""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 28 Februari 2013

Entah

ini kali kembali kukecup pagi
almanak tua di akhir lembar
serasa asing bergelantung pada awan menghitam
sketsamu pudar
tak lagi sempurna

ah entah
aku hanya bisa bergumam


Senin, 25 Februari 2013

Inikah Luka Peradaban?

Luka makin menganga
tingkahi purnama tanpa pelangi

bulan membara tanpa makna
aku unggah segenap luka hingga jelas
kulihat tusukan belati tatapanmu
kurasakan perih simpul senyummu


ingin kulumatkan semua setapak
menjadi puing-puing kegelapan

kubiarkan luka menganga
hingga darah meleleh menyeret kenangan
duaratus keringat pengorbanan

kulihat kudengar dan kurasakan
betapa kelicikan semakin menjadi
mengubah almanak menjadi sampah peradaban

menatap pengemis tertatih memberi makan
tikus tikus got, sementara tikus berdasi menari
dalam perjamuan demokrasi
mimpikah ini?

kegelapan menjadi ajang pesta
bagi hasrat menjijikan , dalam lingkar puting anyir
melata tertatih seekor cacing emas
pada segenap ranjang kemunafikan

Minggu, 24 Februari 2013

Rindu dalam Tatapan Gelisah di Lorong Langit

Terperangkap rindu dalam tatapanmu
gelisah di lorong langit
pada purnama  meremang

kembali aku renungkan perjalanan panjang yang tak lagi lelap
buaikan mimpi-mimpi tentangmu

berbisiklah, agar kudengar kembali desahmu
singkirkan kabut sepi dan kerudung kerinduan
berbisiklah agar kudengar gelisah malam-malammu
hadirkan senyum menyimpul indah di pipi ranummu

tersihir rindu dalam senyum itu
sendiri gelisah di lorong kehidupan
tebarkan mantra gundah melayang
menuruni lembah relung kalbu 
menyusuri lorong urat nadi

jangan biarkan purnama ini pekat
melayang,  kabarkan
kisah-kisah kelam pada catatan hati

Sabtu, 23 Februari 2013

Secawan Rindu dalam Puisi Gerimis


Debu menggelayut pada dinding bisu
menghampar lumut menghijau menghiba
gigil mendung hembuskan angin, sajikan
secawan rindu dalam puisi gerimis

kesenyapan ciptakan kidung lara
diantara bingkai angin
membatu hati menyepi

Rabu, 20 Februari 2013

Dalam Hangat Segelas Bajigur

Kupandang segelas bajigur dalam genggamku
pada riuh penjaja pakaian dan sandal di tengah alun-alun
bukanlah angin yang gigilkan tiba-tiba
tapi pandangku terantuk seraut bayang
bergoyang di antara buih jahe dan kacang hijau
seketika geletar degup pacu memori
temukan kembali dirimu dalam dingin malam ini

aku mengenangmu dengan sajak tentang perjalanan
di mana aku harus melangkah dan kembali pada kereta,
pesawat terbang, taksi, ojek  atau bahkan becak sekalipun
selalu saja kau hadir paksa aku menulis tentangmu

seperti malam ini dalam segelas bajigur perlahan
kehangatan dalam tubuhku menjelma rentetan kata,
pedas cabe dan asin tahu silih berganti menggumam dalam bibirku hingga aku tak mampu eja namamu


waktu berlalu seiring lalu lalang entah siapa dan membeli apa
atau hanya sekedar istirah karena lelah,
masih saja kau menari dalam gelas bajigur

menggelegak seketika kala kusentuh bibir itu kau pun mendekat
dan kita menyatu dalam hangat segelas bajigur 
menyusup tingkahi kerongkongan
tasbihkan kata kau adalah aku


 @Kaliwungu 20 Feb 2013
Bajigur =  Minuman khas kaliwungu bahan dari kacanghijau, gula merah dan jahe

Selasa, 19 Februari 2013

Titik Nol Kilometer

Membisu tegak di antara kilometer Asia Afrika
begitu sepi dan asing dalam kesendirian
geliat pagi purbakan nol kilometer

terpaku menatap saksi sejarah Daendeles
“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd"
itulah ucapnya mengiang tiba-tiba

laju detik tanpa bisa kucegah hingga surya temaram
kembali sambangi titik nol dalam keremangan
denting penggorengan, deru blender, kecipak sendok dalam segelas air berpacu dengan deru dan celoteh
bocah pengamen kecil  serta diskusi pengunjung

aku masih membisu pandangi mereka
terlintas beribu tanya, sedan mewah, sepeda kayuh dan
harley davidson menyatu di sepanjang nol kilometer 

Entah kali ke berapa aku duduk menatap
perempatan Braga- Asia- Afrika belum juga lengang
hilang satu berganti dua hingga kembali riuh
membuncah malam

di nol kilometer aku punya cerita tentang riuh pengamen,
diskusi pengunjung, deru zaman, dan kamu hanya membisik
”kapan kan singgah kembali ?”

Senja di Stasiun Rindu

Senja memerah pada titian kilometer
semakin jauh aku meniti tak jua kutemui kamu
sisa matahari masih bertengger di pundak stasiun
bayangmu seketika menjadi alur pilu

Antara ada dan tiada koyak-koyak setapak rindu
berkelok lurus dan menurun seiring waktu
aku baca pada garis biru di bayang matamu
tertoreh catatan lalu
semakin jauh aku meniti
semakin kau berlari sembunyi dibalik perdu

di sepanjang rel aku meniti satu satu
pada setiap batu ku tanya tentangmu
tiada satu pun kan jawab, sepi dan membisu
hanya seekor ngengat bermain pada segurat lampu
tingkahi senja sebelum malam menyapu

senja perlahan meredup
aku ingin ceritakan padamu
tentang senja memerah, tentang rel kereta
dan seekor ngengat bermain pada segurat lampu
sembari bersandar di pundakmu
nikmati senja di stasiun rindu

Senin, 18 Februari 2013

Peron Membisu


Aku tak tahu harus bicara apalagi
semenjak kau hembuskan peluit, keretamu semakin menjauh
kupandangi dikelokkan terakhir tanpa lambaianmu
aku membisu di bawah jam dinding besar samping peron
kusulam detik, menit, hingga jam menunggumu

Aku tak tahu harus bicara apalagi
belum juga kulihat tanda kepul asap keretamu kembali
bagai narasi panjang tiap gerbong duduk kenangan-kenangan itu
kugapai hari, kupetakan rindu menunggu sapamu
di samping peron kusajikan sajak tentangmu

Sabtu, 16 Februari 2013

Kau kah Itu?


Menyerah pada kantuk
membekap erat hingga rebah pada gelap
kau kah itu? yang bermain di pelupuk korneaku
"kenapa kau tak bangunkanku"

kau mainkan biola hatimu
dengan gesekan rasa, kau jalin kata
kau menari dan berlalu
"ahhh ...!!"
hanya sesaat lalu menghilang

Jumat, 15 Februari 2013

Adalah Engkau

Adalah Engkau
wahai perempuan yang hempaskan aku lewat sepasang mata indahmu
kau paksa aku tulis berlembar lembar halaman
lewat ujung tuts keyboardku, tumpah segala
meski kau kadang tak pernah maknai

Adalah Engkau
wahai perempuan merajut ilalang
tertunduk, dengan jemarimu ubah ladang menjadi taman,
lewat ujung daun kau mainkan embun

Adalah Engkau
wahai perempuan yang merona saat purnama melintas di wajahmu
biarlah pelangi sejenak bermalam di teduh ranum pipimu
antar aku  rebahkan sajak di pundakmu

Merindu Hati

Senja memerah
tanah basah merekah
langit memucat

mendung berarak
Kerinduan takkan luluh
menata hati

Kembang layu
daun bersimpuh gugur
langit berduka





Haiku

Haiku, dikenal juga dengan Hokku, adalah puisi Jepang dengan format terpendek, hanya terdiri dari 17 suku kata yang disajikan dalam 3 baris (kelompok) dengan susunan 5 – 7 – 5. Baris pertama terdiri atas 5 suku kata, kedua 7 suku kata dan ketiga 5 suku kata. Kata yang tersusun dalam haiku tidak berima. Haiku Jepang tradisional senantiasa berhubungan dengan daya magis dan keindahan alam serta musim….Yang penting kita mau
membuka diri pada sang alam dan mencoba menuliskan apa yang kita lihat, kita rasa, kita dengar, kita cium, kita raba dan menggabungkan semua itu dengan sepenuh hati dan jiwa.

Haiku dapat dijadikan pembelajaran bagi yang  ingin menulis puisi pendek,  mari kita mencoba.

Kamis, 14 Februari 2013

Aku Hanya Bisa


Dalam getar kutulis sajak ini
kukabarkan padamu beranda ini semakin lengang
aku hanya berbisik pada angin,
angin singkap rindu yang tersembunyi
selalu saja ada debar tiap kali rangkai kata tentangmu

Dalam ringkih kutulis sajak ini
aku masih saja setia pada huruf-huruf, saat
sibak rintik pada bening merayap di matamu
ingin kukirim lewat angin,
saat purnama mengambang di sela dedaun

Selasa, 12 Februari 2013

Kau T'lah Ajariku

Mencoba tuk berhenti sejenak
pada kerling rembulan dalam rengkuh pekat
saat rasa perlahan menyisir pada titik perjalanan
saat tiada lagi nada dalam tiap makna sajak
kembali kucoba tapaki setapak berkelok itu

wangi merebak sesaat dalam buai emosi
dalam untaian rasa tak jua menjelma bayangmu

kau tanam semerbak dalam jambangan
merekah selasar tetes embun menggelayut manja
dan tetes itu t'lah jatuh.....
pada pekat ego bersenggama luka
tiada lagi bening hiasi hati


selalu kupetik untukmu
tepat saat purnama di wajahmu
hingga lantunkan dendang pada bait rasa

kini kurasakan kerlip itu kian temaram
walau enggan tenggelam, masih saja berharap
pandang purnama di wajahmu
hingga aku bisa kembali berkaca di kedua korneamu
aku ingin saksikan saat purnama melintas di wajahmu
masih ada simpul disudut pipimu
masih ada buliran kata hiasi senyummu

kau t'lah ajari aku
diam dalam mengeja, mengeja makna kesendirian
hingga pengap membasah resah
saat purnama disemayamkan

Minggu, 10 Februari 2013

Luka Senja

Redup itu mengerlip
pucat hadir tiap senja tanpa semburat merahmu

aku hanya melihat riak air tak lagi bening
ibarat kaca t'lah retak, tiada sempurna bayang itu

t'lah kukubur duka seiring luka menganga
biarlah senja itu berpijar lara

Jumat, 08 Februari 2013

Kangen

Bersandar rebah pada sayap kupu-kupu,
berkendara arungi langit senja,
rindukan pelangi purnama februari
kerlip kian redup
sajak luruh
duka mempurba





Kamis, 07 Februari 2013

Duka

Kupanggul duka
dalam sunyi
tanpa sapa

kusunting luka
dalam bimbang
tanpa rasa

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...