sebongkah batu kembali jatuh
mendesak hingga sesak
tepat pada luka yang belum mengering
pun kau tak sadar untuk entah kali keberapa
Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Friday, September 25, 2015
Wednesday, August 19, 2015
rebah senyum sebait puisi
Rekah dari seraut wajah
pesonakan detik
pada sebuah tatapan waktu
risaukan relung-relung hampa
pun nyatabukanlah sebuah mimpi
di balik kerudung kau pancarkan
Kau terlalu kuat dan aku lemah menjauhimu
Jangan sembunyikan di balik rerimbun waktu
rebahlah bersama sajak rindu
Thursday, August 13, 2015
Malam Meremang
Riuh celoteh anak-anak bermain,
simphoni sendok piring di warung tenda,
tafakur hening di atas menara masjid
dan sekelompok mata menatap tajam batu-batuan di bawah lampu,
aku hanya terdiam nikmati lesehan
di antara tiga pasang remaja berpelukan manja bersandar pada pundak malam
simphoni sendok piring di warung tenda,
tafakur hening di atas menara masjid
dan sekelompok mata menatap tajam batu-batuan di bawah lampu,
aku hanya terdiam nikmati lesehan
di antara tiga pasang remaja berpelukan manja bersandar pada pundak malam
Monday, June 22, 2015
Fatamorgana
Pada selaksa lengkung di sudut pipimu
ada kata pernah terangkai, dan
ada sajak yang tak pernah kau maknai
ada kata pernah terangkai, dan
ada sajak yang tak pernah kau maknai
Sunday, June 21, 2015
Sesendok Luka dari Semangkok Duka
kupeluk remah-remah cahaya bulan
pun serpihan bintang tertuang dalam semangkok duka
terombang-ambing sesal, kesal, kental kuseduh perlahan
memutar dalam guratan waktu yang tak pernah ada jawab
seorang lelaki lusuh memukul mangkok dengan selogam uang receh
denting tak berirama iringi lenguh suara yang tak jelas notasinya
pun satu denting mendendang menelusup sergap kesadaranku
serupa resah lampu-lampu, tertunduk silau pantulkan pernikpernik luka
kuteguk kembali sesendok luka dari semangkok duka
malam masih tipis bermandi remah-remah cahaya bulan
pun serpihan bintang tertuang dalam semangkok duka
terombang-ambing sesal, kesal, kental kuseduh perlahan
memutar dalam guratan waktu yang tak pernah ada jawab
seorang lelaki lusuh memukul mangkok dengan selogam uang receh
denting tak berirama iringi lenguh suara yang tak jelas notasinya
pun satu denting mendendang menelusup sergap kesadaranku
serupa resah lampu-lampu, tertunduk silau pantulkan pernikpernik luka
kuteguk kembali sesendok luka dari semangkok duka
malam masih tipis bermandi remah-remah cahaya bulan
Usah Sembunyi
Usah kau sembunyi dari lukamu
pun senyum kau lakukan
luka tetaplah luka
luka t'lah menjalar
hingga akal, bibir, dan
tanganmu tak lagi sempurna
pun senyum kau lakukan
luka tetaplah luka
luka t'lah menjalar
hingga akal, bibir, dan
tanganmu tak lagi sempurna
Friday, June 19, 2015
Pada Malam
Apa yang mampu kita kekalkan pada malam
selain pekat dan raungan kisahmu
kecemasan kulihat di antara getir waktu
cerita satir t'lah kau lakoni
kau rangkum dalam bulirbulir airmatamu
menjelma bait puisi
selain pekat dan raungan kisahmu
kecemasan kulihat di antara getir waktu
cerita satir t'lah kau lakoni
kau rangkum dalam bulirbulir airmatamu
menjelma bait puisi
Di Bawah Temaram Langit
Tertatih arungi imaji
di bawah temaram langit menemu kamu
kau kais basah tanah tuk kumpulkan bulirbulir penyesalan
kau hanya memandangku tanpa bersuara
dari matamu aku tahu kau terluka, kau takut isak justru membisik tanpa kata
kau berlari menuju biduk
kau dayung tanpa kembali menoleh
tiada kau kayuh terombang ambing
arungi malam panjang tiada berujung
hanyut bersama isak yang justru makin mengeras
teteskan jejak pada biru air di bawah temaram langit
di bawah temaram langit menemu kamu
kau kais basah tanah tuk kumpulkan bulirbulir penyesalan
kau hanya memandangku tanpa bersuara
dari matamu aku tahu kau terluka, kau takut isak justru membisik tanpa kata
kau berlari menuju biduk
kau dayung tanpa kembali menoleh
tiada kau kayuh terombang ambing
arungi malam panjang tiada berujung
hanyut bersama isak yang justru makin mengeras
teteskan jejak pada biru air di bawah temaram langit
Thursday, June 18, 2015
Gerhana Cinta
Gelap memasung langit
rembulan pucat temaram kian pekat
duka gendong luka
gerhana cinta kala purnama bersenandung
rembulan pucat temaram kian pekat
duka gendong luka
gerhana cinta kala purnama bersenandung
Monday, February 23, 2015
Duka abadi
Kau sudah simak guratan lara dahiku
torehan kata serupa aksara dieja tanpa makna
tersusun dalam pelukan mendung
pada jejak terjal tersusun rindu usang
kini mendekam merindukan bulan
selaksa bening menitis pada kibasan waktu
berselendang duka berlalu tinggalkan tawa sinismu
torehan kata serupa aksara dieja tanpa makna
tersusun dalam pelukan mendung
pada jejak terjal tersusun rindu usang
kini mendekam merindukan bulan
selaksa bening menitis pada kibasan waktu
berselendang duka berlalu tinggalkan tawa sinismu
Friday, January 30, 2015
Bendera itu Setengah Tiang sekarang
Indonesia raya berkumandang begitu bel tanda masuk dibunyikan.
Kutatap wajahwajah penuh harapan.
Tegak dan gagah kalian lantunkan, sembari memandang bendera di sudut ruang.
Kepalaku pening tibatiba angin berputar merasuk dan membuncah suasana,
denging semakin kencang menyusup di telinga
"Hukuman mati, koruptor, narkoba, polri, kpk, kurikulum,
pembunuhan, artis kawin cerai, pamer kekayaan, politik,
demokrasi membusuk, bencana, kemiskinan, racun televisi"
Kutatap kembali bendera diakhir lagu,
perlahan bendera itu turun setengah tiang,
kubuka lebar mata, berkedip dan benar bendera itu berhenti setengah di sana.
Aku hanya bergumam tanpa bs kuucap
"PR mu semakin banyak di masa mendatang anakanakku"
seiring syair "hiduplah INDONESIA RAYA.....
(28 Jan 2015)
Kutatap wajahwajah penuh harapan.
Tegak dan gagah kalian lantunkan, sembari memandang bendera di sudut ruang.
Kepalaku pening tibatiba angin berputar merasuk dan membuncah suasana,
denging semakin kencang menyusup di telinga
"Hukuman mati, koruptor, narkoba, polri, kpk, kurikulum,
pembunuhan, artis kawin cerai, pamer kekayaan, politik,
demokrasi membusuk, bencana, kemiskinan, racun televisi"
Kutatap kembali bendera diakhir lagu,
perlahan bendera itu turun setengah tiang,
kubuka lebar mata, berkedip dan benar bendera itu berhenti setengah di sana.
Aku hanya bergumam tanpa bs kuucap
"PR mu semakin banyak di masa mendatang anakanakku"
seiring syair "hiduplah INDONESIA RAYA.....
(28 Jan 2015)
Subscribe to:
Posts (Atom)