""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Jumat, 24 Oktober 2008

Menjelang Tanggal 27

Gemirisik irama genting mengusik kesunyian malam
Jiwaku gemetar oleh rasa dingin yang mengelu-elus sekujur tubuhku
Tak tahu dan kutetap tak tahu
Mengapa aku begitu asyik …. Begitu damai
Dengan malam yang larut dikala hujan menjadi tarian yang indah baginya
Walau ku sadari luka yang tak sanggup aku menahannya
Hanya kesedihan juga kepedihan cinta yang selalu kurasa

Hanya luka yang sering kurasa dan menyiksa
Saat cinta itu begitu kuat mencengkram hatiku
Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan diri ini dalam ketakberdayaan

Ketika semua telah terhenti , saat harapanku tak lagi berarti , dan jiwaku yang kian terhempas bersama embun pagi .Di dalam kekosongan yang amat sepi , di dalam lorong hati yang begitu sunyi dan di dalam kehampaan yang terus menyiksa diri , kutemukan arti dari sebuah makna yang tak di mengerti , namun tetap aku masih seperti ini , yang selalu ketakutan oleh malam yang berselimut duka .Di manakah akan kutemukan kedamaian itu lagi sedang kedamaian itu hanya ada pada CINTA yang semakin menjauhiku bahkan meninggalkanku , lalu mungkinkah suatu saat nanti CINTA itu kan kembali menyapaku , dan mengajakku pergi …….hingga aku kan bahagia sungguh walau aku merasakan luka , aku tak mau orang yang kuCINTAi terluka , dan aku tak ingin melukainya , biarlah aku yang terluka sendiri ….. dari pada harus melihatnya terluka …..
Aku bersama malamku…kan pergi berjalan bersama mimpiku … kutahu CINTA ini memang tak di mengerti…namun aku harus bisa menerima semua ini … kan kujaga ia dengan sepenuh hati …. sungguh ini bukanlah kesedihan bila aku harus menjalani semua ini dengan penuh ketabahan , keteguhan dan kesabaran .Semua yang terjadi ini adalah wujud dari CINTA yang tak mudah di artikan dengan mata pengelihatan karena ia tersembunyi dibalik tirai hati , semua ini adalah bentuk dari sebuah CINTA yang terpendam yang tertutur dari jernihnya suara hati , memang aku telah terluka namun aku bangga karena aku masih bisa merasakan luka , karena sesungguhnya luka itu mengajarkan pada diriku tentang arti CINTA yang sebenarnya , namun apakah aku harus terus terluka saat aku mulai mencintai bahkan saat CINTA itu semakin kuat memeluk hati , yach …. Mungkin Tuhan tak mengizinkanku tuk merasakan keindahan cinta atau memang aku yang amat dungu dan bodoh …… sehingga tak pantas dengan semua itu …..
Selama ini mungkin hatiku telah tertawan oleh CINTA ,terpenjara oleh rasa takut , takut kehilangan CINTA bukan takut terluka , saat CINTA kian begitu indah kurasakan , ia membuat diriku menjadi gila , mambutakan mata , menulikan telunga , memenjarakan akal tak berdaya , mambuat mulut terdiam tak bersuara ,namun dalam kegilaan itu hatku menemukan penyucian dan penyatuan abadi ,sedang dalam ketak berdayaan ,hati memeluk keindahan diantara rasa takut dan harapan , Dan dalam dimensi sebuah cinta ,Sesunguhnya mata dapat melihat kebenaran yang sesungguhnya, Telinga mampu mendengar sebentuk bisikan dari lorong jiwa ,Lalu mulut tak henti-hentinya menyanyikan musik dari surga .sedang CINTA tsb tak lain adalah hanya CINTA yang memang muncul dari dalam hatiku walau ia begitu jauh dariku .
Selama ini pula aku selalu ingin mengungkap semua rahasia yang tersembunyi dibalik kilatan cahaya CINTA ,namun bukan rahasia itu yang kutemukan melainkan sebuah kebingungan yang kerap kali menjadi kabut tebal bagi imajinasiku ,semakin aku ingin lebih jauh mengungkap rahasia CINTA maka kebingungan itu semakin jelas terlihat dalam benakku ,sungguh tak pernah kupahami apa yang sebenarnya tersembunyi di balik biasan CINTA tsb ,Sebuah CINTA yang selalu membawaku ke tepi kedukaan …. Sebuah CINTA yang selalu mengantarkanku pada jurang kesedihan yang amat gelap dan menakutkan . apakah selamanya CINTA itu kan menjadi misteri yang tak pernah mungkin terpecahkan olehku……?aku bingung …. Aku jenuh … aku bosan dengan diriku ini …. .aku ingin mencari kedamaian … ketenangan dan keindahan CINTA …. Tapi kemana akan ku cari semua itu … dimana akan ku temukan semua itu ….. sedang kutahu sendiri CINTA seringkali melemahkanku membuat aku selalu putus asa …..dan aku tahu sendiri CINTA itu telah pegi
Sungguh besar aku terlalu berharap kepada CINTA yang selalu membuat aku percaya diri ini , namun mengapa kurasakan ia begitu jauh untuk ku gapai bahkan ku jamah , apakah benar bila aku memang sudah di takdirkan selalu berbagi hati hanya dengan kesunyian dan kesendirian , sungguh betapa aku selalu berharap kalau aku dapat selalu berbagi hati dengan orang yang aku CINTAi , karena tak mampu ku ingkari bahwa tak ada yang lebih berarti dalam diriku kecuali CINTA yang selama ini terus aku pendam . Tak mampu jika aku harus berpaling saat CINTA mulai hadir damaikan hidupku , saat ia sedang asyik bermain dengan hatiku , aku tak berani mengusiknya , dan sekarang begitu dalam aku merasakanya namun mengapa saat aku begitu yakin dengan CINTA itu ia pergi begitu saja sebagaimana banyak CINTA yang dulu pernah menyentuh kehidupanku . Sungguh berat aku untuk menjalani semua ini … melalui semua duka yang terus datang silih berganti ….
Mengapa saat CINTA hadir ingin menguatkan diri kita justru kita tak kuat dengan apa yang ia beri …. Saat waktu berhenti kosong … jiwa ini terjulur tak berdaya … lalu diri ini terdiam menjadi hampa tanpa kehangatan kasih sayang sang cinta …. dan di setiap waktu itu datang ,aku terbang dengan sayapku yang terluka ,lalu akupun terjatuh tak berdaya … mengerang kesakitan … tak ada yang datang … tak ada secawan air yang menghilangkan dahagaku … tak penawar yang menyembuhkanku … dan aku hanya mamapu meratap CINTA yang hilang dengan kesakitanku ini .
Sekarang aku sadar bahwa aku tak kan mampu memiliki CINTA yang aku harapkan itu …. Sekarang aku tahu bahwa aku ini memang seorang dungu yang tak pantas merasakan indah dan bahagianya CINTA dan lebih pantas selalu merasakan perihnya duka dalam tangis yang tersedu-sedu … .sekarang aku mengerti jika semua CINTA yang aku rasakan hanya dapat kubayangkan dan kuhayalkan ….. sekarang aku tak lebih dari bagian orang-orang bodoh …. Idiot dan gila yang mengharap akan adanya seorang wanita yang menjaga dan merawat juga mencintainya dengan sepenuh hati ….. sekarang aku semakin paham bahwa hidupku akan selalu dipenuhi dengan penderitaan …. Sekarang aku sadar bahwa selama ini aku hanya bermimpi …….. dan hanya bisa meraih semua CINTA yang pernah menyentuhku hanya lewat mimpi tak nyata … semu juga tak berarti ….
Kini diriku semakin tak berarti oleh semua yang ingin aku raih … ingin aku jadikan nyata , semua itu hanya ada dalam cerita fiksiku , aku salah karena telah menduga dan mengira bahwa aku dapat hidup bahagia dengan CINTA lain yang memang aku rasakan keberadaanya dalam hatiku , aku bodoh karena menganggap semua kan baik-baik saja dan akan merubah diriku jadi lebih baik jika mengikuti suara hatiku …… ternyata semua sama saja …. Semua tetap seperti dulu …. Semua tidak berubah jadi baik dan tak merubah diriku jadi lebih baik … kembali aku harus tertindas oleh pedihnya luka hati …. Meratap sendiri kala malam menjadi teman bagi kesunyian …..
Di bawah temaramnya malam aku terdiam,Akupun semakin menyadari,Bahwa aku kan kehilangan cinta, Bahwa semua yang kuharapkan hanya kan meinggalkan kenangan, Sedang yang tersisa hanyalah sebuah perihnya luka …..
Aku melihat diriku sendiri memulai hari2 dari senja,tetapi aku tak tahu kapan dan dimana jejak kakiku akan berhenti,yang ku tahu aku akan lelah dengan kepedihan dan penderitaan ini,lelah dengan takdir yang terus menghantamku hingga seperti ini ,bagai raung gelombang yang angkuh ketika menghantam angin kencang……di antara celah2 selubung kelelahan itu aku selalu mengharap ada butiran2 mutiara yang berkilauan ,mutiara2 yang menyelimutiku di sepanjang malam ,yang kerlipnya memancar di sela2 permukaanya ,layaknya cahaya bintang dalam gebyar tarian malam yang kadang terang dan beberapa saat menjadi redup.
Tapi sampai kapankah aku terus seperti ini ….terus melalui hari dengan kehampaan …. Terus menjadi sahabat bagi kesendirian di malam-malam yang panjang …

Aku pinjam Surat Pendek perenungan atas CINTA
jangan pedulikan isinya karena hanyalah sebuah esai
mudah-mudahan kebahagiaan tergapai olehmu wahai CINTA

Kamis, 23 Oktober 2008

Sekali-kali cerita serem ya

Wewe mandi tiap Malam Selasa Kliwon

Seperti halnya bangsa manusia, wewe pun mengenal mandi. Bedanya, mereka tidak mandi setiap hari, tetapi selapan (35 hari) sekali. Pada malam Anggara Kasih atau Selasa Kliwon, wewe mandi di sungai. Kedatangannya membuat bulu kuduk berdiri…

Tempat yang paling digemari oleh wewe adalah sungai yang angker dan wingit. Di sungai seperti inilah mereka membasuh tubuhnya. Jangan bayangkan tubuh wewe bagai tubuh manusia. Memang, mereka memiliki anggota badan seperti halnya manusia, tetapi ukuran mereka terlampau besar dan tidak proporsional.

Kedatangannya ke sungai ditandai dengan firasat yang hanya dapat ditangkap oleh mereka yang memiliki kekuatan ghaib. Kabarnya, kedatangan makhluk halus ini ditandai dengan angin yang berhembus kencang. Meski dasyat, angin itu tak mampu menggerakkan dedaunan yang ada di sekitar sungai.

Kontras memang. Angin yang begitu dasyat tak menggoyahkan daun-daunan. Setelah itu, dengan pakaian lengkap mereka akan menuju kolam yang sangat jernih. Mata awam melihat tempat itu sebagai sungai yang kotor. Tapi, secara magis, tempat itu adalah kolam yang sangat jernih.

Perlahan-lahan mereka akan menanggalkan bajunya. Baju yang dikenakan oleh wewe menyerupai jubah, panjang sampai ke tanah. Jangan bayangkan bentuk tubuhnya kecil seperti manusia. Bentuk tubuh wewe sangat besar dan tinggi. Meski demikian mereka mampu menggelantung pada dahan pohon yang amat kecil.

Setelah pakaiannya dilepas, bentuk tubuh wewe terlihat jelas. Ya…ampun, bentuknya sangat mengerikan. Hidungnya panjang dan bengkok mirip seorang nenek sihir dalam perfilman. Rambutnya panjang terurai. Yang lebih menyeramkan adalah bentuk buah dada yang terjuntai sampai ke betisnya.

Konon, para wewe memilih mandi pada malam Selasa Kliwon karena mereka beranggapan malam itu adalah malam yang suci. Pantas, pada malam Anggara kasih para wewe bersuka ria membersihkan badannya.


Dibunuh saat hamil, jadilah kuntilanak

Wanita berusia 16 tahun yang tengah hamil empat bulan ditemukan tewas di belakang Puskesmas sumbermakmur. Seminggu kemudian, warga digegerkan dengan kemunculan kuntilanak. Diduga, arwah sang gadis menjelma menjadi kuntilanak.

Gadis yang meninggal dengan bekas cekikan pada lehernya itu ditemukan pada bulan April 2002. Kabarnya, dia dibunuh oleh pacarnya sendiri yang tidak mau bertanggungjawab terhadap kehamilannya. Kematian tak wajar itu ternyata berbuntut panjang.

Satu minggu setelah kematian gadis tersebut, warga mulai merasakan teror yang menakutkan. Beberapa rumah warga, pada tengah malam, diketuk oleh makhluk yang jelas juntrungnya. Tatkala pintu itu dibuka, tidak ditemukan siapapun juga.

Sejak munculnya ketokan gaib itu, warga mulai menduga jika arwah sang gadis menjelma menjadi kuntilanak. Apalagi, sejumlah warga percaya jika orang yang sedang hamil dan mati tak wajar maka arwahnya akan gentayangan dan menjadi kuntilanak.

Peristiwa paling menakutkan menimpa Warso, tukang ojek yang mangkal di daerah itu. Tepat malam Jumat, di tengah jalan dia dihentikan oleh seorang gadis yang minta dia antar ke rumahnya. Warso pun menuruti kemauan sang gadis.

Anehnya, begitu sampai di rumah yang dituju, gadis itu lenyap. Warso pun memberanikan diri mengetuk rumah sebelahnya dan menanyak tentang gadis tersebut. Namun, jawaban dari tetangga itu justru mengejutkan. Sang gadis sudah mati sekitar tiga minggu yang lalu.

Warso lemas. Dia tak menyangka telah mendapatkan penumpang arwah gentayangan. Bila ingat peristiwa itu, Warso menjadi enggan menarik ojek di tengah malam. Kini, warga Sumbermakmur sedang berupaya mengusir kuntilanak dari wilayahnya.


Didatangi Hantu Pocong


Awal kisah mengerikan ini terjadi saat aku dan beberapa temanku berkunjung ke desa Bringin, Salatiga untuk melaksanakan kuliah kerja nyata atau KKN. Kedatangan kami saat itu disambut ramah oleh penduduk setempat, bahkan beberapa penduduk sempat memberikan kami makanan dan minuman.
Setelah diterima oleh unsur perangkat desa, kami kemudian diboyong ke rumah Pak Imron Lurah setempat , yang selanjutnya menjadi tempat pondokan kami selama KKN di Salatiga. Segala sesuatu yang ada di rumah tersebut masih tampak asli, termasuk tata ruang dan aneka furnitur yang digunakan.
Hanya saja, di rak atas sebua lemari, terdapat beberapa botol kaca yang berisikan paku, pasir, potongan besi, potongan tali tambang, dan lidi. Ketika kami menanyakan tentang benda tersebut, rupanya benda-benda itu berasal dari tubuh si Pak Imron (nama samaran) ketika dia berkali-kali mendapat teror teluh dari rivalnya saat pemilihan kepala desa. Kendati cerita Pak Kades itu terdengar mengerikan, namun semua itu hilang ketika kami melihat-lihat keindahan alam desa tersebut.
Saat memasuki hari ke tujuh, dari dusun paling utara aku mendengar kabar ada musibah tanah longsor. Beberapa rumah yang berdiri diatas tanah merah di dusun tersebut ambruk, dan seorang anak berumur 5 tahun dan pria dewasa berumur 32 tahunan dilaporkan hilang. Merasa tersentuh dengan peristiwa nahas tersebut, kami bertujuh (tidak termasuk rekan wanita) ikut menggali timbunan tanah merah yang hampir menutupi rumah tersebut. Ketika sedang menggali, kami menemukan bocah cilik yang dilaporkan telah hilang, sayang ketika ditemukan keadannya sudah sangat mengenaskan karena tubuhnya dipenuhi luka yang cukup parah.
Ketika senja datang, desa yang tadinya ramai dengan penduduk berangsur menjadi hening. Kebetulan saat itu Pak Imron melarang warganya untuk keluar rumah, hal ini dilakukan untuk menghindari longsor susulan. Ketika suasana sunyi ini, aku dan beberapa teman mencoba mengusir rasa sepi dengan bermain gitar di beranda samping rumah yang tepat menghadap hamparan sawah luas, dan diujung sana terlihat bukit yang siang tadi mengalami longsor.
Setalah berdendang satu-dua buah lagu Iwan Fals, tiba-tiba secara bersamaan kami melihat sekelebat ada bayangan yang melintas dengan gerakan melompat-lompat dari ujung tebing itu ke arah kami. Namun ketika kami berusaha menegaskan, entah kenapa bayangan yang melompat-melompat itu hilang seketika. Merasa ada yang tidak beres, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam dan berjanji tidak ingin membahas masalah ini. Maksudnya agar rekan-rekan wanita tidak merasa panik.
Ketika masuk ke dalam, rupanya rekan-rekan kami yang lain sudah masuk ke kamar duluan. Karena anak laki-laki kebagian jatah tidur di ruang tamu, aku secepat mungkin mencari tempat yang nyaman, yakni sofa.
Sofa tersebut memang lebar dan panjang, bahkan jarak antara ujung kaki saya dengan sandaran tangan sofa masih ada ruang sekitar 40 cm. Karena merasa letih, malam itu aku langsung tertidur. Tapi tak berapa lama aku terbangun karena udara malam itu dingin sekali. Aku berusaha merubah posisi tidur dengan miring ke arah jendala, sekaligus menjaga-jaga kalau jendela terbuka karena terhembus angin.
Begitu beranjak dari sofa hendak berbalik, alangkah kagetnya aku saat itu. Aku melihat dengan jelas sosok pocong yang berdiri tegak dengan posisi membelakangiku. Karena takut aku berteriak sekuat-kuatnya sambil membangunkan teman-temanku yang saat itu tidur di lantai. Ketika bangun mereka semua kaget dan ketakutan ketika menyaksikan pocong itu.
Tak berapa lama, pocong tersebut mulai perlahan menolehkan wajahnya ke arah kami. Ternyata wajah sangat menyeramkan penuh dengan luka dan darah yang bercampur tanah merah. Begitu pula dengan kain putih yang membungkusnya.... penuh dengan darah dan tanah merah.
Mendengar kami gaduh, Pak Kades dan teman-teman wanita keluar dari kamarnya. Ketika melihat kalau di ruang tamu itu terdapat pocong, teman-teman wanita langung berteriak histeris dan pingsan. Dalam keadaan mencekam itu, perlahan-lahan pocong itu bergerak melompat menuju pintu keluar dan hilang seperti menembus pintu yang saat itu sedang tertutup rapat.
Malam itu kami tidak ada yang bisa tidur, rasa takut itu mulai hilang ketika adzan shubuh berkumandang. Kami bergegas pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, saat di masjid itu kami baru mendengar kalau salah seorang warga di dusun utara ada yang terkena musibah longsor dan ditemukan tewas dengan keadaan mengenaskan.
Ketika hari mulai terang, sebagai rasa simpati kami berangkat ke desa tersebut untuk melayat warga yang sedang terkena musibah itu. Saat sampai di rumah duka, lagi-lagi kami dibuat kaget ketika melihat wajah almarhum yang sedang terbujur kaku dan diselimut kain putih itu. Pasalnya wajah pria itu persis sekali dengan pocong yang kami lihat semalam.......

Selasa, 21 Oktober 2008

Serpihan-serpihan asa

jangan biarkan lelah mencuri potongan semangat
yang telah kau jaga selama nafasmu tumbuh merambah
menjalar ke seluruh hamparan padang kehidupan itu

tak ada jalan lain selain merobek dan mengeluarkannya
dengan tangan kepingkeping harapan dalam tubuh
walau keperihan terus melilit dan semakin menjerat

bangunan fana tak cukup kuat untuk bisa kau tangisi
titik-titik rasa harus kau bungkus dan tanam dalam-dalam
hingga tak sepercik perih pun akan bisa mendekatimu

mulai saat ini serpihan tajam akan menjadi teman baikmu
dan kuharap segala harapan yang telah sirna akan kembali
mengendap-endap dan memelukmu dari belakang

jangan biarkan gundah mencuri sekerat suka mu
karena sekelilingmu hanyalah bayangan semu
dan kita semua hanya mampu bertamu
dalam hamparan padang kehidupan itu

Duka dan Suka

Duka tak mengerti, mengapa Jiwa cenderung mengabaikannya. Jiwa ternyata lebih condong pada Suka. Di mana dan ke mana pun mereka berada, Jiwa selalu saja memperlihat dan memperkenalkan Suka. Jiwa sebegitu membanggakan Suka. Duka merasa Jiwa selalu menutupi keberadaannya. Tak memperlihatkan, membicarakan, bahkan berupaya melupakannya. Padahal, di saat Jiwa ditinggal Suka berlama-lama, Duka begitu setia menemani. Menanti kapan Suka akan kembali, atau turut mencari ke mana Suka pergi. Meski penantian dan pencarian memakan waktu, menguras apa saja, atau hanya sia-sia.
Duka merasa Jiwa terlalu memanjakan Suka. Merasa Suka adalah segalanya. Berkali Duka menyaksikan Jiwa bagai lepas kendali saat bermanja dengan Suka. Sebenarnya Duka tak cemburu, Duka tak ingin Jiwa menjadi lalai. Namun, saban kali Duka mengingatkan, Jiwa justru menyalahkannya. Duka malah dianggap sebagai penyebab perginya Suka.
Duka tak pernah membantah Jiwa. Duka menampung segalanya. Segala amarah dan keluh-kesah. Duka berusaha meyakinkan Jiwa, bahwa Suka pasti kembali, andai bersabar dan terus berupaya. Tapi entah mengapa, Jiwa kembali melupa di saat Suka telah kembali. Jiwa kembali bermanja-manja dengan Suka. Berulang ini terjadi, namun Duka tetap setia menemani.
Apakah Jiwa telah melupakan perjanjian yang mereka ikrarkan di hadapan Maha? Atau Jiwa tak menyadari dan kembali mengulangi sebentuk kesalahan pernah terjadi? Di mana pada awal Jiwa ada dan berada, Duka pun dihadirkan. Maha menyatukan mereka. Sementara keberadaan Suka sepenuhnya ada pada Maha. Namun Jiwa menginginkan Suka. Jiwa merasa hampa, merasa tak sempurna tanpa memiliki Suka.
“Ya Maha, berikan daku Suka, agar sebagai Jiwa daku mempunyai rasa seutuhnya.” Berkali Jiwa mengulangi permintaan kepada Maha. Maha pun berkenan, dengan persyaratan Jiwa harus berupaya dan selalu menjaga.
“Sepenuhnya Suka milikku. Aku hanya memberi seperkian saja, karena kau tak akan sanggup menjaga.”
Lalu satu waktu, Jiwa sebegitu takjub melihat sebentuk mirip dengannya. Sebentuk yang seketika mengusik perasaan. Sebentuk yang tampak sedemikian mempesona.
“Apakah kamu Suka?”
Sebentuk itu mengangguk. Seketika Jiwa pun melupa keberadaan Duka.
Satu waktu Suka merayu Jiwa. Jiwa tergoda. Maha pun murka, karena Jiwa telah melanggar pantangan.
“Aku berikan Suka agar kau selalu mengingatku. Mengapa engkau melupa?” “Ampuni daku Maha.”
“Aku mengampunimu, namun untuk itu engkau harus menjalani satu rentang waktu pada suatu tempat. Duka akan selalu menemanimu. Pada rentang waktu dan tempat tersebut Suka akan berada. Suka kuhadirkan dalam berbagai unsur dan bentuk. Suka adalah rahasiaku. Aku yang menentu dan mengatur kapan kuperlihat dan kuberikan. Aku yang berkuasa mengambilnya kembali. Ingatlah! Suka adalah bagianku, maka jangan sesekali melupakanku.
Jiwa pun mengembara pada suatu tempat menjalani satu rentang waktu. Duka selalu mengisi hari-harinya. Jiwa terpana menyaksikan alam barunya. “Apakah ini seluruhnya adalah Suka? Lalu, di mana Suka yang pernah kurasa? Suka yang menemaniku bersenda-canda?” Benak Jiwa dipenuhi Tanya.

Disadur seperlunya dari "Home Poetry"

Senin, 20 Oktober 2008

Apa Yang Ku Bisa Sekarang

Aku tak tahu lagi kejamkah, sadiskah atau memang kondisi yang memaksa aku harus seperti ini. Angin gunung yang aku harapkan bisa memberikan kesejukan telah pergi entah kemana. Mungkin sindoro sumbing telah rengkuhmu dalam dekapnya. Pesisir tiada lagi mampu berharap, salah dan memang sangat salah apabila aku berharap toh memang bukan hakku lagi untuk berharap banyak padanya. Sindoro Sumbing lebih berhak memilikimu.
Lekuk-lekuk ular jalanan telah aku lalui , kenangan bersama kabut yang dekapku, sedap khas pegunungan masih tersisa di helai rambut hidungku. Gerimis tipis saat kabut memayungi menjadi bagian tersendiri yang selalu terngiang bila hujan turun di pesisir. Keping-keping telah retak yang tak mungkin lagi menyatu.
"Bila kamu disisiku hati rasa syahdu..., satu hari tak bertemu hati rasa rindu....."
Kak Rhoma bersenandung di radio transistor bututku, radio itulah yang bisa mendamaikan hati ini. Aku ingat terakhir bersua denganmu ketika kuku ini kupotong pendek dan kini telah memanjang. Kuku di jariku telah tumbuh seiring kerinduan pesisir pada angin gunung. Tidak akan kupotong kuku ini kecuali memang Tuhan yang menghendaki patah dengan cara apapun.
Aku sekarang hanya berharap salam darimu tuk damaikan perasaanku. aku tak berharap banyak apalagi mendekapmu, seperti saat kau dekap layar biduk berhembus ke samudra, bersama terombang-ambing di tengah debur kehidupan hingga fajar menjelang saat angin pesisir mengusirmu kembali kepegunungan. Memang bukan ikan yang kita harapkan, hanya simphoni kehidupan semoga memihak kita.
Hidup memang harus berani memutuskan. Kau telah putuskan sesuatu yang memang harus kamu lakukan. Doaku semoga angin gunung tetap segar bersama sindoro sumbing. Kini tinggal pesisir bersama biduk mendekap sepi.

Sabtu, 18 Oktober 2008

Kehilangan

"Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga..."
"sungguh berat aku rasa, kehilangan dia... sungguh berat aku rasa..hidup tanpa dia.."


Irama dangdut mengalun merdu di radio tetangga, gubug-gubug di kampungku berdindingkan anyaman bambu yang bisa untuk menyaring pasir alias berlobang membuat suara dengan mudah menerobos masuk tanpa permisi.
Alunan itu semakin menusuk perasaan semakin membuat nyeri hingga aku tertatih dalam kelukaan. Angin pesisir menyibak nyiur diantara gubug-gubug dan rekahan lumpur mengering. aku saksikan bangau mengais ikan-ikan kering diantara bangkai-bangkai pohon yang telah lama terpendam. Kepiting tua tertatih merayap diantara batu berlumut dalam siraman debur yang berbusa. Daun, plastik botol-botol berserak di hamparan pasir, mataku semakin keruh kerontang.
Satu bulan merayap dalam tanggal yang tak pernah bicara. Bulan hanpa sejak angin gunung tiada berhembus hingga biduk-biduk mendengkur terlelap dalam buaian jaring-jaring membisu. Aku tak tahu apa sebab angin gunung tak pernah menyapa pesisir lagi. satu dua kali kutitip pesan lewat bangau yang sering berkunjung, lewat bulan dan bintang yang tiap malam menemani pesisir dalam buaian lelap. Kemanakah kau wahai angin gunung.

"Kutahu rumus dunia semua harus berpisah tetapi kumohon tangguhkan-tangguhkanlah..."
"Bukan Aku mengikari apa yang harus terjadi tetapi kumohon kuatkan-kuatkanlah.."

Kembali menyeruak seiring rinai yang melintas menyapa sudut bibirku.

Sabtu, 11 Oktober 2008

Padamu Karang dan Nyiur

Ini kali keempat aku terpekur dalam rana
nyiur tetap berirama bagai piano alam, dan
karang kokoh membisu dalam cercaan ombak
mendung berkabut memayung menambah pekat rasa

pesisir tak lagi ramah
kepiting tua membisu tertatih membajak pasir
bangau ,masih mengais ikan kering diantara
rekahan lumpur yang mengering

sementara biduk tertidur dalam dengkur
layar dan jaring membisu dalam tali tergantung
gelombang tetap mengombang-ambingkan
kehidupan yang tiada makna ini

aku tulis sajak ini kala anak-anak bertanya
mengapa laut kini semakin kotor?
mengapa pantai tak lagi indah di pandang
dan mengapa angin gunung tiada terdengar lagi

aku tulis sajak ini
kala karang merindukan bisikkan
kala pasir merindukan belaian
serta nyiur rindu pelukan

kau yang hembuskan
haruskah pula kau yang hentikan gejolak
angin yang berhimpit menyesakkan kenangan

karang
nyiur
kepiting tua
biduk yang mendengkur
padamu rindu kugantung

Rabu, 08 Oktober 2008

Dalam Temaram Aku......

Angin pesisir tenang menyeruak
aku bersimpuh ditengah temaram
bermahkotakan lembayung senja
dan birunya air laut nan tenang
menikmati kenangan diantara temaram

bayanganmu silih berganti tampar dinding benakku
sementara laba-laba masih merajut jaring diantara bangkai biduk
senyummu terpatri seiring tiupan angin pesisir
milyaran kata terucap,
tak terasa waktu melesat…
sebuah kenangan indah baru saja tercipta
diantara karang, pasir dan kepiting tua

angin pesisir, jangan lalui kami…tinggalah sejenak,
sebentar lagi
karna malam ini belum ingin kuakhiri

Andai angin gunung tetap tak berhembus lagi
hanya padamu aku masih bisa berbagi

Selasa, 07 Oktober 2008

Di Pesisir Ini Angin Gunung Tak Terdengar lagi

aku tidak lagi bisa berpikir
mengapa angin gunung tak kedengaran lagi di pesisir
aku terpekur diantara karang
kutatap tiang tali dan biduk terbalik
semua diam
sementara riak berdesir kosong

kala bangau migran dari gunung hinggap di pesisir
kucoba tanya mereka diam
mengapa datang tanpa membawa angin

kuingin angin gunung berhembus
walau hanya desir pada ombak
walau desir pada nyiur
ku tak ingin badai

pesisir tlah kerontang
bangau tertatih diantara rekahan lumpur
mengais ikan kering diantara serabut kayu terpendam
mencabik-cabik bergelut dengan matahari
di pesisir ini angin gunung tak kedengaran lagi

Senin, 06 Oktober 2008

Angin Gunung Tak Berhembus Lagi

Aku tulis sajak ini kala
angin gunung tak berhembus ke pesisir lagi
sementara syawal tlah masuki hari ke enam
aroma opor tlah berganti ikan asin
biduk-biduk kecil pun mulai merayap diantara gelombang

aku tulis sajak ini kala
seekor bangau putih bertengger di ujung biduk
lelah, tertunduk menjaga keseimbangan jiwa yang entah kenapa
sementara gelombang mengombang-ambingkan memori yang tlah lalu

Aku tulis sajak ini kala
angin gunung tak berhembus ke pesisir lagi
di tengah goncangan ombak aku perhatikan bangau itu
seakan bercerita tentang keputusasaan
berkali benang dirajut, berkali sarang di rangkai
selalu saja angin malam mendinginkan dan meluluhlantakkan kehangatan

Aku tulis sajak ini kala
aku tertasbih bersama bangau putih
merindukan angin gunung yang tiada lagi menyapa
pesisir

Kamis, 02 Oktober 2008

Emak pun Berzakat

Takbir bergema sesaat setelah bedug maghrib terdengar
keriuhan petasan pun mengiringi akhir ramadhan
berlalu lalang jamaah menuju mushola
zakat fitrah menjadi penyempurnaan akhir dari perjalanan
manusia tuk meraih kemenangan dan janji Allah

"Nang! mak mau tanya?"
pandanganku terhenti sejenak saat suara itu
menyusup perlahan di telingaku

"Nang, mungkinkah Allah menolak Zakatku,Nang?"
"Emak kan bergelimang dosa.., emak tidak puasa,
Emak juga tidak tarawih Nang...., tapi
Emak ingin berzakat Nang..."

Aku terdiam,
ada sesuatu yang mengganggu perasaanku
Kembali terbayang Emak menyia-nyiakan mukena
Emak tidak pernah menyentuh air wudlu
Emak lebih meNuhankan Bedak, gincu dan parfum
bahkan emak rela tidur dengan siapapun yang mungkin
salah satunya adalah bapakku.....

ada keinginan untuk memarahi Emak malam ini
Bila teringat Emak tidak pernah ajari aku Sholat
Emak tidak pernah ajari aku baca Quran
atau bahkan Emak tidak pernah ajari aku
mengerjakan PR guru

Tapi,mengapa detik ini Emak menanyakan itu...
"Nang, mungkinkah Allah menolak Zakatku,Nang?"
"Emak benar-benar ingin berzakat Nang!"

lelehan airmata 1 syawal pun tak jua bisa emak tahan
seiring dengan rengekkan emak...,
Tapi......
mungkinkah Emak benar-benar dapat hidayah
kala malam 27 ramadhan lalu
hingga Emak seperti ini....

"Antar Mak ke Mushola ya Nang!"

Allahhu akbar allahhu akbar allahhu akbar
laa illa ha illallahhu allahhu akbar
allahhu akbar walillahilham....

Malam 27 Ramadhan

"Mak !, Emak tidak pergi malam ini?"

Lirikan emak membuatku kaget.
Tidak seperti biasa Emak berdiam lama di depan kaca rias.
sementara bedak, gincu dan botol parfum tertidur lemah
kulihat rangkaian kaca mulai retak di mata emak
sembab pun mencair meleleh melintasi pipi emak

sementara suara lantunan ayat suci dari pengeras
mushola makin mengaduk-aduk perasaanku

"Mak !, kenapa Mak membisu? ada apa mak!"

Emak berdiri dan melangkah ke Padasan
tempat di mana aku biasa menyucikan diri sebelum
ke Mushola

Kulihat Emak mulai membasahi telapak tangan
pergelangan dan lengan hingga sikunya
wajah pun tak lepas dari percikan

kutatap emak dengan bimbang,
adakah yang berubah dari emak malam ini?
benarkah Emak tidak lagi bergincu dan berbedak
tapi bermukena?

"Nang!, ajari Emak baca al quran ya Nang"
kudengar pelan bergelayut masuk ke telingaku

"Nang!, ajari Emak baca al quran ya Nang"
Untuk kedua kalinya tak kupercaya meluncur lagi
dari bibir Emak

Kusaksikan airmata kembali meluncur
menyentuh sudut bibir emak

"Iya Mak"

Kuikuti emak yang perlahan melaluiku
disentuhnya mukena yang selama ini tak pernah
sekalipun dibelainya

Tak kupercaya malam ini,
tepat ramadahan ke 27 emak tlah sentuh dan pakai
mukena, bahkan bibir emak pun mulai mengeja
huruf hijaizah walau tak sempurna tajuid dan mahrajnya

seiring 30 juzz selesai dibaca seorang hafidz di mushola
emak pun mulai melantunkan al baqoroh setelah fathekah selesai dibacanya

aliff lammmmmmm mimmmmmmmmmm

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...