""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Senin, 31 Mei 2010

Saat Wajahmu Rengkuh Purnama

kurangkai sajak ingin ku jadikan purnama
bait-bait alur terangkai dalam sajakku
kububuhkan kata “purnama mendekap dirimu dalam hangat”

langit tak lagi ramah,
awan berarak menuju samudra tinggalkan aku di pantai kuta
tiba-tiba tersketsa wajahmu bak purnama
Ada kehangatan menerobos garis-garis rasa
saatwajahmu rengkuh purnama
Tatapanmu sejukkan udara di ruang hati ini
sayup kudengar degup jantungmu berirama rasa

Kusuguhkan rindu hangat dalam sajak
biarlah uapnya menyatu disudut hatimu
terbayang kembali wajahmu merona
Majnun kan tetap lisankan kata-kata
Laila pun takjub tersipu terbelenggu rasa
Tapi purnama tetaplah purnama
Walau langit tak lagi sempurna

Jumat, 28 Mei 2010

Mendung, Gerimis, Hujan dan Kamu

kala gundah aku tulis curahan ini
waktu tergurat ukiran langkah kita,
senyum tetap menggantung dalam balutan mendung

senja itu hujan kembali rebah ke bumi ,
genangan air di lubang-lubang jalanan dibawah cahaya trotoar,
menjadi alur berdigresi indah
di bawah langit tersenyum pucat pada kita

ada suatu momen terbersit saat itu
alur waktu bergulir kejar senja sebelum gelap
tak ada istilah terlambat ketika kita menuju tak terbatasnya horizon
dalam cakrawala senyummu

ada sebuah rasa yang ingin aku menggapainya lewat tanganmu
jalanan kecil,riuh dan penuh gemerlap lampu menghujam mata
aku pun terpuruk dan terpekur dalam peluk rasamu
saat di mana aku bisa menatap apa yang engkau rasakan
dan berada dalam sajak yang sama, irama yang sama

senja ini kembali aku terpekur
sesaat setelah hujan dan cuaca dingin
tinggalkan jejak di atas jalanan
kita bersama hiasi udara dengan hangat nafas kita

apa yang pernah kau ceritakan padaku rasamu
akankah kau jadikan sajak gambarkan kisah kita
atau cukup waktu yang tahu

ada satu sajak singkap memori bersama gerimis
terbersit di langit jingga perlahan kelam
sebuah jalan dan pepohonan yang meranggas tegar
dalam batas antara ada dan tiada

Selasa, 25 Mei 2010

Bayang Senja di Pelupuk Mata

Senja gerimis menetes satu-satu
dalam kabut menatap gelap
merayap perlahan di aspal jalanan
tertatih jalin kerinduan dalam angan

mendung sore itu membalut hati
hangatkan suasana jiwa dalam dingin
udara senja dalam pandangan jati kering
kokoh menantang cakrawala

kau yang tersipu
kau yang tersenyum
kau yang tiba-tiba membangunkanku

kembali menerawang
peristiwa lalu tlah kembali
hangatkan jiwa yang meranggas

purnama seakan hadir
dalam senja yang merindu

Sabtu, 15 Mei 2010

senja bangkitkan cerita lama

Senja kembali menyapa cerita yang telah ending
mengusik jiwa yang terlelap 
dan memaksa membuka memori yang hampir punah
dalam relung kerinduan

aku ragu apakah cerita ini akan kembali bersambung
dalam drama yang telah berganti episode,
setelah sekian lama peran telah berganti 
dan berjalan tanpa akting

kuharap cerita itu tak akan berulang 
walaupun kutahu tidak mudah melupakan alur itu kembali

apalagi untuk membuat digresi baru




Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...