Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Thursday, December 25, 2008
kenapa?
kenapa tikus tak lagi takut sama kucing
kucing hanya diam ketika tikus berjalan disampingnya,
kenapa dengan kehidupan ini?
kenapa banyak pelajar semua bahkan
sopan santun berkurang dan tidak lagi
mereka lakukan ketika harus bergaul
ataupun ketika bertemu dengan orang lebih tua
kenapa dengan kehidupan ini?
kenapa juga banyak
yang mengagungkan teknologi dan ilmu pengetahuan
bagaimana dengan moral
kenapa dengan kehidupan ini?
metamorfosis ataukah evolusi
atau bahkan sebuah revolusi?
Wednesday, December 17, 2008
cerita yang belum usai
Emak masih sibuk di belakang, aku tatap teks yang berjalan diantara irama yang semakin memperkeruh perasaan.
oh my be loved
"When I meet you, I'll tell you.."
"How dearly I love you"
"When I meet you, I'll tell you.."
"How derly I love you"
"How will I survive those nights.."
"How will I survive those days.."
"How will I survive the loneliness without you??"
"A painful solitude suffuses me.."
"The days and nights I think of you"
oh my beloved
"In my eyes, I'll hold you"
"In my heart, I'll hide you"
"Someday I'll tell you what Im going through"
"I'll tear out my heart for you to see"
oh m beloved
Aku bertanya pada awan yang menggantung, pekat dan gelap, sementara rinai semakin menusuk bumi dengan kejamnya. Mengapa ini semua semakin menyesakkan. aku coba bertahan dengan semua yang ada. kutatap rinai yang terus menghujam. sementara denting piring, gelas dan sendok mengalun di dapur kala Emak menyiapkan makan malam.
maaf belum juga aku mampu lanjutkan cerita ini. aku butuh seseorang untuk menyelesaikan cerita ini
Monday, December 15, 2008
Labirin Hati pun Terkoyak
teduh labirin dengan dinding kokoh
nyaman dari terpaan angin dan sergapan rasa
setiap jengkal dinding kusandari dengan damai
lorong labirin terkoyak
lalu pintu terbuka dan lepas
berjanji tanpa saling menyakiti
tanpa saling melukai
ternyata bayang-bayang tak pernah mau mengerti
ternyata tak pernah benar-benar pergi
bayang-bayang mengunjungi beranda
mengunyah remeh-remeh kedekatan yang tersisa
meneguk minuman pertemanan yang tidak selalu manis dan hangat
terkadang pahit dan bahkan membuat tersedak
namun keping-keping rasa selalu tersedia dalam stoples benak ini
aku temukan sesuatu berserak dalam diri
serakan serupa kepingan yang berasal dari patahan yang bernama hati
patahan yang senantiasa memunculkan luka
kupungut kepingan berserak itu bukan untuk kususun kembali
karena niscaya akan memunculkan retakan lebih dalam
kusimpan patahan itu dalam sisi hati sebagai kenangan
aku coba bersandar dalam dinding kesendirian
kepatahan yang memicu kesendirian menghampiri
menggigitku dengan ketajaman taring-taring kerinduan
mengapa aku gentar menghadapi kesendirian
kesendirian yang kuilhami sebagai konsekuensi rasa
kali ini aku gentar oelh kesadaran betapa getir
kesendirian itu sesungguhnya
Wednesday, December 10, 2008
Secarik Kertas Kumal
"Tak perlu lagi aku memaksakan sesuatu demi inginku..
Betapa kusadari ternyata aku selalu memaksakan diri untuk itu..
Tapi apa.. hanya kebahagiaan semu dan sesaat yang terasa..
Tak akan lagi aku memaksakan diriku ini..
Kupasrahkan kini proses kehidupanku.. aku tak ingin menjadi manusia yang terobsesi terhadap sesuatu karena sungguh itu akan membuatku banyak berharap.. Aku ingin ikhlas dan berkata jujur sesuai kata hatiku..
Aku telah melakukannya…
Apa ini jawabanMu Ya Allah..
Aku telah melakukannya, tapi aku tak pernah tau ini tepat atau tidak.. tapi sungguh aku akan terima segala konsekuensinya..
Aku telah melukai orang yang tulus denganku, aku telah mengorbankan dia dengan keegoisanku.. Tapi aku tak ingin lebih menyakitinya.. Aku tak sesempurna yang dia pikirkan.. aku bukan orang yang baik, aku bukan orang yang dia bayangkan.. Dan dia tak pernah bisa mengenal aku..
Cukup aku melukaimu dan kini aku membiarkanmu untuk pergi mencari kebahagiaanmu, aku tau kau terluka dan tak inginkan ini terjadi tapi Demi Allah keputusan ini aku lakukan karena aku tak rela jika kamu lebih terluka..
Kau begitu terluka.. kulihat dari mata itu.. Tamparan hebatku membuatmu menangis didepan mataku.. Sungguh.. Maafkan aku..
Percayalah kamu akan kuat dan kamu telah berjanji padaku akan baik-baik saja.. Kebaikanmu akan mendapatkan sesuatu yang sama..
Aku tak perduli lagi apa yang akan mereka katakan…
Biar mereka mengatakan aku kejam.. aku jahat.. aku munafik.. aku egois.. atau apapun.. karena aku akan terima itu, sungguh karena aku memang seperti itu.. banyak orang yang ternyata telah aku sakiti demi kebahagiaanku sendiri..
kududuk dihamparan sajadah.. lalu
kumeminta dan terus berdoa.. air mata ini tak pernah sanggup aku tahan,
selalu membasahi disaat aku menundukan kepala dan memohon jawaban..
Hatiku mulai tenang aku telah mengungkapkan apa yang seharusnya aku katakan pada mereka..
Kini aku tinggal menjalani proses kehidupanku yang baru.. aku tak akan lagi memaksakan diriku.. Aku akan berjuang sendiri.. tanpa banyak berharap lagi pada kamu, dia atau mereka..
Biarkan mereka berpendapat apapun tentang aku.. tapi satu hal.. aku ga mau lagi membohongi hati nuraniku.. aku tak mau lagi berbohong pada diriku sendiri..
Akan ku katakan YA jika memang IYA dan akan ku katakan TIDAK jika memang harus TIDAK..
Akhirnya aku belajar satu hal dari perjalanan ini…
Jangan pernah kau memulai jika kamu tak yakin atau belum siap.. karena itu akan jadi satu masalah dilain waktu…" aku masih sayang kamu tapi bahagialah dengan yang lain. salam buat Emak.
Tertunduk aku baca goresan hati yang kutemukan disecarik kertas kumal di kotak ajaibmu.
"Apa itu Nang, kenapa kamu diam saja?"
"Ini Mak hanya tulisan bulan yang aku temukan di kotak ini!"
"Heh ndak boleh, buka-buka milik orang"
"Tapi bulan kan bukan orang lain Mak?"
"Sudahlah Nang, kalau memang bulan sudah tidak bisa lagi kau temukan, biarkan bulan bahagia dengan yang lain Nang!"
Aku hanya tertunduk mendengar kalimat Mak yang terakhir.
"Mungkin Mak benar, sudah waktunya untukmu wahai Bulanku Bahagia, walau tidak denganku."
Tuesday, December 9, 2008
Desember dalam Sebuah Catatan
Musim penghujan. Ya, memang musim penghujan.
Marilah kita bercakap. Kau mau, kan? Ah, kau selalu terlalu banyak diam. Atau, aku yang selalu tidak punyak banyak waktu. Terbenam dalam langkah-langkahku sendiri, dalam arahku sendiri. Maaf.
Marilah duduk bersamaku. Kita bercerita. Bukankah kita pernah bercerita panjang, dahulu? Ah, aku lupa mengapa kita begitu sedih saat bercakap kali itu. Cerita yang diakhiri dengan tangisku. Juga tangismu. Ah, kau, seharusnya kau tidak menangis.
Kita juga pernah bercakap lama setelah jauh dari percakapan kita sebelumnya. Kita akhiri dengan air mata juga, benarkah? Ah, mungkin, karena itu kau, ah, bukan kau, aku, kita, tidak pernah bercerita lama lagi. Kita tidak ingin menangis lagi. Benarkah?
Tapi, marilah bercakap malam ini. Aku tidak akan membawakan cerita sedih. Aku juga tidak akan memarahimu. Memintamu melakukan ini itu. tidak akan menyuruhmu mengubah arah langkahmu. Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan membuatmu menangis.
Jadi, marilah duduk bersamaku, kita bercakap.
Kita akan bicara tentang tawa.
Atau, kita bicarakan tentang hujan saja. Tahukah kau, dalam Desember dan Januari nanti, dalam butir-butir hujannya yang jatuh, dia selalu menyelipkan cerita buatmu. Ah, sebenarnya, tidak hanya Desember dan Januari. Selalu ada cerita untukmu yang terselip dalam setiap detak.
Namun, dalam Desember, hujan membawakan kembali kenangan-kenangan yang dilarikan masa lalu. Tentangmu, tentu saja. Maafkan aku lagi. Kenangan ini mungkin tidak sebanyak yang kita pikir. Dan, banyak yang memburam begitu saja. Tidak dapat diterka ada dalam cerita yang mana. Maaf, aku tidak merekatkannya erat. Mungkin, tangan-tanganku terlalu kecil saat itu, apalagi tanganmu. Aku menjauh, dipilihkan takdir. Dan, ketika aku tahu, waktu telah memilihmu untuk berjalan bersama.
Kenangan itu akan kembali dilarikan masa lalu. Akan selalu terjadi pada kenangan, bukan?
Tapi, kau. Kau bukan kenangan.
Kita akan selalu bercerita. Bersama. Tentang apa saja—dan tidak akan kita akhiri dengan tangis, tentu saja. Kita akan selalu bersama bahagia.
Subuh datang tidak terlalu terburu-buru kali ini. Ia masih di sini. Saat ia Kembali, aku ingin titipkan satu cerita kepada-Nya, untukmu—semoga sampai juga pesan singkat itu, “Aku rindu kepadamu, ”. Bulan dan tahun selalu terburu-buru, terlalu mencintai masa lalu.
Ah, maaf, lagi-lagi, aku tidak bisa tidak menangis saat membicarakanmu.
semoga engkau bahagia bersama Dia.
Aku pinjam catatan darimu angin gunung
Saturday, December 6, 2008
Dalam Bayang Bulan Sabit
lelambai angin bawa seutas rindu
sejenak mematung
rindu tersalut pagutku
tanpamu
tanpa senyummu yang dulu kuukir di tiap peluh"
Bulan sabit merangkul cahayanya dibalik kegelapan malam
Pekatnya mencumbu nada rintihanku yang berbisik lirih....
Inginkan engkau menjamah relung kalbuku
sentuhlah asaku dengan kesucian rindumu
Ku yakini jiwa menyatu dalam rasa
Sanubari pun bergetar...! ketika menyelami hasrat
Kala itu juga diri membuka pandangan
menujumu untuk sekedar bercanda
Padamu yang ada dalam bayang bulan sabit
peluk kerinduanku yg mendalam
Wednesday, December 3, 2008
Sajak Awal Desember
menyusup di sela-sela pohon jati dan pohon karet
menyapa angin gunung yang tertatih dalam lara
mendung menyelimuti tiap langkah
dingin pun meratap dalam kerinduan hangat mentari
sementara burung tetap berkicau tak perduli apa
yang angin pesisir rasa
entah mengapa tiba-tiba
hempasan badai memporakporandakan rasa
angin gunung tak lagi seramah
dan tak lagi mau tahu
angin pesisir terluka dalam rana
menatap sendu biduk yang tertidur
bersama dingin awal bulan desember
Saturday, November 29, 2008
Gerimis dan PHK
Beriring para penglajo merayap pelan, kondisi jalan membuat kami tertatih. Sementara tangis alam semakin mengeras diselingi teriakan dan petir menggema. Aku berada di barisan terakhir membuntuti lima penglajo. Bagai ular jalanan kami lalui hutan karet, hutan jati, turunan, kelokkan tajam menjadi santapan kami.
Rinai yang tak lagi ramah membuat kami terpaksa berpencar. Ada yang terbirit di poskampling desa, ada juga yang bertandang ke gubug durian (walau tidak beli) , ada juga yang terpaksa pura-pura beli teh hangat hanya untuk menumpang berteduh. Aku sedikit beruntung menemukan garasi kosong yang lumayan aman dari tancapan runcingnya hujan.
"Yah, anakmu minta uang buku, besok harus bayar!"
"Tapi aku dapat uang darimana, kamu kan tahu sudah 3 minggu ini aku dirumahkan!"
"Aku ada uang, tapi untuk makan besok, kalau aku berikan anakmu, kita besok makan apa?"
Pyar.., pyar...
suara piring pecah membahana sore itu membuyarkan konsentrasi mendengar pembicaraan mereka.
"Ini semua salah pemerintah!"
"kenapa kamu salahkan pemerintah?"
"Iya, andai pemerintah tidak banyak hutang, tentu aku tidak jadi korban seperti ini"
"Tapi ayah kan bisa mencari pekerjaan lain, sekedar menyambung hidup kan?"
"ahhh sudahlah.., aku pusing!"
Daaar....
suara daun pintu terbanting keras.
Sunyi kembali terasa bersama gerimis yang menetes, sementara gelap mulai menyergap diantara kelepak kelelawar.
Aku masih mengingat pertengkaran mereka, muara konflik adalah kebutuhan hidup yang saling berkejaran antara makan, sekolah dan kebutuhan lain.
Alhamdulillah ya Allah, ternyata tidak hanya aku yang kau uji. masih ada juga orang yang kau uji dengan lebih berat dari aku. Aku sadar bahwa semua itu titahMu, Aku hanya menjalani.
Suara klakson kembali menyapaku kala para penglajo kembali turun ke jalan. Aku tatap mereka yang mulai menghilang di sudut kelokan di telan kabut senja, aku renungkan perjalanan ini, dan aku pun kembali teringat pertengkaran para buruh yang ter PHK.
sajak akhir bulan November
kala bangau tak lagi terseok dilumpur kering
mengais kayu purba yang terpendam
dan tak lagi mengorek ikan kering
diantara rumah-rumah kepiting
Aku tulis sajak ini
kala angin gunung tiba-tiba berhembus pelan
menyapa ramah angin pesisir yang tlah lama menanti
aku kabarkan padamu wahai yang di atas sana
bahwa pesisir tak lagi sepi
biduk tlah kembali bergeliat dari tidur
tiang tak lagi membisu bersama jerat laba-laba
aku tulis sajak ini
kala para buruh berteriak lantang
menentang skb 4 menteri
aku kabarkan padamu wahai yang di atas sana
bahwa cerobong tak lagi segarang dulu
muntahkan asap hitam tebal
sebab phk tlah membuat produksi tertunda
aku tulis sajak ini
kala krisis global melahirkan dampak yang mengerikan
aku kabarkan padamu wahai yang di atas sana
karibku terluka, istri mereka menangis, anak mereka berteriak
"Kenapa Bapak tidak bekerja?"
aku tulis sajak ini
kala hatiku trenyuh akan semua ini
hujan pun semakin mengiriskan luka di jalanan
hingga lumpur merah selalu menjelma
menjadi pemandangan yang memilukan
aku tulis sajak ini
hanya untukmu wahai angin gunung
dengarlah bahwa nurani bergejolak
menggubah lara jadi cinta
menggubah cinta jadi peduli
aku tulis sajak
ini semoga kau tahu
bahwa hati, cinta, dan semua yang ada
bermuara pada nurani
aku tulis sajak ini
aku ingin kabarkan
saat ini aku ......
aku tak bisa berkata lagi
Tuesday, November 25, 2008
sepenggal kisah Mendung di siang hari
Mendung bergelayut mematah batang cahaya matahari siang itu
kubayang jiwanya terpancar dengan khidmat lewat bola matanya
Hangat tangannya terikat dalam batin
Ulasan senyumnya membekas di hati
Tak perlu lagi ulasan perjanjian,
Ikatan hati kian mengais jiwa dengan lembut
Perlahan, hatiku telah terbuka
Dia telah menjadi bagian hati kecilku
Setiap nafasku dihiasi caranya menyingkirkan keraguanku
Kusadari, diri ini belum menjadi tempatnya bersandar
Tembok perbedaan membatasi kisah ini
Entah,
Kan kupalingkan segala harapku
Biarkan jarak membawa diri ini
menjauh dari rengkuhan semu
Kurelakan waktu tuk menyusun kembali rangkaian hati
yang telah luluh karnanya
Layakkah keraguan menghampiri jiwa
Nurani dan logika menari bersama
Tiada banyak waktu tersisa untuk mimpi cinta
meski ingin ku selalu disampingnya
entah..
muaikan hubungan kita selaksa embun pagi dalam awan mendungengkau hanyalah ..
biarlah kisah kita tersisa dalam tangan Tuhan..
Sunday, November 23, 2008
Seikat kembang memabukkan
hingga kau menjadi mabuk dan tak lagi sadarkan diri?
Tidakkah aku telah mengatakan padamu tentang kehidupan, Kekasih Hatimu?
Tidakkah aku katakan padamu tentang logika
dan angan-angan yang sedikit tertunda?
Tidakkah aku katakan padamu tentang kesadaran?
Apakah telah aku minumkan padamu segelas air beracun yang membuat akalmu mati?
Maafkan aku, semua putusan .
Dan hatimu tak lagi mampu terkendali.
Apakah ini adalah waktunya bagi aku untuk mengunci rapat pintu hatimu,
mengikat erat kedua tanganmu?
Apakah ini adalah waktunya bagiku untuk membangunkanmu?
Tidak, pasti jawabmu.
Karena kau sedang mabuk, dan kau tak ingin melihat hidup, dan
masa depan serta perkawinanmu
Saturday, November 22, 2008
Arahkanlah Jalanku ya Rabbi
maka tentukanlah setip helaan nafasku, dalam kalimah dan namaMu
yang Maha Besar, yang Maha Agung, denyutkan nadiku hanya untuk Rabbi
kuatkanlah langkah kaki ku
agar bisa melangkah lebih jauh mendekati kuasaMu ya Allah
hanya kepadaMu kumohon
tiada siapa yang mengerti perjalanan qalbu ini
wahai kekasihku yang Abadi
hanya Kau, Kau yang tiada tandingan,
bagaimana bisa kuteruskan hidup tanpaMu di sisi
walalu kulalai pada setiap masa karuniaMu
jangan kau biarkan aku terkorban,
dengan dunia yang menghancurkan keindahan nilai cintaMu
ku rayu padaMu ya Allah
pandanglah pada aku yang kerdil ini walau sesaat
agar ku dapat genggam kemas madu asmara ini
sungguh akan kupersembahkannya pada pertemuan abadi
yang akan berlaku diantara kita
aku akan dimandikan dan diletakkan wangi-wangian
tatkala jasad ini dibawa menghadapMu
banyak yang akan menyaksikan upacara pertemuan kita
ya Allah aku belum mengerti
akan kekuatan yang ada di sisi
mampukah aku menghadapMu
walalu nuraniku begitu merindui rahmat dan inayah Mu
ya Allah aku masih meragui kekuatan insan isekelilingku
mampukah mereka menghadapi sebuah perpisahan yang hakiki
ya Allah beri aku dan mereka kekuatan
agar kami bisa menerima perjalanan
sebuah kehidupan yang telah Kau tetapkan
di atas illyin terindah di lauh mahfudz sana.
Thursday, November 20, 2008
Sajak dalam Kertas Berserak
BENCI AKU PADA MALAM
JIKA MALAM MASIH TERUS BAWA PURNAMA
KARENA REMBULAN HANYA BERMUARA PADA KEPALSUAN
KERINDUAN ITU PALSU
PUISI ITU PALSU BAHKAN TERANG JUGA PALSU
TAUKAH KAU WAHAI PECINTA MALAM
MALAM PUN PALSU
PEMBAWA PURNAMA ADALAH PALSU
BAHKAN TAK PERNAH TERPERI LUKA YANG TERPATRI
KARENA SEMUA HANYA PALSU
SEBAB REMBULAN ITULAH
SEGALANYA MENJADI PALSU........
Terperangah aku baca sajak itu disebuah kertas yang berserak di hembus angin. Aku coba pahami, aku coba maknai. Kembali kuterawang peristiwa yang tlah lalu. Adakah sesuatu yang salah pada malam.
"Nang, istirahat sudah malam Nang!"
"Nang, bawa penerang, malam ini gelap Nang!"
"Nang, istirahatlah, besok lagi kan bisa"
Itulah kalimat Emak yang sering ku dengar, mengingatkan aku akan malam. Adakah yang salah dengan Malam. Apakah rembulan, ataukah bintang. Bagaimana dengan matahari?
Kepalsuan adalah satu kenisbian yang tak sempurna bahkan takkan terwujud. bilakah purnama juga suatu kepalsuan? sekelumit perasaan yang terasa saat purnama mengembang, begitu bahagia, terang, damai. Biarlah malam tetap purnama jangan kau benci rembulan. Tugas rembulan adalah terangi malam. Tugas matahari adalah terangi siang. Akankah kau juga kan benci matahari ? akankah juga kau bilang siang yang palsu dengan matahari palsu?
Aku hanya bisa renungi kalimat sajak berserak dihempas angin.