Wednesday, January 1, 2014

Tidak ada terompet dan kembang api untuk Nang 3

"kemana saja kamu sesore ini baru pulang Nang"
"aku tidak kemana-mana kok Mak, tadi temani dedek tiup terompet"
"jadi kamu beli terompet?, cukup uangmu?"
"iya Mak, bahkan tidak jadi beli Mak!"
"trus kamu ambil dan mencuri terompet itu?"
"tidak Mak, aku tidak mencuri...., aku tahu mak mencuri itu dosa,

Mak kan yang ajarkan, walau miskin kita punya harga diri, 
lebih baik tidak punya daripada hasil mencuri.."
"trus kok kamu tidak beli?"
"begini mak tadi waktu mau beli ada Ibu-ibu dompetnya jatuh

 terus Nang kejar dan kembalikan, Nang mau di kasih uang, 
tapi Nang tidak mau terus nang lari ke tukang terompet takut pergi,
 kasihan dedek kalau tidak dapat terompet. waktu Nang mau bayar
 ternyata Ibu-ibu tadi ngikuti Nang mak, dan Ibu-ibu tadi yang bayar Mak, 
padahal Nang sudah menolak mak, tapi ibu itu memaksa sama tukang terompetnya"
"syukurlah nang Mak senang mendengarnya, sudah sana mandi dulu"
"Oh ya Mak, ini uang Nang Mak, alhamdulillah Mak, 

bisa untuk makan malam ini ya Mak, kan mak tadi tidak cari kayu di pantai, 
jadi pakai uang Nang saja ya Mak"

Tidak ada terompet dan kembang api untuk Nang 2

"Mak, apakah Mak masih punya uang siang ini?"
"Nang, kamu tahu kan Bapakmu tak pernah pulang apalagi kirim uang, 

sementara hasil jual kayu yang kemarin mak cari, 
sudah buat beli makanmu tadi siang, Nang"
"boleh tidak Mak, tabungan Nang di bawah dipan nang ambil"
"untuk apa si ? mengapa kamu begitu ingin uang saat ini"
"itu Mak, dedek tetangga sebelah mengamuk minta terompet, 

aku kasihan Mak, 
mungkin saja masih ada sisa terompet semalam yang dijual murah Mak"
Mak tak mampu mencegah ketika nang meraba-raba uang simpanannya di bawah dipan,

berlari Nang tinggalkan Mak yang hanya mematung 
mengingat Nang sendiri tidak meniup terompet semalam.

Tak ada terompet dan kembang api untuk Nang 1

"Mak, nanti malam jangan tidur dulu ya, 
aku mau tunjukkin Emak sesuatu yang Indah malam ini, 
di belakang gubug, dekat pantai Nang sudah siapkan meja kecil dan kursi"
"untuk apa Nang?, maafkan Emakmu Nang, tidak bisa belikan kamu terompet, 

dan kembang api"
 

"justru itu Mak, kita cukup duduk di sana dan nikmati langit 
yang kan bercendawan pelangi malam ini Mak,
tidak bising letusan dan terompet Mak"
Emak hanya diam, 

dipeluknya Nang erat, 
wajahnya berubah sembab
 isak pun perlahan terdengar 
seiring azan magrib mengumandang senja itu.

Sajak dan gerimis di hari pertama

Akan kutulis berlembar-lembar halaman
geliat itu tlah bangkitkan aku
sapa itu membuka segala
tentang asa, makna, dan rasa yang entah apa ini

bukanlah cinta atau percintaan
tapi kerinduan meletupletup tanpa tertahan

akan kutulis berlembar-lembar halaman
seperti gerimis di hari pertama tahun ini
begitulah ku ingin
beratus hujaman kata kan kutulis untukmu
beratus makna semoga kau mengerti
bahwa ada sajak yang tak pernah usai untukmu

Monday, December 30, 2013

Dialog Rindu dalam Pasung Gerimis

Terpasung rindu dalam penjara gerimis
senja menggigil
malam prematur menjemput
pandangi pucat langit dalam keremangan lampu jalanan
sendiri eja tiap tetes satu-satu
masihkah kau eja rindu untukku

masihkah kau raba tiap hela nafasku?
ketika kurindu,

kau mendekat

mengapa masih kau tanyakan pada hela nafasmu? 
detik dalam detak mengalun eja sebuah kata walau lirih,
rapal tiap makna di bawah gerimis merindumu

sekarang hujan sedang menggaungkan namamu,
aku makin menggigil dalam rindu

Tariklah selimut hatimu dan dekapkan erat pada titik puncak rasamu, 
malam takkan lagi gigil
saat puisi kita menyatu


Kolaborasi puisi (eksperimen)

Nurhadi - Anna mariyana 

Kau Kabari Aku Pagi Itu

Kembali kau sambangi aku sepagi ini,
bukan sms atau pun telefon kau sapa aku
melainkan kau baca sajak disampingku
kau kabarkan tentang hatimu

pun berlalu
hanya pandangi Indah bola matamu

secuil senyum dan indah menyudut di pipimu
ah cepat sekali
selayak embun menetes
kala pagi menjemput

Pagi Ini Rindu Padamu


Kusibak perlahan mendung pagi ini
ingin kubersihkan langit
agar kau yang di sana bukanlah mendung
agar kulihat indah bola matamu
lebih-lebih senyum bersimpul di sudut pipimu

t'lah berlapis waktu  tebalkan catatan itu
kubingkai bayangmu, agar rindu membatu

Monday, December 23, 2013

Di atas kereta kusapa kamu dengan sajakku.

Sendiri pndangi luar jendela
masih saja gelap menyapa
bergoyang dalam derit besi bergesek
mengirama abadikan malam dalam kekalutan
kantuk tak jua pejamkan mata, mengerang terpenjara rasa
aku masih saja bayangkan pertemuan itu,
ah... Andai saja kau ada disini 
inginku, kau rebah dipundakku,
kan kuajak kau bersama tulis sajak 
yang takkan lekang oleh malam.

 Antara jakarta-Semarang 22 des 2013

Wednesday, December 11, 2013

Dalam Debur Ombak Senggigi

Menjelma gerimis dalam kesunyian sajak-sajakku
berkali pula kulihat catatan tentang setapak lalu
merasuk tiba-tiba selaksa roh dalam tiap kata
menjelma baris dalam bait kesepianku

biarlah angin senggigi memelukku
meninabobokkan rindu tanpa bersambut

catatan menjelma alur selaksa garis kehidupan
kerap membayang pada sepi ruang hampa

betapa dahsyat senyummu
hingga kusut rindu lesap
dalam debur ombak senggigi

Sunday, December 8, 2013

Ada Sebongkah Sajak yang selalu mencari

Menggeliyat perlahan subuh menggendong keremangan
kerlip memandang berkalang kabut
masih saja sepi di persimpangan waktu
pada geliat akhir sang malam

terasing sendiri
memandang diri dalam tamparan angin pagi

mencari sosok dalam bentang luas kehidupan
luruh merayap perlahan
hingga terhenti pada gerak hati
merapal bibir pada sebuah nama
yang tak lagi pedulikan senja

masih pada langit di pagi yang sama
ada sebongkah sajak yang selalu mencari
dimanakah sosok berlesung pipi menghilang

Saturday, November 23, 2013

Dekap Sajak pada Indah Bibirmu

Mekar rembulan perlahan pada langit
mengembang mengurai sibak mendung
lukiskan tatapanmu siang itu
hening menyentuh dasar hati
merangkak pada beranda senja

begitu dekat......
isyarat matamu jatuhkan aku pada
kata yang tak terucap
dekap sajak pada indah bibirmu

berhimpitan frasa ingin mengubah makna
sebab langit kuasa tampung tatapanmu dan tatapanku
menetes perlahan rasa tautkan rindu
malam pun enggan beringsut
agar sajakku melangit meruang pada hatimu

Saturday, November 9, 2013

Kunikahi Kata

Aku sunting lalu kunikahi kata
kujaga dan kusanjung
hingga lahirkan cerita dari rahimmu

kan kubesarkan dengan buai rindu
kudendangkan
kuninabobokkan

aku ingin kau tahu
berlembar kenangan
setapak jalan berliku berlalu

bagai catatan sejarah entah benar
atau hanya cerita untuk anak cucu
catatlah kita pernah bersenggama rasa
lewat frasa, bahkan desah angin pun
enggan berpaling dalam pelukan alur panjang
di sana masih ada namaku untuk kau ingat
sebelum menyerah pada senja memerah

Friday, November 8, 2013

Luka pada Sepenggal sajak

Sepi ini membentang kosong
terlalu lelah menyadarkan keinginan atasmu
berslide layar tlah penuh peluh kata untukmu
berlembar angan tertuang puisi untukmu

Aku mencari bayang sendiri dalam tatapanmu
tak kutemukan lagi, ah mungkin ....
berslide sampah beratus sajak tlah kau delete 

aku masih saja pandang ruang tak berujung ini
kurangkai kembali kata, frase, tuk hadirkan aroma wangimu
kau serasa bersemayam, tekan tuts dan bisikkan diksi
kita larut dalam sepenggal sajak
ya...
sepi adalah sajak tentang luka
luka pada sepenggal sajak
meruang hingga tertunduk pada sebuah nama
sajak masa lalu