Tuesday, April 21, 2020

Rindu

Nol kilometer
kelok Asia Afrika
sembunyikan rindu
entah pada angin
atau sekedar bayang lalu

Piye Maneh Iki

Cepat kuteguk jahe hangat yang sedari tadi tersaji di depanku. 
Kupandangi lek Marto yang "ngedumel" mbahas anak kesangane, Marni yang paling bontot. Awit diliburkan dari sekolah, lek Marto sering mbesengut anggone ngopi Nang angkringan Iki.
Apa maneh bojo kesayangane lek Marto Yo kepeksa prei, ora ngeterke sekolah rince anak juragan emas sebelah omahe.
"Lagek tak rasakke, abote dadi guru, lagi limangdina nyinaoni Marni ora sabar tenan aku, ana meh pipis, meh minum, meh main boneka, meh ngemil padahal siji wae soal rung dadi digarap. "
"Ya wis sing sabar..." Kang Marno nyeletuk
"Iya ora mung sampeyan, aku Yo ngrasakke kok Dhe" sambung Joni.
"Mesakke bocahe stres ora merga ora isa nggarap, nanging stres merga mbok seneni  ae to lek'" bakule melu nyeletuk.
"Mas guru, sampe kapan Iki copid lunga Ya?" Menyapaku yg asik menyimak mereka.
"Ya sabar, sampeyan bersyukur, kae lho dokter, perawat isih dha kerja siang malam. Terus kanca-kanca pendidik uga isih masuk sanajan bbrp orang ".
" Maka, tetep jaga kesehatan, bersih diri, cuci tangan dg air sabun atau alkohol sebelum dan sesudah aktivitas. Terus jangan keluar ke Mall, pusat keramaian, kerumunan, hindari kontak dg orangsing lan tutupi yen lagi Watuk utawa wahing. Yen pilek utawa lara Yo nang omah wae utawa langsung priksakna. Sing paling penting betah nang omah Yo lek, pak Dhe"
" Lha Iki bahaya Anggonku mas guru" lek Marto motong omonganku
"Lha kok bahaya?"
" Lha omahku umpama kabeh negatif apa kuwi? Corona covid-19, Iyo rwa"
" Iyo bener iku  copid "
"Lha bersyukur Yen sak omah negatif covid-19."
Hampir serentak kami komentar
"Iya covid-19 negatif Alhamdulillah nanging bojoku malah positif. Coba piye kuwi, tambah mumet aku."

#$#$&_$$#$$+-&+

Simphoni sunyi

Tekukur menggema bersahutan
Cericit burung gereja berebut serangga 
Selaksa gemericik air di bebatuan
Kicau kutilang simphonikan pagi
Sementara sang emprit naik turun 
bawa rumput kering membangun kehangatan.
Tiang voli, tiang basket, dan tiang bendera diam dalam dingin pagi
Melangkah di tiap ruang menemu meja, kursi, dan papan tulis membisu
Lorong di antara rimbun pohon menyambutku
Membayang riuh kalian berlarian menuju kelas masing-masing.
Tiba-tiba sketsa itu kian tampak kalian menghampiri 

ucap salam, sapa, dan canda kecil bersama kawan kalian 
menyusup buyarkan lamunan.
Sepi mempurba catatkan sejarah

Thursday, January 30, 2020

Rindu Mempurba

Meniti kenangan
tak bosan dan tak jera mengenangmu
kucuri hatimu dari semesta, matahari dan angin
kupaksa detak menggedor dada
waktu pun luruh
tuk segera bersua denganmu

Denting Randevous


Mendesain randevous menyusun sketsa rindu
Waktu hadirkan remah-remah pelukan
Tiap hari nyala, padam dan kepastian melesat
mentasbihkan kita: sepasang kelinci
berlari di musim dingin
Kita coba kekalkan perjumpaan
Ingatan buahkan kecupan demi kecupan

Monday, August 26, 2019

Minuk

Melangkah minuk pada setapak berkelok, saat tiba-tiba terbentur pada tatap nanar seseorang yang kian nyata. sosok yang selama ini ia yakini sosok itulah yang selalu bermain di tiap detik angan dan otaknya. Berkali dicoba tuk usir sosok itu tapi tak jua mampu disingkirkannya. semakin ia melangkah, semakin dekat pula dengan sosok hingga ia tertunduk tak mampu memandang bernafas pun ia tahan agar tak terdengar risau yang ia pendam. 

Sunday, November 4, 2018

Luka

Rekah tak lagi ramah
Lukai tapak dalam terjal langkah
menghiba angin kan terbangkan kemarau

Semu

Perdu bambu
Sembunyikan gemericik rindu
entah pada kelok sungai
atau sekedar lari dari bayang lalu

Tuesday, September 4, 2018

Senja Menghiba



Sapa halusmu setubuhi angan yang tlah lama mendekati padam
Detik senja terlalu keras berdetak menghujam dada,
tanpa sapa
bangunkan mimpi mimpi usang
menulusup satu dua kata menggantung kenangan
melingkar pada lentik, menghujam kelopak nanarkan pandangan
senja ini menghiba rasa perih menusuk entah pada mula atau ending kenangan,
bagiku
sapamu adalah upah dari sebuah impian
di senja pada sebait sajak kutitipkan mimpi-mimpi
adakah helai waktu kan pertemukan

Boja, 4 September 2018

Tuesday, September 12, 2017

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi
bersandar pada pundak waktu
berbicara pada bayang berserak di luar jendala

aku yang hanya kecil terpana pada senja

gigil ruang kian mencengkeram
memungut kantuk
terselip di antara hitam berarak
pada langit Jakarta aku menatap

Seuntai Kata

sepenggal senja telah bawa aku pada ruang syahdu
dingin mengecupi sepi dalam buai kerinduan
seperti hari lalu kau bermain dalam kenisbian anganku
luruh ranting asa jatuh satu satu
iringkan luka
menderas arungi lorong sunyi
mencarimu membawa seuntai kata

Saturday, April 22, 2017

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun
petikan, alunkan syair
alirkan makna
Hening ruang tunggu
terbius merdu nyanyianmu
Bukan sosokmu yang membiusku
Makna lagumu yang bawa aku tibatiba
Mengembara bersayap kenangan
Gesekan biola tenggelamkan aku
Meruang dalam dingin Juanda

Saturday, April 15, 2017

Monolog Rindu

Panggung gelap tiba tiba meremang dalam temaram mendung. Terduduk dalam sepi di antara ngengat, nyamuk dan serangga malam.
Selembar kertas kumal ia genggam, membisu sesekali memandang kosong ke depan.
Terdengar lantunan sajak merdu entah siapa menyusup menyadarkan dalam beku.
"Aku temukan perasaanmu, lalu sepi itu tetiba membayang
Aku temukan perasaanmu pada serpihan rindu yang menggantung entah dimana?"

"Hai... mengapa kau ..."(tak mampu ia lanjutkan)
Kembali suara itu terdengar sayup menjauh
"Pada kealpaan waktu, di setiap dentang yang tak bisa aku terjemahkan pada setiap kilatan senja yang tak mampu aku pendarkan
Aku hanya terdiam disini menemu senyummu tersudut pada semburat jingga sang langit"
"Hai... apa maksudmu.....(terlihat menghiba kedua tangannya membentang)
Tak ada jawab hanya berganti merdu nyanyian
(Reff album kangen So7)
(Berlanjut suara bisik menyergapnya tiba tiba)
"Namun terlalu senyap tak ada lagi panggilanmu tak ada lagi riuh tawamu tak ada lagi kata kata. Beberapa kata hanya engkau yang tau, hanya engkau yang mampu ucapkan"
Ia pun hanya rebahkan diri pada bangku reot di sudut panggung. Bergumam ia semakin jelas
"Engkaulah yang alpha kan aku dalam tarianmu, aku tetaplah pemain yang menunggu skenario sang koreo, tawamulah yang lenyap, seperti tertelan senja sesaat setelah kau lepas genggaman"
"Bila kau temui serpihan serpihan di antara daun gerimis dan senja itulah remah remah yang kau paksa berserak, serpihan itu masih mewujudkan rohmu, mewujudkan sketsamu."
Tiba tiba suara aneh pun menyahut
"Bukanlah inginku.."
"Bukanlah inginku...."
Lampu perlahan gelap .......