""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 04 November 2018

Luka

Rekah tak lagi ramah
Lukai tapak dalam terjal langkah
menghiba angin kan terbangkan kemarau

Semu

Perdu bambu
Sembunyikan gemericik rindu
entah pada kelok sungai
atau sekedar lari dari bayang lalu

Selasa, 04 September 2018

Senja Menghiba



Sapa halusmu setubuhi angan yang tlah lama mendekati padam
Detik senja terlalu keras berdetak menghujam dada,
tanpa sapa
bangunkan mimpi mimpi usang
menulusup satu dua kata menggantung kenangan
melingkar pada lentik, menghujam kelopak nanarkan pandangan
senja ini menghiba rasa perih menusuk entah pada mula atau ending kenangan,
bagiku
sapamu adalah upah dari sebuah impian
di senja pada sebait sajak kutitipkan mimpi-mimpi
adakah helai waktu kan pertemukan

Boja, 4 September 2018

Selasa, 12 September 2017

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi
bersandar pada pundak waktu
berbicara pada bayang berserak di luar jendala

aku yang hanya kecil terpana pada senja

gigil ruang kian mencengkeram
memungut kantuk
terselip di antara hitam berarak
pada langit Jakarta aku menatap

Seuntai Kata

sepenggal senja telah bawa aku pada ruang syahdu
dingin mengecupi sepi dalam buai kerinduan
seperti hari lalu kau bermain dalam kenisbian anganku
luruh ranting asa jatuh satu satu
iringkan luka
menderas arungi lorong sunyi
mencarimu membawa seuntai kata

Sabtu, 22 April 2017

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun
petikan, alunkan syair
alirkan makna
Hening ruang tunggu
terbius merdu nyanyianmu
Bukan sosokmu yang membiusku
Makna lagumu yang bawa aku tibatiba
Mengembara bersayap kenangan
Gesekan biola tenggelamkan aku
Meruang dalam dingin Juanda

Sabtu, 15 April 2017

Monolog Rindu

Panggung gelap tiba tiba meremang dalam temaram mendung. Terduduk dalam sepi di antara ngengat, nyamuk dan serangga malam.
Selembar kertas kumal ia genggam, membisu sesekali memandang kosong ke depan.
Terdengar lantunan sajak merdu entah siapa menyusup menyadarkan dalam beku.
"Aku temukan perasaanmu, lalu sepi itu tetiba membayang
Aku temukan perasaanmu pada serpihan rindu yang menggantung entah dimana?"

"Hai... mengapa kau ..."(tak mampu ia lanjutkan)
Kembali suara itu terdengar sayup menjauh
"Pada kealpaan waktu, di setiap dentang yang tak bisa aku terjemahkan pada setiap kilatan senja yang tak mampu aku pendarkan
Aku hanya terdiam disini menemu senyummu tersudut pada semburat jingga sang langit"
"Hai... apa maksudmu.....(terlihat menghiba kedua tangannya membentang)
Tak ada jawab hanya berganti merdu nyanyian
(Reff album kangen So7)
(Berlanjut suara bisik menyergapnya tiba tiba)
"Namun terlalu senyap tak ada lagi panggilanmu tak ada lagi riuh tawamu tak ada lagi kata kata. Beberapa kata hanya engkau yang tau, hanya engkau yang mampu ucapkan"
Ia pun hanya rebahkan diri pada bangku reot di sudut panggung. Bergumam ia semakin jelas
"Engkaulah yang alpha kan aku dalam tarianmu, aku tetaplah pemain yang menunggu skenario sang koreo, tawamulah yang lenyap, seperti tertelan senja sesaat setelah kau lepas genggaman"
"Bila kau temui serpihan serpihan di antara daun gerimis dan senja itulah remah remah yang kau paksa berserak, serpihan itu masih mewujudkan rohmu, mewujudkan sketsamu."
Tiba tiba suara aneh pun menyahut
"Bukanlah inginku.."
"Bukanlah inginku...."
Lampu perlahan gelap .......

Luka

Rekah tak lagi ramah Lukai tapak dalam terjal langkah menghiba angin kan terbangkan kemarau