""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 27 Desember 2009

Di Pesisir Ini Kembali Aku Tulis Sajak

Sepi tlah sunting senja di jendela kalbu
Senja pucat tanpa lembayung merah tergerai
cericit kelelawar tlah toreh menjadi diary rindu

aku yang terpekur dalam kepekatan pesisir
hanya bisa bersajak ke penghujung senja

jejak dan titian yang terlewati
menggamit merindumu
Bayangmu semakin larakan lenaku
dalam langkah tertancap senyum dan tatapan korneamu

Kusingkap makna sebuah kerinduan
Kudambakan rindu dalam sajakku
Di pesisir ini kembali aku tulis sajak

Sabtu, 26 Desember 2009

Di Ruang Ini Ku.......

Di ruang ini,
detak waktu masih berjalan dalam hitungan tanggal yang membisu
awan pekat sejak siang tadi menguapkan panas
membekukan udara yang menggantung

Sketsa wajahmu membentang semu
Kau peluk kembali tubuhku
korneamu menancap perlahan rengkuh sukmaku

dan pintu kubiarkan terbuka untukmu,
mengharap langkah-langkah terdekap rindu,
seperti waktu-waktu yang tlah lalu

Jumat, 25 Desember 2009

Saat Kusandarkan Siluet Bulan pada Langit Kerinduan

Mimpi yang rebah dalam pangkuan malam
ku eja kata yang melekat ditiap labirin otakku
kau pun berikan belaian mimpi lewat tetesan satu-satu
di tiap denting atap kerinduan

kepergianmu tlah mengalirkan sajak-sajak malam tanpa rembulan
meski kata-kata terjalin dalam sajakku
tapi mimpi itu tetap penjarakanku

mungkin malam ini takkan berhenti kurangkai sajak
meski bulan tak hadir indahkan langit malam, tapi kuyakin
esok embun kan tetap teteskan tangisnya di ujung ilalang


siluet mimpi pun terus mengalir seperti nyanyian kerinduan
di tiap detik yang berdentang diantara deret angka yang membisu
saat kusandarkan siluet bulan pada langit kerinduan


Selasa, 22 Desember 2009

Pada Gerimis Desember ini

Tersentak aku dari tidur, terkesiap
menyusup perlahan alunan kitab suci
begitu mengalun dari radio tetangga
Aku hanya tertegun, termangu, dan lesu

kupandang jendela tua
berderai korden usang oleh kilatan waktu
murung dan membisu.

membisik angin perlahan,
meluncur dingin dari busur senja
sementara di luar gerimis tetap bergumam
satu-satu menjejakkan kaki ke bumi

perlahan kesenyapan merangkul gelap
menyapaku di buram kaca jendela
entah mengapa
pada gerimis di hari ke 22 ini
aku masih saja merindumu

Senin, 21 Desember 2009

Rintik Kerinduan di Bulan Desember

Sadaplah gelisah angin di antara riuh gerimis
yang menggemerisik di antara sunyi
tidakkah kau dengar gunjingan tentang gelisahku
ketika senja turun di kelam tak berpenghuni
ada lukisanmu pada latar cakrawala

jingga membara dan kadang-kadang lembayung
tersingkap dalam kenisbian
lihatlah pendar yang disapukan dari rasa ini
sedang malam pun tak pernah bosan sajakkan rinduku

riuh tawa dan simpul senyummu kembali tersketsa
hangatkan dan aromakan rasa dalam hati yang entah terluka
aku tapaki purnama yang tenggelam terenggut awan
dan aku ingin terbenam bersama rintik-rintik
kerinduan yang terus membara

Sabtu, 19 Desember 2009

Jika Saatnya kan Tiba

Jika saatnya kan tiba,
musim berkelebat membuka halaman baru
gugusan awan ranum berarak
tetes satu satu pertama pada senja pertama setelah kau berlalu

Biduk tak lagi tenang menari di ombak
seakan ingin merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu merebah hasrat di dermaga rindu

Jika Saatnya kan tiba,
di semburat merah ujung senja
kan kubingkai binar korneamu
dalam album gairah jiwaku
kujadikan lukisan indah dalam sajakku

berhiaskan leleh cahaya bulan melumuri langit
dipendar semilir angin pesisir
membelai lembut kata-kata pujangga

Jika Saatnya kan tiba,
kubuat kau tak lelap tidur
bersama merajut impian yang tak segera usai,
mengalir genangan cinta dipalung kalbu
dalam getar cumbu tak berkesudahan
hingga munculkan sajak-sajak baru

Jumat, 18 Desember 2009

Bersemayam tiba-tiba senyummu disudut sukma

Bersemayam tiba-tiba senyummu di sudut sukma
saat waktu tasbihkan kau berlalu
tangis angin menukik di sudut gedung
dan seratus kornea mata memandang senyum itu
menembus asa yang tak tersampaikan

siapa yang pahatkan rasa ini,
kala senyummu yang mungil
bagai pualam murni bersorak
dalam senja lahirkanmu

senja terlalu merah dan langit pucat di titik-titik peluhmu.

aku lukis dan kenang
garis biru di antara kelopak matamu
tipis dan lembut di setiap angan

seekor kupu-kupu tlah taburkan benih
hingga tumbuh aneka warna
seperti pendar pelangi....

Bersemayam tiba-tiba senyummu di sudut sukma
saat waktu tasbihkan kau berlalu
ku kenang saja senyummu itu



Rabu, 16 Desember 2009

Entah Pada Siapakah sajak ini kutulis

Akan ke manakah senja melayang
tatkala rintik satu satu nan muram
memecah secercah senyum di balik awan
entah pada siapakah sajak ini kutulis


pekat dalam kabut rindu meradang
terbayang engkau tersenyum sambut korneaku
turun dan berbisik tepat di sampingku

belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
kuingin manja dalam dekap katamu
hingga sajakku dan sajakmu menyatu
dalam goresan dahaga kata kata

Akan ke manakah senja melayang
untuk siapa kata kurangkai hingga sajak
pecahkan bulan dalam dekap ombak
hingga gugurkan hati dalam dahan-dahan kerinduan

Rabu, 09 Desember 2009

Sebuah pengakuan

Kesibukan telah bikin aku terbelenggu dalam penjara retorika. Sebuah kenistaan ketika aku melupakan sastra, aku benar-benar tidak percaya. satu bulan penuh aku terombang-ambing institusi dan keformalan. jiwa seni dan sastraku dalam berbahasa pun perlahan memudar seiring keformalan yang sering aku lisankan. kini aku pun kembali merangkak perlahan tuk bangkitkan jiwa yang meradang. maafkan aku teman, apabila abaikan sastra selama sebulan terakhir ini.

Selasa, 03 November 2009

Secari Kertas Kala Senja dan Gerimis di Pesisir

Angin awal bulan ini menghembus semilir menuju pesisir rintikpun tlah satu-satu hujami bumi, bangau kecil mulai bermain di kecepak air diantara ilalang. Bangkai kayu purba mulai terekah, debu menyingkir menghiba pada dedaun kering.

Terseok Si Nang melangkah menuju pantai, Emak hanya menatap. Secarik kertas kumal tiba-tiba menghempas wajahnya. Nang terhuyung dan mengambil kertas itu.

Menginginkanmu adalah harapan bagiku
Menyayangimu adalah derma dalam hidupku
Namun kini aku tahu mencintaimu adalah ego terbesarku

Telah dikirimka-nya malaikat untuk menjaga imanmu
Dan telah pula dia sandingkan seseorang terbaik untukku
Yang tak pernah kutemui orang lain mencintaiku seperti dia mencintaiku
Betapa tak berartinya semua yang kita miliki bila dibanding semua yang telah mereka berikan untuk kita

Maka jika aku selalu menghiba agar waktu mempertemukan kita terlebih dahulu
Kini aku hanya berharap waktu tak pernah mengijinkan kita bertemu dulu
Dan jika penyesalan adalah sebuah dosa maka
Biar waktu berlalu dalam mimpi-mimpi semu
Dalam sebuah kenangan yang akan tersimpan rapat dalam bagian hidup kita………

Sungguhpun begitu kau adalah satu bagian terindah yang dia kirimkan utkku
Bersamamu aku mengerti, bahwa mencintai adalah memberi bukan memiliki.....


"Mak, Mak......" teriak Nang tiba-tiba
"ada apalagi to Nang?"
"Mak..., kini Nang sadar Mak...., itulah hidup.... Bulan memang tlah pergi dari pandanganku,...tetapi bulan gak pernah bisa hilang dalam ingatanku Mak...."

"syukurlah kamu tlah sadar.....jadi jangan kau ratapi kepergiannya, kalau memang garis harus tidak mempertemukanmu dalam mahgligai ya cukup dalam hatimu Nang, nah mulai sekarang bangkitlah biarlah bulan sama siapa saja toh itu sudah diatur Nang.."

"Iya Mak...., maafkan Nang Mak bila selama ini Nang terlalu memikirkan Bulan"
"Ya sudah, sana makan dulu...."

Angin kembali sibak kabut senja kala rasa itu luluh dalam kepekatan, secarik kertas senja itu tlah membuka cakrawala cinta yang hakiki.

Selasa, 06 Oktober 2009

Malam Rebah dalam Kepekatan

Malam kembali rebah, meninggal senja yang pekat
Resah merapuh hampa, memeluk dingin
menjemput lara, mengusir riang sang bulan
senja tak luput dalam ingatan, Jiwa pun merindu dalam kesunyian

Malam rebah berlalu, jauh dari rindu mendalam
Menorehkan purba, pada tubuh sunyi
menggenang sepi di taman hatiku
membawa malam dalam kepiluan

Pilu pun menjadi prasasti bait puisi, merindu taman jiwa
tertoreh kenangan abadi, sekedar khayalan mimpi
pusaran cinta pun tertoreh,
terikat oleh rintihan dalam sajak sajakku

Sabtu, 03 Oktober 2009

Bayangmu Memudar bersama Rinai di Pesisir

kusulam khayalan pada tirai tirai gerimis senja ini
menata wajahmu di mendung pekat,
sekeping demi sekeping, kurekatkan kenangan
menjelma sempurna paras dan korneamu
kubingkai parasmu dalam tiap jengkal rindu
kusulam di sudut hati

“Lihatlah bulan dan mentari bersatu di langit yang sama”
bisikmu lirih terbata-bata
Tapi senja ini bulan dan mentari tak saling sapa
terkukung dan berselimut mendung

seketika, air matamu meleleh menjelma
bagai riak pesisir menghanyutkanku jauh entah dimana
asa kita karam tanpa ada biduk entaskannya

kupahat sosokmu pada derai gerimis
tiap serpih mimpiku selalu harap bersama
semuanya berlalu dan sirna bersama desir angin pesisir senja ini
“Percayalah, bila kau ada di korneaku
berarti aku pun bersemayam di korneamu ” bisikmu pelan

bayangmu memudar bersama rinai senja di pesisir

Jumat, 02 Oktober 2009

Rinduku pada Debur Pasang

Rinduku pada debur pasang yang berdebum
melepas layar bahtera
Menangkap angin terjaring layar
Melawan
Menerjang
Merengkuh impian

Bahtera berlabuh sesaat di dermaga hatimu
Kayuhlah biduk ini arungi jiwa pesona
Menuju pantai harapan
Bersama mendung menggantung dilangit
Dan kata terucap dalam sajak
Jangan kau pergi sebelum purnama terbit

Senin, 28 September 2009

Senyum Karang di Fajar Hari itu

Bulan sepotong menggantung di ujung langit
seiring takbir subuh seberkas cahaya bersinar
walau kecil tersudut di langit timur laut
pesisir pun purba dalam kedukaan

riak berdebur tak mampu usik camar
riak berdebur tak mampu bangunkan biduk tertidur
kerinduan tlah beku dalam buai angin pesisir
kerinduan pesisir pada angin gunung hanya menjadi sajak

semburat merah pun tertoreh di ufuk timur
angin perlahan berbisik
"Pagi ini matahari dan bulan pada langit yang sama"
hanya senyum yang tersunggih
entah apa makna senyum yang tiba-tiba merekah
pada karang yang bertapa dalam diam

Rabu, 23 September 2009

Membiru Senja di Pesisir

Tertatih kepiting laut merayap pelan
Kerang pun terseok merayap pelan
Bangau yang entah mengapa singgah di pesisir
hanya bisa menatap keduanya menghilang di bawah karang
tersiram riak riak dan busa membuih

sebentar kepiting mengintip
sbentar kemudian kepiting pun sembunyi
berlari dari tamparan puing2 kayu dan botol plastik
berserakan diantara riak membuatnya tak nyaman

Terlempar kerang kecil terdesak botol plastik
kembali bangun dan terseok tuk segera sembunyi
Bangau hanya kembali menatap tanpa bergerak

Jala dan kail bersandar di biduk yang membisu
angin pun tak mampu tenangkan gelisahku
entah mengapa birunya laut menjadi misteri hari ini
kepiting, kerang, bangau temani aku yang
entah mengapa hanya membiru dalam senja di pesisir

Selasa, 22 September 2009

Maafin Aku ya

Mawar berseri dipagi Hari
Pancaran putihnya menyapa nurani
Sms dikirim pengganti diri
SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR BATHIN

Sebelum Ramadhan pergi
Sebelum Idul fitri datang
Sebelum operator sibuk
Sebelum sms pending mulu
Sebelum pulsa habis
Dari hati ngucapin MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan IA keruh,
Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung,
Jika HATI seindah BULAN, hiasi IA dengan IMAN.
Mohon Maaf lahir Dan batin

Menyambung kasih, merajut cinta, beralas ikhlas, beratap DOA.
Semasa hidup bersimbah khilaf & dosa, berharap dibasuh maaf.
Selamat Idul Fitri

Melati semerbak harum mewangi,
Sebagai penghias di Hari fitri,
SMS ini hadir pengganti diri,
Ulurkan tangan silaturahmi.
Selamat Idul Fitri

Sebelas bulan Kita kejar dunia,
Kita umbar napsu angkara.
Sebulan penuh Kita gelar puasa,
Kita bakar segala dosa.
Sebelas bulan Kita sebar dengki Dan prasangka,
Sebulan penuh Kita tebar kasih sayang sesama.
Dua belas bulan Kita berinteraksi penuh salah Dan khilaf,
Di Hari suci nan fitri ini, Kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin

Andai jemari tak sempat berjabat.
Jika raga tak bisa bersua.
Bila Ada kata membekas luka.
Semoga pintu maaf masih terbuka.
Selamat Idul Fitri

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.”

Walopun operator sibuk n’ sms pending terus,
Kami sekeluarga tetap kekeuh mengucapkan
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin

Bila kata merangkai dusta..
Bila langkah membekas lara…
Bila hati penuh prasangka…
Dan bila Ada langkah yang menoreh luka.
Mohon bukakan pintu maaf…
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Fitrah sejati adalah meng-Akbarkan Allah..
Dan Syariat-Nya di alam jiwa..
Di dunia nyata, dalam segala gerak..
Di sepanjang nafas Dan langkah..
Semoga seperti itulah diri Kita di Hari kemenangan ini..
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah Ada
Tuk khilaf yg sempat terucap
Pintu maaf selalu kuharap
Met Idul Fitri

Walaupun Hati gak sebening XL Dan secerah MENTARI.
Banyak khilaf yang buat FREN kecewa,
Kuminta SIMPATI-mu untuk BEBAS kan dari ROAMING dosa
Dan Kita semua hanya bisa mengangkat JEMPOL kepadaNya
Yang selalu membuat Kita HOKI dalam mencari kartu AS
Selama Kita hidup karena Kita harus FLEXIbel
Untuk menerima semua pemberianNYA Dan menjalani
MATRIX kehidupan ini…Dan semoga amal Kita tidak ESIA-ESIA…
Mohon Maaf Lahir Bathin.

Satukan tangan,satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di Hari kemenangan Kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

MTV bilang kalo MO minta maap g ush nunggu lebaran
Org bijak blg kerennya kalo mnt maap duluan
Ust. Jefri blg org cakep mnt maap gk prl disuruh
Kyai blg org jujur Ga perlu malu utk minta maap
Jd krn Mrs anak nongkrong yg jujur, keren cakep Dan baek
Ya gw ngucapin minal aidzin wal faizin , mohon maaf lahir Dan batin ..

Senin, 14 September 2009

Dalam Diam Aku

Dari manakah harus ku mulai
Ketika kata-kata yang kurangkai
Hanya kata-kata tanpa makna
bagaimana harus kutuangkan sosokmu sajakku
Karena tiap kali kulukis parasmu yang jelita
Otakku beku seketika

beratus sajak bisa kutulis
Seribu kata bisa kutata
Tetapi bukanlah dirimu
Karena keanggunanmu
Bukanlah potongan kata
Yang bisa kurangkai menjadi sajak

Maka biarlah kumaknai kecantikanmu
tanpa kata-kata...
Dan biarlah kupuji keanggunanmu
dengan kebisuan ini...
Karena dalam diam
aku bisa menyatu denganmu

Kerinduanku adalah Kerinduan Pada Biduk yang Tertidur

Aku tidak peduli seberapa sering musim bergulir,
perasaan tidak akan layu, mekar seperti bunga
Memikirkan bayangmu adalah kerinduan pesisir pada biduk yang tertidur

Kata-kata yang kita tulis adalah sajak yang mengiba
aku hanya ingin memeluk bayangmu,
sehingga aku tidak kehilangan sudut kornea matamu
bahkan pada malam ketika tidak bisa melihat kerlipan bulan
saat angin pesisir buai pasir yang tetap membisu

Aku akan mendekapmu seperti sinar matahari yang menembus dedaunan
Jika ini hanyalah mimpi, maka biarlah menjadi mimpi.
Aku akan berhadapan dengan cerahnya rasa pada hari esok

Sabtu, 12 September 2009

Cinta Ini...Keyakinan Ini....

Malam-malam bagimu tak pernah tua
Sepi-sepi bagimu tak pernah kehilangan maknanya
Pertanyaan terjebak dalam jawaban tak terberi
Dalam buaian takut masih saja engkau tak henti mencari

Bacalah..Bacalah, duhai kekasih hati
Yakinlah dalam segala gundah dan letihnya langkah kaki

Yakinlah Pada-Nya, pemberi nafas dan pengisi nurani..
Sabarlah dalam diammu
Tegarlah dalam senyummu

Wahai kekasih hati,
Sesungguhnya janji-Nya adalah pasti..

Duhai pemilik segala sucinya jiwa
Kau senandungkan dendang munajat cinta
Menyentuh hati-hati manusia
Hingga hidup tak lagi sisakan hampa

Cinta ini, keyakinan ini..
Biarkan mengisi botol-botol anggur hingga suci..
Biarkan merasuk dalam jiwa-jiwa pendengki..
Cinta ini, menyelamatkan manusia di hari akhir ..

Aku pinjam catatan "Kang Ewa"

Senin, 07 September 2009

Purnama Tak Sempurna

Di pesisir malam ini bulan tlah separoh
purnama berlalu tanpa kesempurnaan
tertiup waktu menyublim diangin beku
berarak awan meratap
berpegang pada satu wajah
enggan beranjak menyergap pekat
dipesisir biduk mendengkur meratap kerinduan

Terpekur
Di hamparan pasir memanja jiwa
sebuah hakikat
tentang cerita kupu-kupu pada kabut
atau cerita camar pada kepiting yang tertatih

setiap detik jiwa tlah tertata
dalam kebahagiaan semu
saat fajar menjemput
di batas hakiki kebersamaan

Minggu, 06 September 2009

Open Source (antara keharusan dan dilema pengajaran)

Walaupun terlambat akhirnya saya bergabung juga dengan peserta pesantren Sabily. Sebuah pertemuan para guru TIK dan non TIK serta penggiat dunia maya. Bapak Onno w Purbo sebagai salah satu penulis dan pelopor Open source memperkenalkan U Buntu Sabily sebagai produk nasional diharapkan mampu menjadi bukti bahwa cinta Indonesia adalah dengan menggunakan shoftwere nasional. Indonesia sebagai negara berkembang dengan julukan "miskin" ternyata memberikan pemasukan devisa bagi Amerika sebagai penguasa pertama dunia maya melalui productnya windows setiap bulanya.
Open source telah lama sebenarnya diperkenalkan kepada masyarakat tetapi sekali lagi ke-familiar-an windows kembali menjadi kendala. Sekilas peserta yang hadir hampir semua sepakat sudah saatnya kita menjadi negara "Miskin" yang bermartabat.
Bapak Oetomo sebagai Kabid Dikmen dikpora kab. Kendal bahkan telah menyatakan bahwa beliau telah bermigrasi ke Linux (Open Source Sabily) memang perlu waktu untuk memasyarakatkan ini. Peserta lain bahkan juga sangat mengharapkan adanya gebrakan di kabupaten kendal sebagai kota yang berani melakukan migrasi dari windows ke Linux. Guru sebagai salah satu orang pertama yang menularkan segala ilmunya kepada siswa diharapkan menyebarkan kepada puluhan bahkan ratusan siswa. Seandainya ini bisa dilakukan maka kota Kendal akan menjadi kota pertama yang mungkin menjadi icon open source.
Di tengah harapan tersebut ternyata masih muncul dilema, salah satu product windows yaitu powerpoint sebagai media utama presentasi selain flash justru baru saja diperkenalkan dan menjadi media pembelajaran. apalagi bagi mereka yang baru mengenal power point tentunya akan sangat bersemangat belajar.Apakah jadinya bila tiba-tiba dilakukan perubahan secara radikal. Memang sangat ironis apabila beberapa pihak telah melakukan open source tetapi penggunaan softwere windows masih memasyarakat juga.
Kiranya butuh waktu dan keberanian pemangku kebijakan untuk menerapkan hal ini. selain itu juga kelengkapan softwerenya sendiri diharapkan selengkap windows karena apabila tidak lebih baik dari windows bukan tidak mungkin masyarakat akan kembali migrasi ke windows.Mengapa saya mengatakan demikian, karena masyarakat telah dimanjakan dengan fasilitas windows. Kedua keberanian mengubah kurikulum pembelajaran TIK SMP ataupun SMA dari Windows ke Linux. Untuk sebuah perubahan memang perlu korban. Tetapi meminimalkan akibat yang muncul dari sebuah perubahan itu juga perlu dipikirkan.
Kiranya butuh pemikiran yang bijak dan waktu yang tepat guna melakukan open source secara "berjamaah" di Kabupaten Kendal ini. Lepas dari itu semua semoga apa yang telah ada dan yang akan ada dapat digunakan sebagai media pembelajarn yang dapat meningkatkan kualitas siswa.

sebuah catatan dari temu blogger kab.Kendal
weleri 2009

Jumat, 04 September 2009

Terkapar Aku

Terkapar aku dalam buaian kata

yang tak pernah bisa aku maknai......

kadang membuatku pusiing,

kadang membuatku tersenyum

kadang pula membuatku melamun....

tapi sampai kapan kan terbelenggu kepalsuan yang melayang.....

Selasa, 01 September 2009

Buai Pesisir Awal September

saat ini aku adalah sajak tak bermakna
terdiam di hadapmu menjelang purnama
menanti seuntai kata manis dari sudut hatimu
agar kau tahan aku agar tak menjauh

saat ini aku adalah biduk yang mematung bisu
membeku di sudut korneamu
menanti sejengkal lengan dan angin gunung
yang menarikku ke pelukmu

saat ini aku adalah pesisir yang terluka
membeku di balik hatimu yang memerah
berharap sedikit kasih kau sisakan


saat ini aku adalah tatap yang meratap
lekat ke arahmu bersama angin pesisir
mengharap sepucuk pesan terkirim
kepada angin gunung

namun kini
ketika akalku kembali sapa kau
kau lah jejak yang tertinggal dan membekas di pesisir
tak mampu kuhapus tiap jengkal ingatan tentangmu
entah berapa juta kerinduan yang masih terus tersedia

aku hanya mampu diam
tersudut di ujung pikiranmu, terpenjara di korneamu
terkungkung dalam buai pesisir awal september

Minggu, 30 Agustus 2009

Cinta Hakiki, Cinta Rosulullah kepada Ummatnya

Pagi itu walaupun matahari sudah menguning tetapi burung gurun tidak satupun yang mengepakkan sayapnya.Dengan suara terbatas Rosulullah memberikan khutbah

“wahai ummatku kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihnya, maka taati dan bertaqwalah padanya”

“Kuwariskan dua perkara kepada kalian yaitu Alquran dan sunahku”

“barang siapa mencintai sunnahku berarti mencintaiku, dan kelak orang2 yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku”

Khubah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata rosulullah yang mendalam kepada sahabat-sahabatnya. Sahabat Abu bakar menatap Rosulullah dengan berkaca-kaca,Sahabat Umar menahan nafas dengan dada naik turun dan menahan tangisnya,Sahabat Usman menahan nafas panjang, Sahabat Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang “ Rosulullah akan meninggalkan kita semua” keluh hati para sahabat
Rosulullah hampir selesai melaksanakan tugasnya di dunia
Tanda-tanda itu makin kuat.
Sahabat Ali dan Fadhal dengan sigap menuntun Rasulullah yang lemah dan goyah saat turun dari mimbar.

*******
Matahari kian tinggi dan pintu rumah Rosulullah masih tertutup rapat.
Di dalamnya Rosulullah sedang berbaring lemah dengan keringat mengucur membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara salam

“Assalamualaikum Wr Wb , bolehkah saya masuk?”

Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk “maafkanlah saya ayahku sedang sakit” lalu membalikkan badan dan menutup pintu kembali,kKemudian kembali menemani ayahnya yang terbaring

“Siapakah itu anakku “ tiba-tiba Rosulullah bertanya

“Saya Tidak Tahu, kelihatanya baru kali ini saya melihatnya Ayah” jawab fatimah lembut

Lalu Rosulullah menatap anaknya dengan penuh sayang, hendak dikenangnya wajah fatimah untuk yang terakhir

“Ketahuilah, Dialah yang memutuskan kenikmatan sementara , dialah yang memisahkan pertemuan di dunia, Dialah Malakull Maut” tutur Rosulullah

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya

Malaikat Maut datang mendekat, Rosulullah pun bertanya “kemana Jibril, kenapa tidak ikut serta”

Lalu di panggilnya Jibril yang sebenarnya telah menunggu di langit menyambut kedatangan Ruh Rosul kekasih Allah tersebut.

“Jibril, jelaskan hakku nanti di hadapan Allah” Tanya Rosulullah dengan suara lemah

“Pintu-pintu langit telah terbuka, dan para malaikat telah menantikan ruhmu, semua pintu surga terbuka menyambut kedatanganmu” kata Jibril

Tapi Rosulullah belum begitu lega matanya masih menunjukkan kecemasan

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” lanjut Jibril

“Lalu bagaimana dengan nasib Ummatku kelak?”

“Janganlah engkau kuatir Allah berfirman :”Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali ummat Muhammad telah berada didalamnya” tutur Jibril

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugasnya
Nampak Rosulullah bersimbah peluh dan otot lehernya menegang.

“Jibril mengapa begitu sakit sakaratul ini “ perlahan Rosulullah membisik

Fatimah menutupkan kedua telapak tanganya ke wajahnya, Sahabat Ali menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka

“Jijikkah kau wahai Jibril, sampai Kau palingkan muka”

“siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut Ajal “ kata jibril

“Ya Allah dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini cukup kepadaku, jangan pada ummatku”

Badan rosulullah sudah semakin dingin kaki, perut, dada, tampak bibir rosulullah bergetar hendak mengatakan sesuatu Sahabat Ali segera mendekatkan telinganya

“Ushikum bi Shalati wa mma malakat aimanuku”
“peliharalah shalat dan peliharalah kaum-kaum lemah diantaramu”

Diluar rumah, suara tangis mulai terdengar….. para sahabat saling berpelukkan.
Fatimah semakin merapatkan tangan diwajahnya dan sahabat ali mendekatkan kembali telinganya ke bibir rosullah yang semakin membiru

“ummati ummati ummati”

Dan berakhirlah perjalanan dan tugas Rosulullah di dunia sebagai pemberi sinar itu.
Allahumma Sholiala Muhammad, wabarik wassalim alaih
Betapa cintanya Rosulullah kepada kita umatnya

Jumat, 28 Agustus 2009

Seumpama Angin Pesisir

Seumpama angin pesisir
Kerinduan yang semakin gigil ini
Telah setubuhiku dalam sajak
kepasrahan asa yang menggelegak
dalam wangi parfum tertiup angin gunung

Seumpama angin pesisir
Kerinduan jilati puncak dahagaku
telah basahi birahi yang mekar
dalam buai pesisir dan wangi kembang

Seumpama angin pesisir
Kerinduan sinari rongga dadaku
Ketika purnama mengambang diantara gelombang
kau begitu mesra tersenyum
Menanti kata dariku di pantai penghabisan

Seumpama angin pesisir
menjelma dan berserak seumpama daun,
kering di telapak kakiku terhempas musim
Seperti sumur-sumur kerinduan yang teramat dalam,
arwahku menghidupkan ilusi kupu-kupu

seumpama angin pesisir
Kelak aku akan pergi,
seperti mercusuar yang bercahaya di tengah laut
Kutahu inilah kebahagiaan yang bakal aku kenang
antara kerinduan dan perpisahan

Selasa, 25 Agustus 2009

Di pasar saat Ramadhan Kelima Siang itu

Senja hampir tenggelam dan langit perlahan mulai berubah warna seperti arang. Gelap. Pekat. Tanah di pesisir masih basah. Sisa ombak menggenang di atas permukaan pasir. Jejak kaki masih meninggalkan dingin di pasir biru ini. Pijar cahaya lampu di rumah bambu membiaskan warna keperakan di antara deru ombak.

Pesisir tampak lengang, tak kulihat orang melintas di pesisir. Tetapi, saat aku kembali duduk di diantara bebatuan, samar-samar, aku dengar langkah orang yang berjalan dengan langkah tersaruk. Tak lama kemudian, langkah kakinya berjingkat, lantaran menghindari air di antara riak-riak kecil. Aku melongokkan kepala. Aku lihat sosok perempuan berjalan di pasir. Separuh wajahnya tertutupi kerudung sehingga mataku tidak dapat melihat wajahnya yang mulai tampak dengan jelas kala mendekat ke arahku.

Persis di antara dua batu, perempuan itu membuatku terperanjat kaget. Mulutku serasa terkunci dan mataku terperangkap seraut wajah yang nyaris aku kira seorang pengemis yang tersesat ke pesisir jika saja senyumnya tak membuatku teringat kenangan di masa lalu. perempuan itu adalah Bulan. Kulihat wajahnya murung, tak ada sebuah percakapan sehingga membuatku hanya berdiri mematung. Aku termangu menatap sosoknya. Aku pandangi dari ujung kaki sampai ujung hidung.

"Kenapa kau memandangiku seperti orang asing yang tak pernah kau kenal?"

"Aku kira kau tidak akan datang lagi ke pesisir ini," jawabku

Aku melepaskan pandanganku, seulas senyum memburai di wajahnya yang tadi kulihat nampak letih didera perjalanan. "Maaf..., aku datang tanpa ada kabar. Mungkin aku menginap di sini beberapa hari, tepatnya di rumah budhe" ucapnya ragu, seraya duduk di atas biduk yang membisu.

Aku bengong, kutatap lekat-lekat wajahnya saat ia bercerita jika kini ia begitu menderita. Tak pernah terbersit dalam kepalaku, dia bisa mempertaruhkan hidup di atas kebahagiaan yang belum terbayar.

"Aku balik ke sini, karena ingin selamat. Untung, kini selamat dan tiba di pesisir ini. Aku memang bodoh tapi kini aku sadar bahwa jalan yang kutempuh itu salah. Aku ingin menebus kesalahanku dan ingin menyelesaikan masalahku "

Hatiku tersayat. Aku seperti dibius kesedihannya.

Hari sudah gelap, perempuan yang dulu kukenal baik itu seperti menenggelamkanku dalam duka laranya, ketika adzan maghrib menggema dari mushalla di ujung kampung. Aku bergegas ke kamar mandi, melangkah keluar menuju mushalla di malam kelima pada bulan Ramadhan ini.

***
MALAM itu langit berwarna seperti arang. Gelap. Tanah di halaman rumah masih basah, ketika aku pulang dari mushalla, sehabis tarawih. Di langit, tak kulihat cahaya rembulan. Hanya titik-titik pijar bintang yang bersinar redup. Malam murung, tetapi masih memancarkan secercah cahaya. Sayup-sayup, kudengar gema tadarus dari mushalla.

Malam merambat pelan, dan aku tertidur di ruang tengah. Televisi masih menyala, ketika aku bangun di ujung fajar. Aku bangkit, membasuh muka lalu keluar membeli nasi di warung.
Kulihat Bulan membantu Budhenya menyiapkan pesanan orang-orang yang makan sahur, kusapa dan ia pun bersiap makan sahur.

Tetapi, ia tak bernafsu melahap nasi, tidak terlihat lahap. Ia masih menyisakan beberapa suapan sebelum menuntaskan dahaga dengan menengguk teh hangat untuk menghangatkan tubuh keringnya dari dingin pagi. angin pesisir masih meninggalkan dingin di fajar buta.

"Apa kau yakin besok bisa kuat puasa?" gurauku memancing keteguhannya.

"Gampang!" jawabnya lirih, "Jika tak kuat, ya makan!"

Aku tersenyum. Ia pun tersenyum. angin masih meninggalkan gigil di kaca jendela.

Imsak akhirnya memaksa kami menutup mulut dari seduhan teh hangat. Disusul adzan subuh, lalu aku menunaikan shalat.

***
ESOK HARINYA, ia datang dari pasar dengan langkah tersaruk ketika mentari berada tepat di atas kepala. Langkah kakinya masih sempat aku dengar saat aku bangun dari tidur siangku, kala kedua kakinya menerabas masuk pekarangan. Wajahnya yang tirus kemudian nongol di balik pintu.

"Kenapa kamu kelihatan kusut hari ini"

"Kamu mungkin tak percaya dengan ceritaku ini. Tadi, saat aku ke pasar, hari ini pasar penuh sesak. Entah ini cobaan dari Tuhan atau anugrah. Aku jadi uring-uringan dan tak sabar karena rasa lapar menggerogoti ususku. Karena itu, aku berjanji dalam hati kalau selesai belanja maka akan kutuntaskan rasa laparku ke warung," ujarnya membuatku penasaran.

"Tapi ini lain, aku benar-benar merasakan lapar dan haus yang membuatku pusing! Karena itu, setelah keluar dari pasar , aku segera melangkah dan mencari warung yang dapat mengobati lapar dan hausku. Sejak dari pasar, aku clingukan untuk memastikan bahwa aku tak sedang diawasi orang, lalu aku melangkah ke arah Barat agar jauh dari pasar. Tapi, belum sempat aku menemukan warung, aku justru menjumpai pengemis cilik di perempatan jalan yang membuatku kasihan. Anehnya, di wajah pengemis cilik itu, aku melihat masa laluku. Aku tidak jadi lapar dan malu jika harus masuk ke warung. Lalu, kuberikan uangku pada pengemis cilik di perempatan jalan. Aku tak jadi batal puasa...."

Aku pikir, dia tak serius. Apalagi, dia kerap berbohong kepadaku. Tapi saat kutatap wajahnya, aku tahu ia tak bohong. Selama ini tak pernah kudengar ia mengeluh dari lapar. Kala aku mengais-ngais cerita yang pernah aku dengar, aku sadar jika dia ternyata jarang makan. Lima hari selama tinggal di rumah budhenya, bahkan dia kerap kali tak makan sahur.

Aku menatap wajahnya. Aku sadar kalau wajahnya nyaris tak dipenuhi gundukan lemak, mirip selongsong topeng yang nyaris tanpa daging. Wajahnya seperti sudah kenyang dari derita, diterpa oleh kemiskinan bertahun-tahun. Dan di bulan puasa ini, aku sadar. Ia ternyata sudah bertaubat.

Senin, 24 Agustus 2009

Senja ini Masih Merindumu




Lembayung merah menghias ufuk barat senja ini
tertatih menyusup perlahan ke balik kelam
sepoi angin pesisir ingatkan pada kenangan

deret rel tertata rapi membujur
semakin jauh semakin menyempit hingga titik nadir
kabut tipis mempercepat kelam diantara
teriak kanak kanak berlarian menanti bedug senja ini

ramadhan ke empat aku terpekur tatap senja
di rel ini aku menanti
di rel ini aku sendiri
nikmati kebesaran Illahi saat mentari keperaduan

semburat merah pun makin menghilang
seiring raungan sirine tanda magrib telah tiba
aku melangkah sibak kabut senja
dalam buai angin pesisir senja ini
ramadhan ke empat aku masih saja merindumu

Minggu, 23 Agustus 2009

Seiring Azan Subuh Ramadhan hari Kedua

Malam belum lelap betul hari ini
tak terasa pagi telah buka mata
beduk bertalu membuka korneaku

masih terasa keringat mengucur
pengap dan berhimpitan saat tarawih berlangsung
kini sepiring nasi telah menanti
saat terindah di pagi bulan ramadhan

dingin pesisir iringi sahurku
biduk masih terpekur dalam purba
tak pedulikan riak-riak berisik
sirine pun melengking tanda imsak tiba

adakah kau di sana
diantara pagi dan dingin ini
kerinduan kembali menyeruak
seiring azan subuh di hari kedua ramadhan ini

Jumat, 21 Agustus 2009

SAJAK DI AKHIR SYA'BAN




SEIRING TERBENAM MENTARI DI AKHIR SYA’BAN,
SEMBURAT MERAH PUN TERURAI SAMBUT KELAM
SYA'BAN PUN BERLALU BERSAMA RIAK DI PESISIR
BIDUK TENGADAH BAK TELAPAK MEMOHON


RAMADHAN PUN TERBUKA
SEGALA BERKAH SEMOGA TERCURAH
SEGALA KHILAF TERHAPUS
DAN SEGALA RAHMAT BAROKAH BUAT KITA


AKU TULIS INI SEBAGAI GANTI JABAT TANGAN,
MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKHILAFAN.
MARHABAN YA RAMADHAN

Senin, 17 Agustus 2009

Sajak Anak Muda dan Kemerdekaan

Nyalang matanya menatap gedung penuh warna lampu,
iklan yang nyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,
dihapus dari kejujuran kata,
sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia

Anak muda sangsi hidupnya,
mengeja nasionalisme yang sekarat diterpa badai globalisasi.
Anak muda menangis memanggil ibu pertiwi.
Di hari kemerdekaan.
Yang ada hanya upacara.
Pesta. Merayakan hari-hari amnesia.

Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan?
Mengingat proklamasi Soekarno-Hatta.
Atau ledakan meriam 10 Nopember 1945.
Atau menghitung gedung-gedung mewah yang menggusur perkampungan kumuh!
Sementara mantera itu...
Menggerakkan seluruh sendi untuk terus bergerak,
bergerak, bergerak...

Pembangunan! beri aku pengorbanan,
barang selaut dua laut airmata darahmu.
barang sepetak dua petak tanahmu,
barang satu dua nyawamu

Anak muda merah matanya memandang langit:
"Adakah bahagia di sana, dalam belaian tangan-tangan malaikat.
Yang akan mengangkataku dari kekumuhan ini.
Dari keraguan memandang masa depan".

Ia bergerak dalam lautan massa.
Dalam gelora yang sama. Kata-kata menjadi generik.
Kata-kata menjadi ilusi yang menakutkan:
Penuh wajah garang dan kokangan senjata!

Sementara televisi menawarkan bahasa baru.
Menawarkan mimpi-mimpi baru:
dunia adalah perkampungan besar...
Anak muda menatap hidup penuh kabut:
"Adakah arti kemerdekaan bagiku.,
Yang tak pernah merasa merdeka.
Dari belitan sejarah.
Dan cengkraman kehidupan yang semakin sulit".

Bendera berkibar"Indonesia Raya"Indonesia Raya.
Adakah kau dengar kata-kataku ini.
Menawarkan cerita penuh luka.
Anak-anak sejarah kebingungan menatap cuaca
"Anak muda menatap Indonesia raya:"Merdeka?"


aku pinjam catatan sejarah Kang Nanang S
Malang, Agustus 1995

Minggu, 16 Agustus 2009

Berkelebat Bayang di Malam Kemerdekaan

Bayang mimpi berkelebat melintasi batas
Mengajak angan mengarungi kembali memori
Bangkitkan rasaku
Untuk sekedar bisa bertemu dengan bayangmu

Telah tersulam kebahagiaan penuh benang emas
Tiada yang paham makna kain tersebut
Dibalik semua warna
Tiada yang tahu apa sebenarnya

Sekarang,
Segalanya terasa damai dan menyenangkan
Tapi aku tak pernah menyadari
Sebuah luka tlah tergores perlahan
Senyum dan tatapanmu meyakinkan
Mengajakku bersukacita

Memimpikanmu adalah kenisbian
Aku masih berharap ada di dekatmu
seperti sabit di malam kemerdekaan ini
Meskipun temaram tapi tetap bersinar
Semua tentangmu akan abadi

Jumat, 14 Agustus 2009

Semarak dan Semangat HUT RI di SMA N 1 Boja














































Tahun ini peringatan HUT RI ke 64 benar-benar beda dari tahun-tahun sebelumnya. Semua pihak benar-benar larut dalam suasana yang heroik, bukan masalah menang kalah, tetapi kekompakan, semangat dan kemeriahanlah yang menjadi tolak ukur kesuksesan peringatan kali ini. Mengambil tema "Dengan Semangat Kemerdekaan RI Tingkatkan Kesatuan, Kekompakan dalam Kinerja Mendidik Anak Bangsa". Lomba beregu sengaja dilaksanakan guna membina kekompakan dan kerjamasama team work. Seluruh warga sekolah menyemarakkan kegiatan ini, Kepala sekolah, Guru, karyawan serta siswa . Lomba tersebut meliputi estafet belut, estafet karung, makan kerupuk, estafet karet, dan panjat batang pisang. itulah moment-moment menarik yang dapat terekam dalam gambar. Hari ini juga masih akan berlangsung lomba2 lanjutan yang pada hari kemarin belum terselesaikan serta besok pagi semarak panggung kemerdekaan diisi pentas seni seluruh siswa dan guru.Bersamaan dengan panggung kemerdekaan di laksanakan juga Donor Darah di Hall SMA N 1 Boja sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.













Rabu, 12 Agustus 2009

Sembunyikah Kau di Balik Awan

aku tertegun menatap keybord
layar monitor menunggu aku tuliskan sesuatu
tapi aku hanya tertegun

sementara langit temaram dalam kedukaan
mendung tlah sembunyikan rembulanku
entah kapan aku bisa menemukannya lagi
esok malam,
ahhh kelak pasti kan ada jawabnya

sepi purba tlah naungi cakrawala
kembali kutatap langit
siapa tahu kau muncul tersenyum
menyembul dari balik awan

tapi kembali gelap
kembali kelam yang aku pandang
segelintir mimpi pun tlah tertata
walau sedetik ingin aku kembali menatapmu

biarlah keyboard dan monitorku
mencatat kegalauanku
saat rembulan sembunyi di balik awan
entah kapan rembulan kan kembali bisa kutatap

kaliwungu, 12 Agust 2009

Senin, 10 Agustus 2009

SMA N 1 Boja Kembali Pertahankan Juara Umum Olimpiade Seni dan Budaya








Sabtu 8 Agustus 2009 yang lalu, SMA N 1 Boja mengikuti olimpiade seni dan budaya yang diadakan STIKES Kendal. Cabang yang dilombakan meliputi 6 jenis yaitu baca Puisi, Pertolongan Pertama, LCC saint dan umum, Debat Argumen, Speech Contets, dan Tari Tradisonal.
SMA N 1 Boja sebagai juara bertahan memiliki beban yang lebih di banding peserta lain. setelah di mulai perlombaan satu persatu mulai kelihatan tim tim yang masuk final dan menentukan siapa pemenangnya. Dari enam cabang SMA N 1 Boja berhasil menyapu rata semua event dengan 3 emas, 2 perak dan 1 perunggu rinciannya Puisi sebagai juara I, Speech contest juara I,Tari Tradisional juara I, LCC sebagai juara II, Pertolongan Pertama sebagai juara II dan Debat Argumen juara III.

Kamis, 06 Agustus 2009

Purnama Meredup Di Pesisir

Senja temaram dalam kebisuan
selimut jingga pun tersingkap dalam kelam
aku tertatih merayap dalam kedukaan
menyisir jalanan berkelok tembus rimbunan belukar

terhampar kerinduan diantara ranting kering
hembus angin hempaskan kantukku
aroma pesisir menyeruak
riak gelombang membisik menyusup perlahan

kutatap cakrawala di ufuk timur
purnama tersembul dalam kepucatan
menebal hitam berarak selimuti purnama

Entah apa yang berkecamuk
aku tertunduk
aku membisu
hingga purnama pun meredup
dalam bisik kerinduan pesisir

Senin, 03 Agustus 2009

Buai Angin Pesisir awal Agustus

Dalam buai angin pesisir awal bulan Agustus
Ku tata kata tiap frasa dalam genggammu
Senja terjalin menuju rindu yang gagal kusembunyikan
Kutitip kata pada rembulan separuh meredup dalam bayangmu
sementara bintang membentuk tetris yang siap ku tata

Dalam buai angin pesisir awal bulan Agustus
ku pilih kata menjadi kalimat berbait rasa
membakar air pucat bercahaya memancar pekat
Ku rangkai kata yang terjungkal dalam hampa rasa pada embunmu
Embun yang setia menetes torehkan air kesejukan
Ku pilih kata. Ku eja rasa. Tak habis kupangkas kata.
Hingga sekelompok kata berbalut rasa memaksaku membentuk sajak

sementara wajahmu membayang bersama
buai angin pesisir awal bulan Agustus ini

Rabu, 29 Juli 2009

Senja di Lobi Garden Ussu

Di lobi Garden Ussu menatap pangrango kala senja hari itu
langit Cisarua mengajak bercerita tentang rindu dan cinta
aku pun kembali menepi pada tiap makna sajak
seiring denting waktu memburu kelam
saat engkau berlayar di tiap jengkal resah dalam hatiku

Hati mengembara melayang membisik pada angin gunung
larut bersama indahnya semesta
pada hamparan tingkap tingkap perbukitan hijau
yang tak lagi ranum ternoda villa dan hotel
hingga menggapai kaki langit

dingin semakin menusuk
kusampaikan rindu pada kelelawar yang mulai berkelepak
mengangkasa tak bosan melepas rindu pada malam
mematunglah aku di lobi Garden Ussu
memandang bayang wajahmu di senja kala itu

aku rasakan kau semakin dekat
bahkan lebih dekat dan membatu di korneaku

Cisarua, 25 Juli 2009

Rabu, 22 Juli 2009

Sajak Purnama Rapuh Terlukis dalam Cermin

Kau tak akan pernah mengerti
ketika kutitipkan rasa pada kupu-kupu yang bersemayam di hatimu
hingga membuat bibirku ingin mengecup pipi ranummu
rindu pun menjelma sajak bergulungan dalam ruang hatiku

di lingkar mataku kau adalah pelabuhan rindu
setumpuk rasa ini telah kusulam menjadi sepasang baju untukmu
menyebut namamu bak gemuruh ombak yang kubaca dari getar bibirmu

ada yang tak tereja dengan sempurna ketika kau panggil namaku
tapi mungkin kau takkan pernah tahu

sajak purnama tlah rapuh terlukis dalam cermin
menjelma bayang bayang retak
tapi nafas ini masih sempurna
berhembus dan berdetak merajut namamu

masih saja harum terselip sepi
pelita asa menyala hidup dan mati
tetap menyala dalam buaian pesisir
di antara sajak-sajak satir

Minggu, 19 Juli 2009

Ingin Rasanya Aku Menjadi Malam

Ingin rasanya aku menjadi malam
setiap hari di deret kalander bisu ini
Agar mampu datangi tidurmu
Menemanimu tanpa gaduh
kecup keningmu hingga kau lelap
Lalu kumasuki mimpimu yang tlah ber alur
Kan ku apresiasi adakah aku dimimpimu

Ingin rasanya aku menjadi malam
setiap hari di deret kalander bisu ini
Kan kurangkai cahaya purnama walau sabit baru tersenyum
Ku sunting dalam guratan kelopak matamu
Agar cahaya asa terpancar disana
hingga keraguanmu sirna

Ku ingin pinjam bahumu sejenak saja
tuk sekedar bersandar dari lelah di mimpimu
jangan kau tanya mengapa, apalagi bicara tentang rasa
kau tak akan mengerti secuil hati ini tlah kau bawa
semua kata tanya dan cerita kadang hanya sia-sia saja
bila tak mampu kau maknai
tersentak aku kala bibir basahmu tlah hangatkan pipiku
kuterjaga dan melayang
malam bagai purnama walau sabit baru menghias cakrawala

aku pun melangkah, sesaat
Karna secuil mentari tlah usirku di muara malam
Hanya rasa membekas yang kan mengingatmu
Merasa bahwa aku pernah ada di sudut korneamu
dan di setiap bagian hatimu

Kamis, 16 Juli 2009

Bulan Sabit Masih Setia

saat sang jantan bercakap dengan mentari
bulan sabit beringsut dalam kelelahan,
setelah semalam mengusir kabut dan awan
yang semakin menyuramkan perasaan

angin pun berhembus menyibak tirai dengan hangatnya
seonggok kenangan terpuruk di sudut jiwa,
engkau tahu kerinduan ini mulai menguras rasa perih

mungkin kau mampu menawarkannya
tiap kali kurasa torehan kenangan di dada
sebanyak rasa yang kuhembuskan
bersama asa yang semakin lelah

bulan sabit enggan beranjak dari tempatnya
bahkan ketika mentari menampakkan cengkeramannya
bulan sabit masih setia mendengar kesedihan ini

Rabu, 15 Juli 2009

Di Pesisir Ini Kembali Aku Berbagi

senja masih saja meniti lembayung merah
kelamnya lukisan cintaku pun tertoreh diujung cakrawala
terombang-ambing bersama biduk dalam gelombang rindu

perlahan kelam tampar senja hingga tengelam di ujung samudra
aku terpekur diantara bebatuan berteman riak-riak berbusa
alunan azan semayub bersama semilir angin pesisir
menggugah lamunan biru

wajahmu membayang bersama kenangan
selalu kucoba untuk melupakan
tapi selalu saja kau datang menjelma
merangkai memori dan sajak-sajak yang t'lah tertoreh

cericit kelelawar ramaikan senja itu
hiruk pikuk dan derit sepeda tua tertatih, terseok dalam kendali
seraut wajah penuh pengharapan
dalam segulung mimpi bersama keranjang ikan

aku hanya bisa tengadah
kembali kurangkai wajahmu
sketsa yang tlah hilang,
terbentang bersama bintang
di pesisir senja ini kembali aku berbagi

Dalam Debur Pantai Ngebum,
15 Juli 2009

Sabtu, 11 Juli 2009

Dimanakah Kau Bersembunyi

masih terngiang kala senja melangkah
menyusuri jejak purnama semalam
bayang kabut sore ini pun menggumpal,
gelap mencekam dan berarak menghitam
menunggu detik per menit berlalu tanpa bayangmu

pesisir bisu dingin dan beku
biduk tertambat di ujung bambu,
diam diterjang riak yang terus berdebur

pesisir tetap setia menanti walau tahu
hidup bergulir musim menjadi butiran debu
hingga sekelebat awan berayun di angkasa
melahirkan kapas-kapas dalam dada
menyesak
menjejal
asa pun membabi buta

kutertatih memecah buih rasa dalam kawah kerinduan
di manakah kau bersembunyi
di balik cakrawalakah kau berselendang kabut
atau di haribaan belantara dan gunung
dimanakah kau bersembunyi
dipesisir ini aku masih merindumu

Jumat, 10 Juli 2009

Bias Awan Tampar Aku ke Sudut Cakrawala

Kulari dari tatap mimpi-mimpiku
Kubiarkan mengalir tiap kenangan purnama di muara ini,
biarkan riaknya membawa kisah ini pergi.
Biarkan sejuk angin pesisir biaskan bayangmu.
Biarlah lukisan wajahmu indah di tiap gelombang pesisir
dan biarkan langit menabur senyum pada raut bayangmu.
Di korneamu kulihat wajahku, dalam aku tatap
tak ingin lepas menatap wajahku di teduh korneamu
aku melihat tubuhku menari-nari, tersenyum dan terlena

kini aku tak lagi melihat wajahku di teduh korneamu
meski mataku dan matamu saling bertatapan dalam angan dan mimpi
seraut roman tak dapat kutatap
Kini aku tergagap bawa namamu ke ujung langit,
Bias awan semakin menamparku di sudut cakrawala
aku hanyalah Majnun dengan syair dan sajak kala menyapamu.
Sungguh tak pantas mengharap Laila berkelana membawa sekeranjang mimpi

Aku ingin suatu pagi terbangun dengan mimpi baru
Tuk membuatku berpijak.
Tapi kembali namamu menyapa pelan dari kotak memori
bersama Kisah dongeng putri dan pangeran
berarak bait sajak pun
takkan kembalikan purnama rengkuh pesisir

Kamis, 09 Juli 2009

Masihkah Aku di Ujung Korneamu


goresan kata kelu dan puisi pun membisu
membalut jejak di ujung korneamu
hanya tubuh menyangga renta
masihkah aku di ujung korneamu
hanya sebait sajak larut dalam asa
sampai waktu pulang merangkulku

purnama tlah berlalu
aku kembali termangu
kendati kado jiwa telah kubawa
masihkah aku di hadapan ujung korneamu

coretan takdir masihkah tertulis untuk kita bertemu
aku tidak mengerti, kegagapanku akan menjelma sajak
yang kapan saja kau baca kala waktu enggan berpadu

Senin, 06 Juli 2009

Purnama di Awal Juli

Kutulis sajak ingin kubuat jadi purnama
bait-bait kisah terangkai dalam diksi bercahaya cinta
kububuhkan kata “purnama mendekap dirimu dalam hangat”

Malam takkan lagi jaga kelam
awan berarak menuju lembah jauh dari pesisir
tinggalkan kamu dan aku, dalam pakeliran pemimpi
tiba-tiba menjelma purnama di wajahmu
Ada kehangatan purnama menerobos garis-garis rasa
saat kilau pelangi rengkuh wajahmu
Tatapanmu menyejukkan udara di ruang hatiku
sayup kudengar degup jantungmu merajut syair

Kusuguhkan rindu hangat dalam sajak
biarlah uapnya menyatu disudut hatimu
terbayang romanmu merona nodai pipi ranummu
Majnun kan tetap melangkah dengan tongkat kata-kata
Laila pun hanya tersipu dengan kerudung cinta
Tapi purnama tetap akan purnama
Walau langit tak akan sempurna

Biarkan Rasa Ini Mengalir

Bertemu dan berakhir adalah sebuah pilihan
Ketika bola mata bertemu di persinggahan terakhir
sebuah kenangan menyeruak di tiap jengkal rongga memori
rasa di hati menarik batas demi kata bebas
tanpa keyakinan semuanya jelas terbentang
di matamu dan mataku
tajam hendak membungkam awan yang berarak
dalam sebuah penantian panjang
langit tlah ucap janji pada bumi, tiada akan berakhir
sampai langit runtuh tetap dekap bumi
akankah mengakui semuanya
bisakah bebaskan keinginan yang selalu tertunda
rasa pun ingin membuncah sanubari yang selalu tertekan
biarkan rasa ini mengalir seiring penantian
Akankah majnun menyunting laila
di tengah badai cibiran dan sebuah kehormatan singgasana
kita pasti akan merasakan bersama
hingga janji di batas langit tetap ada
hadir di pesisir cakrawala

Minggu, 05 Juli 2009

Memori Bersama Kabut di Puncak Ungaran


Sore Itu 4 Juli 2009 di bawah payung kabut kami, aku dan 20 an mahasiswa yang tergabung dalam KSR IKIP PGRI Semarang melakukan satu ekspedisi ke Puncak Ungaran dalam rangka PTKK bagi anggota KSR. Setelah tiba di desa Medini kami pun mulai menapaki jalan setapak terjal dan berdebu di hamparan pohon teh. Tujuan kami adalah menuju desa Promasan atau yang dikenal oleh masyarakat dengan nama desa Candi adalah sebuah desa terakhir yang merupakan bascampe bagi para pendaki. Langit yang memayungi kami pun tampak pucat bahkan gerimis menyambut perjalanan kami. setelah 2 jam berjalan kami pun akhirnya tiba. Tepat pukul 15.05 kami pun dapat menyandarkan sejenak pungggung dan memanjakan kaki untuk mengembalikan tenaga dan nafas kami sesaat sebelumnya memburu bersama dingin lereng ungaran.

setelah sejenak istirahat dan sholat. kami lanjutkan susur Goa. sebuah Goa peninggalan penjajah jepang.
Sebuah Goa alami di bawah hamparan pohon teh dengan keadaan alami tanpa renovasi kami masuki. Gelap dan pengap pun menyambut kami. Sorotan lampu baterai pun menerangi Goa yang biasanya sunyi. Aura mistik pun membuat merinding tiap kami sorot kamar2 bekas penyiksaan bagi rakyat pada masa lalu.(dikisahkan oleh pak Pasimin salah satu penduduk asli desa Promasan) setelah 15 menit akhirnya cahaya putih terlihat begitu kami sampai di ujung Goa. alhamdulillah kami pun kembali tatap hamparan pohon teh dengan langit hitam dengan hembusan dingin yang makin menusuk pori-pori.


"Pak, jadi muncak tidak.., sudah pukul 01.30." aku pun tersentak karena memang hanya memejamkan mata sekitar 30 menit. Yah aku masih ingat, terakhir aku menguji praktik pada pukul 23.30. Setelah berusaha memejamkan mata karena dingin masih saja mengganggu mata untuk sekedar terpejam. Tepat pukul 02.00 Wib 5 Juli 2009 setelah packing dan persiapan kami pun mulai menapaki jalan terjal berbatu dan berdebu yang menanjak menuju puncak ungaran. Bulan pun terang bersinar menjelang purnama. jadi lampu alam sangat membantu kami dalam perjalanan malam itu. Pohon teh lebih tinggi dari tubuh kami dan jalan setapak yang dalam menjadikan kami seakan berjalan di bawah lorong. Setelah 30 menit berjalan kami pun tiba di pos pertama yaitu sebuah gubug beratap seng yang merupakan tempat beristirahat sejenak bagi para pendaki.


Tantangan semakin berat selepas dari pos pertama dan membuat kami termotivasi walaupun ada satu dua peserta putri yang mulai mengeluh dengan fisiknya, bahkan salah satunya mengalami kram perut.
setelah tertangani kami pun lanjutkan, kabut tebal menghalangi pandangan kami. Biasanya selepas pos pertama kami dapat melihat lautan lampu di kota bawah, ungaran, semarang, ambarawa, salatiga. Tetapi karena kabut benar2 telah menghilangkan pemandangan tersebut. Walaupun demikian perjalanan kabut yang silih berganti tetap memberikan jeda sesaat bagi mata kami untuk bisa menikmati pemandangan tersebut. Pukul 03.30 Wibkami pun tiba di pos kedua atau sebuah dataran kecil di atas batu besar. Disitulah angin kencang semakin mendinginkan tubuh kami. Akhirnya kami berada di lereng seakan di atas awan. karena jelas awan berada di bawah kami. Ttebal putih bergulungan di hamparan mata memandang, berjalan berarak tiada henti dengan jeda kilauan lampu kota dan perumahan yang silih berganti memanjakan mata kami.

Akhirnya pukul 04.12 menit seiring adzan subuh kami pun tiba di pos ketiga atau hamparan sempit di atas batu besar yang berjarak 100 meter dengan puncak uangaran.

Keadaanku sendiri dalam kondisi kurang fit karena cidera otot tungkai atas kiri setelah sembuh dua bulan lalu, serta cidera pergelangan tangan kanan setahun yang lalu tiba-tiba nyeri hebat disebabkan dingin, agak menghambat lajuku yang biasanya leader, tongkat leader pun aku serahkan ke komandan KSR dan kini aku menjadi penyapu ranjau atau penutup rombongan sebagai pengawas di akhir rombongan. Akhirnya bangunan tugu Benteng Raiders dan sebuah tiang bendera kami pandang, yang merupakan puncak tertinggi dari gunung ungaran. Allahu Akbar... sekitar 120 an pendaki telah berada di sana belum lagi yang di belakang kami. Rombongan pekalongan bahkan telah menginap sejak jumat yang lalu. Hawa dingin semakin membekukan darah kami. kami pun survive dengan menyalakan api dan tungku untuk sekedar memasak air guna mematangkan kopi, susu dan mie instan. sementara kabut semakin tebal hingga kami bersabar untuk merasakan hangatnya matahari. Awan bergulung berada di bawah kami dapat terabadikan sebagai kenangan terindah. Hampir semua mata tiba2 menatap arah timur laut saat sinar kuning keemasan mulai menodai awan. jepretan blitz pun terlihat di setiap sudut puncak dan setiap rombongan pendaki. Saat sunrise yang ditunggu pun kami nikmati saat itu. Allahhu akbar sebuah kebesaran dan keagungan Sang Pencipta kembali menggugah keimanan kami.

Setelah puas dengan pose narsis masing-masing akhirnya pukul 06.30 kami pun menuruni puncak guna menghindari jilatan matahri yang menyengat untuk kembali ke bascampe tempat kami istirahat sejenak malam tadi. Akhirnya tepat pukul 08.30 kami disambut kepulan asap nasi di atas piring dengan sayur khas "Jipang" makanan khas desa Promasan, serta segelas teh yang juga mengepulkan asap dengan bau khas daun teh alami membuat kami terasa tiada letih setelah berjalan dari pukul 02.00 s.d. 08.30. Aku pegang gelas dengan menatap puncak ungaran yang tiba2 cerah dengan rasa bersyukur puncak itu telah kami rengkuh hari ini.


Promasan 4-5 Juli 2009

sebuah catatan kecil Ekpedisi Ungaran





Jumat, 03 Juli 2009

Pada Senja Yang Mengantar Bayangmu

Pada senja yang mengantar bayangmu
pesisir terasing tanpa sepatah kata
ketika bercerita tentang ombak bisu
membawa sebilah rindu pada riaknya yang abadi

bergegas kemasi sunyi di ujung waktu
saat senyummu mencumbu aliran darah
memuncakterus saja menatap bayangmu
pada selingkar kenangan
bersama angin pesisir

terlihat bagai sebuah kegamangan
padahal bayang yang mengalir
terkadang hanya lewat sebentar di pelupuk mata
lalu melompat diantara ingatan

kisah membendung cerita lewat airmata
dan temukan kesedihan tiada terkira
bagai teriak camar yang terluka
episode hidup yang tak pernah tersambut
di rahim malam

ketika senja singgah dengan seikat janji
yang telah terkumpul sejak pertemuan itu
maka di sanalah puisiku jadi nyata
puisiku tak akan menebarkan aroma
sewangi parfum yang dijajakan supermaket
tapi puisiku, menawarkan kebahagian
sewangi parfum walau di emper toko

pejamkan mata dan tatap siluet senja
aku terus dan terus berdiri menatapmu
dalam degup rindu yang terus memburu
menyeruak dalam pelukan pesisir

Bersama Purnama Menjelang

bulan tlah cemari cakrawala
terang pun meradang
hingga kelam terbirit dalam selimut awan

dingin menusuk pori-pori
jelang purnama sempurna
kau membayang di pelupuk mata
retina membulat menggedor jiwa

akankah terengkuh jiwa
rasa yang tersembunyi menggelitik
dan selalu membangkitkan asa

purnama pun bungkam kelam
hingga terang buka tirai
tabir kerinduan
di pesisir ini dingin kudekap
bersama purnama menjelang

Rabu, 01 Juli 2009

Malam Tak Sempurna dalam Pelukan



Senja memeluk bias temaram
Mengabarkan satu perjalanan rahasia
Menceritakan sesuatu tentang kita
yang mencinta seuntai larik lembayung


senja ini, melumpuhkan lututku
terombang-ambing luka-luka jiwa,
berharap pelukan ombak menyelamatkan kerapuhan.
Aku tahu, Jika tenggelam ragaku ditelan badai,
Mutiara dibawah senja tiadalah terasa
penyebab gundah gelisah

Ah, keanehan melanda kewajaran,
menjelang senja kepedihan dan kesedihan berselimut malam
Seketika pandang mataku beralih
wajahmu tlah bawaku ke sini
tersenyum melihatku
malam tak sempurna dalam pelukan angin pesisir

Sabtu, 27 Juni 2009

Bulan pun Menggantung di Langit

Kidung mengalun iringi senyum di ujung langit
Menarik selimut kelam sang kegelapan
Senja meronta,
dibalik bayang megah
kerling bintang di atas pohon
bulan sabit pun bertengger kini

Senja berduka semakin menghujam
Segaris sabit menggantung di langit senja pesisir
Adalah senyum kekasih yang menggayutkan debar khayal
Mimpi pada bias perak di atas gelombang
Adalah cahaya rindu yang menusuk dada

Jumat, 26 Juni 2009

Barangkali Masih Ada Laut Untuk Sajakku


Riak berbusa menepi perlahan
pasir pun tetap membisu,
di tempat ini barangkali bisa kupahami sajak
Memandang gelombang biru
Pergi datang pada waktu yang telah ditentukan.

Lalu lalang ikan, kepiting, biduk, nelayan, atau seperti aku sekadar manapakkan jejak tuk menangkap isyarat lewat kata-kata.
Tak ada yang pantas ditinggalkan, juga
serpih-serpih kayu yang terdampar
Lambaian tangan dan air mata seperti
Jarum yang setia pada angka-angka,
jejak takkan terhapus sesaat
riak pun tetap merayap setubuhi pasir
seiring belai mesra angin pesisir

Barangkali masih ada laut yang mampu menampung makna sajakku. Datang, Singgah, dan pergi sampai sajakku menepi menemukan makna mendekap sunyi.


Minggu, 21 Juni 2009

Meski Gerimis telah Berhenti


Dalam genangan bayangmu
kutulis sajak ini

sambil kukenang satu ingin yang pernah melayang dalam kaki-kaki hujan yang runcing seperti kerlingan

kutulis daun teratai dengan gerimis basahi wajah
kirimkan bayangmu untuk senja
yang bergegas setubuhi malam

kau tak akan mengerti
bayangmu adalah pena
menulis kata penuh makna
kau tak akan mengerti
bayangmu selalu sisihkan sunyi

meski gerimis telah berhenti
lelah sudah menyalin kata dari rasa
bersama angin pesisir mendekap rindu

Kidung Mimpi

Jemari langit menari di antara serpihan hasrat jiwa
Kidung senyap terdengar mengalun laksana himpitan rasa
Terkungkung aku di alam mimpi
Terperosok kubangan rasa
Menjerit memanggil keabadian mimpimu
Kelakarku pun terantuk isakmu
Aku hanya bisa tertunduk nikmati kelopak matamu yang kaku
Sesekali aku berbicara dengan nurani
Hingga sentuhan rasa kembali pecahkan lamunan
Kenyataannya aku tetap disini

Retak Masih Saja Merekah



Ijinkan rangkai kata untukmu
temaram apa hamparan awan di atas sana
biarlah angin pesisir singkap tirai hatimu


jika nanti aku datang menyapa membawa seikat letih
dan rindu yang tertatih
ada harap di jejak sajak dan sisa-sisa kata
yang diam tergeletak
temaram apa hamparan awan di atas sana


biarlah angin pesisir menyapamu seperti dulu
pernah kau selipkan rasa dan sapa
di sudut jiwaku


sedang retak rasa ini masih merekah
dengan getir dalam tatapan

aku akan datang ke sana menjemput sisa senja yang telah kau simpan untukku

Sabtu, 20 Juni 2009

Award Dari Sahabat




Maafkan aku bila baru kali ini aku tampilkan awards pemberian sahabat2ku....


Inilah award yang aku terima dari pemberian mereka... makasih


mudah2an menambah saudara dalam bersilaturahim
sekali lagi makasih dan maaf baru aku pasang

Rabu, 17 Juni 2009

Telaga Itu Tak Lagi Bening

Tiap kali menatap lekat mata itu
serasa cerita meradang
tiap kali menatap telaga
riak-riak tersembunyi di balik bening mengalir makna
kucoba rangkai makna menyerupai roman

telaga itu tak lagi tenang
Tak dapat kulihat jernih kaca bergelombang
Apalagi berkaca pada air mencermati wajah duka ini

Kutatap diam-diam dalam telaga bening itu
Riak itu menyembul mengalir satu-satu
Perlahan membentuk butiran-butiran bening.
Telaga itu pun berkabut.
Rasa itu tak bernama
otakku tak sanggup menguraikan
Ada gairah di setiap langkah kaki, ringan, melayang
Bernyanyi, tersenyum riang

Semuanya menjadi abu-abu. Tak ada hitam, tak ada putih
tak dapat kubedakan
Tetapi aku semakin lara, karena rasa tiba2 semu dan nisbi
Rasa itu kembali hadir saat pertemuan tak ada
Aku marah pada waktu yang merangkak bak siput

Aku tersenyum mengingat
walau tak ada yang lucu
Mencermati wajah setiap senti dalam ingatan.
Aku tak lupa. Aku pun tak tahu apa sebabnya.
Tetapi aku tak kuasa melawan rasa.

Aku malu! Aku malu pada mereka melalui tatap mata
Aku marah pada diriku. Mengapa aku tak dapat menahan rasa.
Menyesali pertemuan ataukah perpisahan,
tapi kau membuat hariku penuh dengan rasa.
Kini aku berduka untuk sesuatu yang tak kumengerti

Racun dalam Darah

Kau tebarkan racun dalam darahku
terpuruk jiwa goyah
terpekur lara dalam gundah
detik berdenting
kucoba bersihkan
musnahkan

tiap dengus kuhembuskan
kucoba buang
semu dalam kenisbian

biarkan jarum jam melenggang bisu
di lengang bibirmu

kau layarkan bunga kertas pada lembar hatiku
Maka tuliskan saja segenap nyerimu,
lantunkan saja segenap dukamu bersama deburan darah

Sekalipun kupu-kupu tak sematkan namamu
pada kilau bintang-bintang di langit, atau
sekalipun ikan-ikan tak goreskan namamu
pada gemuruh ombak pesisir

ada setitik mendekap
tak kuasa aku singkap

Minggu, 14 Juni 2009

Kata itu Terus Menangis


Guratan kata telah sadarkan aku
untuk mendengarkan cerita tentang luka,
senyum dan getir serta rindu


Guratan kata ini begitu tau tentang aku
menggenggam hati tercercah luka dan barah
Kata itu terus menangis ketika isak memaksaku

engkau dimana ketika seluruh nafasku terkumpul
dalam jeritan meneriakkan namamu
dalam segala sedih gundah dan resahku
kau bersembunyi dalam bekapan egomu

Naskah Tak Pernah Usai Kutulis


Dari jurang rasa kulahirkan kata
Tertatih kupetik dari dasar hati
Sunyi terdengar denting
Namun masih saja…
Aku merancang sajak kelam

Mataku melukis wajah silam
Kulihat hangusnya jiwa masih mengepul api
Hingga arang jadi abu bertebaran debu
di titian pesisir ini penghabisan kudekap
Menjadi berkeping-keping tumpukan kenangan
hilang terbayang dalam penantian

ukiran sepi memahat hati
selalu tertulis dalam setiap sajak kelam
naskah tak pernah usai
hingga senja tenggelam di pesisir

Jumat, 12 Juni 2009

Saat Bulan Beringsut


Bulan beringsut
sabit pun tersenyum di layar malam
membuatku rindu purnama

ketika kau datang menyapa lamunanku
aku tak lagi merasa kesepian
Tak seperti purnama-purnama yang lalu
saat cahayanya mengecup jemariku dengan bayangmu
dan dengan tiba-tiba beranjak selepas dini hari
menampar sadarku untuk beranjak instropeksi
mungkin tiba saatku tuk bercermin

Muara embun membeku di kuncup ilalang
tersenyum menyambut kesunyian purba
beserta sajak-sajak sendu terukir di deret angka asmara
terlukis di lembar langit tersabit bulan
mengerikan memang, senyumnya, senyumku dan tawaku
seakan menjadi naif dan hampa
selepas amarah dan ketidakrelaan untuk menghadapi puisi dan prosa kehidupan.

Bulan beringsut
sabit pun tersenyum di layar malam
membuatku tak bisa lagi tertawa
bukan sendu tapi aku menunggu
datanglah kapan-kapan
dan sapalah aku dengan bahasa yang bisa aku mengerti
biar kita bisa bercakap dengan kesepian

Kamis, 11 Juni 2009

Dalam Pekat Aku Berlari

Tak kuasa lagi kutanggung gelisah
meski rindu tetap membiru
aku mengungsi darimu
Pada semburat merah senja
engkau menjadi titik bias matahari

kesadaran di penghujung hari
sebab silau aku menjauh ke gelap malam
namun engkau pun rembulan
menyelimutiku dalam geletar
Menembus pekat aku berlari
meninggalkanmu dari segala gemerlap
aku menghilang dalam sunyi
tetapi engkau menjelma sepi

Aku mengungsi darimu
bersayap ke alam mimpi
aku lelap tapi engkau pula kujumpa

Kupintal Cerita dalam Sajak

Untukmu yang masih disana.
kupintal cerita dalam sajak-sajak.
dalam hujan dan terik yang menghardikku
tapi ku masih setia, menghitung hari dalam nyeri.

menyulam mimpi dari kejauhan yang merapuh.
derita yang pecah, bahagia yang gerah.

Untukmu yang masih disana.
kupahami bulan bersenggama dalam rotasi setia.
mungkin, jenuh pun kan datang sebagai goda.
atau bimbang jelang sebagai dentang.

hanya pada kesendirian semua berawal.
dan dari kesendirian pula semua berakhir.

Kau Pungut Sekeping Hening dalam Kelambu Jiwa

Ingin kujumpa
mata yang menerbitkan rindu dalam dada
Seperti cahaya dan gerimis yang menggambar pelangi di langit harap
demikian manja gerimis menyapa.
Cahaya disela-sela.
Memendar pendar.
Mewarna di udara.

Lengkung mimpi kanak-kanak ke langit cintamu.
Biarkan bait-bait rindu menelusup dalam mimpimu.
huruf demi huruf berloncatan dari tut keyboard
terlempar menelusup jauh ke dalam dadamu.
Dalam hangat pelukmu.

O sosok yang merindu.
ingin kujumpa mata hingga tumpas rindu dendamku.
Dalam tatap matamu masih kulihat cahaya kuning keemasan,
menggoda ingatanku

hingga ribuan kata berloncatan menjelma puisi
puisi menjelma imajinasi dalam dunia kenangan,
bayangku memandang rembulan dan mengaung,
sebagai serigala, menggetarkan langit dengan jerit teramat rindu
pada kekasih di angan rapuh.

kau pungut sekeping hening dalam kelambu jiwa meronta tiada.
dan kau tanam ia dalam desah nafas memanas menderas.

Rabu, 10 Juni 2009

Sebelum Pelangi Setubuhi Langit


Langit hari itu muram
sembunyi awan di ketiak mendung
tertutup tetes satu satu di pagi buta
binatang pun membisu tanpa lagu

Tapi kupu-kupu biru terbang
diantara gerimis yang jatuh satu satu
bersama angin syahdu mewarnai sisi langit yang kelabu
tersenyumlah pada matahari yang malu
pada lembut embun genit dipucuk-pucuk rerumputan
kilaunya menyimpan kesejukan
yang boleh kau bawa tidur bila hatimu resah

sebelum pelangi setubuhi langit
maka aku cuma bisa mengumpulkan ribuan daun
yang asyik menari bersama angin
dalam bentuk jari-jari yang rapuh

Hujan pun mereda meskipun gerimis
belum bosan mengelabui senyum-senyum yang lama kutunggu
masih tersamar dibalik tetes satu satu
tampak pelangi setubuhi langit

Selasa, 09 Juni 2009

Kuikat Ilalang Untukmu


Berenang aku di lautan angin
Tertatih berpijak pada titian senja
Tangga jiwa pun meniti kata
Kata tiada makna
Makna terpatri hanya dalam rasa

Kuikat ilalang ini untukmu
Kupetik dari tepian awan
kubungkus dengan serpihan mendung
Kulilit dengan tali kembang
kupersembahkan dalam cawan cakrawala

Pada semilir senja di pesisir
semburat langit berawan dan berteriak
Menantimu angin gunung yang membeku
berselimut kabut menatap nanar pesisir
Ikatan ilalang ini sebagai tanda untukmu
Layu oleh isapan pekat dan tamparan kelam
yang tak mau memaknai
Kutitipkan ilalang ini pada rumpun bernyanyi
seiring semilir pesisir meniti mimpi yang tak pasti

Senin, 08 Juni 2009

Katakan dengan Senyummu


Senja merayap menuruni gunung berselimut awan
membias cahaya kemerahan
pekik camar tangisi bayang mentari pulang

Terbayang Kau duduk di tepian
riak busa membasuh ujung jarimu
Kau tatap camar menyusup diantara gelombang
terbelah mutiara perlahan mengalir tak terbendung
menderas membasuh ranum pipimu

Senja ini perlahan ingin kutahan
kenangan tak akan sempat berlalu
walau sekejap tak akan kulepaskan kudekap erat

Ah, senja yang kelabu, kuning dan ungu
biarkan aku sebebas camar
biarkan kutangkap pelangi di ujung langit
sedang mentari merah di sampingku
mengalirkan muara duka dan bahagia

Bercerita tanpa kata-kata
menangis tanpa airmata
langit bagaikan layar menggelar
kisah perjalanan Kau dan ombak di ketenangan pusaran

Tapi waktu tak berpihak pada angin gunung
dan angin pesisir
pada saatnya harus berpisah menemukan dunia
tersembunyi di balik kenangan
bagai kisah laela dan majnun

Katakan dengan senyummu,
diantara ombak, pesisir, gunung dan senja
akan Aku dan Kau temukan pelangi di ujung waktu

Jumat, 05 Juni 2009

Pucat Purnama


Purnama pucat tergambar di langit
dalam jerat serabut tebal menggumpal
Kilauan terejam gelap mengental

purnama pucat mematung menyendiri fana
Berkisah sendiri pada sosok kelu
pucat pasi pun temaram

purnama pucat bergantung sepenggal
Makin pucat
Makin pekat makin sirna
Berkas sisi tak pernah ada
Detik maut menderunya
Redup itu tertutup
Tanpa sesalnya pada temaram

Meradang Luka Kala Purnama

pada gadis di bingkai jendela
kau sibak ketenangan hakiki
menjelma desis angin pesisir pekat
Kini matamu sayu di kumparan ombak
begitu kudengungkan bekumu pada selaput kabut

pada gadis di gelas minumanku,
meja perjamuan hidangkan angin lalu
yang berubah surut pada lautmu

pada gadis dibingkai kenangan
angin pesisir tlah sesaat menyatu dengan angin gunung
dalam cakrawala biru yang tak sepi
riak-riak kecil membasuh biru pantai
menebar karpet dalam buaian kepiting laut


pada gadis yang menunduk diatas biduk
angin pesisir hanya memandang
buih luka menjelma lara
bersemayam kala purnama meradang

Hujan Petang Hari Ini


Hujan petang tampar semburat merah
Menjelma pelangi dipelupuk mata
Membuka ingatan angin pesisir
tentang jerit dingin dinding putih
menjelma siluet di atas pasir
pasrah terserak panas
lalu dingin


Suara dedaunan menyimpan begitu banyak
Huruf-huruf sunyi dan memahat pelangi
Diantara ombak dan gelombang
Dari pesisir ini kulihat kau berdiri…

Aku mencium bau kabut pada kata-katamu
Hingga menjelma tetes-tetes sendu
Yang membakar darah dan jantungku
Meninggalkan bara membara
membasuh waktu

Kamis, 04 Juni 2009

Rengkuh Duka


Tetes satu-satu bergelayut bening

membelah pualam ranum

bermuara di sudut bibir


merasuk menusuk

hingga bersemayam

sudut hati membisu

rengkuh duka


Isak menyeruak terserak

dalam kertas kumal

tanpa bisa ku eja
Dalam kata makna bersembunyi
lari bersama angin pesisir
peluk duka biduk yang membisu

Rabu, 03 Juni 2009

Purnama Awal Juni

Merah belum sempurna terlukis di ufuk barat
riak-riak kecil masih setia belai lembut pasir
biduk terkulai dalam kebisuan
tak perduli camar membentak-bentak

perlahan angin gunung berhembus
sesenja ini angin gunung menyapa pesisir
terhenyak aku dari lamunan
menyusup perlahan susuri tiap sendi dan
menjalar menembus pori-pori hati

tertusuk aku akan busur yang melesat
menancap dalam sudut hati
kenangan pun tersibak kembali
menyeruak dipelupuk mata

senyum sungging senja rebah
dalam buaian purnama
pekat pun tersingkap
gelap memudar

akankah purnama awal bulan juni
manjakan angin gunung
manjakan angin pesisir
dalam biduk yang membisu

Senin, 01 Juni 2009

Kemanakah Pelangi di Matamu


Mana pelangi yang dulu kau pancarkan dari matamu
Mana teduh kornea matamu yang manjakan hatiku
Mana lentik bulu dan kerdipan mesramu

kosong dan semu

biduk pun tak bergeming tanpa geliat dalam riuh dengkur ombak
angin pesisir masih berhembus sibak misteri dimatamu
seiring teriakan camar memanggil angin gunung

Aku yang Terkapar di Sorot Matamu


Aku yang kau rindukan meskipun tak mampu kau peluk
seumpama angin aku menghanyutkanmu,
menerbangkanmu ke segala rasa.
mengisi sudut tersepi saat mentari pun tak mampu menghangatkan
dan melengkapi.

Atau...ketika keriangan menjadi cerita,
terselip sedikit tanya...nyata kah kisah biru kau dan aku ?
Lihatlah setapak itu,
alangkah sulit terlewati.
Kau melihatnya disana...
seseorang menantimu untuk meraihnya.

Genggam saja buliran rindu yg sekian wktu menjerat kau dan aku.
Dekap saja...
rasakan saja...
ikuti iramanya
namamu...
namaku...
bergantian terdengar disudut terjauh
menggema, mengaliri setiap jengkal laju detak jantungku.
Kau pernah bertanya,...
Tentang pilar indah dan pohon nan rindang
tempat kakiku berpijak.
atau dahan-dahan tempat ku berayun,
tiada yg mampu menjawab tanyamu kekasih.
Tidak juga aku...

ku yang tersembunyi hanya mampu menatapmu lekat.
menyimpan sebait puisi beraroma rindu.
segudang tanya kapan ku menjadi milikmu,
sepenuh hati menyimpan sesal...
sesal karena kita terlahir tidak untuk saling melengkapi.

Boleh saja kau pergi,
karena jika lelah pun ku kan pergi.
Tidak karena cinta yg sementara...
tapi karena dia,
Aku tetap masih berharap,
disorot teduh matamu
tersimpan butiran kerinduan buatku....
Kau terus meyakinkanku,
entah
sampai dimana sesuatu
yang kita rasa
kita perturutkan.

Suara Hati
sahabatku Irmasenja
2009

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...