Saturday, October 17, 2015

Ilusi Semu

Bias bening di ujung daun
bergelantung menitis pada bibir pagi
Kupinang sunyi, kutulis tentang sepoi ninabobokan ilalang
Pagi hadirkan ilusi semu, semaikan
berlembar-lembar impian, merenda dedaun, memeras sengatan pagi
Mengasingkan diri sembunyi di dingin pagi pada selembar puisi

Friday, September 25, 2015

Batu Mendesak

sebongkah batu kembali jatuh
mendesak hingga sesak

tepat pada luka yang belum mengering
pun kau tak sadar untuk entah kali keberapa

Sirna

ada yang hilang pada senja,
saat selengkung itu
tak lagi bersandar
pada ujung ranting

Wednesday, August 19, 2015

rebah senyum sebait puisi


Rekah dari seraut wajah
pesonakan detik
pada sebuah tatapan waktu
risaukan relung-relung hampa
pun nyatabukanlah sebuah mimpi
di balik kerudung kau pancarkan

Kau terlalu kuat dan aku lemah menjauhimu
Jangan sembunyikan di balik rerimbun waktu
rebahlah bersama sajak rindu

Thursday, August 13, 2015

Malam Meremang

Riuh celoteh anak-anak bermain,
simphoni sendok piring di warung tenda,
tafakur hening di atas menara masjid
dan sekelompok mata menatap tajam batu-batuan di bawah lampu,
aku hanya terdiam nikmati lesehan
di antara tiga pasang remaja berpelukan manja bersandar pada pundak malam

Monday, June 22, 2015

Fatamorgana

Pada selaksa lengkung di sudut pipimu
ada kata pernah terangkai, dan
ada sajak yang tak pernah kau maknai

Seribu Luka

senja tikam semburat merah kemudian berlalu
pun seribu luka menganga

Sunday, June 21, 2015

Sesendok Luka dari Semangkok Duka

kupeluk remah-remah cahaya bulan
pun serpihan bintang tertuang dalam semangkok duka
terombang-ambing sesal, kesal, kental kuseduh perlahan
memutar dalam guratan waktu yang tak pernah ada jawab

seorang lelaki lusuh memukul mangkok dengan selogam uang receh
denting tak berirama iringi lenguh suara yang tak jelas notasinya
pun satu denting mendendang menelusup sergap kesadaranku
serupa resah lampu-lampu, tertunduk silau pantulkan pernikpernik luka
kuteguk kembali sesendok luka dari semangkok duka
malam masih tipis bermandi remah-remah cahaya bulan

Usah Sembunyi

Usah kau sembunyi dari lukamu
pun senyum kau lakukan
luka tetaplah luka
luka t'lah menjalar
hingga akal, bibir, dan
tanganmu tak lagi sempurna



Friday, June 19, 2015

Pada Malam

Apa yang mampu kita kekalkan pada malam
selain pekat dan raungan kisahmu
kecemasan kulihat di antara getir waktu
cerita satir t'lah kau lakoni
kau rangkum dalam bulirbulir airmatamu
menjelma bait puisi

Di Bawah Temaram Langit

Tertatih arungi imaji
di bawah temaram langit menemu kamu
kau kais basah tanah tuk kumpulkan bulirbulir penyesalan
kau hanya memandangku tanpa bersuara
dari matamu aku tahu kau terluka, kau takut isak justru membisik tanpa kata

kau berlari menuju biduk
kau dayung tanpa kembali menoleh
tiada kau kayuh terombang ambing
arungi malam panjang tiada berujung
hanyut bersama isak yang justru makin mengeras
teteskan jejak pada biru air di bawah temaram langit

Thursday, June 18, 2015

Gerhana Cinta

Gelap memasung langit
rembulan pucat temaram kian pekat
duka gendong luka
gerhana cinta kala purnama bersenandung

Monday, February 23, 2015

Duka abadi

Kau sudah simak guratan lara dahiku
torehan kata serupa aksara dieja tanpa makna
tersusun dalam pelukan mendung
pada jejak terjal tersusun rindu usang

kini mendekam merindukan bulan
selaksa bening menitis pada kibasan waktu
berselendang duka berlalu tinggalkan tawa sinismu