menatap. Secarik kertas kumal tiba-tiba menghempas wajahnya. Nang terhuyung dan mengambil kertas itu.

Menginginkanmu adalah harapan bagiku
Menyayangimu adalah derma dalam hidupku
Namun kini aku tahu mencintaimu adalah ego terbesarku

Telah dikirimka-nya malaikat untuk menjaga imanmu
Dan telah pula dia sandingkan seseorang terbaik untukku
Yang tak pernah kutemui orang lain mencintaiku seperti dia mencintaiku
Betapa tak berartinya semua yang kita miliki bila dibanding semua yang telah mereka berikan untuk kita

Maka jika aku selalu menghiba agar waktu mempertemukan kita terlebih dahulu
Kini aku hanya berharap waktu tak pernah mengijinkan kita bertemu dulu
Dan jika penyesalan adalah sebuah dosa maka
Biar waktu berlalu dalam mimpi-mimpi semu
Dalam sebuah kenangan yang akan tersimpan rapat dalam bagian hidup kita………

Sungguhpun begitu kau adalah satu bagian terindah yang dia kirimkan utkku
Bersamamu aku mengerti, bahwa mencintai adalah memberi bukan memiliki.....


"Mak, Mak......" teriak Nang tiba-tiba
"ada apalagi to Nang?"
"Mak..., kini Nang sadar Mak...., itulah hidup.... Bulan memang tlah pergi dari pandanganku,...tetapi bulan gak pernah bisa hilang dalam ingatanku Mak...."

"syukurlah kamu tlah sadar.....jadi jangan kau ratapi kepergiannya, kalau memang garis harus tidak mempertemukanmu dalam mahgligai ya cukup dalam hatimu Nang, nah mulai sekarang bangkitlah biarlah bulan sama siapa saja toh itu sudah diatur Nang.."

"Iya Mak...., maafkan Nang Mak bila selama ini Nang terlalu memikirkan Bulan"
"Ya sudah, sana makan dulu...."

Angin kembali sibak kabut senja kala rasa itu luluh dalam kepekatan, secarik kertas senja itu tlah membuka cakrawala cinta yang hakiki.

Tuesday, October 6, 2009

Malam Rebah dalam Kepekatan

Malam kembali rebah, meninggal senja yang pekat
Resah merapuh hampa, memeluk dingin
menjemput lara, mengusir riang sang bulan
senja tak luput dalam ingatan, Jiwa pun merindu dalam kesunyian

Malam rebah berlalu, jauh dari rindu mendalam
Menorehkan purba, pada tubuh sunyi
menggenang sepi di taman hatiku
membawa malam dalam kepiluan

Pilu pun menjadi prasasti bait puisi, merindu taman jiwa
tertoreh kenangan abadi, sekedar khayalan mimpi
pusaran cinta pun tertoreh,
terikat oleh rintihan dalam sajak sajakku