""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 30 Desember 2012

Agitasi Akhir Desember

Kupu-kupu terluka tertatih dalam temaram senja

"mengapa engkau tidak berkuda dengan pelana emas?"
sapa ngengat

kupu-kupu bersayap putih terpekur dalam gundah
"mengapa engkau tak lagi menyapanya!?"
pekik laron

kupu-kupu kertas itu pun luruh dalam duka,
"Ada hal yang tidak bisa kuungkap, seperti api pada kertas
tentang aku yang bertarung dengan sepi, bertarung dengan luka"

"menatap rindu yang kau ucap, selaksa tusukkan  belati  kata
hingga luka menganga"

kupu-kupu kertas membisu pada kenangan seribu luka


Kamis, 27 Desember 2012

Desah Duka

Pekat rajut malam semakin angkuh rengkuhku dalam bisu,
jika memang waktu masih beri aku kesempatan tuk selalu eja kata,
selalu saja namamu dan satu rasa yang kan kutulis dalam sajakku

Penat semakin mencumbu dalam desah duka,
ku eja kembali namamu pada malam, pada gerimis, dan pada hati
simpan segumpal rindu kupersembahkan pada suatu waktu

kusibak awan sekedar usir pucat di langit,
satu per satu kelopak langit tanggal dan menyembul wajahmu,
terangi langit sesaat, rintik cahyamu satu per satu rebah dalam pangkuanku

belum sempat kutimang cahya itu,
kupu-kupu putih rentangkan sayap bawa pergi,
seiring kunang-kunang redup temani kembali pekat bersama gerimis duka

Senin, 24 Desember 2012

Cinta Kedua Shinta (prosa kontemporer)

"Mengapa Kau bawa aku wahai raja Alengka"
"Karena kamulah titisan Dewi Widowati, garis pakem yang menjadi jodohku"

Percakapan singkat Rahwana dan Shinta saat istirahat dari perjalanan panjang menuju Alengka.
Shinta seorang perempuan yang dipakemkan cantik sebagai bangsawan lambat laun merasa hatinya ada yang baru ketika berada dalam dekapan Rahwana. Rasa bosan selama 13 tahun berada di belantara tanpa keindahan layaknya seorang putri keraton, membayang dalam angannya akan segera berada di Kerajaan dengan keindahan akan ia rasakan lagi.

Wibisono kaget ketika tahu kakaknya telah membawa Shinta seorang putri sekaligus istri ksatria Rama yang tersohor karena tidak punya tahta justru sesaat setalah pernikahannya. kstaria yang ahli memanah tetapi dipakemkan tidak memiliki kerajaan.

"Kakak, mengapa engkau menculik shinta"
"Aku tidak menculiknya, kamu tahu Shinta adalah titisan dewi Widowati yang sejatinya adalah jodohku, selain itu aku juga membebaskan Shinta dari pakem hidupnya di belantara, akan kutempatkan Shinta sesuai pakemnya sebagai putri kerajaan"
"Kakak mencintai Shinta"
"kenapa mesti kamu tanyakan hal itu, hai adikku"

Shinta menitikkan airmata ketika mendengar percakapan mereka. Shinta menerawang keluar jendela menatap belantara, berada di kamar indah dengan segala kebutuhan sudah tersedia membuat Shinta kembali menjadi putri yang dulu pernah dirasakannya.  Tidak pernah Ia mendengar pengakuan dari sosok laki-laki bahkan dari Rama, Kebahagiaan bersama Rama hanya saat pesta pernikahan setelah itu Rama ternyata bukanlah pewaris kerajaan sehingga Ia merasa dibohongi Rama.Bukan karena gila harta Shinta tidak menolak ketika dia di bawa Rahwana, Ia hanya ingin kewibaaan sebagai seorang putri, seorang perempuan yang mendapatkan kebahagiaan dari suami. Selama dalam pelarian tak sedikit pun kebahagiaan didapatnya karena mereka selalu bertiga beserta Laksmana adik iparnya.

Laksamana seorang adik yang dipakemkan menderita karena mendampingi kakaknya yang sebenarnya juga bukan kakak kandungnya karena dari selir Ayahandanya. Diam diam juga menaruh hati pada Shinta, berulangkali Laksmana menunjukkan sikap bukan sebagai seorang adik tapi sebagai seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan, hal itulah yang menjadikan shinta kuatir dan takut. Berada di tengah hutan bersama dua sosok laki-laki membuatnya tidak nyaman, maka ketika Rahwana tiba-tiba muncul menawarkan kebahagiaan padanya Shinta tidak menolak (hanya pura-pura menolak).

Senja itu kala lembayung merah memayung langit Alengka, Shinta berada di Taman Sari bersama empat dayang bercengkerama masuklah sosok putih serupa kera. Para dayang ketakutan berlarian, sementara Shinta hanya diam karena sudah terbiasa melihat hal aneh selama di belantara dulu.

"Paduka putri, hamba Hanoman suruhan paduka Rama untuk membawamu kembali"
"jangan Kau usik kebahagiaanku, kembalilah pada Ramamu, katakan aku masih suci tak tersentuh sedikit pun ragaku oleh Rahwana"
"Tapi, mengapa Paduka putri menolak kembali?"
"Pertanyaanmu hanya kan terjawab pada setiap perempuan, Hanoman"

Hanoman pun merenung sesaat sebelum akhirnya melompat kembali ke belantara, sesampai di hutan Ia pun beralih rupa yang ternyata tidak lain adalah Laksamana yang "Alih Rupa" kini Ia tahu bahwa Kakaknya Shinta hanya menginginkan kebahagiaan selain cinta dalam hidupnya. Ia pun mendengar bahwa kesucian Shinta masih seperti dulu hanya perasaan akan dirinya sebagai putri kerajaan itulah yang dicarinya.

Betapa Rama marah dan bimbang hatinya, mendengar laporan dari adiknya, Ia merenung mengapa pakem hidup yang harus dijalaninya berbeda dengan keinginannya sebagai seorang suami, sebagai seorang yang disegani harus dihina semacam ini, tidak hanya oleh Rahwana, tetapi Shinta pun telah menolak permintaannya pula.

"Kakak, bala tentara Rama telah mengepung kerajaan, kembalikanlah Shinta pada Rama Kakak"
"Wibisana aku tidak akan mengembalikan Shinta, karena Shinta adalah titisan Widowati jodohku, bagaimana denganmu, akankah berdiam diri Hai adikku?"
"Aku akan berperang, tapi bukan membela kakak atau pun membenci Rama, tapi aku berperang karena negaraku, karena tanah airku, aku tidak rela kedamaian negeriku terusik"
"berangkatlah adikku selesaikan tugas muliamu demi pakemmu sebagai kstaria"

Segala persiapan sudah dimatangkan, shinta dipindahkan ke ruang bawah tanah guna melindungi dari bahya kehancuran kerajaan.Rahwana sendiri yang mengantarnya

"Wahai raja Alengka minta maaflah pada suamiku kelak kau akan diampuni, karena aku bermimpi kau akan gugur dalam pertempuran ini."
"Wahai Shinta, surut bagiku untuk lari, sementara rakyat dan adikku sudah bertempur di sana, di luar sana. mengapa kamu tiba-tiba meminta aku untuk menyerah, dan kamu kuatir akan nyawaku?"

Tiba-tiba shinta memegang tangan Rahwana, Ia meminta Rahwana duduk dihadapannya, lalu dipegangnya pundak sang Raja.

"Aku menyentuhmu karena aku salut akan keberanianmu, aku salut akan cintamu, aku salut akan perjuanganmu, Hai Rahwana"
"T'lah aku tanggalkan sepuluh rupa titisan Ramanda Wisrawa dan Bunda Sukesi, aku takkan mengulangi kesalahan mereka, maka kuharapkan kerelaan dan keikhlasanmu wahai Shinta, lihatlah dengan nuranimu, aku bukanlah raksasa jahat yang selama ini dipakemkan, lihatlah dengan rasamu, maka akan kau temui lelaki dengan cinta dan sayang, Shinta apakah kamu juga mencintaiku?"

Shinta hanya menunduk, tetesan bening melintas seberangi ranum pipinya, kali kedua shinta menangis yaitu kala ia menikah dengan Rama, dan ini kala dia tidak bisa menjawab suara hatinya.
Rahwana tak tega melihat shinta menangis Ia pun segera keluar meninggalkan shinta.

"Hati-hatilah wahai raja Alengka"
"Aku akan kembali Shinta"

Belasan ribu balatentara siap menyerang, tinggallah dua pimpinan berhadapan di kereta kencana, Rama menitikkan airmata, begitu juga dengan Rahwana mereka tidak mengira hanya karena keinginan hati pada sosok Shinta akan membuat semuanya hilang, kewibawaan sebagai Raja, kewibaan sebagai ksatria.

"Wahai Rama, inikah keinginan pakem, bahwa mereka harus dikorbankan demi  seorang Shinta"
"Wahai Raja Alengka, begitu berhargakah shinta bagimu sehingga kau pertahankan dan korbankan rakyatmu, aku telah peringatkan sebelumnya, aku belum dan tidak pernah memberi komando untuk penyerangan ini, kembali pakem telah dibelokkan.marilah kita duduk dulu"

Mereka pun duduk semeja dalam perundingan akan berkahir seperti apakah cerita ini kelak, mereka menyadari bahwa pakem hidup dan alur cerita telah berubah karena nurani.

"Wahai dua kstaria, wahai dua lelaki yang mencintaiku, aku bangga dengan kalian, aku bangga dengan cara kalian menyeleaikan permasalahan hati"
"Shinta" keduanya berucap dan saling pandang
"Kembalilah shinta kelak kan kubawa kembali kau keistana"
"Mengapa dirimu,  dirimu yang dulu telah tiada Rama, kenapa kau bawa pasukan hanya untuk menjemputku, kenapa tidak kamu sendiri yang datang dan meminta pada Raja Alengka?"
"Shinta tak pantas kau berucap begitu" tiba-tiba Rahwana menyela
"Rama adalah suamimu, apapun yang ada dalam hatiku saat ini biarlah aku simpan biarlah aku pendam kelak pada titisan selanjutnya aku yakin kita kan menyatu, demi menebus dosa yang telah ayahanda wisrawa lakukan dan bunda sukesi alami, aku takkan mengulang kembali, aku memang mencintaimu, tapi rama lebih dahulu mengikatmu kembalilah pada suamimu"
"wahai raja alengka, kini aku menyadari kebahagiaan seorang istri kebagahiaan seorang perempuan adalah kebahagiaan hakiki yang harus dipenuhi, aku tiada mampu memberi kebahagiaan itu, dan aku tahu Shinta adalah titisan yang memang untuk kamu bukan untukku, maka aku relakan shinta wahai raja Alengka"

Shinta berlari memeluk kedua ksatria gagah dihadapannya, seluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan meletakkan senjata mereka, tetesan darah tlah berganti dengan tetesan airmata, seiring lelehan airmata shinta yang tiada dapat berbicara apapun. kedua pasukan saling berpelukan layaknya dua saudara yang lama tak bertemu, saling bersalaman dan tertawa tanpa permusuhan.

Shinta berlari meninggalkan keduanya dan menutup pintu kamr rapat-rapat, isak shinta masih terdengar, berkecamuk dalam hatinya, kebimbangan telah melandanya.Ia hanya ingin kedamaian demi menyelamatkan ribuan nyawa yang akan bertarung, Ia juga tiada dapat memutuskan harus bagaimana bersikap pada dua ksatria yang sama-sama mencintai dan rela berkorban untuknya.


@kaliwungu 24 Desember 2012

Minggu, 23 Desember 2012

Kapan Kan Menepi

Hening syahdu mengalun, perlahan  membisik suara manjamu,
kupijarkan pelangi disetiap rindu pada sayap kupu kupu putih,
mewarna silaukan hati yang berharap tergerai pelangi,
merasuk khas aroma tubuhmu dalam sukmaku

kusunting awan hitam berarak pucatkan hatiku,
redup semakin kerlip dalam pinangan kunang kunang

Kau lah Shinta dalam pewayangan
yang lelah dalam rimba perburuan cerita,
penat dalam memaknai pakem kehidupanmu

Rahwana bukanlah sosok menakutkan,
t'lah ia tanggalkan sepuluh rupa titisan wisrawa dan sukesi,
pandanglah dengan hati sucimu, kan kau lihat
sosok lelaki lembut penuh cinta

kembali kubiarkan rasa terjaga,
mengawal impian tetap sejuk dalam jalinan alur hati
entah kapan kan menepi

Selasa, 18 Desember 2012

Menggantung pada Ujung Daun

Perlahan secarik kertas kumal dan usang kubuka
rangkaian alur t'lah tertulis,
kucari namamu dalam tiap baris, tiap paragraf
tak jua kau di sana

Jejak yang tertapak menghilang dari transkrip hati
kertas lusuh kembarakan kembali aku,
halaman penuh tanda tempat persinggahan
buka kembali kenangan, penjarakan mata dan hati, tuk sekedar
ingin tahu, "masihkah kamu di sudut lain memaknai sajak-sajakku?"

mendung semakin angkuh berkendara angin
tersingkap siluet hati pada rumpang malam,
lalu muncul wajahmu, rekah diantara rimbunan perdu ilalang

irama hati berdegup seiring detak
alunkan simponi rindu bagai "kebo giro" iringi pengantin muda
menjadi suguhan di pelataran hati, membuka jejakku dan jejakmu yang lalu

Kantuk semayamkan lelah, gigilpun enggan rebah
persimpangan malam ini terlalu indah untuk kulewatkan
walau embun kerinduan  menggantung pada ujung daun
menunggu detik kan terjatuh lalu sirna kembali ke bumi
karena kau tiada lagi singkap makna embun kerinduan  ini

@ 16 desember 2013

Kamis, 13 Desember 2012

Seteguk Luka

Bening embun di pucuk daun gelisah
berharap tak jatuh pada tanah basah
disela catatan hati tentang gerimis
tentang danau di matamu
bahkan dalam sunyi rindu tak menggema lagi

merayap rasa bersenggama dengan waktu
seperti pisau dalam tiap sunyi
mengiris dan menyayat rekahkan tanah tandus
di awal musim penghujan

melata kerinduan dalam segelas embun bening
membawa seteguk luka

Kamis, 06 Desember 2012

Pada Senja di Cipayung

Mengalir kata dalam sajak
menyusuri labirin hati,
membayang simpul mungil pada ranum pipimu

menghangat dalam bayang, genggammu
ketuk lorong-lorong kerinduan


Dalam samar kabut cipayung,  mengalir kata dalam sajak,
menyusuri tiap detak,
mengalun seirama
rangkai sketsa hati

berharap pada senja di Cipayung
kan kau maknai sajak bisu tentangmu

Selasa, 04 Desember 2012

Entah Pada Apa

Senja terdekap rintik
dingin membeku sekap kantuk

senja pekat dalam balutan semu
hampa di bawah langit duka,
pada entah aku harus bercerita
tentang senja, gerimis dan kamu

Minggu, 02 Desember 2012

Menderas Kata di Ujung Hati

Pekat menggantung bulir merintik satu-satu,
menderas kata di ujung hati terangkai untukmu
menabur huruf menjadi suku kata dan kata mengabadikan detak
tiap detik tetangmu

Kau pun hadir di lereng hijau berkabut sisi barat daya gunung ungaran
meski hanya tersketsa, hadirmu sejukkan pagi di hamparan wortel memerah.

Kau membayang, membangun jembatan hati  rangkai alur
sembari menggenggam satu kata yang tak terucap pada rasa
seperti bening embun yang tiada mampu bertahan di ujung daun
menetes, menyentuh, dan meresap 

Masih saja ada kata yang tak mampu kupanjangkan,
aku tak ingin alur digresi runtuhkan jembatan hati
biarlah sajak rangkai kata, ada makna yang kan terungkap
entah kapan kau maknai bersamaku, bersama pagi,
bersama rintik menderas

Selasa, 27 November 2012

Gerimis Akhir November

Gerimis senja di preanger menuntun kata
membasah dalam rintik lahirkan  sajak tentangmu


semburat merah cakrawala di antara gedhe pangrango
getarkan hati seperti merah pada ranum pipimu
paksa aku kembali rangkai kepak-kepak kata per satu, hinggap dan sketsakan bayangmu

gerimis ini kembali genangi sudut ingatan
alirkan rindu di antara kaca jendela Preanger
melesat bagaikan syair berirama
dalam lubuk terdalam temukan dua suku kata 

berharap pada indah pundakmu, sekedar bersandar
tuk baca dan maknai sajak bersamamu

Jumat, 23 November 2012

Senja Pada Sepucuk Daun Bersajak

Senja kembali tenggelamkan aku pada luka
hentakkannya begitu menyayat menusuk
bagai rintik satu satu di awal musim ini,
terbaring rasa tanpa daya dalam selokan hati

Mimpi rebah bersandar di pundakmu, lalu
pandangi simpul pada ranum pipimu adalah ilusi hati


Berlayar aku pada lautan kata
mencari di mana koma tuk sekedar istirah
mencari di mana titik tuk sekedar peluk asa

Angin awal musim bersama rintik menderas
bekukan aku dalam nadir luka
tertawa dalam tanya tanpa jawab, mengapa?


biarlah sajakku kan menjadi matahari bagi rinduku
biarlah embun tetap menetes pada ujung daun,
biarlah rintik satu-satu pada dingin menderas
hingga pelangi kan mencerah iringi kupu-kupu putih
terbangkan makna  pada sepucuk daun bersajak

Selasa, 20 November 2012

Senja Merintik Lengang

Senja merintik lengang pada riuh yang tabuh
gemericik tanah merah bercampur air meluruh
selami indah korneamu adalah hal terindah
tiap kali kutulis dan kurangkai bayangmu, selalu
aku lihat sepasang angsa berenang berhias pelangi

Bayang tentangmu membeku tersketsa bersandar pada sayap kupu-kupu putih, bertanya selalu tanpa rasa,
terjawab sunyi pada angin kibaskan kesejukkan
aku hanya mampu duduk di tepian kolam matamu
tanpa mampu lagi berkecipak pada dingin rasa yang membuncah

Mengenang pertemuan pada senja memerah
lengang terusik riak pesisir dan kutemukan namamu
menapak pada sisa buih berkilau dalam semburat merah
entah pada persinggahan sajak ke berapa rindu berdekap



Jumat, 16 November 2012

Gerimis Pagi

Rintik satu-satu membasah
selimuti langit pilu merebah
jejakkan bayangmu pada tanah basah

sendu daun begitu rapuh melayang perlahan
teteskan aroma darah pada kenangan dan rimbun luka
redup, gersang kian menggigil dalam rintih sendu

adalah sepi pada pagi berbingkai debu
ingin kututup mata tapi nadi tak ingin berhenti

kulihat  engkau mendekap kelam
kusapa engkau sayatkan perih
kutahu engkau lelehkan mutiara
luruh dan meradang retakkan hati

seiring rintik satu-satu pada pagi
dalam gigil kabut kaki ungaran

Selasa, 13 November 2012

Ilusi Hati

Satu jam sudah berlalu dalam dingin ruang AC bandara pada senja meremang. rintik satu-satu mulai membasah di landasan. Aku merasa ada pada ruang dimensi waktu yang tiada ingin rasa ini bernaung, hingga genderang asa memudar berirama bagai simfoni pilu birukan senja membasah seperti hujan di landasn pacu. dentuman detik tiap detak melirih sendu dan syahdu.

Menatap satu per satu pesawat landing dan takeoff, bagai dirimu yang lincah, perlahan terlukis parasmu dalam sajak-sajak pelangi kala sinar membias mendung senja itu. Terpecik rasa membahana ditelinga begitu jelas dan membuat luruh tulang-tulang penyangga tubuhku.

"Benarkah Kau akan segera pergi?, akankah Kau kembali dalam ruang bersamaku pada dimensi lain?"
"Mungkin, biarkan rasa bersemi dalam ilusi hati"
"Jangan, mengapa Kau biarkan bersemi dalam ilusi hati?"
"karena detik ini kan selalu berdetak seirama berselancar dalam rongga otot mengalir keseluruh tubuh hingga tersungkur hati dalam ilusi kepalsuan"
"Lalu, haruskah aku bertengger pada sayap kupu-kupu dan terbang bersamamu?"
"biarlah semua menetes seperti embun pagi berhias pelangi"

Kembali terhempas pada kursi tunggu diruang bandara AC kian gigilkan rasa, lalu mencekam badai yang tak kunjung berkesudahan, dendangkan simfoni rasa hingga pilu pun hinggap menyapa.

"Kau tak pernah mengerti dan tak mau mengerti, jiwa-jiwa hampa luluh lantak terkikis gelombang rasa dalam siluet senja"

Landing burung besi berwarna biru membungkam prahara kenistaan, kenangan dan harapan seakan menjadi bualan, terhapus-satu per satu mendekati saat akhir di kotamu.kepedihan kian terasa menjadi lebam sedu sedan hadirkan puing-puing bersama tutur lembutmu.

Pucat langit sesaat setelah peraduan tergelar bawa rembulan tanpa cahaya mengambang di atas langit Bandara. Fatamorgana kian menggelora, sebuah nama membawa gundah menyeruak dalam hingar bingar ilusi hati. Pahit pun bagai pedang kinine yang tajam  mengharu membisu tatap samar bayangmu pada kaca ruang tunggu.

Membahana buyarkan lamunan panggilan untuk para penumpang segera menuju pesawat, melangkah perlahan tinggalkan kotamu, menari kembali kau dipelupuk mata berdendang alunkan simfoni rasa, perubahan tak akan terjadi.

Kutapaki tangga demi tangga menatap setapak yang kan kulalui, bisu beribu kata tak terucap sekelumit rasa tak mampu terungkap, kutoleh sesaat kotamu di akhir tangga, menjerit rasa menyeruak tak mampu paksa bibirku berucap satu kata.

Terhempas pada kursi biru, kembali kulayangkan pandangan keluar jendela, entah itu kamu atau siapa lambaikan tangan sesaat sebelum aku melayang dalam batas petang dan malam tinggalkan kotamu, tinggalkan ilusi hati pada fatamorgana senja.

Selasa, 06 November 2012

Lelah

Di Beranda langit hadirkan gambar buram
bersandar pada tiang
berbincang pada nyamuk, ngengat dan laron

aku yang hanya kecil
terpana pada bulan separoh mengintip pada hitam berarak
terhimpit hingga lenyap dalam senyap pekat malam

gigil kian mencengkeram memungut kantuk terselip
pada sehelai angin.


Jumat, 02 November 2012

Senyum itu Meranum pada Ilalang Gersang

Membayangkan simpul di pipimu adalah hal terindah
seperti senja lalu,
kugembalakan rindu pada jejak jiwa di tengah ilalang
senyum itu meranum pada ilalang gersang
percikkan api pada angin membara dan membiru
di malam bulan separoh

menatap simpul dipipimu adalah puisi terindah
semakin menggenang pada ranting, rahasiakan rintik satu-satu
menelusup kata di tiap angan persembahkan rindu pada malam


Rabu, 31 Oktober 2012

Purnama Langit Pasuruan


Bergelut mendung terbirit pada malam yang biru
aku akan biarkan malam tanpa kisah andai purnama tak menembang
aku paksakan mengerti daripada berandai tentang diammu
ribuan kali kuketuk berkali pula kau tusuk

ini entah kali keberapa wajahmu menjenguk, menunduk merenda cahaya menyingkap kisah lama di bawah purnama langit pasuruan
aku ingin sekali masuk pada ruang itu, ingin kubuka cerita itu
kuhapus luka-luka dan kurangkai kalimat baru agar kembali menyatu

bergelut mendung terbirit pada malam yang biru
bahkan purnama tak pernah nikmati cahayanya sendiri
yang aku sembunyikan di setiap relung, kusimpan dan kujaga

ingin kuajak kau duduk di sini, di bawah purnama
lalu kubacakan kembali cerita itu,
agar kau mengerti cerita itu telah kuperbaiki
 Pasuruan, 31 Oktober 2012

Senin, 29 Oktober 2012

Bergelayut pada Reranting Rapuh

Selembar daun keraguan kembali mengering dan
bergelayut pada reranting rapuh
pagi merangkak perlahan diiringi kicau menyayat
memori tumpah meleleh di sudut hati

gurat kenangan kembali menggenang pada kolam luka
tersaji sajak dalam doa bagai tembang lirih menghiba

Sabtu, 27 Oktober 2012

Berharap pada Senja yang Sama

Kembali hening senja hadirkan parasmu
lamunan berujung pada kerinduan

kutatap bayang dicermin dan kau tiada di sana
disudut korneaku, tiada lagi senyum itu, entah

geliat membuncah bergumul bersama mendung mengulum senja
luruh panjang mendekap gigil di pucuk rantingkegelisahan

kudekap rindu berharap kau berpaling pada senja yang sama
menebar pandang  walau tak pernah temukan makna

Minggu, 21 Oktober 2012

Lukisan Lalu

Tatap lukisan lalu berbingkai sajak hati
diammu membisu,
pandangan kosong tanpa makna
tak lagi kulihat aku terlukis dalam korneamu

relung terasa sepi
tipis kabut silaukan tatapanmu
menyerbu rasa tiba-tiba, teriakkan ketidakmengertian ini
kau angkuh dengan sejuta pertanyaan
tidak percaya itu adalah lukisan lalu
akankah panjang  perhentian tanpa sapa ini

Jumat, 19 Oktober 2012

Pada pertengahan Oktober

Terbang sesaat bersandar pada sayap kupu-kupu putih
singgah pada pucuk benangsari yang pernah terlewati
menunduk layu tiada sapa, 
retak sayap hempaskan sekotak kenangan
menguap bersama rinai satu-satu, merintik
pada pertengahan Oktober

Selasa, 16 Oktober 2012

Tetes Bening pada Ujung Daun

Tetes bening pada ujung daun perlahan bergelayut
ceritakan tentang sajak angin yang tak tersampaikan
terngiang sapa gemulai lembutmu,
wangi dan harum menelusup dalam pori-pori hati

kuhidangkan perjamuan hati
pada perhelatan singkat suatu saat nanti

berharap tetes bening pada ujung daun
kembali sejukkan
sajak rindu yang meradang

Rabu, 10 Oktober 2012

Kucium Hangat Mendung

Kucium hangat mendung
berharap singkap gelap dalam sentuhan dingin malam
mendung masih berarak di langit Jakarta
di atas tugu proklamasi bulan sabit mengintip dan sembunyi

tenggelam jagat hentikan langkah
menghampar bisu bebaskan jiwa
dari kefanaan dunia

kucium hangat mendung
berharap singkap gelap agar kau menjelma
seperti lengkung emas terpahat abadi pada ranum pipimu

ah hangat mendung masih saja berarak
sembunyikan lengkung itu
kuharap pundakmu rindukan sandaran sajakku

Sabtu, 06 Oktober 2012

Pada Gerimis Senja Awal Oktober

Pandang sayu pada gerimis membadai menjelang senja
adalah dongeng lama yang hadirkan cerita lalu
aku berenang dalam korneamu ditiap rintik satu-satu

tut tut keyboard berirama iringi detik yang berdetak
pada dinding bisu abadikan masa lalu

Kau bukanlah igau bagiku tapi kau adalah irama
menderas seiring waktu
ciptakan nada bersama gemericik, sergap senyum
hadirkan  belahan indah pada ranum pipimu

Ah gerimis
hujan
selalu hadirkan yang lalu
hingga sajak kembli hadirkan cerita baru

Selasa, 02 Oktober 2012

Masih Kusimpan Catatan Itu

Masih saja kusimpan catatan itu
pada sebuah ruang bernama kenangan

kenangan yang selalu menyala bila larut tlah tiba
bagai lampu di kota tua yang teronggok bisu
walau tiada lagi kau sentuh tuk menyalakannya





Minggu, 30 September 2012

Purnama Akhir September

Purnama terangi catatan usang
dibalik rimbun jati, sinar itu
tak jua teduhkan kemarau rindu

bersandar pada dingin pandang cahaya memanjang dan menghilang
mencari sesuatu, mencari masa lalu
dan kau pun tiada lagi disana

Senin, 24 September 2012

Masihkah Ada Rindu dalam Rasamu

Memandang lalu lalang dari jendela preanger
perlahan dingin merayap di semak-semak malam
sembunyikan luka diantara rimbun kesedihan

engkau yang berdiam di setiap makna keterasinganku
lalu, kutuliskan rindu pada pekat berharap hangatkan
di tiap lembar daun jendela yang kusapa lirih sebut namamu

kembali berkelana dihimpit waktu, pada
persemayaman rindu
Tapi kesunyian selalu datang, inikah
makna rindu dalam rasamu

kucumbui angin kucumbu dingin
penjarakan bayangmu
Bayangan pucat pudar berpendar
seperti awan berarak tanpa hangat sapamu

Selasa, 18 September 2012

Batik Hati Kian Pudar

Menyayat pada sekeping hati
berjalan mainkan instrumen rindu
satukan sketsa pecah berserak tanpa terlukis wajah
keping-keping itu berlari tinggalkan pigura hati
tertawa dan semakin menjauh

rangkaian bunga pada kain putih itu tlah terputus
ikatan-ikatan canting pada lilin pun memudar
batik hati terkulai rebah membuncah asa
tungku tlah mati tiada menghangatkan, beku

aku merasakan dengan sekeping hati
tetesan hangat malam tak lagi meniti 
tiupan lembut pada canting kerinduan tak lagi terdengar
terkulai kain putih membisu hiasi sajakku



Minggu, 16 September 2012

Catatan Bisu penuh Luka

Tak lelah pandangi potretmu
masih terasa percikan dari korneamu menembus rasa
tapi kembali luka yang tercipta

berlari aku dari catatan kita tapi selalu saja
bait-bait rasa itu bagai puzzle waktu
selalu hadir dan iringi helaan nafasku

hari yang indah dengan detik berdetak ternoda luka
luka yang bernama itu kian lama kian akut
hingga ingin kupinjam bahumu tuk sekedar bersandar

akankah lukisan itu kan luntur oleh waktu
akankah sajak-sajak ini kan memudar tanpa kau maknai

percik itu kembali menyala tiap kucoba sembuhkan luka
hingga terpekur dalam kegundahan kucatat dalam sajak bisu

goresan itu terlalu dalam mengakar membuat setapak
semakin jelas pernah kita lalui

pelangi senja takkan hadir tanpa gerimis sapamu
ingin berlari tinggalkan catatan lalu, tapi tangan ini
selalu saja goreskan catatan bisu  penuh luka tanpa kau mengerti

Jumat, 14 September 2012

Dari Sudut Jendela Preanger

Dingin kota kembang masih saja angkuh di ujung malam
pandangi lengang jalanan  dari sudut jendela preanger
entah mengapa aku tiba-tiba ingin mengusirmu dari sajakku
entah mengapa aku begitu ingin karena kamu tak pernah mampu maknai sajakku

Sejenak aku ingin berhenti ungkap kata yang selalu imajikan kamu
tentang dirimu yang tak lagi maknai senja-senja lalu
tentang dirimu yang tak lagi sapa hari-hariku

Pucat masih saja pekat berarak di langit kota kembang
aku t'lah baca pesan yang kamu sampaikan lewat detik-detik waktu,
kepompong tidak lagi bergeliat tuk sekedar bergerak,
kupu-kupu putih tidak lagi kepakkan sayap tuk sekedar hinggap,
apalagi aku rebah di sayap indahmu, susuri waktu yang lalu

Untaian senyum itu tak lagi mampu kutahan,
memudar perlahan menyublim dalam semu hari-hariku
tertegun aku di sudut jendela preanger pandangi lengang jalan,
entah mengapa pada akhirnya aku belum berhenti menulis tentang kamu

Selasa, 11 September 2012

Ah, hanya Mungkin..

Mungkin kamu sudah tidak lagi mengingatku
tapi aku masih temukan kamu dalam auraku
kamu menari, tersenyum meniupkan aroma luka

Mungkin kamu sudah tidak lagi mengingatku
tapi aku masih saja mengenangmu terapung di atas biduk lukaku
diantara kerinduan yang tak bertepi

Mungkin kamu sudah tidak lagi mengenalku
tapi aku masih selalu susuri setapak yang pernah kau lewati
dari rangkaian senyum yang pernah kau titipkan di bibir dan dekik pipimu

Mungkin kamu benar-benar t'lah ingin melupakanku
tapi aku masih menanti sapamu
dari sebuah perjalanan yang pernah tersajak

Jumat, 07 September 2012

Ingin Aku Eja Kembali di Ujung Senja

Kulepas kata dalam sajak hingga terbait makna
melangit cakrawala berpendar merasuk sukma
sejuk berpayung awan berselimut kabut, memucat
menghempas serpihan-serpihan duka

Beribu makna t'lah kau baca
rasa t'lah mati dalam beku egomu
aku punguti makna dari kata yang kutulis
ingin aku eja kembali di ujung senja

Bergelayut manja angin bersulamkan rindu
nada tiada lagi merdu iringi langkahku
sayap itu semakin rapuh tuk terbangkan kupu-kupu putih
hingga aku tak mungkin rebah dibahumu

Kulepas kata dalam sajak hingga terbait makna
kupu-kupu takkan menelusup dalam kepompong
tuk sembunyikan kata untukmu
biarlah kembali kuambil, kurangkai walau duka selalu iringi sajakku

Rabu, 05 September 2012

Kau Bersandar dalam Sajakku


Aku benar-benar temukan sesuatu pada rimbun bulu matamu,
sejukkan tiap detik jantungku

Aku benar-benar temukan sesuatu hadir ditiap kata yang kau lontarkan,
bersama senyum dan simpul di pipi ranummu

Aku benar-benar tak mampu bendung kata kangen di tiap jauh darimu,
hingga keranjang rindu telah bertumpuk untukmu

Aku benar-benar ingin luka rindu berakhir,
bersama senyum sirnakan duka di bahuku

Aku benar-benar ingin kau bagai rintik satu-satu
tetaplah bersandar agar aku tulis sajak rindu untukmu 
 

Selasa, 04 September 2012

Jubah Musim Berlalu


Mimpikan sebatang pohon rindang di padang kemarau zaman
menggelantung bunga bersama prenjak bersarang di teduh daunmu
metamorfosis kehidupan kan berjalan lalui waktu

bersama angin aku sibak perlahan hatimu
merapat pada cabang ranting dan daun tuk sentuh mimpiku
hingga waktu tanggalkan jubah musim berlalu

hanya pada langkah dan jalin jemarimu
kutahu di kedua matamu sekelebat kasih memudar
sesakkan dada di setiap musim dan mimpi-mimpiku

Sabtu, 01 September 2012

Rindu dan Luka

Kerinduan adalah luka
kembali luka pada asa itu menganga
Luka berselimut sutera
mimpi rebah di atas sayap kupu-kupu
berpendar di sapu angin prahara hati

kerinduan adalah luka
ego butakan hatimu
kau lupakan logika 
emosi kau selubungkan pada catatan indah itu
Kerinduan adalah luka
pada entah kini berharap
pada entah kini menatap
pada rindu berharap luka membiru
 

Minggu, 19 Agustus 2012

"Kak, Tisna Pengen Lebaran"

Angin masih saja dingin menusuk pori-pori, malam ini tidak seperti malam sebelumnya. Padat Lalu lintas semakin menjadi. Ini malam ke 28 Ramadhan puncak pemudik mulai memasuki wilayahku. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku piket di posko lebaran.

Lengang tak pernah hadir sedikit pun dari deretan dan sorotan lampu mobil dan motor serta klaskson pembagian tim pun dilaksanakan, satu tim menuju ke stasiun weleri dan satu tim tetap standby di Posko PMI.

"Kak kami berangkat dulu, semangat pagi!!!"
"Okey Semangat pagi selamat bertugas!!"

Mereka pun berlalu meninggalkan kami di posko, serombongan dengan ambulace perlahan tinggalkan PMI. Sesaat kuingat senyum mereka dengan penuh semangat wajah-wajah remaja yang meluangkan waktu demi kemanusiaan. Sangatlah membanggakan diantara ribuan warga masih ada remaja yang peduli pada sesama dengan berkorban meninggalkan keluarga dan kesibuka di rumah menjelang lebaran.

Waktu menunjukkan pukul 23.45 beberapa teman minta ijin untuk istrihat dengan harapan bergantian piket saat dua jam berikutnya. aku duduk memandang jalan yang semakin padat. Beberapa pemudik berhenti dan minta ijin beristirahat. Lima orang dengan motor ber plas AD berhenti dan langsung lelap di tenda peristirahatan. Perlahan berhenti mobil sedan dengan rombongan keluarga kecil pun menumpang sekedar istirahat dan ke kamar mandi.

Kembali sepi sunyi suasana di Posko karena memang hanya aku yang terjaga, hanya bisa merenung dan berharap tidak ada kejadian apa-apa malam ini.
HPku bergetar ternyata ada informasi teman di status Facebooknya yang menyampaikan terjadi kemacetan panjang di jalur lingkar kaliwungu. Waktu menunjukkan pukul 01.03, kupikir hanya kemacetan karena mobil padat dan jalur simpang yang menjadikan tersendat.

"Kalian stanby di posko, aku coba cek ke TKP ada kemacetan panjang"
"Siap Kak..!!"

Kupacu dengan lumayan cepat karena memang ada celah. sampai di 6 Km menjelang titik kemacetan kulihat deretan mobil panjang mengular berhenti tanpa bergerak. Meraung sirene mobil patroli melewatiku dengan cepat disusul beberapa mobil ambulance. Feelingku mulai berkata bahwa ada kejadian hebat di depan.

Tanpa pikir panjang aku ambil jalur berlawanan ketika ada ambulance kembali meraung kuikuti hingga dalam waktu singkat aku bisa mencapai titik lokasi kejadian. Subhanallah kulihat Bus besar melintang di jalur yang salah sementara sebuah minibus APV ringsek bagian depan dan kudengar jerit tangis, ternyata sebuah minibus L300 teronggok di bawah jalan dengan ringsek 90%.  Segera aku minta ijin ke petugas untuk bergabung dengan Tim PMI lain serta SAR yang lebih dulu sampai di lokasi.Kebetulan lokasi kejadian berada pada are perbatasan dua wilayah kabuaten dan kotamadya,

Empat orang terlihat bergelimpangan di dalam mobil yang dipenuhi dengan tas dan bawaan mudik mereka. Tiada gerakkan sedikit pun dari mereka, kulayangkan pandangan pada seorang gadis kecil sekitar 2 tahun usianya yang merintih kesakitan karena kepala dan dadanya mengucurkan darah. tanpa kusangka ada seorang penumpang yang masih sadar merangka keluar dari mobil yang ringsek itu.

"Tisna, Kamu gak papa?"
"Pak dhe Tisna Ngantuk..."

hanya itu jawaban yang terucap, kemudian gadis itu pun lunglai dalam dekapan pakdhenya.

"Angkat segera bawa ke Rumah sakit"
"Siap.."

Kunaikkan ke tandu ambulance dan segera meraung memecah pagi yang purba menjelang sahur di malam ke 28 ramadhan.

"Kak, Tisna Pengen Lebaran...." tiba-tiba terjaga
"Iya, Tisna sudah sampai kan, sebentar lagi pakai baju baru" kucoba hibur dia.

Terlihat tanpa kesakitan sedikit pun gadis kecil itu memandangiku tanpa bicara, entah paham apa yang terjadi atau shock hebat yang melanda dirinya. Kututup perdarahan yang mulai berkurang rembesan darahnya, dan ku cek seluruh tubuhnya adakah luka lain yang perlu ditangani. Ambulan semakin kencang menuju RS.

"Kak, Tisna Pengen lebaran...."
"Iya Tisna, Tisna sabar ya...."
"Kak Ayah dan Ibu Mana? kok gak ikut di sini...?"
"Ayah Ibumu nanti menyusul Tisna.."

Kujawab sekenanya karena tak mungkin kuberitahukan bahwa ayah dan ibunya sudah tidak lagi bernyawa di kursi belakang yang hancur.

"Kak, tolong bilang Ayah Ibu Tisna Minta maaf, Tisna pengen pakai Baju baru kak, Tas Tisna mana Kak...?"
"Iya Tisna nanti bila sudah sampai tisna ganti baju baru ya.."
"Kak, Tisna pengen Lebaran..."

Raungan ambulance melemah dan memasuki area UGD, segera perawat menyambut kami dengan sigap memindahkan tisna ke ruang penanganan. Kucuci tangan dan bersihkan beberapa percikan darah yang menempel. Terngiang dengan jelas permintaan Tisna yang selalu diucapnya selama perjalanan menuju RS.

Ambulance meninggalkanku karena harus menjemput korban berikutnya. Aku putuskan  ikut ambulance berikutnya untuk kembali ke lokasi karena memang harus cepat kembali.
Lima Menit berlalu Pintu UGD terbuka dan seorang perawat keluar dan membersihkan diri.

"Mas, Kecelakaannya di mana? apa begitu mengerikan kondisi mobilnya?"
"Iya mas...." kujawab sekenanya karena aku curiga dengan wajah perawat tersebut.
"Terimakasih Mas, kita bagian dari orang-orang yang berusaha menyelamatkan sesama tapi Allah berkehendak lain terhadap hambanNya.Kami sudah berusaha tapi luka terlalu parah dan gadis kecil itu tidak dapat kami selamatkan"

Inalillahi Wainnalillahi Rojiun. Hanya itu yang bisa kurapal dari bibirku tanpa terucap.

"Kak, Tisna pengen Lebaran....." kembali mengiang di telingaku

Meraung  dua ambulance memasuki area UGD dan keluarlah dua jenazah dipindahkan ke ruang perawatan, menyusul Tisna, hanya kuberharap semoga mereka orang tua Tisna, sehingga keinginan untuk berlebaran bersama kedua orang tuanya terkabul di ruang ini.

"Ayo kembali ke lokasi masih ada 3 jenazah lagi"

Aku hanya berjalan menuju ambulance tanpa menjawab ajakan mereka, kududuk tanpa bicara, terbayang derita Tisna, tanpa mengeluh sakit ia jalani takdir yang harus dijalani sebelum sampai kampung halaman untuk berlebaran.

Sirine kembali meraung agar diberi jalan tuk cepat mencapai lokasi.

"Kak, Tisna pengen Lebaran..."

"Maafkan Kakak, Tisna.  Kakak tidak bisa mencarikan Baju barumu karena kakak tidak tahu dimana tas kamu"

Kaliwungu
17 Agustus 2012 (01.35 WIB)

Jumat, 17 Agustus 2012

Di Area Pemakaman pada Ramadhan Ke 27

Remang senja kali ini begitu menyesakkan, 16 Agustus  kembali membuka cacatan usang tentangmu. Aroma parfummu hempaskan lamunan tiba-tiba. Ya wangi itu masih saja belum hilang setiap kali mengingatmu. Seperti senja ini di jalan setapak menuju makam.

“Wis…., akankah kita kan  bertemu lagi seperti senja ini….” Bisikku

Wisma  terdiam cukup lama, digenggamnya erat tanganku, mata sayunya berkaca-kaca menatapku. Semakin aku melihat betapa ayunya Wismarini.
“Aku tidak bisa ngomong apa-apa mas…” kembali menunduk, dan peluhnya mulai berbulir di pipi nya.
                                                                            
Aku hanyalah anak seorang peternak ikan, yang pas-pasan. Bahkan untuk membiayai sekolahku, aku harus rela tidak pulang hanya menunggui jebakan udang yang tiap pagi bisa kujual.
Namun, Wismarini tetap tak peduli, Gadis putri seorang camat itu masih saja menghiba dipundakku.

Itulah terakhir kutatap wajah sendu ayu sederhana seorang gadis desa, di pematang itu senja semakin redup, Wisma pun berlalu bersama wangi tubuhnya yang membeku dalam kabut senja.
                                                                       ***
Liburan kali ini tanpa sengaja aku kembali menyusuri jalan setapak menuju pematang terakhir desa Wismarini. Aku pulang untuk nyekar selalu menjelang lebaran dan kebetulan lebaran kali ini bertepatan dengan terakhir kali pertemuan itu.

Kususuri kembali jalan setapak menuju area pemakaman, suasana masih seperti  puluhan tahun lalu  ketika aku meninggalkannya. Angin masih saja sejuk, Burung, belalang dan gemericik ikan-ikan kecil selalu seirama dengan senja. Damai sekali rasanya. Terus kuberjalan Sore itu, Belum juga sampai di makam, sesaat  dari belakang kelokan  pematang lain muncul seseorang yang sekian lama menghilang dari pandanganku. Perasaan tidak karuan muncul, dingin telapak tangan tiba-tiba menjalar sementara panas terasa di wajahku.

“Wisma… benarkah kamu Wisma?”
Perempuan itu pun  terkejut sama denganku. Wajahnya masih seperti dulu, seperti puluhan tahun yang lalu. Mata sayu itu seakan tertegun melihatku, sesaat kemudian ronanya tampak memucat, senyum mengembang sesaat dengan dekik di pipi pun kembali kulihat.

“Mas Noegroho ya…?”  tampak gugup.

Benar, dia Wismarini  yang dulu sekali pernah kukenal. Jujur saja hatiku berbunga-bunga melihatnya. Detak jantungku masih terasa berdebar.
Ku langkahkan kakiku mendekati perempuan itu. Rambut panjangnya tergerai berkibar-kibar diterpa angin. Iya, keyakinanku memang benar, perempuan itu Wismarini.

“Kapan datang Mas...?” membuka pembicaraan.
“Semalam aku sampai, bagaimana kabarmu wis?"

Kami pun akhirnya saling bercerita. Aku masih terpesona dengan ayunya, bibir merahnya, hidung mancungnya, lesung pipinya, kulit putihnya yang bersinar. Aroma wangi tubuhnya terbawa angin dan membius,  kembali membawa aku ke puluhan tahun yang lalu.
.
“Oh iya Wis kamu belum menceritakan bagaimana keluargamu? kamu  pasti bahagia sekarang“ aku sedikit penasaran
“ Ah, Mas…” dia berhenti sebentar, kemudian dia melanjutkan
“setelah kepergianmu, aku selalu menunggu dan mengharap kepulanganmu. Tapi aku tidak pernah mendengar kabar darimu. Hinga suatu saat aku mendengar bahwa kamu sudah sukses di sana bahkan kudengar Mas sudah menikah. Saat itu hancur sekali hatiku mas…apalagi berikutnya aku di uji Mas, Bapak berpulang mendahului kami semua” Wisma berhenti sambil menghela nafas.

Wajahnya sendu, seakan menyiratkan kepedihan yang dalam. Terus terang saja aku kaget mendengarnya, aku tak mengira dia masih menungguku selama itu dan Ayah Wisma sudah lama tiada.

Mas ingat Kang Abdul ustadz di madrasah itu? Teman sepermainan Mas Noe saat kecil dulu?” katanya
“O Abdul itu ”
“Dia yang selalu menghiburku, dia yang selalu menjagaku, mendengarkan tangisku saat aku merindukanmu. Dia yang selalu ada untukku. Sampai suatu saat, ketika aku sudah dianggap perawan tua di kampung ini, Dia-lah yang meminangku. Meskipun dia tahu, tak sedikitpun cintaku untuknya, tapi dia menerimaku apa adanya”

Mata Wisma mulai berkaca-kaca, Aku serba salah, aku hanya terdiam tak bersuara, menunggu dia melanjutkan ceritanya.
“Kang Abdul begitu mencintaiku, bahkan sampai menjelang kematiannya, dia tidak pernah mengecewakanku” lanjutnya sambil pandangannya menerawang ke makam tempat tujuanku berjalan.
“Dia juga yang mengajarkanku, untuk selalu bersyukur, dan mencintai apa yang ada, termasuk setiap hari hanya sekedar hidup sederhana, …” tuturnya.
Kemudian Wisma menatapku, aku tidak kuat menatap kembali matanya. Aku merasa cintanya masih tersimpan utuh di hatinya. Aku mulai merasa sangat sangat bersalah. Cita-cita telah mengubah mata hatiku. Kesibukan telah membuatku lupa, apa itu cinta sejati.
Aku terdiam. Rasa bersalah menyebar ke seluruh tubuhku. Belum pernah jantungku berdegup kencang seperti ini, mungkin memang Wisma-lah cinta sejatiku yang selama ini telah aku lupakan.
“Maafkan aku Wis…. “ bibirku bergetar

Dia menatapku dengan tatapan  sayunya. Tersudut aku dalam tatapan bisu, Ingin  kusentuh kembali wajah itu. Namun seakan ada yang menghalangiku. Wisma pun kemudian berlalu  hanya meninggalkan aroma wangi yang tersisa, dan semua kenangan yang pernah ada.

"Aku ke makam Kang Abdul dulu Mas..."

Aku mematung seperti Nisan yang membisu di atas makam pada ramadhan ke 27. Duka menyebar bersama semburat merah yang membentang. Pandangi Wisma yang terisak di atas gundukkan tanah kudengar lembut alunan Yassin dari bibirnya.

Senin, 06 Agustus 2012

Lina dan surat Fathekah

"Bu, Lina kangen Bapak..."
"Tidak usah Kau tanya lagi tentang Bapakmu, habiskan es cream itu segera"

Percakapan singkat di atas angkot yang menarik perhatianku, sekilas terlihat pucat di wajah perempuan muda itu. sementara sikecil tetap asyik menjilati es cream dengan wajah kecewa mendapat jawaban dari sang Ibu.

"Lebaran sebentar lagi kan, tapi kenapa Bapak tak pernah temani kita sholat Ied ?"
"Lina berapa kali ibu harus bilang, tidak usah kamu bertanya lagi tentang Bapakmu, tanpa Bapakmu kan kamu tetap bisa lebaran, pakai baju baru, sepatu baru dan lain-lain"
"Tapi Lina pengen seperti sinta, Intan dan yang lain lebaran ada Ibu ada Bapak gitu.."

Perempuan muda itu hanya menerawang mendengar jawaban si kecil, kuperhatikan matanya mulai berkaca-kaca. sesaat kemudian kertas tissue pun menyeka lelehan bening yang belum sempat menyebrang di pipi ranumnya.

"Ibu nangis ya?"
"Maafkan Lina Bu, lina sudah membuat ibu menangis..., kalau Ibu nangis Lina juga pengen nangis"
"Enggak sayang, Ibu tidak nangis kok, sudah sini peluk Ibu"

Aku hanya terdiam pandang mereka berdua, terlihat begitu berat beban yang harus mereka jalani, kembali sang Ibu memandang keluar jendela sesekali menatapku yang sedari tadi memperhatikan mereka. senyum dipaksakan pun mengembang sesaat sebelum kembali menunduk. sementara si kecil menjilat untuk penghabisan es cream ditangannya.

"Bu semalam Lina sudah hafal bacaan Fathekah, ustad Imron yang mengajari Lina "
"Syukurlah Lina harus sering baca fathekah ya untuk mendoakan Ibu mendoakan Lina supaya tetap bisa menjalani amanah dari Allah ya"
"iya Bu kata ustad begitu, surat Fatekhah begitu banyak manfaatnya, kan fatekhah dibaca disetiap sholat dan sehabis berdoa bu"
"pinter kamu sayang"

Tersentak aku mendengar percakapan terakhir mereka, tanpa aku sangka sikecil begitu lancar menerangkan manfaat fathekah pada Ibunya.

"Depan berhenti pak...!!"
"Mari Mas ..turun dulu"
"Om Lina turun dulu... assalammualaikum"
"waaalikum salam warahmatullah wabarakatuh"

Sapaan mereka mengagetkanku, sepi kembali sesaat setelah angkot berjalan, masih begitu terngiang percakapan mereka, seandainya semua anak seperti Lina... .


Jumat, 27 Juli 2012

Pada Pagi Prematur

Terpaku dalam keheningan
pada pertemuan pagi yang prematur
rindu bernanah menanti rajutan syair
benang terurai kupintal dari tiap rindumu

langit teduh membiru
kain kenangan kian kusam pucat merona
bulan separoh mengambang di ambang fajar

Jumat, 13 Juli 2012

Pada Sayap Kunang-kunang

Angan berselancar pada sayap kunang-kunang
berkedip terang gelap bergantian
redup bersama isak rindu

kutitipkan pada malam

buai purnama hanyalah impian
membisik dingin mempurba

Selasa, 10 Juli 2012

Adalah Luka

langit biru pucat merona
kelabu temaram tanpa purnama
luka abadi bersemayam menggema
riuhkan teriakkan rindu dalam gigil kemarau

pada pasir kutorehkan kata
biar angin singkirkan eja tanpa makna tersisa

pada batu pun tak pernah membekas
entah pada apalagi kan kuungkap luka

ada luka pada rasa menyesak
memboreh, mengoyak hati
luka menganga tanpa sempat kuraba

Kamis, 05 Juli 2012

Aku Hanyalah

Aku hanyalah serpih-serpih kehidupan yang ingin engkau maknai
walau aku tak cukup indah untuk menghiasi hatimu
bahkan bertahta dalam jiwamu sekalipun
karena aku hanyalah dedaun kering gugur terhempas waktu.

Purnama Menepi

Purnama mengambang rona pucat lara
resah menelisik di lorong jiwa
sepi penjarakan ruang asa ditiap perjalanan malam

persemayaman t'lah kau hadirkan
gundukan tanah  merah t'lah kau tutupkan
belati kau tancapkan bak nisan

kosong kembali hampa
embun tak  jawab ketika kutanya
selalu saja ada api ditiap siraman kesejukkan yang kuhadirkan
bagai berpijak pada ngarai terjal dalam lembaran karpet berbusa
purnama tak sempurna  menepi
mengambang di atas persemayaman rasa

Minggu, 01 Juli 2012

Akankah Sempurna Purnamaku Esok

Purnama belumlah sempurna
bulan separoh mengambang tanpa makna
aku titipkan pada sajakku

mungkinkah rembulan kan bawa pelangi?
ingin aku bertengger di sayap kupu-kupu putih
hingga kutemui kamu di purnama sempurna esok

kuukir kembali remah-remah berserak
berharap tersketsa wajahmu hadir
seperti kepiting kecil berlari sembunyi di batu-batu
terhempas ombak masih saja bercengkerama denganku

aku  melangkah cari secuil rembulan
agar sempurna purnamaku esok
dan kubawa kembali kamu dalam tiap makna sajakku

Kamis, 28 Juni 2012

Ini tentang Rindu dan Belati

Menelusup riuh dalam pori-pori kulitku
kerinduan lambat laun mempurba
seperti gurindam XII  jarang termaknai saat ini
berkali dentingan puitis lirih rapal namamu
berkali tatapan ini kosong pandang bayangmu
tapi selalu belati yang muncul
sayat rindu hingga luka kembali menganga

menelusup riuh dalam pori-pori kulitku
kerinduan yang lambat laun mempurba

bulan masih redup seperti malam-malam lalu, pucat
tak jua purnama menjemput

ini tentang rindu luruh tenggelam dalam sepi
entah apa arti makna tatapanmu,
entah apa arti genggaman jemarimu
entah apa arti senyum indahmu
bila belati selalu saja sayat rindu hingga luka kembali

Selasa, 26 Juni 2012

Pada Malam Bulan Separuh

malam masih sisakan kekuatan matahari senja yang lalu
malam simpan rapat tatapan korneamu, hingga serupa cerpin dalam korneaku
malam angkuh dalam pekat, remah-remah bulan separuh tersenyum

ingatan tentang senja kembali menggema tiba-tiba terputar kembali
walau rintik satu-satu pelangikan langitku 
jejakmu kian jelas tapaki alur setapak dalam irama sajakku
dalam buai sinar bulan separuh kau pun luruh

isyarat pada kata menuai makna puitis wajahmu
tersenyum dalam simpul indah di pipi ranumu

pada bulan separuh sajakku memanggilmu
pada bulan separuh hadirlah dalam rinduku
pada gigil daun pada ranting kutitipkan salam


Sabtu, 23 Juni 2012

Lara dalam Labirin Hati

Lara tengah berkuasa di labirin hati
kekaburan makna tersisa dari sebuah elegi kejujuran semu
tiada terucap, tiada terbayang wajah dari sekeping cermin
berlalu genggam senyum dibibirmu


dinding-dinding sajakku terukir sayatan kata
tajam meluluhkan keindahan lalu

lembar-lembar sajak t'lah banyak kupas meretas dalam bilik kita
sajak bukanlah kertas lemah kan robek tertetes airmata
sajak ini kan abadi terkubur tanpa batu nisan

sekerat duka membiru memar luka meradang
tenggelam dalam duka mengeram menghentikan tarian puitis bibirmu
melenggang tanpa menoleh kau titipkan dukamu abadi

Jerit Luka pada Kata

Dalam bilik hatiku tersimpan sajak dukamu
duka di sepanjang musim penantianmu

kusimpan kata-kata dalam sajakku
jerit-jerit kata terluka kian mengeras
sayatkan perih tiap maknai lagi kenangan lalu
berharap kau temukan makna sajak dukaku

biarlah kusimpan dalam
kedalaman rasa, dan
pada gugat gaguku  batu membisu

Rabu, 20 Juni 2012

Gerimis Luka

Gerimis satu-satu merentas luka
perih dan menganga
gerimis tak seindah senja yang lalu

kurangkai gerimis tuk sketsakan wajahmu
tapi, serangkai kata t'lah buyarkan lukisan puitisku

kupeluk gerimis agar kau menjelma
tapi, berhamburan luka semakin menganga

tak lagi kulihat bayangmu di sela-sela awan berarak
apalagi tuk temukan dekik pipimu

sekerat rindu terkulai lemah
asa kerinduan berbuah manis t'lah pahit tersaji
menggelepar dalam karat yang berkerak

nanar padangku terhimpit gerimis luka
terhempas berselimut bara
sekerat kerinduan terbang tinggal luka terperi
terhujam gerimis kata dalam sajak duka


Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...