Sunday, June 10, 2012

Di Titik Nol Kembali Kau Hadir

Sepanjang musim, seiring detak pada detik
Kita tak mampu hitung rinai hujan yang selalu resap
di kepala kita
entah tetes keberapa antarkan catatan pada almanak bisu
angin tiupkan desah puitis iringi nafasmu yang menggelora
di titik nol kembali Kau menyapa
seuatu terindah di pipimu
selalu saja tersketsa
di ujung padang tandus
kau menjelma bulan, walau tak purnama diujung senja

Wednesday, June 6, 2012

Di Rel Kereta Senja Itu


senja kembali berselimut gelap menggumpal
purnama tlah berlalu, sesabit meluruh
dalam pekat nyaris mempurba
tak ada senyuman sepuitis dekik di pipimu
yang dapat kuutarakan dengan sajakku

rel kereta menghujung dan meruncing
cericit kelelawar temani sepiku
cerita tentang tawamu, marahmu, keluhmu


sejauh mata memandang berkabut tipis,
semu lambaian puitis pun kau perlihatkan
berdiri menanti sajak-sajakku

aku masih di sini di hamparan rel kereta
dalam senja bisu, sunyi bersama sajakku
cakapkan dirimu, satu makna dalam larik kata

Thursday, May 31, 2012

Ingin kudengar Rapal Maaf dan Rindumu


kutapaki lagi jalan ini
bersama sembab mata dan bibir yang berdekap

goresan luka kau torehkan
terkoyak tercabik rasa mengelantung
dalam kabut duka

kembali kutata rasa yang berserak
seperti daun-daun menghiba pada ranting
lelah angan berharap pada lengan belukar

Kau yang selalu angkuh dalam luka
tak lagi peduli pada waktu yang kubur
dan semayamkan dua rasa

ingin kudengar rapal maaf dan rindumu
hingga sajakku kan berpeluk penuh makna

Monday, May 21, 2012

Senja di awal sya'ban


Seperti semburat merah di ujung ombak
Sepasang kupu-kupu putih melintas bercengkerama di senja sepi
segenggam kenangan mengeram, meradang membuka tabir rindu
Lalu muncul wajahmu bimbing aku kembali amati senyummu
Hingga gerimis buyarkan imajiku
kupu-kupu putih itu pun menjauh
mencumbu mesra senja dan gerimis di awal sya'ban

Friday, April 6, 2012

MerinduMu


Menyelinap angin hembuskan Asmaul Husna
lembut sadarkan hati dari tidur panjang
CahayaMu memahat cinta dibalik semak kehidupan

duh Gusti lelehan intan bening bergelayut
sapu garis lurus bersama sahadatMu getaran hati

kujinjing kesabaran di lebat hutan kegersangan
menyelinap cahayaMu redup disela ranting dan akar zaman

dingin merasuk tetes embun merasuk relung
gema dzikir cumbui malam hingga fajar
merinduMu ya Rabb

Monday, March 26, 2012

Pakeliran rindu


Kembali kau hadir meruang berkelana
semburat tatapmu masih saja setajam dulu
pakeliran seakan tersingkap hingga tereja kata rindu

aku yang diam bukan berarti endingkan cerita kita
hanya waktu kan jawab untuk bersua atau berpisah

kupu-kupu putih masih saja indah tuk dipandang
terbang hinggap dan melayang
berkecipak sayapnya mengembang pelangi jiwa

duhai yang mampu rebahkan rasa
pundak ini masih saja memangilmu
hingga pejam hantarkan detak meruang waktu

Saturday, March 3, 2012

Lukisanku dalam Ruang hidupmu


Menggeliat waktu seiring remah-remah embun di pucuk daun, pagi ini ada sedikit yang berbeda dengan senyummu. Menatap seraut wajah yang berdiri kaku dihadapanmu. Membisu kau memandangku, aku hanya terdiam tak mampu berkata.

Berlalu angin membelai lembut halus kulitmu, Kurasakan ada yang berbeda denganmu pagi ini. Senyum tak semanis kemarin saat menatapku. Bahkan langkahmu pun tak semantap langkahmu dulu. Beban semakin perberat langkangmu, seakan menjadi milikmu semdiri.


Jam dinding masih berdentang. berkaca korneamu menatapku. Bibirmu bergetar hebat tatkala tanganmu menyentuh wajahku. Isak yang sekian tahun kumengenalmu tak pernah kulihat kini pecah seketika. Sesuatu yang hebat telah mengubahmu.

Aku hanya terdiam, karena aku hanyalah sebuah gambar usang yang menghias pekuburan waktu. Gambar yang pernah kau semayamkan dengan pigura terindah dalam tiap detik yang berdetak dalam hidupmu. Kini aku hanya bisa memandang bisu dirimu dalam ruang kosong dan hampa disetiap hidupmu.

"Catatan Usang
tentangmu"
Maret 2012

Tuesday, February 21, 2012

Kueja Kata


Menatap langit, sepi dan senyap,
gerimis tak lagi meruncing
entah apa yang terngiang, bulir-bulir rasa mengalir
kutemukan kembali jejakmu yang memudar
bagai temukan kamus tuk maknai kalimat dari catatan usang
ingin kuajak kau berziarah di pekuburan waktu
di atas pemakaman rasa yang kau anggap mati

Friday, February 17, 2012

Tepat pukul 22.46


Detak masih setia pada detik menjemput pagi
berputar sapa angka bisu, rasa pun
bergelut dalam resah hampiri malam,
aku yang masih saja tempatkan kamu dalam
perenungan diri

mencatat waktu dalam memori hati
sandingkan kenangan dan perjalanan
ditiap syair sajakku

Sunday, February 12, 2012

Senja lukiskan kamu


Kembali senja buka catatan tentangmu
cahaya jingga memerah itu tajam melukis gurat wajahmu
dilangit yang abu-abu kau hadir

lirih kudengar bisikmu bersama segurat senyum
cahaya memancar perlahan di sorot korneamu
memencar harapan dari letih perjalanan

beringsut kau menghangat sesaat sebelum gelap
kau lambaikan jemarimu memercik semburat terakhir
lalu sepi, kau sembunyi dalam sajakku
seperti perempuan desa, tinggalkan gelanggang
saat malam usir senja meremang

Friday, February 10, 2012

Entah Apa Ini....?


Tersungkur dalam resah yang membuncah
kebekuan tlah telantarkan aku pada entah
tersesat dalam perkabungan waktu

membayang setapak yang tlah terlewati
masih hangat terasa dalam helaan nafas
penjarakan angan dalam dingin dan beku

Tuesday, February 7, 2012

Inginku


Tak bisa kubohongi, semakin mencari siapa aku, dan berpikir apa yang hatiku inginkan, semakin aku tak tahu. tapi, kali ini hanya bertahan dengan kata "Ingin", atas apa yang menang aku inginkan.

Aku kadang berpikir untuk menjadi orang lain, Kita hidup memiliki kesempatan untuk memilih, dengan diam, berteriak, atau bahkan menggertak. Aku sering diam disisimu meskipun kau bahkan tidak ingin melihatku. Ada rasa yang tetap ada dan tak akan berubah serta tak bisa kuhindari, tapi aku yang tahu dan kusimpan sendiri.

Aku bersyukur masih cukup kuat untuk bertahan, aku hanya butuh bahumu untuk sekedar bersandar sesaat. aku tidak akan dapat membayangkan cerita apa yang ada di masa yang akan datang tentang kita. aku masih bisa mendengar dan melihat, bairlah telinga dan mataku yang akan memilih mana yang kudengar dan mana yang kulihat, sedangkan tangan ini tak mampu lagi untuk sekedar menggenggam.

Semua sudah berlalu, memilikimu adalah seperti menangkap angin, akar itu masih saja lapuk, aku tidak ingin kau maupun aku berpegang. jangan kuatir aku masih bisa tersenyum. aku percaya kau masih ada.

aku hanya berharap kamu masih ijinkan aku sekedar menatap mata indahmu hingga perasaan ini masih saja berkelana dalam anganmu yang tidak bisa bahkan untuk aku sembunyikan sekalipun.

Thursday, February 2, 2012

Sore itu di taman


"Kenapa kamu diam?"
"aku tidak tahu harus bicara apa?"

Memandang jauh pada sepasang sosok tua tertatih bergandengan menuju rindangnya pepohonan, bekas hujan sore itu masih membasah. Jingga memerah terselempang di ufuk barat membuka malam, kelepak merpati berpulang berganti kelelawar.

"sampai kapan kita disini?"
"sampai kamu katakan sesuatu"

Lampu taman menyala satu per satu ngengat, serangga malam mulai berhamburan dari daun-daun beterbangan mencari kehangatan, dingin sepoi merambah perlahan menusuk menelusup pori-pori.

"petang hampir usai, akankah menunggu sampai gelap datang?"
"Kalau perlu, kenapa harus terburu, toh kamu belum katakan apa-apa"

Kembali tenggelam dalam kebisuan, tiada bergerak tiada berkata, dua gelas plastik bekas juss masih teronggok. Bungkusan berwarna putih bekas tempat kentang goreng itu pun tak tersentuh lagi

"tuut, tuut, tuut"
"angkat, hpmu bunyi, dari Ibu kamu kali?"
"biar saja, aku tak mau apapun apalagi terima telepon"
"kamu kenapa sih?"
"aku sudah katakan berkali, aku tidak apa-apa"

tiba-tiba sirine meraung membahana membuyarkan lamunan, ambulance melaju kencang membuka jalan yang lumayan padat menyusup sana-sini. taman kembali tenang, gelap mulai menyergap.Gigil daun pada ranting tak mampu kumaknai, seperti diammu senja ini.

"yuk pulang, sudah magrib nih"
"pulang kemana?"
"ya pulang ke rumah, masak ke hutan!"
"kamu pulang saja sendiri nanti aku gampang"
"tapi kamu ke sini kan aku yang ajak, jadi tanggungjawabku jika kamu tidak pulang"

Suara azan membahana bergema dari masjid di sekitar taman. aku bangkit dan dua langkah kuberjalan, berhenti dan kutunggu reaksinya.

"ayo kita pulang.."
"kamu pulang saja, kan rumahku di sini, maafkan aku, aku baru mengatakan padamu"
"apa...?

Aku balikkan badan, tergagap aku terhempas dalam sepi. Kutatap sekeliling, sepi dan benar-benar sepi dua pasang sosok tua t'lah juga tiada dari rindangnya pepohonan. semerbak wangi menyusup dihidung, aku hanya bergumam.