Tuesday, July 20, 2010

Aku Sapa Cinta pada Bayang Semu Wajahmu

Perlahan tertatih nafas ini merangkak dan mengembara
dalam tiap langkah aku tambatkan rasa dalam jiwamu
separuh nafas jiwaku tlah terawan di senyum dan kerling matamu
aku pun coba bertanya saat berkaca di kedua korneamu
adakah aku di kedua matamu

Tak ingin kabut menutup lembut
berharap angin sapu dan singkirkan tirai di dasar jiwamu
hingga terbuka rasamu yang ingin kulihat secara nyata

berkali kucoba hapus dari jengkal langkahku
aku hanya ingin kau bersemayam tidak hanya berhembus

maka aku sapa cinta pada bayang semu wajahmu
pada bayangan yang semakin tersketsa
pada malam yang tak pernah bosan
temani aku dalam sajak-sajakku

Saturday, July 17, 2010

Rinduku bersama gerimis

Langit tak pernah berubah, masih saja bersemayam awan dan rintik satu-satu
mendung menggelayut tak kuasa bertahan
gerimis makin tak sabar buai pendar-pendar rasa yang tak terungkapkan

Entah gerimis keberapa aku kembali lihat wajahmu membayang
aku masih memaksakan diri menunggumu, hanya untuk sepotong senyum
Aku sudah menyiapkan sajak, sajak yang akan mengenang senyummu
sajak-sajakku tlah juga ada kau dalam jiwaku.

Sajak yang kutulis dalam selembar kisah , ketika angin membimbing jariku,
sajak kutulis dalam malam hujan berkabut, yang melukiskan betapa
aku tak mampu tuk kuasai rasa yang terus membara
dalam gerimis aku tersungkur merindumu



Thursday, July 15, 2010

Siang mengawal Indah Senyum dan kerling Matamu

Siang berlalu seakan tergesa
hingga tak lagi bisa kutatap kerling indah matamu
aku terpuruk dalam sungging senyummu

siang terlalu cepat pulang
kata-kata pun enggan bermain dalam bibirku
hanya sketsa wajah terangkai
membayang di kelopak mataku

malam pun tergesa usir senja
hingga cakarawala
tak seindah sajak-sajak langit
kala siang merayap mengawal
kerling dan indah senyummu

solo, 16 Juli 2010

Sunday, July 11, 2010

Puzzle Bulan di hamparan Pasir

Riak-riak kecil senja di awal juli telah membuatku terpaku bersama bangau putih dan kepiting kecil bermain rasa yang tak mampu kumaknai. Aku begitu tersudut dengan kata-katanya yang sebenarnya telah dipahami beberapa minggu yang lalu.
Sejak bulan menghilang aku tak lagi bisa memaknai tiap langkah yang aku jalani. selalu saja ada yang dianggap salah, padahal tidak ada perubahan sedikit pun. Pesisir menjadi tempat bagiku untuk merenung kembali merangkai cerita usang yang masih saja tak lapuk oleh waktu. Lembut kakimu berlarian mengejar kepiting dengan tawa khasmu kau pun pandangiku. aku simpan rapat senyum itu agar tak menyublim seiring waktu. kini aku rasakan senyum itu tak lagi memiliki makna. Kau selalu salahkan semua yang aku jalani, padahal kamu tahu itulah aku, aku yang dulu kau kenal.

"Nang, kenapa melamun" Mak duduk disisiku tiba-tiba
"Bulan Mak,...."
"kenapa dengan Bulan Nang."
"Bulan tlah benar-benar pergi, Mak"
"Kenapa dengan Kalian..?"
"Tidak apa-apa Mak, bulan tak lagi percaya pada Nang, Mak. Mak ingat kan, bahwa dalam rasa itu ada kepercayaan, maka bila kepercayaan itu sudah tidak ada berarti rasa itu pun pasti hilang kan , Mak?"
"sudahlah Nang...Mak tahu perasaanmu ...Memang berat bila kepercayaan sudah tidak ada lagi Nang.., apalagi untuk mengembalikan kepercayaan itu"
"Tapi Mak, bulan sudah tahu semua dan Nang sudah jelaskan, bulan pun sudah mengerti dan bisa menerima tapi tidak tahu kenapa bulan tiba-tiba begitu saja mengatakan Fucking, Nang nggak menyangka Mak"
"Ya sudah redakan rasamu biar adem Nang, jangan biarkan kamu larut seperti ini..sudah ya Mak masuk dulu, bila mendengar azan maghrib segera pulang ya.."
"Iya Mak..."

Kembali lembayung merah menyilaukan mata untuk terakhir sebelum terusir malam. riak-riak pun melemah seiring naiknya air ke pesisir. senja ini aku hanya bisa merangkai cerita-cerita bagai puzzle alam di hamparan pasir lembut ini. Puzzle itu tak lagi bisa menyatu ada saja yang kurang sehingga tak terbentuk lagi gambar yang indah seperti dulu.

Saturday, July 10, 2010

Siluet Hati pada Senja di Pesisir

Hari ini senja berlalu dalam buai ombak
pasir tlah manjakan punggungku, yang
lelah mengukur waktu bersama langit yang memerah

telanjang telapak ini menyisir pasir kenangan
tersenyum buih bergulung, tersketsa di sepanjang pesisir
ombak, pasir, angin, camar, biduk tlah bercerita tentang keabadian
membisikkan kenangan pada pasir yang tersenggama rasa

berlari kepiting kecil masuk ke satu lubang dan lubang yang lain
terhempas kala ombak mendeburkan buih-buih putih
kepiting kecil itu tak lelah tuk kembali berlari
sementara aku hanya bisa menulis dalam sajak-sajakku

sajakku melepaskan cengkeraman pada sketsa-sketsa kenangan
penat menyatu menusuk-nusuk bersama ombak yang kian pasang
aku terpuruk dalam kesendirian pulas tertidur dalam bahagiamu
seraya mengucap selamat jalan pada pantai kenangan

Sketsa Hati di Awal Juli

Musim terindah bersamamu tlah berlalu
kini rasa pun membelenggu tangisku
lagu mengalun merdu pada masa itu
semua termemori dalam otak bahagiaku

aku hanya ingin kau tahu bahwa embun rasa itu
masih bersemayam di sudut hati ini
luka, marah, iba memang pernah singgah bersamamu

aku hanya bisa membayangkan kehangatan rasa
saat kau tersenyum menyatukan pelukan hasrat kita
semua hening berubah menjadi hingar bingar suaramu
semua hilang penat, gundah yang ada hanya ceria

aku tak tahu masih pantaskah kudambakan waktu itu kembali
biarlah tersimpan dalam hati dan terpatri dalam sketsa rasa
untukmu aku ingin katakan bahwa hidup terus berjalan
tak guna kau tengok kebelakang

kutulis coretan ini seiring kata "kasarmu"
menampar mata dan hatiku
biarlah sebagai tanda bahwa aku masih mengenangmu
biarlah kabut kan sembunyikan hadirmu
biarlah airmata dan luka terbiaskan oleh waktu

ku yakin kau mampu menjalani sisa waktu
yang kini memangkumu dalam bingkai kebahagiaan
kutulis sajak ini sebagai bentuk terimakasihku
waktu tak lagi akan kubuang walau kau tahu perih dan pahit
biarlah semua terkubur kisah yang tak akan bangkit kembali

aku masih seperti dulu wahai kau yang punya rasa
sesekali tengoklah ke bawah di sana
di pesisir ini, masih ada aku yang akan menjaga
kisah ini menjadi cerita malam sebelum lelap
dekap ombak dan biduk dalam kesendirian

Saturday, June 26, 2010

Gundahku di Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk

Kembali membuka kenangan di kepala,
membias hari yang gersang dan berpura-pura riang
tak ada yang bisa mencegah lamunan tuk membuka episodemu
aku takkan lupa akan kalimatmu yang membuat koma sajak-sajakku

Di atas ferry penyeberangan Ketapang-Gilimanuk
mengucur deras angin menerpa anganku
rindu seakan mengembara di terjal perbukitan
kian merangkak tuk gapai puncak
menyiksa diri dalam kesunyian

haruskah kutulis gundahku
dalam sajak-sajak airmatamu atau
kutelan bayangmu bersama debur
ombak selat Bali
meski kenangan itu tetap berada dalam sajak-sajakku

Sunday, June 20, 2010

Senja dan Malam dalam Memori Sajakku

Angin pesisir merayap semilir singkap semburat merah di ujung langit
rintih mendesah pada biru lembar sajak-sajak kita
sajak yang perlahan menua meniti kalander jiwa
hanya senja tetap sendiri, sepi menanti gemintang rembulan

gelap pun jatuh meluruh jauh ke pangkuan hati
selimuti senja dengan selimut mimpi
tiada kata sajak berpadu pada haru suram senja hati
mentari setengah jingga seakan menahan laju cerita kita

senja tak habis dan takkan pernah usai di ujung hari
tanganmu kian erat genggam tanganku menjalin kemesraan
bernaung pada senja merayap kelam pucat merona
pertemuan senja dan malam hanya ada dalam sajak kita
sendiri luruh singkap memori atas semua yang pernah ada

Saturday, June 5, 2010

Di bawah Bulan Separoh Malam Ini

terpaku mematung di hamparan pasir
lepas pandangan ke tengah lautan
kilau pantulan sinar sang malam
bagai kaca si kecil diombang-ambingkan
sang penguasa lautan

walau separoh
purnama tetap tinggalkan jejak di langit

pasir lembut paksakan aku tuk sekedar
sandarkan lelah tubuh ini
semakin malam angin semakin tunjukkan jatidirinya

genderang tetap meradang di telingaku
tawa riang si rambut pirang dan bau bir tak pernah reda
dari indera pendengaran dan penciumanku

Kau tetaplah pantai seperti pantai-pantai lain
hanya mereka yang membedakanmu
kusapa kau tiap senja, tak bosan rasanya rasakan
riak-riakmu, debur riangmu dan aromamu

masih kuingat senja tadi
kau rengkuh ratusan toge'-toge' kepelukanmu
diiringi teriak riang dan tepuk tangan
dari si putih, si hitam, si coklat

itulah senja yang kan pisahkan kita esok,
kau tetaplah kuta
kuta yang tak pernah tercemar
walau multi kultur tlah hiasi hari harimu

malam ini kutingkahi kamu
esok ku kan kembali, esok pula
aku tak sapa kembali

di bawah bulan separo malam ini
kusapa kau, moga esok kan kembali
kusapa kau untuk sajak-sajakku
di sini pula rinduku berpeluk
karena bayangmu selalu hadir menari

Monday, May 31, 2010

Saat Wajahmu Rengkuh Purnama

kurangkai sajak ingin ku jadikan purnama
bait-bait alur terangkai dalam sajakku
kububuhkan kata “purnama mendekap dirimu dalam hangat”

langit tak lagi ramah,
awan berarak menuju samudra tinggalkan aku di pantai kuta
tiba-tiba tersketsa wajahmu bak purnama
Ada kehangatan menerobos garis-garis rasa
saatwajahmu rengkuh purnama
Tatapanmu sejukkan udara di ruang hati ini
sayup kudengar degup jantungmu berirama rasa

Kusuguhkan rindu hangat dalam sajak
biarlah uapnya menyatu disudut hatimu
terbayang kembali wajahmu merona
Majnun kan tetap lisankan kata-kata
Laila pun takjub tersipu terbelenggu rasa
Tapi purnama tetaplah purnama
Walau langit tak lagi sempurna

Friday, May 28, 2010

Mendung, Gerimis, Hujan dan Kamu

kala gundah aku tulis curahan ini
waktu tergurat ukiran langkah kita,
senyum tetap menggantung dalam balutan mendung

senja itu hujan kembali rebah ke bumi ,
genangan air di lubang-lubang jalanan dibawah cahaya trotoar,
menjadi alur berdigresi indah
di bawah langit tersenyum pucat pada kita

ada suatu momen terbersit saat itu
alur waktu bergulir kejar senja sebelum gelap
tak ada istilah terlambat ketika kita menuju tak terbatasnya horizon
dalam cakrawala senyummu

ada sebuah rasa yang ingin aku menggapainya lewat tanganmu
jalanan kecil,riuh dan penuh gemerlap lampu menghujam mata
aku pun terpuruk dan terpekur dalam peluk rasamu
saat di mana aku bisa menatap apa yang engkau rasakan
dan berada dalam sajak yang sama, irama yang sama

senja ini kembali aku terpekur
sesaat setelah hujan dan cuaca dingin
tinggalkan jejak di atas jalanan
kita bersama hiasi udara dengan hangat nafas kita

apa yang pernah kau ceritakan padaku rasamu
akankah kau jadikan sajak gambarkan kisah kita
atau cukup waktu yang tahu

ada satu sajak singkap memori bersama gerimis
terbersit di langit jingga perlahan kelam
sebuah jalan dan pepohonan yang meranggas tegar
dalam batas antara ada dan tiada

Tuesday, May 25, 2010

Bayang Senja di Pelupuk Mata

Senja gerimis menetes satu-satu
dalam kabut menatap gelap
merayap perlahan di aspal jalanan
tertatih jalin kerinduan dalam angan

mendung sore itu membalut hati
hangatkan suasana jiwa dalam dingin
udara senja dalam pandangan jati kering
kokoh menantang cakrawala

kau yang tersipu
kau yang tersenyum
kau yang tiba-tiba membangunkanku

kembali menerawang
peristiwa lalu tlah kembali
hangatkan jiwa yang meranggas

purnama seakan hadir
dalam senja yang merindu

Saturday, May 15, 2010

senja bangkitkan cerita lama

Senja kembali menyapa cerita yang telah ending
mengusik jiwa yang terlelap 
dan memaksa membuka memori yang hampir punah
dalam relung kerinduan

aku ragu apakah cerita ini akan kembali bersambung
dalam drama yang telah berganti episode,
setelah sekian lama peran telah berganti 
dan berjalan tanpa akting

kuharap cerita itu tak akan berulang 
walaupun kutahu tidak mudah melupakan alur itu kembali

apalagi untuk membuat digresi baru