Sunday, December 23, 2012

Kapan Kan Menepi

Hening syahdu mengalun, perlahan  membisik suara manjamu,
kupijarkan pelangi disetiap rindu pada sayap kupu kupu putih,
mewarna silaukan hati yang berharap tergerai pelangi,
merasuk khas aroma tubuhmu dalam sukmaku

kusunting awan hitam berarak pucatkan hatiku,
redup semakin kerlip dalam pinangan kunang kunang

Kau lah Shinta dalam pewayangan
yang lelah dalam rimba perburuan cerita,
penat dalam memaknai pakem kehidupanmu

Rahwana bukanlah sosok menakutkan,
t'lah ia tanggalkan sepuluh rupa titisan wisrawa dan sukesi,
pandanglah dengan hati sucimu, kan kau lihat
sosok lelaki lembut penuh cinta

kembali kubiarkan rasa terjaga,
mengawal impian tetap sejuk dalam jalinan alur hati
entah kapan kan menepi

Tuesday, December 18, 2012

Menggantung pada Ujung Daun

Perlahan secarik kertas kumal dan usang kubuka
rangkaian alur t'lah tertulis,
kucari namamu dalam tiap baris, tiap paragraf
tak jua kau di sana

Jejak yang tertapak menghilang dari transkrip hati
kertas lusuh kembarakan kembali aku,
halaman penuh tanda tempat persinggahan
buka kembali kenangan, penjarakan mata dan hati, tuk sekedar
ingin tahu, "masihkah kamu di sudut lain memaknai sajak-sajakku?"

mendung semakin angkuh berkendara angin
tersingkap siluet hati pada rumpang malam,
lalu muncul wajahmu, rekah diantara rimbunan perdu ilalang

irama hati berdegup seiring detak
alunkan simponi rindu bagai "kebo giro" iringi pengantin muda
menjadi suguhan di pelataran hati, membuka jejakku dan jejakmu yang lalu

Kantuk semayamkan lelah, gigilpun enggan rebah
persimpangan malam ini terlalu indah untuk kulewatkan
walau embun kerinduan  menggantung pada ujung daun
menunggu detik kan terjatuh lalu sirna kembali ke bumi
karena kau tiada lagi singkap makna embun kerinduan  ini

@ 16 desember 2013

Thursday, December 13, 2012

Seteguk Luka

Bening embun di pucuk daun gelisah
berharap tak jatuh pada tanah basah
disela catatan hati tentang gerimis
tentang danau di matamu
bahkan dalam sunyi rindu tak menggema lagi

merayap rasa bersenggama dengan waktu
seperti pisau dalam tiap sunyi
mengiris dan menyayat rekahkan tanah tandus
di awal musim penghujan

melata kerinduan dalam segelas embun bening
membawa seteguk luka

Thursday, December 6, 2012

Pada Senja di Cipayung

Mengalir kata dalam sajak
menyusuri labirin hati,
membayang simpul mungil pada ranum pipimu

menghangat dalam bayang, genggammu
ketuk lorong-lorong kerinduan


Dalam samar kabut cipayung,  mengalir kata dalam sajak,
menyusuri tiap detak,
mengalun seirama
rangkai sketsa hati

berharap pada senja di Cipayung
kan kau maknai sajak bisu tentangmu

Tuesday, December 4, 2012

Entah Pada Apa

Senja terdekap rintik
dingin membeku sekap kantuk

senja pekat dalam balutan semu
hampa di bawah langit duka,
pada entah aku harus bercerita
tentang senja, gerimis dan kamu

Sunday, December 2, 2012

Menderas Kata di Ujung Hati

Pekat menggantung bulir merintik satu-satu,
menderas kata di ujung hati terangkai untukmu
menabur huruf menjadi suku kata dan kata mengabadikan detak
tiap detik tetangmu

Kau pun hadir di lereng hijau berkabut sisi barat daya gunung ungaran
meski hanya tersketsa, hadirmu sejukkan pagi di hamparan wortel memerah.

Kau membayang, membangun jembatan hati  rangkai alur
sembari menggenggam satu kata yang tak terucap pada rasa
seperti bening embun yang tiada mampu bertahan di ujung daun
menetes, menyentuh, dan meresap 

Masih saja ada kata yang tak mampu kupanjangkan,
aku tak ingin alur digresi runtuhkan jembatan hati
biarlah sajak rangkai kata, ada makna yang kan terungkap
entah kapan kau maknai bersamaku, bersama pagi,
bersama rintik menderas

Tuesday, November 27, 2012

Gerimis Akhir November

Gerimis senja di preanger menuntun kata
membasah dalam rintik lahirkan  sajak tentangmu


semburat merah cakrawala di antara gedhe pangrango
getarkan hati seperti merah pada ranum pipimu
paksa aku kembali rangkai kepak-kepak kata per satu, hinggap dan sketsakan bayangmu

gerimis ini kembali genangi sudut ingatan
alirkan rindu di antara kaca jendela Preanger
melesat bagaikan syair berirama
dalam lubuk terdalam temukan dua suku kata 

berharap pada indah pundakmu, sekedar bersandar
tuk baca dan maknai sajak bersamamu

Friday, November 23, 2012

Senja Pada Sepucuk Daun Bersajak

Senja kembali tenggelamkan aku pada luka
hentakkannya begitu menyayat menusuk
bagai rintik satu satu di awal musim ini,
terbaring rasa tanpa daya dalam selokan hati

Mimpi rebah bersandar di pundakmu, lalu
pandangi simpul pada ranum pipimu adalah ilusi hati


Berlayar aku pada lautan kata
mencari di mana koma tuk sekedar istirah
mencari di mana titik tuk sekedar peluk asa

Angin awal musim bersama rintik menderas
bekukan aku dalam nadir luka
tertawa dalam tanya tanpa jawab, mengapa?


biarlah sajakku kan menjadi matahari bagi rinduku
biarlah embun tetap menetes pada ujung daun,
biarlah rintik satu-satu pada dingin menderas
hingga pelangi kan mencerah iringi kupu-kupu putih
terbangkan makna  pada sepucuk daun bersajak

Tuesday, November 20, 2012

Senja Merintik Lengang

Senja merintik lengang pada riuh yang tabuh
gemericik tanah merah bercampur air meluruh
selami indah korneamu adalah hal terindah
tiap kali kutulis dan kurangkai bayangmu, selalu
aku lihat sepasang angsa berenang berhias pelangi

Bayang tentangmu membeku tersketsa bersandar pada sayap kupu-kupu putih, bertanya selalu tanpa rasa,
terjawab sunyi pada angin kibaskan kesejukkan
aku hanya mampu duduk di tepian kolam matamu
tanpa mampu lagi berkecipak pada dingin rasa yang membuncah

Mengenang pertemuan pada senja memerah
lengang terusik riak pesisir dan kutemukan namamu
menapak pada sisa buih berkilau dalam semburat merah
entah pada persinggahan sajak ke berapa rindu berdekap



Friday, November 16, 2012

Gerimis Pagi

Rintik satu-satu membasah
selimuti langit pilu merebah
jejakkan bayangmu pada tanah basah

sendu daun begitu rapuh melayang perlahan
teteskan aroma darah pada kenangan dan rimbun luka
redup, gersang kian menggigil dalam rintih sendu

adalah sepi pada pagi berbingkai debu
ingin kututup mata tapi nadi tak ingin berhenti

kulihat  engkau mendekap kelam
kusapa engkau sayatkan perih
kutahu engkau lelehkan mutiara
luruh dan meradang retakkan hati

seiring rintik satu-satu pada pagi
dalam gigil kabut kaki ungaran

Tuesday, November 13, 2012

Ilusi Hati

Satu jam sudah berlalu dalam dingin ruang AC bandara pada senja meremang. rintik satu-satu mulai membasah di landasan. Aku merasa ada pada ruang dimensi waktu yang tiada ingin rasa ini bernaung, hingga genderang asa memudar berirama bagai simfoni pilu birukan senja membasah seperti hujan di landasn pacu. dentuman detik tiap detak melirih sendu dan syahdu.

Menatap satu per satu pesawat landing dan takeoff, bagai dirimu yang lincah, perlahan terlukis parasmu dalam sajak-sajak pelangi kala sinar membias mendung senja itu. Terpecik rasa membahana ditelinga begitu jelas dan membuat luruh tulang-tulang penyangga tubuhku.

"Benarkah Kau akan segera pergi?, akankah Kau kembali dalam ruang bersamaku pada dimensi lain?"
"Mungkin, biarkan rasa bersemi dalam ilusi hati"
"Jangan, mengapa Kau biarkan bersemi dalam ilusi hati?"
"karena detik ini kan selalu berdetak seirama berselancar dalam rongga otot mengalir keseluruh tubuh hingga tersungkur hati dalam ilusi kepalsuan"
"Lalu, haruskah aku bertengger pada sayap kupu-kupu dan terbang bersamamu?"
"biarlah semua menetes seperti embun pagi berhias pelangi"

Kembali terhempas pada kursi tunggu diruang bandara AC kian gigilkan rasa, lalu mencekam badai yang tak kunjung berkesudahan, dendangkan simfoni rasa hingga pilu pun hinggap menyapa.

"Kau tak pernah mengerti dan tak mau mengerti, jiwa-jiwa hampa luluh lantak terkikis gelombang rasa dalam siluet senja"

Landing burung besi berwarna biru membungkam prahara kenistaan, kenangan dan harapan seakan menjadi bualan, terhapus-satu per satu mendekati saat akhir di kotamu.kepedihan kian terasa menjadi lebam sedu sedan hadirkan puing-puing bersama tutur lembutmu.

Pucat langit sesaat setelah peraduan tergelar bawa rembulan tanpa cahaya mengambang di atas langit Bandara. Fatamorgana kian menggelora, sebuah nama membawa gundah menyeruak dalam hingar bingar ilusi hati. Pahit pun bagai pedang kinine yang tajam  mengharu membisu tatap samar bayangmu pada kaca ruang tunggu.

Membahana buyarkan lamunan panggilan untuk para penumpang segera menuju pesawat, melangkah perlahan tinggalkan kotamu, menari kembali kau dipelupuk mata berdendang alunkan simfoni rasa, perubahan tak akan terjadi.

Kutapaki tangga demi tangga menatap setapak yang kan kulalui, bisu beribu kata tak terucap sekelumit rasa tak mampu terungkap, kutoleh sesaat kotamu di akhir tangga, menjerit rasa menyeruak tak mampu paksa bibirku berucap satu kata.

Terhempas pada kursi biru, kembali kulayangkan pandangan keluar jendela, entah itu kamu atau siapa lambaikan tangan sesaat sebelum aku melayang dalam batas petang dan malam tinggalkan kotamu, tinggalkan ilusi hati pada fatamorgana senja.

Tuesday, November 6, 2012

Lelah

Di Beranda langit hadirkan gambar buram
bersandar pada tiang
berbincang pada nyamuk, ngengat dan laron

aku yang hanya kecil
terpana pada bulan separoh mengintip pada hitam berarak
terhimpit hingga lenyap dalam senyap pekat malam

gigil kian mencengkeram memungut kantuk terselip
pada sehelai angin.


Friday, November 2, 2012

Senyum itu Meranum pada Ilalang Gersang

Membayangkan simpul di pipimu adalah hal terindah
seperti senja lalu,
kugembalakan rindu pada jejak jiwa di tengah ilalang
senyum itu meranum pada ilalang gersang
percikkan api pada angin membara dan membiru
di malam bulan separoh

menatap simpul dipipimu adalah puisi terindah
semakin menggenang pada ranting, rahasiakan rintik satu-satu
menelusup kata di tiap angan persembahkan rindu pada malam