Langit muram dalam kepucatan
selimut awan menghitam berarak
hingga kunang-kunang enggan berkelip
bersama rembulan menghilang sesaat
Kusapa namamu, kubingkai bayangmu
Sebelum gamang menerjang
Takkan terhapus, luruh bersama kata
dalam sajak yang tak pernah selesai kutulis
senja tlah satukan dan pisahkan rasa
seumpama prosa tanpa ending
hingga tereja sebaris kalimat
terjalin alur kerinduan desir pasir pada gelombang
perlahan tertatih tinggalkan gelanggang
embun pun tumbuh menyublim
terselubung muram terpenjara hingga pagi menjelang
Tabir itu makin membadai
hingga sapa dan katamu meradang
Mencekik mimpi
Dalam sunyi terdalamn
tinggal kenangan pada tajam korneamu
serta sebait aksara di hamparan jiwa
Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Thursday, March 24, 2011
Suara Itu
suara itu, ya suara itu
suara itu masih saja menelusup
dari fikiran ke hati
dari hati ke telinga
dari telingan ke bibir
suara yang bernama kerinduan
kau telah kirimi aku sekerat mendung
kaburkan bayangmu di sela waktu
nafas setubuhi tiap angan
diantara detak jantung
sepi itu kian mengalir dan terus menjalar
lalui tiap labirin hati
nafas ini tersengal dalam luka
kulirik detik yang terus berdetak
tak pedulikan rintihan dan teriakkan
kurangkai kata dalam lembar hari
begitu panjang pucat mentari
kadang sayup kudengar sapamu
kadang kau entah menghilang ke mana
aku hanya bisa sandarkan punggung
pada sayap kupu-kupu putih
yang mengepak tertatih diantara gerimis
suara itu masih saja menelusup
dari fikiran ke hati
dari hati ke telinga
dari telingan ke bibir
suara yang bernama kerinduan
kau telah kirimi aku sekerat mendung
kaburkan bayangmu di sela waktu
nafas setubuhi tiap angan
diantara detak jantung
sepi itu kian mengalir dan terus menjalar
lalui tiap labirin hati
nafas ini tersengal dalam luka
kulirik detik yang terus berdetak
tak pedulikan rintihan dan teriakkan
kurangkai kata dalam lembar hari
begitu panjang pucat mentari
kadang sayup kudengar sapamu
kadang kau entah menghilang ke mana
aku hanya bisa sandarkan punggung
pada sayap kupu-kupu putih
yang mengepak tertatih diantara gerimis
Sunday, March 20, 2011
Kutulis dalam Sajakku
Kusibak lembar demi lembar melati di bening korneamu
teriring merdu suara seruling dentingkan hati
syairkan hasratmu dalam sudut hati
sketsa purnama merona berselimut lingkaran pelangi
gelayut rindu kutitipkan di tiap tetes embun yang menyatu
hingga esok kan leleh satu-satu di sudut daun
basuh hatimu dalam kelembutan
aku pun berkata dengan detak jantungku
dan berbisik dengan desah nafasku
kutulis tentangmu dalam sajakku
teriring merdu suara seruling dentingkan hati
syairkan hasratmu dalam sudut hati
sketsa purnama merona berselimut lingkaran pelangi
gelayut rindu kutitipkan di tiap tetes embun yang menyatu
hingga esok kan leleh satu-satu di sudut daun
basuh hatimu dalam kelembutan
aku pun berkata dengan detak jantungku
dan berbisik dengan desah nafasku
kutulis tentangmu dalam sajakku
Tuesday, March 8, 2011
Ingin Kusunting Rembulan
Ingin kusunting rembulan sebelum malam rengkuhmu
walau masih secercah senyum tersemat diantara kepak kelelawar
kunang-kunang bermandikan pekat tetap susuri malam
menyapaku di tengah sunyi lelapkan hati
ingin kusunting rembulan sebelum malam rengkuhmu
mengintip diantara awan berarak lumuri langitku
ranting-ranting itu menggigil
tegar jaga malamku tanpa dedaun
ingin kusunting rembulan sebelum malam rengkuhmu
mengejar ujung malam hingga tuntas tugasmu
aku pun kan tetap rangkai sajak
hingga purnama bawa pelangi pada malamku
walau masih secercah senyum tersemat diantara kepak kelelawar
kunang-kunang bermandikan pekat tetap susuri malam
menyapaku di tengah sunyi lelapkan hati
ingin kusunting rembulan sebelum malam rengkuhmu
mengintip diantara awan berarak lumuri langitku
ranting-ranting itu menggigil
tegar jaga malamku tanpa dedaun
ingin kusunting rembulan sebelum malam rengkuhmu
mengejar ujung malam hingga tuntas tugasmu
aku pun kan tetap rangkai sajak
hingga purnama bawa pelangi pada malamku
Sunday, March 6, 2011
Ku ingin Senja tak lagi Sepi
kuingin selalu menjadi huruf dalam lembar kertasmu
agar kata selalu terbaca dan bermakna dalam sajak
bening embun kan selalu menetes dan melintas
ditiap lembar daun dan sejukkan tanah dihatimu
kuingin selalu menjadi huruf dalam lembar kertasmu
agar dirimu selalu hadir dan ada dalam sajak
hiasi tiap kesendirianku
imajinasi ditiap lamunanku
kuingin selalu menjadi huruf dalam lembar kertasmu
agar senja tak lagi sepi
agar kata selalu terbaca dan bermakna dalam sajak
bening embun kan selalu menetes dan melintas
ditiap lembar daun dan sejukkan tanah dihatimu
kuingin selalu menjadi huruf dalam lembar kertasmu
agar dirimu selalu hadir dan ada dalam sajak
hiasi tiap kesendirianku
imajinasi ditiap lamunanku
kuingin selalu menjadi huruf dalam lembar kertasmu
agar senja tak lagi sepi
Friday, March 4, 2011
Bayangmu dalam Sayap Kupu-kupu
sayap kupu-kupu itu semakin letih
mengepak satu-satu tertatih dihempas angin
hinggap di dahan kerinduan
reranting rapuh perlahan tertunduk
dalam rebahan kupu-kupu
sejengkal hati menitis perlahan dalam buai rindu
mengalir tanpa batas dari pucuk-pucuk mendung
kabut biru mengambang dalam buai mentari
pucat merona rengkuh bayangmu
menyibak tirai kerinduan
dalam sayap kupu-kupu
mengepak satu-satu tertatih dihempas angin
hinggap di dahan kerinduan
reranting rapuh perlahan tertunduk
dalam rebahan kupu-kupu
sejengkal hati menitis perlahan dalam buai rindu
mengalir tanpa batas dari pucuk-pucuk mendung
kabut biru mengambang dalam buai mentari
pucat merona rengkuh bayangmu
menyibak tirai kerinduan
dalam sayap kupu-kupu
Wednesday, March 2, 2011
Mendung Berkabung
gerimis pada fajar di awal bulan maret
kembali toreh cerita dari kepurbaan
senyum dan tatapanmu menghujam
bagai tikaman bertubi pada sepi jiwa
prahara menggelegar tiba-tiba hanya karena kata
belukar itu tlah bersemi dalam balutan mendung
hingga tak kulihat lagi pelangi diwajahmu
bagai kupu-kupu melayang penuh kepucatan
asap perlahan tinggalkan perapian
hingga dingin paksa gigil gemeretak bersama tulang
aku hanya bisa bergumam
sajakku pun hambar tatap
mentari pucat perlahan usir malam
bersama mendung berkabung
kembali toreh cerita dari kepurbaan
senyum dan tatapanmu menghujam
bagai tikaman bertubi pada sepi jiwa
prahara menggelegar tiba-tiba hanya karena kata
belukar itu tlah bersemi dalam balutan mendung
hingga tak kulihat lagi pelangi diwajahmu
bagai kupu-kupu melayang penuh kepucatan
asap perlahan tinggalkan perapian
hingga dingin paksa gigil gemeretak bersama tulang
aku hanya bisa bergumam
sajakku pun hambar tatap
mentari pucat perlahan usir malam
bersama mendung berkabung
Monday, February 28, 2011
gerimis dan sajak
senja
gerimis
dingin
diam
membisu
hati tetap eja kata
hati tetap rangkai frasa
hati tetap tulis sajak
rasa, berkecamuk
rasa, menyatu
dan rasa dalam sajakku
gerimis
dingin
diam
membisu
hati tetap eja kata
hati tetap rangkai frasa
hati tetap tulis sajak
rasa, berkecamuk
rasa, menyatu
dan rasa dalam sajakku
Sunday, February 27, 2011
sepi
Genderang sudut hati bertalu
menggema tapi mengapa sepi meluruhkan hati
membasuh malam hingga waktu seakan terhenti
kesunyian membiru, mempurba mendekap sepi
setetes air menyelip di balik genting perlahan
menghujam bagai panah berdenting
nyaring pekakkan gendang rasa
sepi pun kudekap agar detik tak terhenti
bersama kalander bisu di akhir bulan februari
menggema tapi mengapa sepi meluruhkan hati
membasuh malam hingga waktu seakan terhenti
kesunyian membiru, mempurba mendekap sepi
setetes air menyelip di balik genting perlahan
menghujam bagai panah berdenting
nyaring pekakkan gendang rasa
sepi pun kudekap agar detik tak terhenti
bersama kalander bisu di akhir bulan februari
Thursday, February 24, 2011
awan dilangit pesisir malam ini
aku sembunyi di bawah awan merayap dalam gelap
tanpa lentera purnama, kunang-kunang tertatih
parau gagak dan cericit kelelawar tawarkan senyap
terserak kenangan diantara dedaun melayang
terhembus angin menyisir kata, frasa siluetkan makna
hempas ombak masih sisakan sajak yang belum usai
pesisir ruangkan hamparan lembut tuk tuangkan cerita
merayap awan gelap rangkai alur hingga titik penantian
aku pun terpekur diam hempaskan kata dalam sajak kita
tanpa lentera purnama, kunang-kunang tertatih
parau gagak dan cericit kelelawar tawarkan senyap
terserak kenangan diantara dedaun melayang
terhembus angin menyisir kata, frasa siluetkan makna
hempas ombak masih sisakan sajak yang belum usai
pesisir ruangkan hamparan lembut tuk tuangkan cerita
merayap awan gelap rangkai alur hingga titik penantian
aku pun terpekur diam hempaskan kata dalam sajak kita
Saturday, February 19, 2011
purnama di bulan februari
kutatap langit malam ke 20 di februari ini
lengang dan sunyi di tengah lapang kusandarkan
sekedar mengupas sebuah perjalanan
Kau yang merekah di setiap lelap membenamkan kata
kata yang terukir dalam sajak terboreh sinar purnama
kelopak itu telah merekah seiring benangsari dibuai purnama
bersama awan bak jamur cakrawala dininabobokan angin malam
sajak hanyalah wakil hati tuk habiskan malam bersama purnama
kelopak itu telah merekah seiring benangsari dibuai purnama
bersama awan bak jamur cakrawala dininabobokan angin malam
sajak hanyalah wakil hati tuk habiskan malam bersama purnama
Friday, February 18, 2011
diam adalah luka
diam adalah luka
bak anak panah lepas dari gandewa
menancap tajam sesaat setelah tawa
pelangi pun absurd memucat
kupu-kupu itu pun tiada sayap
warna pudar dan tiada melayang
hingga kunang-kunang melata dalam gelap
sepi, sunyi dan diam
kembali aku terdiam
dalam purnama mengembang
Tuesday, February 15, 2011
Pagi kala Gerimis Menyapa
rintik satu satu di pagi mempurba
mendung akhiri perjalanan mentari
saat hati gersang, penuh debu kerinduan
seperti oase, bayangmu hadir bawakan aku
semangkuk kata-kata untuk sajakku
bayangmu buat aku tertunduk, merenung dan menatap
jauh menelusup mengalir dan menyatu dikornea indahmu
hingga tenggelam dan hanyut dalam buaian sajak
saat kututup mataku, terbesit hasrat
menenggelamkan bayangmu jauh ke dalam sajakku
saat ku yakinkan hati
kau mampu hadir ditiap kata, frasa dan klausa
selalu ada yang memaksa aku
untuk membawamu serta dalam tiap sajakku
mendung akhiri perjalanan mentari
saat hati gersang, penuh debu kerinduan
seperti oase, bayangmu hadir bawakan aku
semangkuk kata-kata untuk sajakku
bayangmu buat aku tertunduk, merenung dan menatap
jauh menelusup mengalir dan menyatu dikornea indahmu
hingga tenggelam dan hanyut dalam buaian sajak
saat kututup mataku, terbesit hasrat
menenggelamkan bayangmu jauh ke dalam sajakku
saat ku yakinkan hati
kau mampu hadir ditiap kata, frasa dan klausa
selalu ada yang memaksa aku
untuk membawamu serta dalam tiap sajakku
Subscribe to:
Posts (Atom)