""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 07 Desember 2014

Sepenggal sajak

sisa hujaan semalam masih menapak pada sehelai daun
embun mengalah tiada bergelayut
pagi belum benar siap menjemput, terjaga pada lamunan
sepenggal sajak kehidupan meruang
menggeliat manja tersenyum pada kata

Kudekap Malam

Dekap mlam
Berselimut rintik
Simphonikan hati
Rebah luruh kata
Terpatri sajak kerindun

Aku Mantrakan Puisi

Aku mantrakan puisi padamu
Kulantunkan pada langit kurapal pada angin
Meniti menit bersandar pada pundak waktu yang enggan mengerti
Sebelum akhirnya sampai pagi menjemput
Aku mantrakan puisi padamu
Agar teduh bersemayam mekarkan mawar
Sebelum fajar berbisik malam terbirit di penghujung waktu
Aku mantrakan puisi padamu
Agar kukecup bayangmu
enggan kuberbagi pada malam
ingin kurengkuh purnama di balik mendung, kuikat dengan rambutmu
Pun senyum itu merekah lelapkan puisi menyudut di hatimu
2 desember 2014

Rindu Purnama

meniti rintik menggapai mendung
ingin kusingkap, rengkuh rembulan dalam genggaman
kududukan dan kusandarkan pada pohon tua
lalu kita di sana bercerita tentang hangat purnama

Minggu, 23 November 2014

Gigil Daun

gelegar di langit benar-benar terus menggelinding bagai bola
rintik sesaat lalu tak lagi berisik
pun angin gigilkan daun mengembara pada sisa usia di ujung ranting

Malam Tak berlampu

Pun gelap menyergap tibatiba,
Beriring gelegar merdu gaduhkan langit, sesekali kerlip kerlip memanjang silaukan suasana,
Rintik perlahan tak terdengar, simponi genting tlah berlalu,
Menyusup perlahan wajahmu di antara melati basah di ujung tangkai, hembuskan malam syahdu perlahan.
18 Nov 14

Minggu, 16 November 2014

larut dalam kerinduan

tenggelam dalam dingin ac
memandang burung besi lalu lalang dengan deru memburu
rintik satu-satu mulai membasah
gelisah puluhan wajah memandang jam
duduk beringsut, sekedar membaca, buka tutup hape
jerit si kecil, tawa riuh sekelompok TKW membuncah suasana
kau tibatiba melintas tersenyum dan ketukketuk kaca
aku pun larut dalam buai kata paksa aku tuliskan sajak



soetta
15 nov 2014

Sabtu, 15 November 2014

Puisi Kenangan Tentangmu

luruh bayangmu menyublim meruang pada dingin senja
pun aku pungut satusatu sketsakan senyum walau tanpa suara
mengendap harum tubuhmu menyusup hangatkan sunyi
meremang siluet labuhkan senja pada kedua pipimu
rengkuh rasa penuh rahasia berlarian menahan mendung
agar sisa purnama terangi ronamu, simpulkan senyummu

pun persimpangan terus berlalu
kesumat semakin bergetar
bergumul detik detak berdegup alirkan puisi
puisi kenangan tentangmu

Jumat, 14 November 2014

serupa angin

serupa angin
entah ke mana kan mengalir
terlampau sering kau bergelayut pada batas lamunan
luruh dalam secercah harap
lepaskan pagutan sunyi

masih seperti dulu

pun aku menemukanmu
tersenyum di sudut atas ruangku
masih seperti dulu
kau kenakan gaun panjang kesukaanmu
hanya sedikit beda
kau semakin pucat sekarang

Jumat, 07 November 2014

purnama tak sempurna

purnama usung keranda menuju sunyi pada kliwon pertama bulan november
rapi terbungkus waktu pada kesekian kali luka kau torehkan
duka bertumpuk pada jasad hati, bukan tumpah air mata iringi malam
purnama usung keranda menuju sunyi pada kliwon pertama bulan november
genap duka teriring rapal sesal yang takkan kembali genap pada limabelas almanak jawa, purnama pucat berselimut tipis membuai langit

riwayat suka tiada tercatat, tiada terulang dalam pandangmu
tangis nostalgia membolak balik detik iringi kepulangan hati pada sepi
tubuh ringkih rubuh tertusuk lidah pada purnama kesebelas tahun ini
tiada perlu lagi kau rapal rindu untuk ziarahmu kelak
purnama usung keranda menuju sunyi pada kliwon pertama bulan november
meniti setapak pada titiktitik luka, meremang singkap alur tanpa ending sempurna
esok kan tiada lagi lembar putih berisi ceritamu, kau t'lah dapatkan gambarmu, sketsamu, bahkan sosok yang dapat kau jadikan sandaran pundakmu
purnama usung keranda menuju sunyi pada kliwon pertama bulan november
alunan azan menggema bersahutan dari surau ke surau
alunan sholawat antarkan jasad tak berwujud terkafani luka rebah dalam sajak mengantar purnama tak sempurna
6 November 2014
Di2k

masihkah ada ukiran namaku

halimun membuka pagi merekah di antara tetes tetes bening di pucuk daun
aku ingin menatap matamu dengan segala keteduhan
aku ingin menyulam senyummu dengan segala keikhlasan
dan aku ingin meraba bathinmu masihkah ada ukiran namaku

semburat itu belum sempurna

memerah langit berselimut kabut tipis
semburat itu belum sempurna
kerlip satusatu perlahan padam tinggalkan malam
lari bersembunyi di balik perdu gedung terusir pagi
suramadu memanjang membelah selat tergambar jelas di depan
di antara kelok jalanan mulai merayap satusatu mainkan klakson
geliat t'lah kembali berjalan dalam detik kehidupan
rabu kembali sapa alunkan simponi berselempang semangat
rela berbagi ikhlas memberi
dengan kata kembali ku sapa kamu di dingin pagi

Kupetik sekuntum mawar

kupetik sekuntum mawar pada pipimu
kusulam rindu di tiap kening waktu
seperti gerimis menjelma hujan
kenangan itu selalu beriring
rindukan pelangi
melengkung di atas telaga rindu

kupetik sekuntum mawar pada pipimu
mengerang kata, berteriak ingin ungkap rasa
seiring gerimis menjelma hujan
sapa berkali tak kau dengar,
takkan lagi aku bermimpi,
waktu sembunyikanmu berpeluh kabut.....
tak terdengar lagi,
sendiri buka lembaran lalu
masih ada secuil senyum itu

aku tahu

memandang deretan lampu memanjang di antara kerlip lalulalang
dan lagilagi kamu menggoda dari balik jendela
berkendara angin kau ketuk jendela
walau aku tiada mengerti makna senyum itu
aku tahu, kau pun merindu

Jumat, 24 Oktober 2014

Selalu Ada Malam

selalu ada malam seluas lengkung sunyi
temaram deretan senja menyepi muarakan bayang
di tepian mata
selalu ada malam menjelma dingin
merintik meresap hentakkan kantuk
terjaga menatap ilusi di ujung beranda

selalu ada malam menjelma rindu
hangat mengendap menggandeng bayangmu
menyisir gugurkan daun, rebah melayang
kau gandeng kata, dan.....
masih ada malam untuk sajaksajakku

Satu Muharam

Senja tlah beranjak tinggalkan detik berlalu begitu cepat
Almanak lusuh menggantung bisu
Tlah berlalu langkah diri
Sambut malam tuk sapa hari baru
Basuh diri dalam percik suci
Tetes membasah
Singkap debu pendarkan hasrat
PadaMu Ya Rabb kutinggalkan catatan,
Buka lembaran baru dalam restuMu

Rabu, 22 Oktober 2014

Gerimis Pertama

aroma tanah basah menyengat
menyeruak iringi gerimis pertama
mengalir perlahan melata mencari celah tanah
merembes peluk bumi, selimuti senja gelap berarak
menapak jejak, tapak terukir, lumpur menoda
hari kian merangkak cepat bawa malam tinggalkan senja
masihkah sudi kau me-Roh dalam tiap sajakku
sedang sapa hati tlah tinggalkan bibirmu
aku masih saja sandingkan wajahmu
pada tiap sajak yang kutulis
walau kini tak lagi bisa kucerita
manja pada bahumu


Senin, 11 Agustus 2014

Kertas

kertas, mana kertas
kertas yang t'lah kau nodai dengan merah emosimu
akan kukubur anakanak yang t'lah lahir dari rahimmu
anakanak bernama katakata yang membunuhku perlahan

11082014

Kupinang Kertas

ciumlah kertas itu dengan rasamu lalu peluklah dalam hangatmu
ingin kupinang kertas, kunikahi dan lahir anakanak di setiap telaga malam,
hurufhuruf merangkak, berdiri dan bergandengan bahkan berlarian
Lalu, kan aku bimbing kalian hingga tercipta barisbaris baru

selipkanlah kertas pada selasela rambut harummu
biarlah angin lukiskan kabut dalam tiap lembar itu
kita benarbenar pasangan serasi serupa kekasih di malam purnama

10082014

Rabu, 02 Juli 2014

Tiada Lagi Pelangi Untukku

Rintik satusatu begitu mendenting
menusuk meresap membawa sejuta makna
kucoba maknai kepergianmu
kucoba maknai jarum perihkan luka
menyibak waktu simponikan kidung duka

jerit lara tiada kau dengar
sayatan serupa duri kian tajam tiap detik kau tancapkan
menjerit pada ruang sepi tiada gapai jemarimu
tiada dengar rajuk manjamu
sendiri maknai puisi luka pada
langit panas merintik tetes embun
namun tiada pelangi di sana

Jumat, 06 Juni 2014

Menggenang Kenangan Itu

Pernah kucoba tak lagi hadirkan kamu dalam sajakku
tentang kupukupu putih manja hinggap di daun cengkeh
tentang betapa kamu tidak menyukai "bang Rhoma" tapi kamu senang
lagu "syahdu" dalam sebuah buku
Juga tentang pantai dan laut bila senja di matamu

aku telah coba tak lagi tulis kamu dalam sajakku
tentang ego kaku, dan tak mau mengalah
tentang betapa kamu sangat senang angka itu ya "keramat"
atau pun tentang bingungmu bila diam dan menjauh

aku benar mencoba tak lagi imajikan kamu dalam sajakku
tentang ucapmu yang kadang tak sepaham dengan tatapanmu
tentang betapa senyum itu masih saja bersemayam
atau pun tentang sudut simpul di pipi ranummu

aku berkali coba tak hadirkan rohmu dalam sajakku
tapi, masih saja kamu hadir, masih saja ada kamu
mungkin memang aku belum bisa berhenti
menggenang kenangan itu, menggenang tenggelamkan kamu
dalam kata ditiap bait sajaksajakku

Selasa, 27 Mei 2014

Rembulan Berkerudung

menetas perlahan lampu taman iringi redup pucat senja dalam pelukan
teriakkan ngengat, mrutu, dan serangga malam tanpa lelah putari lampu taman
bersandar pada tembok di bawah tugu kala itu
ada rasa menggelayut pada angin yang menghasut
gemerisik dedaun, klakson, serta derit sepeda tua
hantarkan hadirmu tiba-tiba rembulan berkerudung


Kau bercanda dengan rumput, kau mainkan mata indahmu pada dahan waktu
Sesekali senyum itu hantarkan jawab pada tanya yg kupendam


Rembulan berkerudung keemasan semakin silaukan senja,
pekat memudar dalam buai imaji, bersenandung hantarkan irama hati, 
padamu yang hadir mewaktu, kutitipkan secuil asa. 

Senin, 26 Mei 2014

Kutitipkan Padamu Luka ini

sendiri memilah kisah tentangmu
kuserat pada derai daun-daun kehidupan
pagutan angin begitu kuat kecup luka daripada tawa
rintik satusatu nodai kisah anak manusia menyapa tibatiba
menyeruak hingga kembali menganga
berkisah tentang mata, bibir, hati yang tak selalu sama

bibirmu berkata, tapi hatimu bergolak
dan pada matamu aku temukan "kasunyatan"
kau lumuri diri dengan luka,
tuk tanggalkan setandan nyaman,
pada sajak kutitipkan luka setapak.

25052014

Kau Hadirkan Rindu pada Jemari Senja

Kau dekap aku dalam buai jemarimu
Tikaman hasrat ikat nafas dalam seteguk nadi
Aku tak mampu berkata hanya mata kan sampaikan semua
Kenangkenanglah gemulai waktu yang terus mendetik
Sisakan nafas dalam buai keheningan

Senja tanpa eja “tertulis” cerita, masih dan masih saja selalu
ada rindu yang berlari memburu dan memaksaku untuk berkata......
Pun aku limbung dalam pause waktu yang tiba-tiba
Sandarkan engkau dalam kehangatan dadaku

Senja tak mampu kelabui malam
Menepikan kenangan dalam pelaminan alam
Kusunting tatap matamu, seirama senyum simpulmu
Tak lagi ada suara, tak ada lagi
Semua senyap sekejap sisakan pigura hati
Tertulis kata di sudut atas bertinta keringat, luka, dan airmata

26052014

Selasa, 20 Mei 2014

Azimat Pemakaman Hati

Lalu di mana akan kusemayamkan jenazah hati yang kau penggal,
waktu kian gelisah, tak mampu sumpahi tanya yang membuncah.
luka terkafani mendung memucat bersandar pada kenangan lalu
kau tlah ucap pada senja cerita tentang tepian indah
entah kapan lagi kan ziarah pada nisan bisu
jangan  kau rapal azimat tentang catatan lalu
tlah kau hapus semua, dalam sekejap tertatih,
cengkeram tanah merah teteskan peluh menahan luka
menepi sendiri pada puisi "pemakaman hati"



17 Mei 2014

Selasa, 13 Mei 2014

Lelaki Terluka

NASKAH MONOLOG LELAKI TERLUKA
(by Didik Al Mahadhir dan Istiqomah almaky)

(Panggung gelap, suara teriakkan berat terdengar perlahan semakin mengeras seiring lampu perlahan terang, sosok lelaki menggenggam pena dan secarik kertas membelakangi penonton)

“Akan kutulis ratusan puisi atau bahkan cerita bahwa aku sebenar-benarnya terluka!!!
Berkali kupahami peristiwa demi peristiwa, selalu saja berakhir senyum pada bibirmu sementara aku terpuruk dalam duka.”

Tik, tik, tik, tik (pegang telinga dan menjatuhkan diri tersungkur, menggigil enggan mendengar suara detik itu)

“jangan bunyikan jam itu, buang detiknya hilangkan suaranya, aargghhhh, detik itu..., ya detik itu tlah siksa aku tlah tusuk tusuk aku bertubi dalam tiap kilometer kulalui...., matikan jam itu....”

(Mencari jam di meja dan membantingnya suasana hening lelaki itu perlahan melangkah menuju kursi panjang, merebahkan diri dan masih sibuk dengan kertas serta pena di jemarinya)

“Kulangitkan doa berharap menyibak kabut tipis di remang malam, aku berkendara kunang-kunang kugendong luka, bersenandung lagu sendu, ingin kusapa ngengat dan kelelawar, mana ngengat, mana kelelawar ingin aku bercerita tentangnya yang tlah hempaskan embun sebelum pagi menjemput, di mana mereka??”

Suara ghaib muncul tiba-tiba

“Berapa kali harus kutumpahkan kata Tentang luka yang tak layak kau bawa berlayar, Cukupkanlah padaku berkabar Jangan lagi kau tebar, Di sini saja, di sini, Di ruang dadaku raungkan dukamu, Akan kugubah agar nganga lukamu terobati.”

(lelaki itu bangun perlahan melangkah mencari suara itu dari mana asalnya, gelisah dan tergagap dia mondar mandir kiri kana depan belakang terdiam di tengah panggung)

“Tak semudah itu luka kau gubah, Aku buang segala kata Agar segera berakhir, Biarpun berlembar PUISI kutulis Tetap saja ITU luka”

Suara ghaib

“Sudah kubilang berulang kali, jangan kau dekati Luka, karena luka bagimu (lelaki) akan lebih lama Membungkam malam, diam-diam dia berda di kelopak paling dalam. Bahkan Ketika mimpi menepi Ia menyergap, menyisakan geragap lalu bayang-bayang kekasih Jadi duri paling sempurna Tajamnya. Tak cukupkah kau hentikan virus lukamu itu Atau harus kuliriskan larik-larik miris, agar Engkau makin tenggelam?,”

Lelaki itu perlahan bersimpuh

“Tenggelam dalam Luka bersimbah kenangan adalah kenikmatan tersendiri, Aku masih sanggup ubah luka mnjadi cerita Satire, mellow, atau balada sekalipun, PUISI hanyalah pemadatan Luka
Bagai kukurung di kutub yang entah kapan kan kembali mencairkan airmata luka”

(suara angin menghembus kencang diam tiba-tiba suasana merasuki panggung)

“Di mana kamu... hei di mana? Mengapa kau diam?”

(berjalan mengambil tikar dan menariknya hingga terbuka, rebahkan diri perlahan )

“aku mengenangmu dengan sebenar-benarnya mengenang, walau aku tahu mengenangmu adalah memboreh luka dengan bara. Oh Tuhan......... nyenyakkan tidurku malam ini, lelapkan mimpiku malam ini, walau pun jarum kan kembali tusuk seribu kali, entah malam ini, entah esok, aku hanya ingin dekap luka lagukan hati dalam sajak kehidupan”

(musik petikan gitar mengalun iringi tidur sang lelaki itu)

“Ingin kembali kutapaki setapak penuh cerita, Pun aku terluka kini, aku ingin mengenangmu, mengenang Bias pendar aroma wangimu, mengenang Sekerat lengkung pipi ranummu, semoga kutemukan kembali fatamorgana hati hingga hilang luka ini”

(alunan lagu iringi lampu perlahan meredup dan gelap)

@5 MEI 2014

Kamis, 10 April 2014

Aku saat ini

"aku ada dan selalu ada untukmu
tapi di saat aku sangat ingin bersandar sejenak di pundakmu
entah kau di mana saat seperti ini"

belajar dari kearifan matahari
belajar dari keikhlasan rembulan
itulah aku saat ini

Jumat, 28 Maret 2014

Pada Gigir Purba sang waktu

semilir di akhir maret menghembuskan wangi mawar
ku bingkai dalam jambangan rahimmu
pada gigir  purba sang waktu
menyatu mendayung nala menuju muara asa
 
tipis halimun selimuti waktu
terus berdetik membisu pada almanak usang
catat jejak yang tertapak pada biru hari
seperti rahim berselimut ketuban
menyatu dalam balutan kerinduan



Minggu, 09 Maret 2014

Dalam Semangkuk Halimun

simpul mencercah dalam ranum manismu
bersua rasa semilir iringi asa
gema itu menggaung dalam semangkuk halimun
sibaklah
kan kau dengarkan
bisikkan itu
selalu
menyusup kisahkan
randevous puing puing terserak

"D"
2014

Mungkinkah

Nala ini mulai sarat  gugusan cerlang
terang lindap
bak berselimut halimun
di antara gema puing anglocita
perlukah kusibak simpul masygul
tuk bersua dengan eraman suar

"D"
2014

Sabtu, 08 Maret 2014

Gigil Pagi suatu hari di Sudut Braga

Kucumbu dingin dalam gigil angin Bandung
menatap atapatap berhias kerlipkerlip
diantara julangan tower, menara masjid agung
gedung-bertingkat kulihat sungai jalanan mengular,
merambat kendara disepi pagi
hiruk pikuk sepanjang braga berganti sepi
dibalik jendela gino feruci, aku hanya bisa menatap

Braga, 6 Maret 2014

Mengalir Rasa

Getar karang tergempur ombak
mengalun cressendo dalam buai lembut semilir
bergejolak dalam marcata

tiada camar menari
entah
luruh dengan cergas

seumpama lava
menyeruak dari kepundan
bagai karam ditelikung asmaraloka
tercecap sari tebu
dalam sajak menjelma wajahmu




"D" Boja 8 Maret 2014

Kamis, 13 Februari 2014

Rabu, 12 Februari 2014

Sebab Aku Diam

Hening sunyi di lorong waktu
Terdiam aku terkatup bibir eja nama
Sementara gerimis masih tingkahi daun daun
bersama cumbu angin gemerisik menelisik sepi

pena, kertas, kursi, meja
almari membisu
sebab aku diam

terbang angan sapa hampiri rasa
masih saja ada yang terlewat
hening tiada mampu kuungkap

Selasa, 11 Februari 2014

Diam merindu dalam Luka

Kembali aku rapalkan rindu pada usang persemayaman waktu
kumencari luka yang pernah kutulis
serasa guratan itu masih membasah pada pipimu
kumencari cita, renyah tawa, dan manjamu
masih juga kutemui setapak bening pernah melintas
membelah dan bergelayut manja pada sudut bibirmu

kucoba hadirkan suaramu lewat angin, yang ada
nafasmu memburu bersama deru waktu
kucoba satukan bayang serupa wajahmu
yang ada tatapan sayumu, diam tanpa kata

Sabtu, 08 Februari 2014

Arungi Titik Randevous

Berlari merengkuh bayang pada ratusan kilometer jejak
ada denyut menggetar pada pasir berbuih tipis
serupa merindukan terik pada mendung
bergelantung pada sayap kupukupu putih sibak waktu
arungi titik randevous
masih adakah aku di sana

Jumat, 07 Februari 2014

Aku Lahirkan Sajak dari Wajahmu

Ingin aku teteskan serupa bening
agar menitis pada dahimu
mengalir
menyibak pipi ranummu
hingga bersemayam pada lesung pipi itu
aku inginkan senyum rekah bibirmu
agar aku lahirkan sajak dari wajahmu

Minggu, 02 Februari 2014

Kupilih Kata

Kupilih kata kujadikan bantal semalam
kau pun datang sambangi aku dengan sapamu
kau bilang kangen, kembali kusulam kata kujadikan selimutimu
kau pun lelap dalam mimpimu
kata pun mendenting di atapku
satu dua bahkan ratusan kata semakin sering
serupa kangen yang kau ucap semalam
serupa nafas, aku tak bisa lepas dari kata
ya, kata kan jelmakan makna
makna atas bantal, selimut, mimpi, denting, nafas
bahkan yang belum terucap
kupilih kata ingin kujadikan payung
karena denting sejak semalam masih deraskan kata

Sabtu, 01 Februari 2014

Menimang Rindu

Aku terbius pada laju detik menakjubkan itu.
kamu yang setia mendengarkan alur setapakku, 

meski sesekali kamu membawa alur hidupmu serta.
Lalu, kamu ambil sebening embun dan rembulan,
kamu sandingkan di atas mendung,
pendar pelangi pun membias....
pada sudut hati menimang kerinduan.

Jumat, 31 Januari 2014

Senyum itu

purnama berarak dalam gerhana mendung
berkendara kupu-kupu
melayang diantara pelangi
pendar itu serupa selendang
sambut permadani hati
tergelar dalam jagat pesona
pualam menyimpul
di sudut pipimu

Senin, 27 Januari 2014

Luruh dalam Keringat Fatamorgana

Rintik satu satu masih saja menderas
Kau hadir tibatiba sapa mesra di telingaku
Bersama angin membadai
senja membiru dalam pelukmu

Kau bilang rindu aku pun merindu
Menyatu telapak kita hangatkan suasana
Perlahan kabut senja menelan kita dalam syahdu
Bercumbu dalam keremangan waktu

Mendesah mengulum detik memasung detak
Berpacu hitungan serupa almanak
bisu merangkak perlahan
Luruh dalam keringat fatamorgana
Genggammu merentas
Menyublim di balik tirai jendela
Gerimis itu masih saja menderas

Kau pun pergi tibatiba
Tinggalkan kerinduan bersama
Gerimis senja

26012014

Minggu, 26 Januari 2014

Di Stasiun Kereta Api, Aku.......

Di stasiun kereta api,
entah apa yang kucari hingga tiap jam kusinggahi
sepanjang pantura
rel itu tak peduli jerit dan resah penumpang
kursi hijau mengejek tajam
selimut hijau merayu tanpa henti
kaca jendela sketsakan cerita lalu
kulihat di luar kereta
bercengkerama anak kucing dua bersaudara
ayam bercinta di tengah kerumunan penjaja tiban
kebul asap hempaskan bau sedap menyusup
berkolaborasi bau wc yang menyengat

Di stasiun kereta api,
bermacam ekspresi lukiskan luka
luka ingkari waktu
ingkari asa yang tertunda
berlari menuju toilet, berlari mencari sepincuk gudangan
berlari demi sepotong gorengan
berlari berlari buang duka hadirkan senyum getir kegalauan

Di stasiun kereta api,
aku hanya diam
serupa luka menganga semakin menganga tanpa sapa
banyak sudah kado rindu kusiapkan tapi selalu saja duka kau suguhkan
ingin rebah sejenak tuk hadirkan pesta
kembali belati runcing menyayat ingatan



25012014

Luka Merindu

luka itu
luka itu tak mudah disembuhkan
serupa rindu ini
tak jua pula dihentikan

Sabtu, 25 Januari 2014

Bisikkan Langit

kudengar bisikkan langit

"lihatlah bulan saja berenang di awan"
"lihat pula matahari bermain kecipak air
bersama kilat dan guntur di sana"

aku hanya diam memandang ke atas
dan air itu pun berlompatan ke bumi

Minggu, 19 Januari 2014

Monolog Luka Seorang Pecinta



Panggung Gelap perlahan lampu meremang sesosok laki-laki menunduk membelakangi penonton mengangkat kedua tangan berteriak panjang menggumamkan luka yang tertahan

“aaaaaaarrrgghhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!”

Perlahan bangkit terseok dan begitu tampak derita bathin dari pakaiannya, memegang kertas kumal catatan lalu yang pernah ditulisnya.

“Tolong, berpuralah mencintaiku, Eflina. sampai kau lupa bahwa kamu sedang berpura-pura. tolong.
setidaknya, kau mencintaiku bukan lantaran tidak ada yang mau mencintaiku, Eflina. Setidaknya.”

Suara Ghaib tiba-tiba menyapa pemuda tersebut saling bersahutan dalam dialog duka

“Sebegitunya derita yg kau mesti gendong, hingga butuh berapa nama lagi kah Agar sembuhkan lukamu?. Mengapa tak kau panggil maria magdalena pariyem, dewi sukesi, sri sumarah, atau lasi dihadapanmu”

“aku tak ingin kesakitan ini berkesudah mas. Sungguh”

“Ah,bagaimana kau bisa menerima cinta dalam kepura-puraan?meskipun nanti dia lupa bahwa sedang berpura-pura, wahai perempuan yg tlah buatmu luka, betapa cinta tlah sebegitu hebat utkmu, sepertinya kau lebih mencintai luka-luka itu”

“Setidaknya masih ada cinta untukku”

“aku mencintai luka itu sendiri. Sungguh”

“Itu bukan cinta hai pemuda gagah, Kau cintai luka dengan menghadirkn luka baru dari perempuan-perempuan barumu yang. Entah siapa itu”

“cinta itu apa?”
“bisa jadi.., bisakah itu kusebut pelarian?”

“aku tlah lihat kedahsyatan luka itu dari bicaramu”

“Sangat luka, yangg pasti,yang aku tahu tak ada kepura-puraan dalam cinta”

“ada”

“Ah,berarti aku yang tak mengerti cinta seperti itu”

“cobalah melihat cinta dari angle yang berbeda”
“Tlah aku lakoni kepura-puraan itu selama hampir seribu hari, tapi tak jua kulupa ini tak seharusnya terjadi.Aku lebih memilih terluka yang benar2 luka daripada luka karena pura-pura cinta “

“bukankah lebih indah jika mencintai dalam diam meski itu menimbulkan luka daripada mencintai dalam kepura-puraan disertai luka?”

“,,luka tetaplah luka, darimana pun muasalnya. ah!”

Pemuda itu menatap tajam penonton dan menyobek-nyobek kertas kumal itu
Music menanjak dan lampu perlahan redup

Penulis antologi "Tifa Nusantara"
(Dimaz, Anna Mariyana, Nurhadi)

Hujan Masih Menderas di Kotaku

Tiada embun pagi ini
Yang ada basah, gigil daun
Gemeretak
Shimponikan lengang
mempurba
Rintik masih saja menderas

Geliat itu tak kuasa bergerak
beku
kaku
Dekap hati , berharap mimpi kan bersambung

Celoteh prenjak, koong perkutut,
Cericit empriit, membisu...... takzim pada kehendak alam

Kabut Luka

Tanpa semburat senja merayap
Aku lewati pekat dalam sepi
Rintik satusatu kian tajam
setubuhi malam gigil terdekap

Lenguh jaman teriakkan duka
Singkap kabut bertirai luka

Jumat, 17 Januari 2014

Lek Sarto

"eddiaaaaaan, wedhus, oplosan, rak mikir babar blassss, jarene nyalon caleg partai besar tapi yo gendeng tenan, wis rak duwe pranatan, lha mbo yo sampeyan mrene tak paku bathukmu, ben nempel nang wit sisan, lha wong uwit isih ditandur satahun hurung ono wis di tempeli poster lha rak nglentuk, nek wit iki mati, oo....... jajal tak pateni sisan awakkmu, rak peduli calon caleg preketek...."

Nang pun berlari tergopoh-gopoh melawati kerumunan penduduk menonton lek Sarto yang marah-marah pagi ini.


"Mak, lek sarto kumat mak, lek Sarto kalap Mak"
"ada apa to nang, ambil nafas dulu..tenang baru cerita"
"lek Sarto Mak, esmosi Mak"
"Kenapa kok marah?"
"pohon kelengkeng yang baru itu mak, ada poster caleng eh caleg Mak, di paku, skrang pohonnya mau roboh gak kuat nahan Mak"
"wealahhh ono wae, yo mesti ngamuk, lha wong iku wit kelengkeng bibitnya beli dari jauh, wis jan-jan ono ono wae, lha pohon gak tahu apa-apa dipaku, ya bener Sarto marah Nang"
"tapi Mak, lek sarto bawa Gaman mak, lek sarto bawa pisau besar Mak"
"wee la dalah bakal rame ki Nang... "


Mak pun masuk kembali ke kamar Nang hanya mematung diam.


"lho-lho Mak, kok bawa Tali, untuk apa Mak"
"ngewangi Lekmu sarto mesakke dewekkan, iki tali nggo naleni caleg mau arep tak bondo nang wet pelem ben di rubung semut angkrang ben kapok"



glosarium :
ediaaan : gila
gaman   : senjata
gendang : gila
kumat   : kambuh
ngamuk : marah
sampeyan : kamu
tandur   : tanam


Kamis, 16 Januari 2014

Rabu, 15 Januari 2014

Tertawa dan Menarilah

Teruslah menari
bila itu bahagiakan hatimu
aku kan tulis saja sajak-sajak ceritamu
tak perlu lagi sepanggung
karena cerita itu tak bersambung
klimaks t'lah kau endingkan
degresi kucoba buat tapi slalu saja kau akhiri duka
skenariomu terlalu hebat untuk lakon ini
akan kupentaskan esok suatu saat
agar kau tahu
ada bagian cerita yang kau paksa hilangkan
terus, teruslah menari dengan tawamu

Selasa, 14 Januari 2014

Pementasan Siang itu

Teruskan tarian dan tawamu
kan tergelar koreo bahagiamu
pun hatimu menangis
ah mana mungkin,
kutahu jenis tarianmu itu
aku tak mau monolog palsumu
merusak tarian kemenanganmu
menarilah terus, dan terus menari
semakin banyak penonton bergumam
"ahhh tokoh siapa lagi yang dia ajak menari itu? kok bukan kamu?"
"dia bebas memilih tokoh mana pun yang ia sukai, asal pas dengan
cerita yang ia inginkan"
kau pun menari dan tertawa siang itu
"Shinta Gugat" itulah lakon yang kau pentaskan,
kau langgar sendiri pakem yang pernah kau ucap
sementara dewa dewa memandang tanpa kata
hanya jalak dan gagak hitam berkaok
seiring rentetan pertanyaan penonton

aku hanya bergumam tak sedikit pun kau tahu aku ada di sana
kecrek, kenong, gong menggema menutup
pementasan siang itu

lakon apalagi yang kan kau mainkan esok
biarlah penonton pahami cerita tarianmu
berharap tak lagi ada penonton bertanya tentang isi tarianmu
kar'na kaulah yang menulisnya,
bukan naskah yang pernah kita pentaskan dulu

Minggu, 12 Januari 2014

Dalam Istirah di Kursi Panjang, Aku......


Bersandar istirah di kursi panjang
berkelana aku ke kota gudeg
bertamu di rumah raden sentono
ah aku bertemu sosok perempuan desa
sapa ramah maria magdalena pariyem
ya gadis gunungkidul itu
memijat aku sepanjang tidurku

kurasakan pijitan itu kian berbeda
kubuka mata ahh ternyata sumarah t'lah gantikan pariyem
ya sri sumarah, perempuan dengan kebaya ketat
janda seorang guru yang kini hidup dengan cucunya
"Tuan tidur saja lagi biar kuselesaikan tugasku" ucapnya

sejenak aku tlah jauh melayang
"tuan pernah mendengar sastra jendra hayuningrat pangruatingdiyu?"
bergetar aku mendengar pertanyaan itu, perlahan kubuka mata
sosok putri sukesi tlah bersimpuh ingin tahu tentang makna kalimat itu.
tak dapat kuungkap aku hanya takut tak dapat mengudarnya ahh aku pun kembali pejamkan mata

tak kusangka aku tlah dijalan menuju arah jakarta
hingga perempatan akhir kudengar gedorgedor di bak belakang
ahh ternyata lasi minta turun, aku tak tahu kapan gadis itu naik
kiranya ia masuk ke bak truk saat aku bertemu sukesi di warung tegal tadi

terhenyak tibatiba aku melihat sosok raksasa menggendong putri cantik melesat melanggar lampu merah
"tolong sampaikan Rama suamiku, aku di bawa seorang koruptor bilang padanya janganlah mencari Shinta, tapi pesankan untuk ke kantor KPK saja, pasti bertemu di sana...."

pusing tibatiba terasa bagai Srintil di akhir cerita
mematung tanpa kata diam tanpa fokus kemana mata memandang
terjatuh dari kursi panjang saat istirah aku

Sabtu, 11 Januari 2014

Ranum Senja di Pipimu

riuh tawamu, tertahan dalam katub bibirmu
sungging lesung pipi itu kian buatku luruh
tajam kutatap indah bola matamu kau pun berkedip
lentik benar bulu matamu itu



merah ranum pipimu pun seolah tertampar pandangku
serupa mawar kutarik rembulan dan kutahan di atas kepalamu
betapa kau tersipu bersandar manja pandang senja merayap

Do'a

Melangit doa menyibak tipis kabut di remang malam
berkendara kunang-kunang kugendong kamu
bersenandung sholawat mengetuk pintuNya

Elegi Luka hati

embun berjuang di ujung daun tak ingin terjatuh
serupa itu pula aku kepadamu
tapi mengapa kau biarkan embun itu menetes
tidak lagi perlahan tapi terhempas begitu keras

Kamis, 09 Januari 2014

Pada Subuh Pagi Ini

Gigil daun getarkan jagat pagi
suara itu bersahutan dari langgar satu
bangunkan mushola hingga masjid pun terjaga
rapal tereja menghembus perlahan
melangit menyusup di sela mendung berarak

beku peluk erat
kaku
bisu
tanpa kedip nafas mengalun
tiada mendengar
purbakan subuh dikampungku

Minggu, 05 Januari 2014

Gumam Pasung Rinduku

Kurasakan apa yang mendesak ingin hati kecil ungkap
merayap perlahan di ujung tenggorokan
menggantung pada pangkal lidah
tertatih huruf, suku kata, kata
hingga frase memberontak. tapi,
bibir enggan bersuara

ah kau t'lah buat otakku syok
kau t'lah buat semuanya beku
kaku, purba dalam senja
hanya gumam kembali memfakta
pandangi bayangmu
setubuhi wangimu
dan satu nafas panjang pasung rinduku

Rabu, 01 Januari 2014

Tidak ada terompet dan kembang api untuk Nang 3

"kemana saja kamu sesore ini baru pulang Nang"
"aku tidak kemana-mana kok Mak, tadi temani dedek tiup terompet"
"jadi kamu beli terompet?, cukup uangmu?"
"iya Mak, bahkan tidak jadi beli Mak!"
"trus kamu ambil dan mencuri terompet itu?"
"tidak Mak, aku tidak mencuri...., aku tahu mak mencuri itu dosa,

Mak kan yang ajarkan, walau miskin kita punya harga diri, 
lebih baik tidak punya daripada hasil mencuri.."
"trus kok kamu tidak beli?"
"begini mak tadi waktu mau beli ada Ibu-ibu dompetnya jatuh

 terus Nang kejar dan kembalikan, Nang mau di kasih uang, 
tapi Nang tidak mau terus nang lari ke tukang terompet takut pergi,
 kasihan dedek kalau tidak dapat terompet. waktu Nang mau bayar
 ternyata Ibu-ibu tadi ngikuti Nang mak, dan Ibu-ibu tadi yang bayar Mak, 
padahal Nang sudah menolak mak, tapi ibu itu memaksa sama tukang terompetnya"
"syukurlah nang Mak senang mendengarnya, sudah sana mandi dulu"
"Oh ya Mak, ini uang Nang Mak, alhamdulillah Mak, 

bisa untuk makan malam ini ya Mak, kan mak tadi tidak cari kayu di pantai, 
jadi pakai uang Nang saja ya Mak"

Tidak ada terompet dan kembang api untuk Nang 2

"Mak, apakah Mak masih punya uang siang ini?"
"Nang, kamu tahu kan Bapakmu tak pernah pulang apalagi kirim uang, 

sementara hasil jual kayu yang kemarin mak cari, 
sudah buat beli makanmu tadi siang, Nang"
"boleh tidak Mak, tabungan Nang di bawah dipan nang ambil"
"untuk apa si ? mengapa kamu begitu ingin uang saat ini"
"itu Mak, dedek tetangga sebelah mengamuk minta terompet, 

aku kasihan Mak, 
mungkin saja masih ada sisa terompet semalam yang dijual murah Mak"
Mak tak mampu mencegah ketika nang meraba-raba uang simpanannya di bawah dipan,

berlari Nang tinggalkan Mak yang hanya mematung 
mengingat Nang sendiri tidak meniup terompet semalam.

Tak ada terompet dan kembang api untuk Nang 1

"Mak, nanti malam jangan tidur dulu ya, 
aku mau tunjukkin Emak sesuatu yang Indah malam ini, 
di belakang gubug, dekat pantai Nang sudah siapkan meja kecil dan kursi"
"untuk apa Nang?, maafkan Emakmu Nang, tidak bisa belikan kamu terompet, 

dan kembang api"
 

"justru itu Mak, kita cukup duduk di sana dan nikmati langit 
yang kan bercendawan pelangi malam ini Mak,
tidak bising letusan dan terompet Mak"
Emak hanya diam, 

dipeluknya Nang erat, 
wajahnya berubah sembab
 isak pun perlahan terdengar 
seiring azan magrib mengumandang senja itu.

Sajak dan gerimis di hari pertama

Akan kutulis berlembar-lembar halaman
geliat itu tlah bangkitkan aku
sapa itu membuka segala
tentang asa, makna, dan rasa yang entah apa ini

bukanlah cinta atau percintaan
tapi kerinduan meletupletup tanpa tertahan

akan kutulis berlembar-lembar halaman
seperti gerimis di hari pertama tahun ini
begitulah ku ingin
beratus hujaman kata kan kutulis untukmu
beratus makna semoga kau mengerti
bahwa ada sajak yang tak pernah usai untukmu

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...