Friday, November 16, 2012

Gerimis Pagi

Rintik satu-satu membasah
selimuti langit pilu merebah
jejakkan bayangmu pada tanah basah

sendu daun begitu rapuh melayang perlahan
teteskan aroma darah pada kenangan dan rimbun luka
redup, gersang kian menggigil dalam rintih sendu

adalah sepi pada pagi berbingkai debu
ingin kututup mata tapi nadi tak ingin berhenti

kulihat  engkau mendekap kelam
kusapa engkau sayatkan perih
kutahu engkau lelehkan mutiara
luruh dan meradang retakkan hati

seiring rintik satu-satu pada pagi
dalam gigil kabut kaki ungaran

Tuesday, November 13, 2012

Ilusi Hati

Satu jam sudah berlalu dalam dingin ruang AC bandara pada senja meremang. rintik satu-satu mulai membasah di landasan. Aku merasa ada pada ruang dimensi waktu yang tiada ingin rasa ini bernaung, hingga genderang asa memudar berirama bagai simfoni pilu birukan senja membasah seperti hujan di landasn pacu. dentuman detik tiap detak melirih sendu dan syahdu.

Menatap satu per satu pesawat landing dan takeoff, bagai dirimu yang lincah, perlahan terlukis parasmu dalam sajak-sajak pelangi kala sinar membias mendung senja itu. Terpecik rasa membahana ditelinga begitu jelas dan membuat luruh tulang-tulang penyangga tubuhku.

"Benarkah Kau akan segera pergi?, akankah Kau kembali dalam ruang bersamaku pada dimensi lain?"
"Mungkin, biarkan rasa bersemi dalam ilusi hati"
"Jangan, mengapa Kau biarkan bersemi dalam ilusi hati?"
"karena detik ini kan selalu berdetak seirama berselancar dalam rongga otot mengalir keseluruh tubuh hingga tersungkur hati dalam ilusi kepalsuan"
"Lalu, haruskah aku bertengger pada sayap kupu-kupu dan terbang bersamamu?"
"biarlah semua menetes seperti embun pagi berhias pelangi"

Kembali terhempas pada kursi tunggu diruang bandara AC kian gigilkan rasa, lalu mencekam badai yang tak kunjung berkesudahan, dendangkan simfoni rasa hingga pilu pun hinggap menyapa.

"Kau tak pernah mengerti dan tak mau mengerti, jiwa-jiwa hampa luluh lantak terkikis gelombang rasa dalam siluet senja"

Landing burung besi berwarna biru membungkam prahara kenistaan, kenangan dan harapan seakan menjadi bualan, terhapus-satu per satu mendekati saat akhir di kotamu.kepedihan kian terasa menjadi lebam sedu sedan hadirkan puing-puing bersama tutur lembutmu.

Pucat langit sesaat setelah peraduan tergelar bawa rembulan tanpa cahaya mengambang di atas langit Bandara. Fatamorgana kian menggelora, sebuah nama membawa gundah menyeruak dalam hingar bingar ilusi hati. Pahit pun bagai pedang kinine yang tajam  mengharu membisu tatap samar bayangmu pada kaca ruang tunggu.

Membahana buyarkan lamunan panggilan untuk para penumpang segera menuju pesawat, melangkah perlahan tinggalkan kotamu, menari kembali kau dipelupuk mata berdendang alunkan simfoni rasa, perubahan tak akan terjadi.

Kutapaki tangga demi tangga menatap setapak yang kan kulalui, bisu beribu kata tak terucap sekelumit rasa tak mampu terungkap, kutoleh sesaat kotamu di akhir tangga, menjerit rasa menyeruak tak mampu paksa bibirku berucap satu kata.

Terhempas pada kursi biru, kembali kulayangkan pandangan keluar jendela, entah itu kamu atau siapa lambaikan tangan sesaat sebelum aku melayang dalam batas petang dan malam tinggalkan kotamu, tinggalkan ilusi hati pada fatamorgana senja.

Tuesday, November 6, 2012

Lelah

Di Beranda langit hadirkan gambar buram
bersandar pada tiang
berbincang pada nyamuk, ngengat dan laron

aku yang hanya kecil
terpana pada bulan separoh mengintip pada hitam berarak
terhimpit hingga lenyap dalam senyap pekat malam

gigil kian mencengkeram memungut kantuk terselip
pada sehelai angin.


Friday, November 2, 2012

Senyum itu Meranum pada Ilalang Gersang

Membayangkan simpul di pipimu adalah hal terindah
seperti senja lalu,
kugembalakan rindu pada jejak jiwa di tengah ilalang
senyum itu meranum pada ilalang gersang
percikkan api pada angin membara dan membiru
di malam bulan separoh

menatap simpul dipipimu adalah puisi terindah
semakin menggenang pada ranting, rahasiakan rintik satu-satu
menelusup kata di tiap angan persembahkan rindu pada malam


Wednesday, October 31, 2012

Purnama Langit Pasuruan


Bergelut mendung terbirit pada malam yang biru
aku akan biarkan malam tanpa kisah andai purnama tak menembang
aku paksakan mengerti daripada berandai tentang diammu
ribuan kali kuketuk berkali pula kau tusuk

ini entah kali keberapa wajahmu menjenguk, menunduk merenda cahaya menyingkap kisah lama di bawah purnama langit pasuruan
aku ingin sekali masuk pada ruang itu, ingin kubuka cerita itu
kuhapus luka-luka dan kurangkai kalimat baru agar kembali menyatu

bergelut mendung terbirit pada malam yang biru
bahkan purnama tak pernah nikmati cahayanya sendiri
yang aku sembunyikan di setiap relung, kusimpan dan kujaga

ingin kuajak kau duduk di sini, di bawah purnama
lalu kubacakan kembali cerita itu,
agar kau mengerti cerita itu telah kuperbaiki
 Pasuruan, 31 Oktober 2012

Monday, October 29, 2012

Bergelayut pada Reranting Rapuh

Selembar daun keraguan kembali mengering dan
bergelayut pada reranting rapuh
pagi merangkak perlahan diiringi kicau menyayat
memori tumpah meleleh di sudut hati

gurat kenangan kembali menggenang pada kolam luka
tersaji sajak dalam doa bagai tembang lirih menghiba

Saturday, October 27, 2012

Berharap pada Senja yang Sama

Kembali hening senja hadirkan parasmu
lamunan berujung pada kerinduan

kutatap bayang dicermin dan kau tiada di sana
disudut korneaku, tiada lagi senyum itu, entah

geliat membuncah bergumul bersama mendung mengulum senja
luruh panjang mendekap gigil di pucuk rantingkegelisahan

kudekap rindu berharap kau berpaling pada senja yang sama
menebar pandang  walau tak pernah temukan makna

Sunday, October 21, 2012

Lukisan Lalu

Tatap lukisan lalu berbingkai sajak hati
diammu membisu,
pandangan kosong tanpa makna
tak lagi kulihat aku terlukis dalam korneamu

relung terasa sepi
tipis kabut silaukan tatapanmu
menyerbu rasa tiba-tiba, teriakkan ketidakmengertian ini
kau angkuh dengan sejuta pertanyaan
tidak percaya itu adalah lukisan lalu
akankah panjang  perhentian tanpa sapa ini

Friday, October 19, 2012

Pada pertengahan Oktober

Terbang sesaat bersandar pada sayap kupu-kupu putih
singgah pada pucuk benangsari yang pernah terlewati
menunduk layu tiada sapa, 
retak sayap hempaskan sekotak kenangan
menguap bersama rinai satu-satu, merintik
pada pertengahan Oktober

Tuesday, October 16, 2012

Tetes Bening pada Ujung Daun

Tetes bening pada ujung daun perlahan bergelayut
ceritakan tentang sajak angin yang tak tersampaikan
terngiang sapa gemulai lembutmu,
wangi dan harum menelusup dalam pori-pori hati

kuhidangkan perjamuan hati
pada perhelatan singkat suatu saat nanti

berharap tetes bening pada ujung daun
kembali sejukkan
sajak rindu yang meradang

Wednesday, October 10, 2012

Kucium Hangat Mendung

Kucium hangat mendung
berharap singkap gelap dalam sentuhan dingin malam
mendung masih berarak di langit Jakarta
di atas tugu proklamasi bulan sabit mengintip dan sembunyi

tenggelam jagat hentikan langkah
menghampar bisu bebaskan jiwa
dari kefanaan dunia

kucium hangat mendung
berharap singkap gelap agar kau menjelma
seperti lengkung emas terpahat abadi pada ranum pipimu

ah hangat mendung masih saja berarak
sembunyikan lengkung itu
kuharap pundakmu rindukan sandaran sajakku

Saturday, October 6, 2012

Pada Gerimis Senja Awal Oktober

Pandang sayu pada gerimis membadai menjelang senja
adalah dongeng lama yang hadirkan cerita lalu
aku berenang dalam korneamu ditiap rintik satu-satu

tut tut keyboard berirama iringi detik yang berdetak
pada dinding bisu abadikan masa lalu

Kau bukanlah igau bagiku tapi kau adalah irama
menderas seiring waktu
ciptakan nada bersama gemericik, sergap senyum
hadirkan  belahan indah pada ranum pipimu

Ah gerimis
hujan
selalu hadirkan yang lalu
hingga sajak kembli hadirkan cerita baru

Tuesday, October 2, 2012

Masih Kusimpan Catatan Itu

Masih saja kusimpan catatan itu
pada sebuah ruang bernama kenangan

kenangan yang selalu menyala bila larut tlah tiba
bagai lampu di kota tua yang teronggok bisu
walau tiada lagi kau sentuh tuk menyalakannya