""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 19 Agustus 2012

"Kak, Tisna Pengen Lebaran"

Angin masih saja dingin menusuk pori-pori, malam ini tidak seperti malam sebelumnya. Padat Lalu lintas semakin menjadi. Ini malam ke 28 Ramadhan puncak pemudik mulai memasuki wilayahku. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku piket di posko lebaran.

Lengang tak pernah hadir sedikit pun dari deretan dan sorotan lampu mobil dan motor serta klaskson pembagian tim pun dilaksanakan, satu tim menuju ke stasiun weleri dan satu tim tetap standby di Posko PMI.

"Kak kami berangkat dulu, semangat pagi!!!"
"Okey Semangat pagi selamat bertugas!!"

Mereka pun berlalu meninggalkan kami di posko, serombongan dengan ambulace perlahan tinggalkan PMI. Sesaat kuingat senyum mereka dengan penuh semangat wajah-wajah remaja yang meluangkan waktu demi kemanusiaan. Sangatlah membanggakan diantara ribuan warga masih ada remaja yang peduli pada sesama dengan berkorban meninggalkan keluarga dan kesibuka di rumah menjelang lebaran.

Waktu menunjukkan pukul 23.45 beberapa teman minta ijin untuk istrihat dengan harapan bergantian piket saat dua jam berikutnya. aku duduk memandang jalan yang semakin padat. Beberapa pemudik berhenti dan minta ijin beristirahat. Lima orang dengan motor ber plas AD berhenti dan langsung lelap di tenda peristirahatan. Perlahan berhenti mobil sedan dengan rombongan keluarga kecil pun menumpang sekedar istirahat dan ke kamar mandi.

Kembali sepi sunyi suasana di Posko karena memang hanya aku yang terjaga, hanya bisa merenung dan berharap tidak ada kejadian apa-apa malam ini.
HPku bergetar ternyata ada informasi teman di status Facebooknya yang menyampaikan terjadi kemacetan panjang di jalur lingkar kaliwungu. Waktu menunjukkan pukul 01.03, kupikir hanya kemacetan karena mobil padat dan jalur simpang yang menjadikan tersendat.

"Kalian stanby di posko, aku coba cek ke TKP ada kemacetan panjang"
"Siap Kak..!!"

Kupacu dengan lumayan cepat karena memang ada celah. sampai di 6 Km menjelang titik kemacetan kulihat deretan mobil panjang mengular berhenti tanpa bergerak. Meraung sirene mobil patroli melewatiku dengan cepat disusul beberapa mobil ambulance. Feelingku mulai berkata bahwa ada kejadian hebat di depan.

Tanpa pikir panjang aku ambil jalur berlawanan ketika ada ambulance kembali meraung kuikuti hingga dalam waktu singkat aku bisa mencapai titik lokasi kejadian. Subhanallah kulihat Bus besar melintang di jalur yang salah sementara sebuah minibus APV ringsek bagian depan dan kudengar jerit tangis, ternyata sebuah minibus L300 teronggok di bawah jalan dengan ringsek 90%.  Segera aku minta ijin ke petugas untuk bergabung dengan Tim PMI lain serta SAR yang lebih dulu sampai di lokasi.Kebetulan lokasi kejadian berada pada are perbatasan dua wilayah kabuaten dan kotamadya,

Empat orang terlihat bergelimpangan di dalam mobil yang dipenuhi dengan tas dan bawaan mudik mereka. Tiada gerakkan sedikit pun dari mereka, kulayangkan pandangan pada seorang gadis kecil sekitar 2 tahun usianya yang merintih kesakitan karena kepala dan dadanya mengucurkan darah. tanpa kusangka ada seorang penumpang yang masih sadar merangka keluar dari mobil yang ringsek itu.

"Tisna, Kamu gak papa?"
"Pak dhe Tisna Ngantuk..."

hanya itu jawaban yang terucap, kemudian gadis itu pun lunglai dalam dekapan pakdhenya.

"Angkat segera bawa ke Rumah sakit"
"Siap.."

Kunaikkan ke tandu ambulance dan segera meraung memecah pagi yang purba menjelang sahur di malam ke 28 ramadhan.

"Kak, Tisna Pengen Lebaran...." tiba-tiba terjaga
"Iya, Tisna sudah sampai kan, sebentar lagi pakai baju baru" kucoba hibur dia.

Terlihat tanpa kesakitan sedikit pun gadis kecil itu memandangiku tanpa bicara, entah paham apa yang terjadi atau shock hebat yang melanda dirinya. Kututup perdarahan yang mulai berkurang rembesan darahnya, dan ku cek seluruh tubuhnya adakah luka lain yang perlu ditangani. Ambulan semakin kencang menuju RS.

"Kak, Tisna Pengen lebaran...."
"Iya Tisna, Tisna sabar ya...."
"Kak Ayah dan Ibu Mana? kok gak ikut di sini...?"
"Ayah Ibumu nanti menyusul Tisna.."

Kujawab sekenanya karena tak mungkin kuberitahukan bahwa ayah dan ibunya sudah tidak lagi bernyawa di kursi belakang yang hancur.

"Kak, tolong bilang Ayah Ibu Tisna Minta maaf, Tisna pengen pakai Baju baru kak, Tas Tisna mana Kak...?"
"Iya Tisna nanti bila sudah sampai tisna ganti baju baru ya.."
"Kak, Tisna pengen Lebaran..."

Raungan ambulance melemah dan memasuki area UGD, segera perawat menyambut kami dengan sigap memindahkan tisna ke ruang penanganan. Kucuci tangan dan bersihkan beberapa percikan darah yang menempel. Terngiang dengan jelas permintaan Tisna yang selalu diucapnya selama perjalanan menuju RS.

Ambulance meninggalkanku karena harus menjemput korban berikutnya. Aku putuskan  ikut ambulance berikutnya untuk kembali ke lokasi karena memang harus cepat kembali.
Lima Menit berlalu Pintu UGD terbuka dan seorang perawat keluar dan membersihkan diri.

"Mas, Kecelakaannya di mana? apa begitu mengerikan kondisi mobilnya?"
"Iya mas...." kujawab sekenanya karena aku curiga dengan wajah perawat tersebut.
"Terimakasih Mas, kita bagian dari orang-orang yang berusaha menyelamatkan sesama tapi Allah berkehendak lain terhadap hambanNya.Kami sudah berusaha tapi luka terlalu parah dan gadis kecil itu tidak dapat kami selamatkan"

Inalillahi Wainnalillahi Rojiun. Hanya itu yang bisa kurapal dari bibirku tanpa terucap.

"Kak, Tisna pengen Lebaran....." kembali mengiang di telingaku

Meraung  dua ambulance memasuki area UGD dan keluarlah dua jenazah dipindahkan ke ruang perawatan, menyusul Tisna, hanya kuberharap semoga mereka orang tua Tisna, sehingga keinginan untuk berlebaran bersama kedua orang tuanya terkabul di ruang ini.

"Ayo kembali ke lokasi masih ada 3 jenazah lagi"

Aku hanya berjalan menuju ambulance tanpa menjawab ajakan mereka, kududuk tanpa bicara, terbayang derita Tisna, tanpa mengeluh sakit ia jalani takdir yang harus dijalani sebelum sampai kampung halaman untuk berlebaran.

Sirine kembali meraung agar diberi jalan tuk cepat mencapai lokasi.

"Kak, Tisna pengen Lebaran..."

"Maafkan Kakak, Tisna.  Kakak tidak bisa mencarikan Baju barumu karena kakak tidak tahu dimana tas kamu"

Kaliwungu
17 Agustus 2012 (01.35 WIB)

Jumat, 17 Agustus 2012

Di Area Pemakaman pada Ramadhan Ke 27

Remang senja kali ini begitu menyesakkan, 16 Agustus  kembali membuka cacatan usang tentangmu. Aroma parfummu hempaskan lamunan tiba-tiba. Ya wangi itu masih saja belum hilang setiap kali mengingatmu. Seperti senja ini di jalan setapak menuju makam.

“Wis…., akankah kita kan  bertemu lagi seperti senja ini….” Bisikku

Wisma  terdiam cukup lama, digenggamnya erat tanganku, mata sayunya berkaca-kaca menatapku. Semakin aku melihat betapa ayunya Wismarini.
“Aku tidak bisa ngomong apa-apa mas…” kembali menunduk, dan peluhnya mulai berbulir di pipi nya.
                                                                            
Aku hanyalah anak seorang peternak ikan, yang pas-pasan. Bahkan untuk membiayai sekolahku, aku harus rela tidak pulang hanya menunggui jebakan udang yang tiap pagi bisa kujual.
Namun, Wismarini tetap tak peduli, Gadis putri seorang camat itu masih saja menghiba dipundakku.

Itulah terakhir kutatap wajah sendu ayu sederhana seorang gadis desa, di pematang itu senja semakin redup, Wisma pun berlalu bersama wangi tubuhnya yang membeku dalam kabut senja.
                                                                       ***
Liburan kali ini tanpa sengaja aku kembali menyusuri jalan setapak menuju pematang terakhir desa Wismarini. Aku pulang untuk nyekar selalu menjelang lebaran dan kebetulan lebaran kali ini bertepatan dengan terakhir kali pertemuan itu.

Kususuri kembali jalan setapak menuju area pemakaman, suasana masih seperti  puluhan tahun lalu  ketika aku meninggalkannya. Angin masih saja sejuk, Burung, belalang dan gemericik ikan-ikan kecil selalu seirama dengan senja. Damai sekali rasanya. Terus kuberjalan Sore itu, Belum juga sampai di makam, sesaat  dari belakang kelokan  pematang lain muncul seseorang yang sekian lama menghilang dari pandanganku. Perasaan tidak karuan muncul, dingin telapak tangan tiba-tiba menjalar sementara panas terasa di wajahku.

“Wisma… benarkah kamu Wisma?”
Perempuan itu pun  terkejut sama denganku. Wajahnya masih seperti dulu, seperti puluhan tahun yang lalu. Mata sayu itu seakan tertegun melihatku, sesaat kemudian ronanya tampak memucat, senyum mengembang sesaat dengan dekik di pipi pun kembali kulihat.

“Mas Noegroho ya…?”  tampak gugup.

Benar, dia Wismarini  yang dulu sekali pernah kukenal. Jujur saja hatiku berbunga-bunga melihatnya. Detak jantungku masih terasa berdebar.
Ku langkahkan kakiku mendekati perempuan itu. Rambut panjangnya tergerai berkibar-kibar diterpa angin. Iya, keyakinanku memang benar, perempuan itu Wismarini.

“Kapan datang Mas...?” membuka pembicaraan.
“Semalam aku sampai, bagaimana kabarmu wis?"

Kami pun akhirnya saling bercerita. Aku masih terpesona dengan ayunya, bibir merahnya, hidung mancungnya, lesung pipinya, kulit putihnya yang bersinar. Aroma wangi tubuhnya terbawa angin dan membius,  kembali membawa aku ke puluhan tahun yang lalu.
.
“Oh iya Wis kamu belum menceritakan bagaimana keluargamu? kamu  pasti bahagia sekarang“ aku sedikit penasaran
“ Ah, Mas…” dia berhenti sebentar, kemudian dia melanjutkan
“setelah kepergianmu, aku selalu menunggu dan mengharap kepulanganmu. Tapi aku tidak pernah mendengar kabar darimu. Hinga suatu saat aku mendengar bahwa kamu sudah sukses di sana bahkan kudengar Mas sudah menikah. Saat itu hancur sekali hatiku mas…apalagi berikutnya aku di uji Mas, Bapak berpulang mendahului kami semua” Wisma berhenti sambil menghela nafas.

Wajahnya sendu, seakan menyiratkan kepedihan yang dalam. Terus terang saja aku kaget mendengarnya, aku tak mengira dia masih menungguku selama itu dan Ayah Wisma sudah lama tiada.

Mas ingat Kang Abdul ustadz di madrasah itu? Teman sepermainan Mas Noe saat kecil dulu?” katanya
“O Abdul itu ”
“Dia yang selalu menghiburku, dia yang selalu menjagaku, mendengarkan tangisku saat aku merindukanmu. Dia yang selalu ada untukku. Sampai suatu saat, ketika aku sudah dianggap perawan tua di kampung ini, Dia-lah yang meminangku. Meskipun dia tahu, tak sedikitpun cintaku untuknya, tapi dia menerimaku apa adanya”

Mata Wisma mulai berkaca-kaca, Aku serba salah, aku hanya terdiam tak bersuara, menunggu dia melanjutkan ceritanya.
“Kang Abdul begitu mencintaiku, bahkan sampai menjelang kematiannya, dia tidak pernah mengecewakanku” lanjutnya sambil pandangannya menerawang ke makam tempat tujuanku berjalan.
“Dia juga yang mengajarkanku, untuk selalu bersyukur, dan mencintai apa yang ada, termasuk setiap hari hanya sekedar hidup sederhana, …” tuturnya.
Kemudian Wisma menatapku, aku tidak kuat menatap kembali matanya. Aku merasa cintanya masih tersimpan utuh di hatinya. Aku mulai merasa sangat sangat bersalah. Cita-cita telah mengubah mata hatiku. Kesibukan telah membuatku lupa, apa itu cinta sejati.
Aku terdiam. Rasa bersalah menyebar ke seluruh tubuhku. Belum pernah jantungku berdegup kencang seperti ini, mungkin memang Wisma-lah cinta sejatiku yang selama ini telah aku lupakan.
“Maafkan aku Wis…. “ bibirku bergetar

Dia menatapku dengan tatapan  sayunya. Tersudut aku dalam tatapan bisu, Ingin  kusentuh kembali wajah itu. Namun seakan ada yang menghalangiku. Wisma pun kemudian berlalu  hanya meninggalkan aroma wangi yang tersisa, dan semua kenangan yang pernah ada.

"Aku ke makam Kang Abdul dulu Mas..."

Aku mematung seperti Nisan yang membisu di atas makam pada ramadhan ke 27. Duka menyebar bersama semburat merah yang membentang. Pandangi Wisma yang terisak di atas gundukkan tanah kudengar lembut alunan Yassin dari bibirnya.

Senin, 06 Agustus 2012

Lina dan surat Fathekah

"Bu, Lina kangen Bapak..."
"Tidak usah Kau tanya lagi tentang Bapakmu, habiskan es cream itu segera"

Percakapan singkat di atas angkot yang menarik perhatianku, sekilas terlihat pucat di wajah perempuan muda itu. sementara sikecil tetap asyik menjilati es cream dengan wajah kecewa mendapat jawaban dari sang Ibu.

"Lebaran sebentar lagi kan, tapi kenapa Bapak tak pernah temani kita sholat Ied ?"
"Lina berapa kali ibu harus bilang, tidak usah kamu bertanya lagi tentang Bapakmu, tanpa Bapakmu kan kamu tetap bisa lebaran, pakai baju baru, sepatu baru dan lain-lain"
"Tapi Lina pengen seperti sinta, Intan dan yang lain lebaran ada Ibu ada Bapak gitu.."

Perempuan muda itu hanya menerawang mendengar jawaban si kecil, kuperhatikan matanya mulai berkaca-kaca. sesaat kemudian kertas tissue pun menyeka lelehan bening yang belum sempat menyebrang di pipi ranumnya.

"Ibu nangis ya?"
"Maafkan Lina Bu, lina sudah membuat ibu menangis..., kalau Ibu nangis Lina juga pengen nangis"
"Enggak sayang, Ibu tidak nangis kok, sudah sini peluk Ibu"

Aku hanya terdiam pandang mereka berdua, terlihat begitu berat beban yang harus mereka jalani, kembali sang Ibu memandang keluar jendela sesekali menatapku yang sedari tadi memperhatikan mereka. senyum dipaksakan pun mengembang sesaat sebelum kembali menunduk. sementara si kecil menjilat untuk penghabisan es cream ditangannya.

"Bu semalam Lina sudah hafal bacaan Fathekah, ustad Imron yang mengajari Lina "
"Syukurlah Lina harus sering baca fathekah ya untuk mendoakan Ibu mendoakan Lina supaya tetap bisa menjalani amanah dari Allah ya"
"iya Bu kata ustad begitu, surat Fatekhah begitu banyak manfaatnya, kan fatekhah dibaca disetiap sholat dan sehabis berdoa bu"
"pinter kamu sayang"

Tersentak aku mendengar percakapan terakhir mereka, tanpa aku sangka sikecil begitu lancar menerangkan manfaat fathekah pada Ibunya.

"Depan berhenti pak...!!"
"Mari Mas ..turun dulu"
"Om Lina turun dulu... assalammualaikum"
"waaalikum salam warahmatullah wabarakatuh"

Sapaan mereka mengagetkanku, sepi kembali sesaat setelah angkot berjalan, masih begitu terngiang percakapan mereka, seandainya semua anak seperti Lina... .


Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...