Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Tuesday, January 11, 2011
Selaksa Mantra dan Sajak
seperti lunglai daun putri malu di sela-sela ilalang
aku sedih tak bisa menjamah semburat pelangi
buai malam adalah selimut kelelahan
mencari dan mengais kesejukan di peluk kelam
sungai rindumu tawarkan asa
seperti ombak yang menderu
sergap keperkasaan karang
inilah azimat batin
selaksa mantra dan sajak dipermadani hatimu
di pesisir ini kuabadikan
bayang tubuhmu dekap rinduku
Monday, January 10, 2011
Ziarah Puisi
padamu tak lagi tertahan oleh gigil angin
terjepit kesadaran, cinta dan kehidupan,
puisi dan sajak masih lekat di angan ini
setiap kali aku mengingat akhir perjalanan sebuah puisi
seperti batang bambu yang begitu indah kugenggam
setiap kali mengeja larik arabiah dengan kaligrafi
meski ku tak begitu hafal, tetapi bukankah itu puisi yang kan kubukukan
dengan melati biru di kehidupan berikutnya nanti?
zikir adalah setiap pijitan jemari di kening
adakah yang lebih mujarab dari merjan tasbih teruntai dari air mata ini?
biarlah kenangan tersaput jelaga dari perapian kehidupanku.
pekat lukis malam agar tersedia ruang untuk fajar esok,
jangan kau bacakan sajak-sajak untuk mengenangku,
cukup segenggam tanah dari kubur hatimu
untuk bisa ku genggam dalam tidurku.
agar kulihat kau tersenyum.
hanya getar jemari
dan sedikit kata mesra
antarkan persemayaman puisi dan kehidupan
Saturday, January 8, 2011
Dalam Diam Aku Merindumu
membisu dalam kebekuan rasa
yam cha, laila majnun, godlob,
anak bajang menggiring angin,
pada lingkar puting susumu,
pengakuan pariyem, tarian bumi,
ronggeng dukuh paruk......
menatapku diam
maafkan aku bila tak lagi buka
bukan aku benci
bukan aku tak peduli
tataran kehidupan berlalu
bagai karya sastra terdahulu
kehidupan kan selalu berimbang
antara masa lalu dan sekarang
dalam beku aku masih terpaku
tatap buku-buku membisu
dalam diam aku merindumu
Friday, December 31, 2010
Sajak Akhir Tahun
dingin
kenangan
keinginan
menyatu di penghujung tahun
akankah sajak-sajakku
kan menyentuhmu...
bersama duka kerinduan
dalam bait-bait kata
berpeluk makna
Tuesday, November 2, 2010
sebingkai kenangan
ku satukan rasa di riak gelombang
perlahan seirama pasang yang menggelora
leburkan rasa dalam redup mendung siang itu
pemancing itu asyik lempar kail
di antara ayun gelombang
rasa pun berkecamuk dalam jiwa
menggelora dalam buai angin pantai utara
Monday, October 11, 2010
Di Bulan Sabit Malam Ini
mengembang di antara kerlip kunang-kunang cakrawala
debur riak masih saja basahi pasir yang bisa dipeluk malam
dingin dan sepi sesunyi purba
di pesisir ini
biduk masih saja tergolek
sesuci bayi tujuh bulan tatap semesta
di bulan sabit malam ini
aku lihat senyum dan bola matamu
siratkan makna peluk kerinduan
Wednesday, October 6, 2010
Seperti Malam Kemarin
masih saja berderet di dinding kamar ini
detak nyaring kerinduan
satu persatu bayang terserak
menyatu dan wajahmu menyeruak sapaku
tertatih hening menyapa purba
bagai deretan rindu yang tercipta tiap waktu
mimpi dan ilusi pun menghias kamar ini
lamunan panjang terbangun pada lembar tanda tanya,
tak ingin bertanya apakah yang berkecamuk ini
hingga fajar pun merayap susuri kelam tinggalkan purba
diam membisu tak pernah bergerak,
kembali kerinduan peluk sepi di ujung malam ini.
Hening dan kembali hening seperti malam lalu,
tak harus terhentak namun hempaskan rasa
di Grand Jambi ini aku merindumu
Sunday, October 3, 2010
Aku Ingin Kabarkan Padamu
bahwa burung putih itu masih saja mengejekku
bahwa ikan kecil di sela riak-riak kecil masih menatapku
kepiting kecil yang tertatih diantara lubang pasir dan sela-sela batu pantai itu
masih memanggil-manggil tuk ajakku bercanda
aku ingin kabarkan padamu
aku masih saja termangu
aku masih saja rasakan khas pesisir
menyeruak dibulu-bulu hidungku
aku ingin kamu tahu
panas yang menyengat tak hanguskan rasaku
rasaku masih bersemayam
rasaku masih peluk bayangmu
rasaku masih kan memiliki asa
asa tuk tetap tulis sajak-sajak baru
Friday, October 1, 2010
Saat tiba Tatap Korneamu
saat tiba pada rindumu
hari pun merangkak hingga bulan berganti
Dan arakan mendung yang ranum
Menitikkan gerimis satu satu
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan dihatimu
Lalu menambatkan hasrat yang hangat dibakar rindu
saat tiba tatap korneamu,
Di ujung pertemuan nanti
Akan kubingkai binar korneamu
Bersama gelegak gairah rasa dalam jiwaku
akan kulukis indah di lekuk hatimu
aku kabarkan rasaku padamu
diantara semburat merah melumuri langit
ditingkah semilir angin banjar pagi ini
membelai lembut titik-titik embun diujung daun
Saat tiba pada dirimu,
Akan kubuat dirimu terjaga dari lelap mimpi
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,
Dalam genangan rasa dipalung kalbu
dengan getar cumbu tak berkesudahan
saat tiba pada harimu nantikan hadirku
Tuesday, September 28, 2010
Ingin Kusingkap Tabir dalam Sajak Hatimu
butir bening dibalik wajahmu
ingin kukeringkan satu-satu
ingin kuusir gelisah mendung
dan singkap tabir dalam sajak hatimu
sebab aku ingin menyimpannya dalam sekerat sajak
ada tapak-tapak asa mengandeng pada siluet hari
yang menghangatkan kita
lukisan senyum, renyah candamu
beriku nafas
kusunting sekuntum puisi
untuk semaikan sajak dalam tamanmu
hingga tumbuh kelopak-kelopak rindu
maka terbangkanlah hatimu hari ini padaku
kukabarkan padamu
di sini matahari pun malu tuk menyapaku
seperti hari-hari dalam sajakku di sana
maka hadirlah di setiap detik kerdip mataku
sekedar menyapa sajak-sajakku
Sunday, September 26, 2010
Kulukis dan Kusemayamkan Rindu
detik dan menit begitu cepat untuk beranjak pergi
hanya secuil kenangan yang bisa terlukis dan bersemayam di sudut jiwa
dan bila tiba semua harus kembali purba
semua pun bermuara pada rasa...
rindu.....
Tuesday, September 21, 2010
Renungkan dengan Hati terdalam
Dia bertanya kepadaku dengan lembut..
“Apakah kau mencintaiku karena kecantikanku?”
Dan aku sekuat tenaga berkata bahwa aku tak seperti itu..
Hingga hatiku terasa begitu berat..
Dia berkata kepadaku dengan sangat lembut..
“Kenapa kau mencintaiku?”
Dan sekali lagi lidahku begitu sibuk mencari kata yang tepat..
Hanya tuk meyakinkan dialah orang yang tepat untukku..
Kemudian dia berkata dengan sangat-sangat lembut..
“Kalau begitu..jangan kau mencintaiku karena jawabanmu itu..”
Aku bertanya kepada diriku sendiri..
Bila aku benar-benar mencintainya..
Kenapa aku harus begitu berat mengatakan kejujuran yang ia pinta?
Bila aku benar-benar menginginkannya untukku selamanya..
Kenapa aku harus membiarkannya pergi begitu saja?
Dan kini aku sadar..aku hanya melihat dengan mataku..
Aku mencari cinta karena inderaku yang duniawi..
Aku tak melihatnya dengan hati dan jiwaku..
Bukankah itu sebaik cinta yang kita impikan?
Aku melihatnya sebagai makhluk yang sempurna..
Aku melihatnya sebagai orang yang begitu tepat untukku..
Dan itu membuatku mencintai dunianya saja..
Perempuan itu..yang begitu saja meninggalkanku..
Mengajariku arti cinta yang baru..
Tentang peluruhan jiwa dan jasad untuk jatuh cinta..
Karena cinta tak sesederhana itu..
Catatan Sahabatku
Novanka Radja
