Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Tuesday, April 6, 2010
Senyummu
senyum yang selalu hanyutkan hati ini
senyummu menderu bak gelombang
mengombang-ambingkan biduk rasa ini
aku terkenang kembali pada senyummu
senyum yang tlah terpatri di sudut hati
aku hanya mampu bayangkan kembali senyummu
senyum yang teduh dan damaikan rasa ini
ijinkan aku tetap menempatkan senyummu
di sudut hatiku
Saturday, April 3, 2010
Biduk Kembali berlayar
Kubawa risau dan kuadukan pada awan
gelombang menggulirkan harapan
Tentang asa, rasa dan kerinduan
Biduk tlah kembali berlayar
kulihat secercah cahaya dan terangi jiwa yang meradang
kuhiaskan pada dinding dinding hati
kuarahkan sesekali dengan cemburu dan air mata
Biduk tlah kembali berlayar
bidukku kini sarat akan muatan
terbentuk hasrat tuk mengajakmu bersamaku
aku tak sanggup terombang ambing sendiri
Biduk tlah kembali berlayar
Terguncang keras diterpa gelombang
Tinggalkan cerita dalam sajak kerinduan,
Mengikis gumpalan rasa yang mengakar
Sunday, March 28, 2010
kurindui kau wahai purnama
semburat merah tak berujung
tipis berhembus bersama kabut
mengelana rembulam berselimut mendung
Di kelam ini ingin kuraih
Setitik sinar menemu muara rindu
hanya rembulan yang terurai
Meski kutahu tak sempurna
Tapi esok tetap kan berjalan
bersama rindu di ujung senja
rembulan pun terpasung mendung
kurindui kau wahai purnama
bayang wajah ayu menyembul
tertata bagai keramik-keramik pualam
senyummu pun menyeruak
menyapa lara terpasung dalam kenangan
Monday, March 22, 2010
Ada Sukma Merintih Setia Menyapamu
matahari tlah purna tugas bersama sang camar
derak dahan dan ranting dikejauhan
terus berderak ditiup angin gunung malam ini
gelap masih pucatkan langitku
tipis bergulung seliputi sang sabit membisu
sesekali kilat menyambar
di langit jauh di atas sana
aku yang membeku semakin dingin
membeku bersama rindu
dinding tlah berlumut rindu
mulai retak tergoncang waktu
kuraba kembali sisi hati ini
agar pintu tetap bisa terbuka untukmu
agar pintu menyambutmu saat engkau datang
walau sekedar menjenguk hati ini
bayangmu dalam hatiku
adalah kilat yang membelah langit di atas sana
membias cahaya walau sesaat
walau rembulan hanya sabit malam ini
senyummu seakan kembali menampar kenangan lalu
ada lembaran-lembaran hasrat tersketsa
di sini masih ada sukma merintih setia menyapamu
Monday, March 15, 2010
Pada Awan Merah yang Gugur Senja ini
tertulis liku sajak dalam benakku
merah meradang dalam otakku
hanya perih pedih menggores tiap lara kataku
Pada awan merah yang gugur senja ini
serupa senyum dan bulan tersungging
mewarnakan muram
menggores langit tanpa sapakan awan
Pada awan merah yang gugur senja ini
wangi pucuk muda tlah sirna
titisan kalbu menari berteman senandung mimpi
Pada awan merah yang gugur senja ini
kutitipkan mimpi padamu
semoga tak diterpakan angin
rebah dan manjalah di pelukku
wahai kau yang kuimpikan
Saturday, March 13, 2010
Kucoba Rebahkan Rembulan dalam Bayangmu
Gontai mulai ragu dalam langkahku
Tak satu isyarat mampu kubaca
kulihat rembulan terpahat di sudut senyummu
Tapi aku ragu apa yang kulihat
Benarkah itu rembulan semalam
Atau sebuah sketsa silam
kucoba rebahkan rembulan dalam bayangmu
Sungguh sebuah kepiluan yang menyayat
rembulan pucat berselimut kabut
bayangmu pun pudar dalam pekat malam
Aku bukanlah pilihan yang tegar
Meski sajak tlah tertoreh dalam desah nafasku
biarlah sajak-sajakku temukan bayangmu
aku tak ingin kau terluka dalam sajakku
biarlah rembulan tetap di sana
Tetap terpahat di sudut senyummu
kan kulukis saja dalam mimpi
Meski aku kembali kehilangan dirimu
Thursday, March 11, 2010
Di Kereta ini Kita Bertemu dan Berpisah
aku ingin kabarkan padamu
semalam kau tlah duduk bersamaku dalam gerbong ini
bersama membisu dalam temaram malam
derit gerbong tlah bisukan hati kita
tlah satukan haru dan rasa di jiwa
meliuk ular besi singkap malam
terabas pedesaan hingga pantai penghabisan
aku yang terduduk di gerbong kereta
sesaat lihat langkahmu gontai perlahan
menapaki karpet merah tinggalkan aku sendiri
aku tak tahu makna senyummu
tatapan tajam korneamu penuh makna luruhkan rasa
lambaian jarimu karamkan luka
menganga akut dalam balutan hampa
aku hanya termenung pandangi jendela
kau pun melenggang tinggalkan
gerbong
aku
kenangan dan
mimpi
kita bersama
aku ingin kabarkan padamu
seringkali kubersandar dikursi gerbong ini
syahdu terasa tiap kali lewati kotamu
mata ini pun tak lelah pandangi jendela
sekedar tuk menatap dan mencari
masih adakah bayangmu
masih adalah kerlingan matamu
masih adakah lambaian jarimu
dan masih aadakah aku di sudut matamu
Monday, March 1, 2010
Kerinduan pada Senyummu
Aku tak pernah dan tak akan berlari darimu
Menjauh pun tak pernah terpikir dihatiku
Aku masih di sini…. tetap ada untukmu
sebait sajak selalu kutulis untukmu
tiap detik kuhanya berbisik pada hati
esok mungkin dapat kuluangkan waktu untukmu
aku tulis sajak tentang hati…
mengembara dalam cakrawala
hingga asa dan rasa menyatu dalam rindu
aku ingin luangkan waktu yang tepat untuk senyummu
Kerinduan pada senyummu kembali menjadi
suara hati dalam sebentuk sajak
Sunday, February 21, 2010
Aku Butuh Engkau Sejukkan Bara Ini
memijat mesra rasa dalam tiap langkah
susuri labirin panjang terlukis senyummu
Lelah kusandarkan dalam altar kerinduan
seribu rasa bergemuruh bergolak
ku terpenjara fatamorgana senyummu
dinding putih kamar kembali rangkai sketsa kenangan
jiwa bergolak redakan bara hasrat yang membara
aku butuh engkau sejukkan bara rasa ini
selimut kumal makin nyalakan genderang sepiku
Thursday, February 18, 2010
Hujan Senja Ini
kabut membadai bergemuruh terpa wajahku
beringsut tubuh ini merapat di tembok bisu
dingin senja itu tlah kurung aku dalam sketsa kenangan
Hujan memang penuh pelangi kala sinar rasa
terangi kecepak air di awan
tersketsa keindahan dirimu dan diriku
menggenggam hujan disetiap lekuk langit
hingga sentuh sudut cakrawala dipucuk pohon pinus
Hujan tlah hadirkan kembali
wangi khas yang kau tebarkan
hingga menusuk jauh kerongga hidungku
seperti saat kau berjalan dalam tudung jaketku
hindari hujan agar tak menampar parasmu
Hujan kembali kau temani aku senja ini
kenangan di sudut jalan yang pernah kita lalui
tersketsa dalam bingkai kerinduan
dalam hujan senja ini kembali aku lukis bayangmu
Tuesday, February 16, 2010
Pekat Mendung Malam Ini
pisau cahaya belah awan dan getarkan sukma
gemelegar menggemuruh susupi gendang telinga
korneaku hanya pandangi pisau cahaya menjadi akar langit
aku yang terpekur entah kenapa membisu
nafasku memburu
jiwaku memburu
entah apa yang aku inginkan
kucoba rangkai sajak
rangkai syair nyanyian hati
yang hanya bisa aku nyanyikan
tanpa iringan orkestra rasa
pekat mendung malam ini
kembali aku bergulat dengan pisau langit
terpekur saksikan akar langit sentuh bumi
entah apa yang aku inginkan
sementara entah dimana
sketsa yang dulu pernah kutulis dan kulukis
seakan menghilang
musnah ditelan alam
cahaya dilangitkah kau saat ini
siapakah mendung dan awan yang selalu menebal
aku hanya bisa terpekur kembali
tuk temukan sketsa yang hilang
Sunday, February 7, 2010
Terpekur dalam Gundah di Pesisir
Menelusup dan membayang diantara biduk bisu
Rembulan bergumul dengan selimut mendung
saat aku terpekur dalam gundah di pesisir
Ranting bakau bergesekan tertiup angin pesisir
korneaku berpendar dalam gelap mencari bayangmu
pada dahan lembut kugantung asa pada gerimis
Menatap jiwa tertelan waktu dan jarak
Denting air berkecepak seiring detik jam ditanganku tak berhenti.....
Gemanya menggetarkan hingga terajut kerinduan
Termangu menatap bayangmu dalam korneaku
Lagu rindu berdesau dalam kerinduan tak berujung
iramanya lembut menari dalam jiwa
kutatap langit yang masih menetes satu satu tuk mencari jejakmu
perlahan menghilang dalam kabut selaput korneaku
Thursday, February 4, 2010
Kabar Pesisir di Awal Februari
riak-riak kecil lirih beringsut merapat ke pantai
semilir angin pesisir bangunkan biduk dan tali yang lelap sebab hujan semalam
aku kabarkan padamu yang jauh di sana
hari ini pesisir damai dalam ekosistem rasa
asap mengepul dari perapian nelayan
jerit, tawa, tangis anak-anak pun riuh bangunkan pagi
aku kabarkan padamu yang jauh di sana
pagi ini masih lalu lalang sepeda dan becak
berebut jalan tuk cepat sambut tawa dalam kehidupan
sementara istri-istri nelayan sibuk menata ikan
aku kabarkan padamu
udara pagi silih berganti aroma rasa
bau masakan,
bau ikan yang dikeringkan
dan bau khas ombak pesisir
tiba-tiba kau menyembul diantara ombak
tersenyum
berbisik