Monday, August 26, 2019

Minuk

Melangkah minuk pada setapak berkelok, saat tiba-tiba terbentur pada tatap nanar seseorang yang kian nyata. sosok yang selama ini ia yakini sosok itulah yang selalu bermain di tiap detik angan dan otaknya. Berkali dicoba tuk usir sosok itu tapi tak jua mampu disingkirkannya. semakin ia melangkah, semakin dekat pula dengan sosok hingga ia tertunduk tak mampu memandang bernafas pun ia tahan agar tak terdengar risau yang ia pendam. 

Sunday, November 4, 2018

Luka

Rekah tak lagi ramah
Lukai tapak dalam terjal langkah
menghiba angin kan terbangkan kemarau

Semu

Perdu bambu
Sembunyikan gemericik rindu
entah pada kelok sungai
atau sekedar lari dari bayang lalu

Tuesday, September 4, 2018

Senja Menghiba



Sapa halusmu setubuhi angan yang tlah lama mendekati padam
Detik senja terlalu keras berdetak menghujam dada,
tanpa sapa
bangunkan mimpi mimpi usang
menulusup satu dua kata menggantung kenangan
melingkar pada lentik, menghujam kelopak nanarkan pandangan
senja ini menghiba rasa perih menusuk entah pada mula atau ending kenangan,
bagiku
sapamu adalah upah dari sebuah impian
di senja pada sebait sajak kutitipkan mimpi-mimpi
adakah helai waktu kan pertemukan

Boja, 4 September 2018

Tuesday, September 12, 2017

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi
bersandar pada pundak waktu
berbicara pada bayang berserak di luar jendala

aku yang hanya kecil terpana pada senja

gigil ruang kian mencengkeram
memungut kantuk
terselip di antara hitam berarak
pada langit Jakarta aku menatap

Seuntai Kata

sepenggal senja telah bawa aku pada ruang syahdu
dingin mengecupi sepi dalam buai kerinduan
seperti hari lalu kau bermain dalam kenisbian anganku
luruh ranting asa jatuh satu satu
iringkan luka
menderas arungi lorong sunyi
mencarimu membawa seuntai kata

Saturday, April 22, 2017

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun
petikan, alunkan syair
alirkan makna
Hening ruang tunggu
terbius merdu nyanyianmu
Bukan sosokmu yang membiusku
Makna lagumu yang bawa aku tibatiba
Mengembara bersayap kenangan
Gesekan biola tenggelamkan aku
Meruang dalam dingin Juanda

Saturday, April 15, 2017

Monolog Rindu

Panggung gelap tiba tiba meremang dalam temaram mendung. Terduduk dalam sepi di antara ngengat, nyamuk dan serangga malam.
Selembar kertas kumal ia genggam, membisu sesekali memandang kosong ke depan.
Terdengar lantunan sajak merdu entah siapa menyusup menyadarkan dalam beku.
"Aku temukan perasaanmu, lalu sepi itu tetiba membayang
Aku temukan perasaanmu pada serpihan rindu yang menggantung entah dimana?"

"Hai... mengapa kau ..."(tak mampu ia lanjutkan)
Kembali suara itu terdengar sayup menjauh
"Pada kealpaan waktu, di setiap dentang yang tak bisa aku terjemahkan pada setiap kilatan senja yang tak mampu aku pendarkan
Aku hanya terdiam disini menemu senyummu tersudut pada semburat jingga sang langit"
"Hai... apa maksudmu.....(terlihat menghiba kedua tangannya membentang)
Tak ada jawab hanya berganti merdu nyanyian
(Reff album kangen So7)
(Berlanjut suara bisik menyergapnya tiba tiba)
"Namun terlalu senyap tak ada lagi panggilanmu tak ada lagi riuh tawamu tak ada lagi kata kata. Beberapa kata hanya engkau yang tau, hanya engkau yang mampu ucapkan"
Ia pun hanya rebahkan diri pada bangku reot di sudut panggung. Bergumam ia semakin jelas
"Engkaulah yang alpha kan aku dalam tarianmu, aku tetaplah pemain yang menunggu skenario sang koreo, tawamulah yang lenyap, seperti tertelan senja sesaat setelah kau lepas genggaman"
"Bila kau temui serpihan serpihan di antara daun gerimis dan senja itulah remah remah yang kau paksa berserak, serpihan itu masih mewujudkan rohmu, mewujudkan sketsamu."
Tiba tiba suara aneh pun menyahut
"Bukanlah inginku.."
"Bukanlah inginku...."
Lampu perlahan gelap .......

Monday, January 16, 2017

Tautan Rindu

begitu dekat......
isyarat matamu jatuhkan aku pada
kata tak terucap
dekap sajak indah bibirmu
berhimpitan frasa gubah makna
sebab langit kuasa tampung tatapanmu,
tautkan rindu
senja pun enggan beringsut
sajakku melangit meruang pada hatimu

Gigil Sepi

Kucumbu dingin tajam menyesak
kurayu hingga hembusan terakhir menari di luar pintu
ingin kubiarkan hasratnya
gigilkan sisa-sisa penatku
di sini di ruang ini aku
menyulam sepi

Monday, August 8, 2016

Terpenjara Hujan

Sepenggal senja t'lah bawa aku pada ruang syahdu,
mengecupi sepi dalam buai dingin ruang,
seperti hari lalu kau bermain dalam kenisbian,
luruh ranting kerinduan jatuh satu satu,
iringkan rintik menderas arungi lorong sunyi mencari seuntai kata.

Simponi Embun

Pekat rebah menyusup peluk malam
ku eja kata yang melekat di tiap labirin otakku
kau pun berikan belaian lewat tetesan satu-satu
di tiap denting atap kerinduan
dingin alirkan sajak-sajak malam tanpa rembulan
ruh itu meruang
paksa kata-kata terjalin dalam sajakku
meski bulan tak hadir indahkan langit,
tapi kuyakin
esok embun kan tetap teteskan bening di ujung ilalang

Rebah pada pundak waktu

Rekah dari seraut wajah
selengkung senyum pesonakan detik
pada sebuah tatapan waktu
risaukan relung-relung hampa
pun nyata bukanlah sebuah mimpi
Kau terlalu kuat dan aku lemah menjauhimu
Jangan sembunyi di balik rerimbun waktu
rebahlah bersama sajak rindu