""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Sabtu, 30 Agustus 2008

Gerimis Akhir Agustus

Seekor Angsa putih tergolek lemas di beranda


Gerimis tipis lentingkan satu lagu dia akhir Agustus ini

Ada letih dalam dinginmu

Tertatih kau menangkap rasa yang tak betah bertamu

Terseret-seret kau dalam kelihaianmu mempermainkan angin sembilu

Kakimu luka, mengeluarkan darah yang termerah sepanjang sejarah

kau lunglai, ditusuk gerimis yang sekejap membadai

Dengan mudahnya, kau diterbangkan angin gersang

Dihantam petir yang mengerang

Dengan hati yang keluar dari sarang, kau melayang

Gerimis akhir bulan Agustus pun meradang


kau terbang, dengan mata terbelalak

kau mengusang dengan dada yang berlubang

Berharap ada yang datang

Menjengukmu di sepanjang pandang

Oh angsa putih terlelap kau dalam

dekap gerimis akhir bulan agustus

Kamis, 28 Agustus 2008

Bisikkan dalam Kalbumu

katakan pada hatimu
dirimu kuat bagai karang
dirimu jauh lebih perkasa dari angksa raya
jika malam menikammu
tahan saja matahari siang ini untuk selalu menemanimu
biarkan hatimu merangkul lembut keinginan malam
jangan pernah membenci khidupan
meski tak pernah kehidupan mencumbu ayu dalam diammu

Rabu, 27 Agustus 2008

Biarkan Angin tetap Semilir di Pesisir

Biarkan angin membawa desirnya
jatuh pada persandingan di dua tempat, tak bernama
Jangan dulu kau tanya: sesat, cinta, pelarian atau pelampiasan?
Cukup ubah kata menjadi rasa lalu rasakan...

Ini tentang kehidupan masih dalam alam yang sama
Memadu cinta tanpa pandu, cukup menggugu dan menunggu
Lalu dengar rasa di tiap waktu

Ubahlah kalimat menjadi larik lalu pejam menjadi lirik
jangan terbitkan tanya tapi cukup benamkan jawab
Biarkan saja seluruh alurnya mengalir
tanpa perlu membuatnya indah
tanpa perlu pula membuatnya luka

hingga berhenti di suatu tanggal: tinggal atau selamat tinggal!

Minggu, 24 Agustus 2008

Situs Patembayan

Di bawah metafor-metafor langit kota yang mabuk
tarekh tua terpuruk di kaki abad yang mengangkang
tanah tumpah darah siapakah ini
yang terbungkuk dan berdebu
dikentuti anak-anak sejarah yang congkak dan angkuh
dan tak mau lagi mengusap air mata duka masa silam

dibalik metamorfosa zaman yang membusuk
peradaban adiluhung tersungkur di got-got kepalsuan
kemanakah si anak surau
ketika sihir-sihir kemayaan membutakan mata jiwa
dan menjelmakan malin kundang-malin kundang
yang menghamba harta dan kekuasaan
sebagai kemuliaan sosial baru

tataplah! tatap!, teater peradaban sosialmu kini
sipenuhi aktor-aktor mabuk retorika yang membingungkan
bicara kemakmuran pagebluk negeri melanda silih berganti
bicara keadilan yang ada kerusakan jiwa-jiwa
dan kini tinggal jerit wong cilik bersama mendekap nurani

Sabtu, 23 Agustus 2008

Fatamorgana Hati

Kau reguk hati tatkala pendar kehilangan piasnya
Kau sayat waktu walau terjal berlalu
tanganmu menjuntai menggamit melilit benalu

kau pagut ujung tanduk hingga lebam membiru
berpacu denyut mencakar hayat rebah dalam serpihan semu
merahmu menghitam
mengental hingga yang tinggal
menggumpal tersisa

terseok hingga urat menjadi kaku
gagu bisu keras membatu
teriak menjerit menyeru, menyumpah hingga merayu

tiba-tiba lenyap menghilang
bagai kabut sayup-sayup naik ke pucukpucuk daun

Padamu Embun

Resah menguap
dalam jendela nafas yang terbersit gundah
angin pohon mengibas selaksa makna
dalam kepekatan yang gelap

keheningan malam
bertengger gelisah dalam dada

semoga pagi segera menjelma
karena embun akan menyejukkan
dan hilangkan resah

Rabu, 20 Agustus 2008

Seuntai Doa Untukmu

Aku tak tahan melihat linangan airmata itu
Aku tak sanggup melihat hati yang selalu terhimpit,
selalu sesak, selalu merasa sepi
Aku tak tega melihatnya seperti ini

Bolehkah kupinta satu padaMu Rabbku?
Sebuah pesanan khusus untuk sahabatku
Aku tak meminta banyak,
Aku pesan satu porsi kebahagiaan dan ketenangan hati
Satu paket kehangatan cintaMu
Satu ikat kesabaran yang tak terbatas... dan
Satu bungkus keikhlasan karuniaMu

kirimkan segera Paket cinta untuknya
sahabatku yang kini sedang belajar untuk tersenyum
Menata hatinya lagi,

Bisa kupinta satu lagi?
Tolong utus malaikatMu untuk mengantarkan pesananku
MalaikatMu yang pengasih dan pandai menasehati
Yang pandai memberi pengajaran dan kasih sayang
Yang pandai menyejukkan hati dan penuh kesabaran
Yang dapat mengingatkannya kala dia sedang alpa
Yang dapat menjadi cadarnya...

Kirimkan ke sahabatku yang sedang merasa sendu
Matanya terlalu indah untuk terus menjadi tempat berlinangnya airmata kesedihan,
Matanya lebih indah bila dia menangis karena kebahagiaan
Bibirnya lebih manis bila dia sedang tersenyum
Dia lebih cantik bila tersenyum,
Pancaran matanya itu lebih indah bila sedang bahagia
Maka jangan buat kebahagiaan jauh darinya

Noktah abadi

Aku ingin rindu bulan terus nyala
Dalam beku udara yang senantiasa menyelimuti cakrawala
Aku ingin kelembutan angin kau rasa sepanjang langkahmu
Hingga tak kan pernah matahari lupakan bulan
Aku ingin diri bulan membatu
Di satu sisi hatimu
Yang tak kan terjangkau oleh bintang

Aku ingin bulan matahari menyatu dalam kitab sejarah hidupmu
Tertulis abadi
Hingga datang suatu masa
kereta kencana kan bawa
terbang menuju gerbang fana

Selasa, 19 Agustus 2008

Polemik Pembelajaran Sastra di SMA (Catatan pendek seorang guru)

Sastra sebagai sebuah karya memiliki sifat universal, demikian juga dengan pemaknaan karya tersebut. Seorang apresiator memiliki hak untuk mengulas karya dari berpagai sudut pandang masing-masing. Tetapi yang menjadi permasalahan saat ini, kami sebagai pendidik khususnya bidang studi sastra menghadapi polemik. Dikala siswa menyampaikan pendapat dan pendapat itu berbeda dengan siswa lain tetapi memiliki kebenaran jika ditelaah secara mendalam. Hal ini memang sering terjadi bukan jawaban siswa yang menjadi masalah dikala mendiskusikan sebuah karya sastra, proses diskusi masih bisa diperjelas dengan komentar dan pendapat siswa lain mapun pendapat guru. Polemik utama muncul justru disaat siswa menghadapi soal ujian nasional. Siswa mengatakan jawaban yang ada sebenarnya tidak sesuai dengan apresiasi mereka.
Permasalahan yang lain dalam kenyataannya porsi sastra Indonesia saat ini menjadi bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia. Sejak Kurikulum tahun 94, tahun 2004, bahkan tahun 2006 materi sastra hanya sekitar 30 %. Itu pun tidak akan tuntas apabila guru tidak menguasai bidang sastra secara mendalam. Empat jam pelajaran tiap minggu sangat kurang dalam mengulas materi sastra.
Sastra Indonesia lepas dari bahasa Indonesia hanya dalam kurikulum kelas Bahasa. Kendala yang ada di lapangan, sangat sedikit siswa yang berminat masuk jurusan bahasa. Sehingga pembelajaran yang diharapkan tidak dapat dicapai maksimal. Lebih-lebih dalam usaha mempertahankan sastra sebagai satu kontrol sosial dan moral bagi siswa.  
Saat pertemuan di Bogor dalam kegiatan Apresiasi Sastra Daerah tahun 2004 kami teman-teman guru se-Indonesia mendengar langsung dari nara sumber dalam hal ini bapak Taufik Ismail menyampaikan soal sastra tidak tepat apabila dimunculkan dalam bentuk objektif test, hal ini akan membatasi proses apresiasi siswa dalam menggauli sastra. Siswa juga terbelenggu oleh jawaban yang sudah dibuatkan penulis soal. Tahun 2006 saat pertemuan MMAS di Bogor juga kembali kami para guru mendengar bahwa usulan pembuatan soal sastra berbentuk essei telah disampaikan ke Depdiknas, tetapi soal-soal yang keluar dalam ujian Nasional masih saja berbentuk objektif test. Berarti Depdiknas memiliki peran utama dalam mengatasi polemik ini. 
Penulis melihat akibat dari terbelenggunya pemikiran siswa untuk mengapresiasi karya sastra menjadikan mereka malas untuk menggauli sastra secara mendalam. Sangat jarang siswa mau menganalisis, meresensi, atau membuat esai dari sebuah karya yang sudah ada. Kecuali hanya sebatas mengerjakan tugas guru, hal ini pun hasil pekerjaan siswa sangat dangkal dan hanya teoritis. Siswa belum mampu memandang karya sastra sebagai sebuah keuniversalan, siswa masih sebatas unsur intrisik dan ekstrinsik saja. Itupun tanpa argumen yang panjang.  
Dari permasalahan di atas marilah sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia, harus pandai-pandai mencari alternatif pembelajaran sastra khususnya dalam membimbing dan mendidik siswa agar lebih mencintai dan mengembangkan bakat siswa dalam bidang sastra.

Rabu, 13 Agustus 2008

Semilir Rindu di Pesisir

Mataku terasa berat tuk kukatupkan
bayang-bayang biduk kembali terombang-ambing
Ku hanya bisa melihat fatamorgana
Terlukiskan manis senyumu

Dapatkah kau rasakan rinduku ini
rasa ingin jumpa denganmu
Tak ingin terbelenggu dalam sepi

Malam ini terasa panjang
Tanpa Hangat kasihmu
Malam ini akan menjadi malam yang dingin
Dikala aku merayap dalam biduk kerinduan

Tak ada yang bisa goyahkan sekelumit hati
Hanya kelelawar yang menghiasi malamku
Sesungguhnya Kerinduanku ini tak akan pernah berakhir
sementara angin tetap semilir diantara ombak pesisir


Maafkan Aku Mak

"Satpol PP kembali merazia puluhan wanita tuna susila di jembatan gang Turi." kudengar suara sayup dari televisi tetangga.
Di dalam kamar yang kecil ini, aku termenung. Senja yang mulai merayap gelap membuat aku tersiksa.
"Mak, mengapa Mak harus selalu tinggalkan aku. Aku bingung Mak, ingin mengeluh, ingin bertanya tapi mak selalu tidak ada. Jangan-jangan Emak ikut di tangkap ?" Meratapi nasib hidupku, aku terlahir dari seorang Mak yang selalu pergi malam. Mukena Emak tetap membisu seperti dulu.
Aku sering bertanya kepada diriku, mengapakah aku bisa menjadi seperti ini? Inikah segala yang di takdirkan. Mak tidak pernah menyentuh Mukena, bersuci dalam Nawaitu saja emak bahkan tidak sempat. Sementara aku selalu mengeluh dengan Tuhan. Akankah sampai kapan Emak seperti ini.
Aku buka buku Emak di laci rias. "Maafkan aku Mak bila lancang membuka buku Emak"aku hanya ingin tahu apa yang Mak tulis tiap kali pulang sebelum Emak tidur.
Aku telah terjerumus kedalam lumpur dosa, Ya.. Dosa yang amat najis bagi NYA,
Dosa kenistaan dan perzinahan..Aku... Dengan terpaksa harus terlihat bahagia Ketika lelaki yang tidak ku kenal dan ku cinta Mencumbu dan menikmati seluruh tubuhku..Ya, Aku telah menjual tubuhku ini Sebagai budak pelampiasan kepuasan Dan budak nafsu para lelaki...Namun, Semua kulakukan Bukan untuk kepuasan batinku.. Namun, Hanya demi untuk aku dan Si nang dapat bertahan hidupYa... Uang telah menang.. Dan mengalahkan segala pikiran Dan juga segala akal sehatku...Inikah takdirku??Inikah garis suratan hidupku??Inikah jalan hidup yang harus aku lalui Di sepanjang hidupku??Hidup sebagai seorang pelacur.. Namun bukan untuk kepuasan batinku, Melainkan hanya untuk aku berjuang Dan mempertahankan hidup ini...

Setitik air bening meleleh menyentuh sarungku, aku tidak dapat menolak basuhan air suci yang Tuhan berikan.
"Mak, maafkan aku Mak...., aku bingung Mak"
"Aku bingunggg........................."


Dalam Diam Aku Rindu

dalam hening....

ku coba rangkai sebait kata
yang menggugah tidur hatiku
akan seraut wajah
yang lama bersemayam dalam anganku

dalam sepi....

ku goreskan lagi tinta
yang menggurat lukisan hati
akan sebentuk senyum sentuh nurani
dan tak pernah mau pergi...

dalam terpekur......

ada rindu yang tertahan
yang bukan tanpa alasan
saat jari melompat dalam tiap tut
mengukir kata
dalam palung hati terdalam

aku rindu kamu sayang



Senin, 11 Agustus 2008

Di RSJ Hari Itu.... (Naskah terbaik Cerpen remaja 2006) dalam lomba menulis remaja Balai Bahasa Semarang

Salah satu bukti menulis prosa itu mudah. dengan menggunakan teknik "Dia yang malang" berhasil memenangkan lomba menulis cerpen remaja Se- Jawa Tengah yang diadakan Balai Bahasa Semarang tahun 2006
Karya Fitriani Siswa SMA N 1 Boja Kelas Bahasa



Di RSJ, Hari itu . . .

“Siapa Mbak Win?”
“Dedi.”
“Oo. . .”
Sengaja aku membersihkan ruangan saat Mbak Win menutup jendela depan. Ini adalah malam ketiga atau tepatnya malam terakhir aku menginap di rumahnya Mbak Winda, rumah kecil yang berada di kawasan Rumah Sakit jiwa. Dia kakak sepupuku, salah seorang perawat Rumah Sakit ini. Suaminya sedang dinas keluar kota, dan kebetulan aku sedang libur kenaikan kelas, jadi ya aku yang menemani.
Lalu soal Mas Dedi. Dia adalah salah satu pasien Rumah Sakit ini. Tiga hari ini ia menemaniku jalan-jalan “ngalor-ngidul” melihat suasana Rumah Sakit yang cukup semrawut Bagaimana tidak ? Satu dua orang kencing seenaknya, lalu ada yang menangis colak-colek, tertawa, ya . . .maklum orang gila. Aku yakin betul itu hanya saja tidak seorangpun percaya bahwa dia tidak sakit jiwa. Kecuali aku. Meski aku baru mengenalnya tiga hari yang lalu. Ia menginap disini sejak satu bulan lalu. Kata Mbak Win, ayahnya strook setelah tahu anak tercintanya ini tidak lulus. Ya, Dedi Ilman Hermanto, putra seorang dosen tidak lulus ujian. Kenyataan ini membuatnya shock dan diungsikan dari rumah. Yang, kasihan sekali, dengan usianya yang baru 18 tahun dia harus menginap di tempat yang tidak layak inmi.
Kreek . . .
Kulihat Mas Dedi sudah ada didepan rumah saat aku membuka korden depan. Gayanya khas, dengan kaos oblong dan celana pendek selututnya itu. Yah maklum, orang gila jadi-jadian.
“Mbak, aku kok deg-degan ya!”
“Yah, akhirnya Arin Jatuh cinta, tadinya mbak kira kamu tidak normal, sudah kelas tiga SMA belum juga jatuh cinta!” Canda Mbak Win tepat sebelum bel pintu berbunyi.
“Mbak Win . . .”
“Udah cepet buka. Tapi ingat Rin, dia pasien Mbak lho . . . “
sedetik kemudian kubuka pintu dan kupersilahkan Mas Dedi masuk.
“Tidak Rin terima kasih, aku hanya mengantar ini,” disodorkannya sekotak kardus berbau sedap.
“Apa ini?”
“Dari Bu Iyem, katanya buat kamu sama Mbak Win.”
“Oo, Bu Iyem ? Bilang sama Bu Iyem, terimakasih dari Arin sama Mbak Win. Lain kali tidak usah repot-repot! O ya, Mas Dedi tidak masuk dulu?”
“terima Kasih Rin, besok pagi saja, lagi pula aku diminta Pak Rudi untuk menjaga si Tole, dia ngamuk lagi!”
“Tole ngamuk? Parah? Kok Mbak Win sampai tidak tahu !”
“Iya, tadi sore belum. Tapi” bakda sholat Maghrib tadi dia teriak-teriak, bantal guling dilempar, sprei diacak-acak, gelas pecah, yoa pokoknya tidak taulah kesambet apa itu si Tole!”
“Kalau begitu, Arin boleh ikut?” Wajahku nampak pucat.
“Tidak usah Rin, nanti kamu tidak bisa tidur. Di sana banyak nyamuk ! lagipula si Tole sudah mendingan. O ya, Mbak Win tidak usah dikasih tau, nanti malah panik!”
“Ya sudah.” Setelah agak lama diam aku mengiyakan saja kata-katanya.
“Rin besok kamu sudah mau pulan?” katanya sambil melongok ke dalam. Dia melihat tas ransel coklat yang dari tadi sore disiapkan Mbak Win.
“Iya, Mbak Win hanya ngontrak aku 3 hari, paling lama 4 hari, itupun kalau Mas Iwan belum pulang besok.”
“Oo . . .” wajahnya nampak kecewa, dan aku memang berharap begitu.
“ Ya kapan-kapan kalau ada waktu, Arin main kesini!”
“Ya sudah, Mas Dedi pamit dulu, nanti malah dicari pak Rudi.”
“Hati-hati ya, salam buat Tole dari Arin!”
Sejurus kemudian dia melenggang pergi. Aku masih di pintu ia membalikkan badan dari kejauhan dia berteriak.
“Rin! Beson pagi jangan pulang dulu, Mas Dedi belum kesini !” dan itulah yang dari tadi aku harapkan. Hhh, aku tahu yang sedang terjadi pada diriku Mas Dedi, Mas Dedi mana orang gila seperti itu.
Aku masuk dan kututup pintu rapat-rapat. Tiba-tiba saja aku ingat sama Tole. Si kecil yang malang. Kata Mbak Win, usianya baru 10 tahun. Beberapa bulan yang lalu orang tuanya bercerai. Ia menjadi rebutan di pengadilan. Dan, ya akhirnya si Tole jadi begini. Dua-duanya tidak mendapatkan apa-apa melainkan penyesalan. Mbak Win juga bilang sekarang mereka sering kesini. Bergantian. Nampaknya mereka masih sangat sayang sama Tole. Meski Tole tidak pernah dapat membedakan, mereka orang tuanya atau bukan.
Beda sama Mas Dedi, katanya dia iri, Tole punya orang tua yang sangat menyayanginya. Meski sekarang Tole mengenaskan.
“Sebenarnya aku juga ingin pulang. Bertemu sama Ibu, Mbak Reni, Mas Dodi dan pastinya Bapak. Beliau jadi seperti itu karena aku. Jadi ya sekarang Bapak tidak bisa mengajar lagi. Lagipula kalau aku pulang, apa mereka mau menerimaku? Akulah yang menyebabkan semua bencana ini Rin.” Ucapnya beberapa waktu lalu padaku.
Ya kasihan sekali Mas Dedi. Dia juga punya keinginan untuk pulang. Tapi apa mungkin ada keluarga yang tidak mau menerima anggota keluarganya setelah dia melakukan kesalahan. Padahal ini semua takdir, dan tak seorangpun menginginkan kenyataan seperti ini bukan ? Hhh, memang terkadang manusia lupa. Dalam hidup ini tak ada seorangpun yang sempurna.

***
Langit malam pekat berdesak bintang. Jam dinding disudut ruan tamu Mbak Win menunjuk pukul 23.00 WIB. Whoahh . . . sebenarnya aku sudah mengantuk. Tapi, bagaimanapun aku harus menyelesaikan lukisanku, eh bukan lukisan hanya sketsa wajah, wajahnya Mas Dedi. Ya aku ingin memberikan kenang-kenangan ala kadarnya sebagai bukti rasa simpatiku ini. Bukan pamer ! Tapi ini satu-satunya kemampuan yang bisa dibanggakan dari seorang Rin yang tak pernah mendapat ranking sekalipun semasa sekolah.
Hhh, akhirnya selesai juga, sesosok wajah tenang terlukis di atas kertas HVS putih ukuran 180 × 257 mm. kubungkus dengan kerta coklat yang ada dimeja kerja Mbak Win. Lalu kuletakkan di samping tempat tidur. Aku yakin, Mas Dedi pasti suka.
Kutata baju yang akan kubawa pulang dan ku cek sekali lagi isi tasku.
“Yup! Komplit!”
Kreekk pintu . . .pintu kamarku terbuka, “ sekonyong-konyong” Mbak Win masuk dengan membawa slimut dan guling kesayangannya.

“Rin, Mbak Win tidur sini ya. Mbak Win tidak bisu tidur!” scbelum matanya terpejam, pandangan Mbak Win menangkap bungkusan coklat di tcpi tempat tidurku. Lukisanku!
“Apa ini Rin?”
Cepat-cepat kuambil bungkusan itu, tapi tetap saja tangan Mbak Win sedetik tebih cepat dariku.
“Hanya kcnang-kenangan!” Kataku malu.
“Ooo... untuk Mas Dedi?” Canda Mbak Win menggodaku. '
“Jaui kamu serius? Mbak Win sih tidak rnasalah, tapi kamu harus ingat, dia itupasien Mbak, pasien Rumah Sakit Jiwa yang kapanpun bisa berubah. Yah, sekarang dia baik , bisa jadi satu jam lagi atau mungkin besok dia ngamuk. Iya kan'?”
“Mbak Win, jangan bicara seperti itu ah, kan Mbak sendiri yang bilang. kalau Mas Dedi itu tidak gila, dia hanya tertekan! Lagipula andaipun memang jiwanya terganggu, dia juga manusia seperti kita, iya kan Mbak? Pokoknya Arin tidak suka Mbak Win bicara seperti itu!”
Mbak Win hanya tersenyum merdengar penjelasanku baru saja.
“Mbak tidak menyangka kamu bisa bicara sererti itu.”
Aku sendiri tidak menyangka aku bisa bicara sepcrti itu. Tapi memang benar sekalipun Mas Dedi gila atau tidak, Mas Dedi ya Mas Dedi. Sama seperti kita, dia juga manusia. Begitu pula dengan pasien-pasien yang lain.
Jam menunjukkan pukul 00.00 WIB. Gemerisik dedaunan sangat terdengar, seolah menyapu seluruh sampah yang ada di atas ruangan ini. Mbak Win sudah tertidur dari sepuluh menit yang lalu. Aku tidak bisa tidur. Entah mengapa dunia begitu asing bagiku. Ada siang ada malam. Ada pagi ada sore. Ada orang gila, ada juga orang waras. Mengapa tidak dibuat gila semua atau waras semua. Agar tidak ada perbedaan di sana-sini. Maklum, baru kali ini aku mengenal dunia yang aneh. Dunia yang sclalu dicemooh oleh orang-orang, dunia yang ... yah, sungguh sangat tidak wajar. Namun entah kcnapa, aku betah tinggal di sini.
Ini adalah malam terakhirku di sini, tempat dimana aku merasakan scsuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Bukan hanya pada Mas Dedi, Tole, tapi juga pada semua pasien di sini. Aku pasti akan sangat merindukan mereka. Hhh mereka hanya korban pembuangan dari dunia yang sebcnarnya. Andai aku bisa berbuat sesuatu.
Baru satu jam aku tidur, aku terbangunkan oleh suara yang bagiku sangat asing AMBULANCE! Aku langsung beranjak dari tempat tidur Mbak Win sudah tidak ada di sampingku. Suasana di luar sangat panik. Kulihat Mbak Win dengan wajah pucat berada di luar pintu, sementara di luar orang-orang berlalu lalang kesana kemari.
“Mbak Win, ada apa?”
Mbak Win dengan sangat pucat memenang.
“Rin, semalam Tole ngamuk dan ...”
“Dan apa Mbak? Jangan-jangan dia... Meninggal?”
Mbak Win menggeleng, dia masih sangat gugup. Wajahnya pucat.
“Bukan, dia ngamuk berat dan menyiramkan air raksa pada tubuh Dedi. Entah siapa yang menaruhnya di depan pintul. Dan kebetulan Dedi... sedang merokok”
Mataku tajam menatap Mbak Win.
“Merokok?”
Mulutku terbungkam. Lemas. “Tubuhnya hangus... “
Kata-kata Mbak Win yang pelan, membuat tubuhku kehilangan kekuatan.
“Baru saja dari pihak keluarga sudah membawanya pulangdan dia akan dimakamkan di tempat kelahirannya.” Lanjut Mbak Win.
Aku sudah sering mendengar kenyataan seperti ini, pasien saling membunuh antar pasien. Tapi, kali ini... tiba-tiba aku merasa seluruh syaraf yang ada di tubuhku berhenti berfungsi. Aku bisa mendengar semua ucapan Mbak Win, melihat lalu-lalang orang dan... entahlah! Yang kurasakan semuanya buyar.
“Mbak...besok pagi, Mas Dedi pasti kesini.” Ucapku lirih sedetik sebelum aku benar-benar tak bisa merasakan apa-apa lagi. Aku tidak percaya akan semuanya.
Aku yakin, Mas Dcdi belum mati. Besok pagi dia akan datang dan mengucapkaun terima kasih atas lukisanku. Ya. Mas Dedi belum mati.
*****
Gemerisik daun masih kudengar di atas sana, scmilir angin, dan. .. semuanya. Hhh, masa SMA ku akan berakhir. Mama, Papa, Mbak,... mafkam aku. Mungkin aku akan menjadi pasien baru di Rumah Sakit ini. Menemani Tole. Mbak Win, dan yang pasti takdirku, . . .Mas Dedi.

Gelisah di Alam Kebimbangan

Suatu malam diujung kegelisahan
Bersama desah angin yang membelai
Lembut seluruh tubuhku
Sukmaku melayang jauh entah kemana
Mencari kembali sesuatu yang telah hilang

Kepingan-kepingan hati yang meretak
Kutemukan kembali dalam semak keangkuhan
Ketika kucoba tuk menata
Dalam kelam yang semakin mencekam
Cahaya malam tersenyum simpul menyapaku
Menggugah alam bawah sadarku
Aku terjaga dari mimpi indah
Kembali kudapati dunia nyata
Bersama kemelut dihati
Awan tiba-tiba menghitam
Menutup birunya langit dengan seksama
Kesedihan kemudian melanda
Mengantarkanku temui kebimbangan
Kini aku berada dipersimpangan
Bimbang tuk tentukan arah
Jalan mana yang harus kutempuh

Tangisan kalbu

Di bawah rintik air hujan
Ku putar masa laluku
Kembali kueja helai-helai kelopakmu
Saat melati bentangkan kelopak setia
Aku bangga …
menari dalam hatimu
Menjadi pelangi di bawah teduh kilau auramu
Namun …
sebelum asaku terbaca penuh
Kau pergi …. Memeluk mentari
bersama camar di danau itu
Aku pun mengubur sebagian jiwaku
yang telah terisi oleh bayangmu
Dan meruncingkan rindu dalam kalbu

Derita Ilalang

Kala mentari tenggelam
Diantara senja tak berwarna
Adakah rona keindahan
yang akan merekah diatasnya?
Pun ketika ilalang
harus berteman dengan serumpun mawar
Mampukah dia menahan perih
Saat tak ada kumbang yang menyapa
Dan harapan demi harapanku
Haruskah berserakan
diantara nyata tak terukir?!
Sebab diriku serupa ilalang dan senja
yang letih menangis

Catatan Arina

Aku Arina.
Hidupku parah. Bahkan lebih parah dari anak tangga yang hampir roboh di depan tempku kostku. Orang tuaku, temanku, dan kekasihku. Hhh. Mereka hanya membuat jalanku semakin sukar untuk melangkah kedepan.

***

“Apa? kau ingin membunuhnya ? Kau sudah gila !”
Ia hanya mengangguk pelan. Orang ini memang gila bahkan sangat gila. Dan akupun mungkin begitu. Ia telah menularkan kegilaanya padaku. Dan itulah yang memperparah kehidupanku.
Aku tinggal di sebuah tempat kost yang cukup sempit(tidak luas maksudku). Bukan aku tak punya rumah atau tak punya orang tua, hanya saja aku malas tinggal dengan mereka. Tepatnya tidak betah. Yang mereka lakukan tiap harinya hanya bertengkar, dan bertengkar. Seolah tidak ada titik untuk mempertemukan mereka pada satu tempat.
Kini usiaku sudah 18 tahun. Akupun sudah berani, bahkan sangat berani mengambil keputusan. Aku kabur dari rumah, setahun yang lalu. Saat aku mulai masuk kuliah. Orang tuaku ? aku tak tahu. Mungkin mereka akan lebih leluasa bertengkar jika aku tak ada. Dan aku tidak memikirkannya. Anggap saja aku tidak punya keluarga. Toh, aku bisa menghidupi diriku sendiri dengan kemampuan yang aku miliki.
Aku suka menulis. Meskipun, yah, hasilnya tak seberapa. Yang penting cukup untuk makanku sehari-hari. Sedang uang kuliahku ? aku hidup dari beasiswa. Bukan sombong. Tapi aku memang cukup berprestasi sejak kecil. Hingga suatu hari aku bertemu dengan orang ini. Sejak saat itulah aku mulai bergelut dengan kehidupanku yang sebenarnya.
Takdir memaksaku untuk terus mengenalnya. Namanya Wisnu. Ia seorang homo. Sebuah kenyataan yang baru aku alami kali ini dan entah dengan alasan apa, kami memutuskan untuk menjalin hubungan lebh dari sekedar teman. Kami pacaran ? oh Tuhan. Padahal ia sama sekali tak tertarik pada perempuan. Aku tak tahu lagi jalan hidupku akan seperti apa .
Lalu untuk orang yang akan dibunuhnya itu ? Ia Bayu. Ia temanku bahkan lebih dari sekedar taman untukku..
“Nu, maksudmu ? kau pasti bercanda.”
“Tidak Rin, aku tidak bercanda”
“Lalu?”
“Aku tak tahan dengan kenyataan seperti ini, mungkin kau tak akan pernah mengerti. Kau selalu mengatakan, aku harus berusaha dan aku sudah mencobanya. Namun apa yang terjadi? aku semakin mencintai Bayu Rin. Aku semakin tak tahan menjadi manusia tak normal seperti ini. Biar saja sekalian orang lain menganggapku gila. Aku bukan orang waras Rin.”
“Tapi kau punya aku”
Langit seakan semakin kelam, sangat kelam. Diam memandang kami.
“Aku tak tahu “
Benar langit kini semakin kelam, bulanpun tak nampak, bintang apalagi. Aku tahu perasaanya aku hanya bisa menghiburnya .
Setiap kami bertemu, ia selalu mengatakan ini. Mungkin orang lain tak akan mengerti, bahwa seorang homo atau lesbi, bukanlah hal yang menjijikan. Akan tetapi . . . entahlah ! aku tak mengerti akan ini.
“Sudah malam. Aku ingin pulang.”
“Hati-hati”
Seperti biasa pukul 23.00 aku baru kembali ke tempat kosku. Mungkin berlebihan, tak pantas untuk seorang gadis sepertiku. Orang tuakupun pasti tak akan setuju jika tahu ini. Orang tua ? Sudahlah .
Kususuri jalan sepi ini sendirian. Langit, bintang tak kupikirkan. Yang ada dipikiranku kini hanya Wisnu, Wisnu dan Wisnu.
Aku tak pernah beranggapan yang ia katakan hanya bercanda. Aku tahu ia serius. Dan itu yang aku takutkan. Bayu ? aku takut Wisnu akan menemukannya dan . . . sudahlah. Aku tak hanya tak ingn Bayu mati, maklum, wisnu termasuk nekat untuk ukuran manusia biasa. Ia bisa melakukan apapun. Ia teramat mencintai Bayu. Hingga iapun tak segan mengatakan itu padaku. “Aku akan membunuhnya.”
Mungkin dengan begitu ia tak akan tersiksa lagi. Mungkin saja. Dan Bayu ? agaknya cinta Wisnu tak bertepuk disebelah tangan . . .
Mereka menjalin hubungan. Lalu hubunganku dengan Wisnu? kami hanya sekedar pacaran. Tanpa ada alasan apapun.
Aku hanya kasihan dengannya. Aku tak pernah menyukai apalagi mencintainya, tepatnya hubungan kami hanya untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.
Malang sekali nasibku.

***
“Bayu ?!”
Tuhan, aku tak percaya dengan apa yang kulihat kali ini ? kutemukan sesosok lelaki tergeletak di depan pintu kosku. Tepat di atas anak tangga.
“Bayu! Apa yang terjadi?”
Kukoyak beberapa kalipun tubuhnya, ia tetap tak sadarkan diri. Tubuhnya lusuh penuh bau minuman.
“ Bayu.“
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Teman satu kostku sedang pulang dan kini aku sendirian. Hanya dengan seorang Bayu yang tergeletak ini.
“Tenang ya “
Nampak ia setengah sadar. Mau tak mau aku harus merawatnya, bagaimanapun ia juga temanku dan aku tak habis pikir, jika ibu kost tahu, mungkin aku akan diusir dari sini. Hh, semoga saja tidak.
Pukul 00.00 agaknya malam akan semakin panjang. Aku teringat akan seseorang. Wisnu. Aku ingat akan perkataannya tadi “Aku akan membunuhnya”. Ada sedikit getaran juga disini. Kutatap wajah Bayu lekat-lekat. Sudah lama aku menyimpan perasaan ini. Sudah lama, bahkan sangat lama dan kini kulihat ia didepanku, didepan mataku, nafasnya naik turun. Wajahnya amat tenang, namun aku tidak bisa berbuat apapun.
Aku tak bisa mengatakan padanya. Apalagi Wisnu. Bisa jadi ia akan membunuhku.
Malam semakin merepat keperbatasannya. Bulan dan bintang tak nampak lagi. Dan agaknya akupun begitu. Malam ini. Detik ini. Mungkin dunia sedang terbalik dan aku tak akan lagi merasakannya. Dan akau harap memang demikian.

***
Tok tok tok . . .
Malam nampaknya tak akan sepanjng seperti apa yang aku bayangkan. Seolah baru sedetik aku tertidur, pintu tempat kostku berbunyi.
Whoaah, sebenarnya aku masih ngantuk berat.
Ada ada saja. Siapa yang akan mengunjungiku pagi-pagi begini? Wina teman satu kostku? tak mungkin Ia kembali sepagi ini.
Ceklek.
Dan hup ! tepat seperti dugaanku buka Wina ! tapi . . .deg !
“Pagi mbak, benar ini tempat tinggal mbak Arina?”
“Iya, ada yang bisa saya bantu ?”
Benar saja ! apa yang aku alami kali ini benar-benar sesuatu yang tidak lazim. Lain dari biasanya. Malam ini Wisnu tiba-tiba mengatakan pada ia akan membunuh Bayu. Setelah itu aku pulang ketempat kostku, aku menemukan Bayu terkapar di didepan pintu, dan kini saat aku mulai memejamkan mata dan beristirahat dengan tenang, tiba-tiba saja polisi mendatangiku. Hhh aku benar benar tak tau apa yang sedang terjadi padaku.
“ Silahkan masuk “
“Terima kasih mbak. Kami hanya mencari ini .”
Ia sodorkan sebuah foto berukuran 3× 4.
Ups ya tuhan itukan Bayu. Ini benar-benar keajaiban. Aku tak tahu harus mengatakan apa.
“Iya ada apa ?”
“Semalam ia membunuh seseorang dan menurut beberapa saksi ia lari kemari.”
Kini mulutku benar-benar tertahan. Bayu ada didalam.
Aku tak mungkin membohongi ketiga polisi ini dan aku juga tak mungkin menyerahkan Bayu begitu saja. Apalagi dengan alasan seperti ini, tapi apakah benar demikian? Bayu membunuh ? dadaku berdesir begitu saja.
Aku tak percaya ia membunuh, ia bukan orang seperti itu. Lagipula siapa yang akan di bunuhnya ? dengan alasan apa ? dadaku semakin berdesir tak karuan. Otakku kacau.
“Silakan masuk. Maaf berantakan.”
Aku tak bisa melakukan apapun.Dan aku hanya mengikuti alur saja. Apa yang akan terjadi selanjutnya.
“ Terima kasih . “
kupersilahkan polisi itu duduk, ditempat yang pasti ala kadarnya. Hanya beberapa kursi rotan dan meja yang tak pantas dianggap meja.
“Tunggu sebentar .”
Akhirnya aku menyerah juga. Aku tak mengakupun toh polisi tahu Bayu ada disini.
Kakiku melangkah gontai menuju tempat istirahat Bayu. Dan …
“Bayu !”
Oh tuhan. Ia tak ada.
“Ada apa mbak ?”
serentak polisi mengikutiku. Aku tak bisa melakukan apapun. Bayu tidak ada. Sementara kulihat, jendela kamarku terbuka, pasti ia melarikan diri .
“ Ia tak ada pak.”
Polisi menenangkanku. Pikiranku semakin kacau.
“ Tenang mbak nampaknya ada pesan buat mbak .”
Polisi itu menemukan sebuah kertas yang tergeletak di meja belajarku. Kubuka perlahan. Benar ini bayu. Tanganku gemetar.

Untuk Arina
Hai Rin, mungkin ini terakhir kalinya aku merepotkan mu ( jika tuhan menghendaki). tenanglah, jangan panik. Aku tahu kau sedang tersengal-sengal dan memikirkan kalimat yang pas untuk keadaan ini bukan? Sudahlah aku tahu, polisi pasti sudah mengatakan semua kepadamu. Dan aku harap kau mempecayainya, kau memang percaya bukan ? aku ini orang yang keji. Tak pantas kau sebut teman, apalagi lebih dari sekedar teman, aku yakin apa yang aku lakukan ini mungkin akan membuatmu membenciku selamanya. Tapi aku harap kau tahu mengapa aku melakukan hal ini.
Sekali lagi jangan panik dan katakan pula pada polisi itu, tak usah mencariku, karena aku tak akan lari, aku hanya pergi sebentar menjenguk temanku yang malang, yang telah mati karena tanganku sendiri. Ya. Orang itu adalah Winsu. Setelah ini aku akan jadi orang normal dan terlepas dari orang gila itu. Kaupun aku harap begitu.
Maafkan aku Rin. Maafkan aku.
Mungkin suatu hari nanti kita akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang pasti jauh lebih indah dari ini. Kau menginginkan bukan ?
Aku tahu kau mencintaiku. Dan kau harus tau. Aku juga demikian.
Sudahlah aku pergi dulu, pemakaman Wisnu mungkin sebentar lagi. Kau juga, bagaimanapun ia kekasihmu.

Sekali lagi, katakan pada polisi itu, jangan mencariku, aku akan kembali.

Bayu.
Dadaku berdesir tak karuan, tubuhku lemas seketika mungkin inilah puncak ketidakberdayaanku selama ini. Semuanya terungkap sudah. Tentang Wisnu yang sangat tersiksa akan keadaan dirinya, tentang Bayu, dan yang pasti tentangku yang tak pernah mengerti akan kehidupanku sendiri.
* * *

“ Sudah siap sayang?“
Aku mengangguk. Akhirnya aku menyerah juga. Sore ini, setelah pemakaman Wisnu selesai orang tuaku datang. Nampaknya berita ini cepat menyebar dan aku ternyata tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku sangat merindukan mereka. Sangat. Hingga akhirnya aku memutuskan tinggal kembali bersama mereka. Bagaimanapun, memang harus begitulah jalanku. Disitulah tempatku.
Mulai detik ini akan kumulai kehidupanku yang baru. Menjadi seorang Arina yang normal, menjalani kehidupan yang wajar, dan bukan Arina yang kekasih seorang homoseksual. Sementara Bayu, ia menyerahkan diri pada polisi tepat setelah pemakaman tadi dan aku tak tahu kapan lagi aku akan menemukannya.
Kali ini benar-benar ku akhiri kisah kelamku. Kututup pintu kostku rapat-rapat, kupandang sekitarnya. Aku pasti akan merindukannya. Ya. Aku akan sangat merindukan tempat ini.
* * *

Hhh. Langit perlahan mengarak awan jingga ke perbatasannya. Surya tenggelam perlahan. Dan aku, akan kuakhiri semuanya sekarang.
Ya. Catatanku berakhir sudah.
Wisnu, Bayu, dan yang pasti Ayah Ibuku, terimakasih. Kalian sudah mengajarkanku kehidupan yang sebenarnya.

Terimakasih.

Minggu, 10 Agustus 2008

Asa dalam Kemarau di Matamu

Senyum fajar tersunging di sudut cakrawala

kuikuti rangkaian perih wajahmu

karena kau lukiskan

ketidakmengertianmu

sementara kau lukai sendiri

Kau meminta aku

walau ada semusim kemarau di matamu

kau mampu merampas kegersangan samudera

kesendirianku

semua melukis kecantikanmu

dengan batu-batu senja

kecuali kau tak sanggup menanam sebuah arti

air mata dan kata-katamu

nanti bila sadar kemolekan waktu

dan kebeningan pun

hanya boleh menyentuh

dalam kerinduan





Menulis Prosa itu Mudah

Bagi sebagian orang menulis merupakan kegiatan yang sulit dilakukan, lebih-lebih menulis prosa. Sebagai ketrampilan berbahasa menulis membutuhkan dasar untuk menjadi sebuah bacaan yang menarik bagi pembacanya.
Sebagai guru bahasa menulis merupakan satu ketrampilan yang perlu diberikan kepada anak didik yang diharapkan mampu memanfaatkannya sebagai kecakapan hidup (life skill). Walaupun tidak diharapkan menjadi satrawan tetapi menulis dapat menjadi penunjang tambahan bagi kehidupan mereka.
Pengalaman juga menjadi salah satu modal bagi seorang penulis. Pengalaman merupakan salah satu alternatif selain imajinasi untuk mengembangkan sebuah tulisan. Dari sekian banyak pelatihan yang pernah ada, teknik-teknik berikut dapat digunakan, diantaranya:
1. teknik Evita
2. teknik kenangan lama
3. teknik dia yang malang
4. teknik reportase
Teknik Evita merupakan teknik menulis prosa dengan melibatkan siswa secara langsung menjadi tokoh dalam suatu cerita yang akan ditulis. Langkah pertama munculkan seorang tokoh bernama Evita yang dalam hal ini dijadikan sebagai objek konflik, langkah kedua siswa menjadi tokoh lain yang terlibat peristiwa dengan langsung mendialogkan dengan tokoh lain.Selanjutnya siswa diminta untuk mengungkapkan kembali peritiwa yang baru saja mereka dialogkan menjadi sebuah prosa. Terserah siswa akan memulai dari peristiwa mana yang penting dasar cerita mereka sesuai dengan konflik yang mereka dialogkan.
Teknik Kenangan Lama merupakan teknik menulis prosa dengan melibatkan memori (kenangan) yang paling berkesan dalam diri siswa. kemampuan menggali sesuatu yang pernah dialami dan ketrampilan meramu konflik enjadi sebuah alur yang runtut merupakan satu modal besar bagi siswa.
Teknik Dia yang Malang merupakan teknik menulis prosa dengan menceritakan teman, sahabat, atau orang lain yang mengalami peristiwa tragis atau mengenaskan. Dalam teknik ini pigura cerita merupakan satu bagian yang menarik untuk masuk ke inti cerita. Maksudnya sebelum ke inti kemalangan, rangkaian alur diawali dengan peritiwa pertemuan dengan tokoh yang malang kemudian dia mencitakan, setelah itu akhiri dengan peristiwa perpisahan menggunakan latar yang sama saat pertemuan pertama.Jadi ending cerita berlatar sama dengan latar pertemuan.
Teknik Reportase merupakan teknik ulasan dari peristiwa yang dilihat baik peristiwa dalam perjalanan maupun peristiwa pengalaman.Objek tempat dan konflik menjadi dasar untuk mengembangkannya menjadi sebuah tulisan prosa.
Demikian empat teknik yang sangat mudah dilaksanakan sebagai dasar sebelum menulis. jadi menulis prosa itu mudah.selamat mencoba.

Asa pada Kelopak Melati

Seiring kelopak mataku merekah kulihat fajar bersinar diwajahmu....

kau selalu menjadi lukisan panjang dalam hidupku
menyambut pagiku dengan semangatmu

kau adalah melati bagi hidupku

bunga liar menatap takut padamu
tertatih mawar berhias bekas luka di dadamu
lukisan hijau kedamaian erat dikulitmu

diantara ribuan erangan rasa jutaan manusia kau didalamnya
mencari, menumpuk mimpi dalam ukiran sejuta asa padaku

kau beri aku asa

kau bekali harapan gemilang tanpa darah tertumpah padaku
wasiatkan aku tatapan cinta, yang kan
memberiku Kedamaian
menjadikan diriku baja yang dibakar salju, ditempa kapas

dan dininabobokan rasa

begitu aku memamnggil namamu

kini kau bukan lagi sekedar melati
melayani detik dalam harimu dengan nafas cintaku

kanvas putih yang telah kau warnai tinta mimpimu

aku ingin menjadi seperti mu....
akan mewangi sepeti yang kau sandarkan untukku
o melatiku tetaplah berseri

hingga aku tak dapat lagi menghitung berapa jumlah kelopakmu

senja di wajahmu, mengukir sejuta mimpi padaku

Sabtu, 09 Agustus 2008

Rindu di Ujung malam

"Nang!, he kenapa kamu di kuburan ini. Pamali Nang!"
Bentakkan emak tiba-tiba mengejutkanku.
"Semalaman kamu mak cari, e malah di kuburan. Lihat Nang, bintang fajar tlah nampak, pertanda subuh kan datang, ayo pulang" lanjut Emak
Hatiku terpekur hingga dasar makam rasai kesendirian para pelaku kehidupan yang tlah ditinggal jiwanya. Seakan aku berada di alam mereka. Hanya diam, bisu dan sepi.
Ada cerita yang tiba-tiba muncul saat-saat rembulan tersenyum, tertawa lebih-lebih saat bulan sempurna.Dingin tlah bekukan jiwa dan hati ini.
"Nang ayo pulang!" ajak Emak
Nisan mematung diantara gundukan yang tiada berdaya timbun jasad yang tlah lebur. kuhanya ingat mereka yang tlah pergi.Walau jasad sirna tapi kenangan tak bisa kulupa.
Takbir menggema menyusup diantara rambut telingaku, Sadarkan aku dari kebisuan. suara itu begitu sayup dan mengiris iman hati ini yang segera menggerakkan akal sehatku, bahwa Tuhan tlah panggil aku untuk segera menghadapnya. Inilah kesempatanku tuk mengeluh dan mengadu. Mungkin Tuhan kan beritahu dimana Rembulan berada.
"Mak aku pulang Mak!"
Hanya angin yang berhembus berbisik di hatiku.Kulihat Emak tlah berada di ujung makam dan menghilang bersama kabut fajar.

Ketika Fajar Tikam Rembulanku

"Mau ke mana lagi Kamu, Emak sendirian di rumah lho Nang.?!"
" aku hanya mau lihat laut, Mak!barangkali rembulanku masih di ujung ombak"
"memangnya kenapa to nang?
"Aku cuma ingin tahu, apakah rembulanku masih kedinginan setelah hujan semalam"
kulangkahkan kaki dengan gontai, sementara pasir masih saja suka menggelitiki telapakku, beda dengan rumput yang selalu berteriak-teriak tiap kali aku lewat.sementara angin masih saja menghasutku lewati gendang telingaku.
Aku hanya bisa memandang simphoni terindah yang Tuhan Ciptakan, kala fajar mulai beranjak mengusir rembulanku.
Aku hanya ingin rembulanku membandel, aku hanya ingin rembulanku tak segera pergi karena bentakkan mentari.
Ku tatap biduk yang terombang ambing ombak, hanya titian bambu tempat ia bertambat yang masih mengikatnya. tapi bagaimana aku bisa mengikat rembulanku?
Kubayangkan seandainya rembulan bisa ku pangku dan kupeluk dalam biduk itu? kan ku bawa berlayar, ku bawa ke samudera luas hingga kutemukan pelabuhan yang bisa menghentikan lajuku.
Sementara rembulan makin pucat, makin pudar rona matanya. semburat mentari tlah lecut hingga rembulanku ketakutan.
"Nang, jangan lama-lama dipantai... segera pulang ya, jangan kau repotkan emakmu terus!"
Ah andai aku bisa menyembunyikanmu dari sengatan matahari,
kan ku sembunyikan kau di lemari istimewaku.entah sampai kapan, ini adalah deret hari ke tiga kala ku kehilanganmu.
"Nang! ingat jangan lama-lama di pantai"teriak emak lagi
" Ya mak..!, nang hanya mau ambil rembulan dan bawa rembulan ke rumah!"

Ilusi

Aku tak mendengar lagi teriakan emak yang selalu mengingatkanku agar aku tidak berlama-lama di pantai. Kulihat mentari semakin sombong dengan keangkaraan menebar panas tuk usir rembulan dari pandanganku.Tamparan ombak menyiksa karang menambah pedih rasa dalam jiwa ini.
Kusandarkan tubuh yang lelah ini di teduhnya nyiur. kutatap langit membiru terpantul cermin laut. Sementara nyamar menari, kepiting berlari, cacing merayap, dan siput laut tertatih-tatih diantara karang.
"Adakah kalian rasakan rasa yang aku rasakan?"bisikku perlahan
Gila, kenapa aku tiba-tiba bicara pada mereka.perlahan tiba-tiba mendung bergelayut bagai tirai alam yang menutup wajah mentari. Cadar illahi tlah teduhkan bumi yang merindu akan kesejukkan. Bayangmu tersketsa di langit wahai rembulanku. Entah kenapa tiba-tiba kau seakan menyembul diantara awan. Kau urai rambutmu yang lembut diterpa angin,mata lentikmu kembali menggelitik, ngarai-ngari awan bagai lesung di kedua pipimu.
"Rembulanku, ada apa denganmu?, kenapa kau pucat merona di balik awan."
"tiada lagikah rasa itu dalam hatimu? ataukah kau sengaja bersembunyi tuk menghindar dariku?atau kau sekedar menggodaku?"
Altar cinta tlah terpasung dalam kepalsuan.
"hei kenapa kau menghitam, adakah luka yang kau derita?"
"hei, rembulanku, jawab dong, aku ingin tahu, kenapa kau selalu datang dan menghilang?"
Butiran kristal satu persatu menimpa bumi ini. Relung-relung kekeringan yang mendera diri, terbasuh dalam sesaat.
Kulihat langit, bayangmu tlah menghilang.
"Inikah tangismu? ataukah tangisan alam karena deritaku?"
"Nang, Nang di mana kamu? ayo pulang Nang, jangan hujan-hujanan. ntar sakit lagi kamu!"
Menghentak dan menampar lorong telingaku.
"Ayo pulang Nang. Percuma kau cari rembulan hari ini. Alam tak bersahabat dengan kamu."
"Maafkan aku rembulanku, ini hari ke empat tak jua kutemui wujudmu"
"Nang, ayo pulang!"
"Iya Mak, Aku pulang, tapi rembulan belum bisa aku temukan, Mak!, aku belum bisa bahagiakan Emak!"

Dalam Bayang Rembulan

"Sudahlah Nang, jangan kau bersedih, emak gak papa. Tujuanmu buat emak bahagia kan?, makanya jangan sedih justru emak tidak bahagia kalau kamu terus-terusan seperti ini"
Suara emak menyusup diantara suara azan yang semakin menggema menjemput senja. Aku terpekur diantar waktu, selimut senja tlah tersingkap jemput malam. Akankah rembulanku muncul di malam kelima penantianku ini.
Kelelawar hilir mudik diantara ranting di luar jendela, raja malam mulai tebarkan kuasa. Ku melangkah dalam kepekatan, dingin air pancuran mulai resapi pori-pori kulitku, menusuk menembus hati hingga menjerit. Ya Allah ijinkan aku menghadapMu senja ini. Mohon khusukkan diriku kala aku harus mengeluh padaMu.
Kubelai sajadah, dan kucium hajar aswatku. Serasa ditanah suci aku bersujud menghadapMu ya Rabbi.Dua salam kuucap untukMu mudahkan dan lapangkalah segala urusanku.
Derit dipan di bilik sebelah perlahan membisik di telingaku, menandakan emak sedang bersujud.
Kumelangkah perlahan, kucoba tidak mengganggu kekhusukkan emak.
Angin menyeruak diwajahku kala kupandang langit. Ada yang aneh?, malam ini gelap, pekat. "Adakkah Laelatul qodar di luar bulan Ramadhan?" hatiku bergumam
Aku hanya mematung diantara sayatan-sayatan kelelawar yang berburu serangga malam. Kuamati,kuperhatikan dan ku coba buat sketsa rembulan. Tapi kepalsuan kembali menyeruak. berdesak dalam kebimbangan.
"Sudahlah Nang, malam ini rembulan takkan datang!"
Sapaan emak sadarkan lamunanku.Ku tengok, Emak pun tersenyum.
"Makan dulu Nang, Emak dah masakkin "semur ayam" kesukaanmu.
Bergetar hatiku mendengar Emak sebut "semur ayam", tiba-tiba wajah bulan membayang dipelupuk mata, hingga aku tak kuasa menahan bendungan yang mulai meluap.Ku melangkah tinggalkan Emak yang bingung melihatku.
"Maafkan aku Mak, aku tak bisa dan belum biasa dengan semua ini."
"Nang makan Dulu!"
Tiada kudengar teriakkan Emak.
"Maafkan aku yang tidak bisa menemani Emak makan, malam ini.

Bulan Membatu dalam Rinaiku

Kupu-kupu tlah terbang tinggalkan taman yang tak pernah membuatku bahagia.Kurebahkan tubuh yang lelah ini di bale-bale bambu buatan emak. kutatap langit-langit yang terus membisu tanpa sketsa apapun.Ku hitung tiap jengkal genting dengan hiasan sarang laba-laba yang selalu menjerat nyamuk dan serangga malam.
Dimanakah kamu sekarang wahai rembulanku, dilangitkah? dalam kurungan mentari? atau terbang bersama kupu-kupu? gelisah kembali menyeruak bersama desah nafas yang terus berpacu dengan detak jantungku.
" Nang, Mak mau tanya" tiba-tiba mengejutkanku.
"Ya, Mak"
" Emak kasihan sama kamu Nang, maukah kamu andai Emak ambilkan bintang untukmu"
"Bintang kan banyak, Mak!"
"ya tentunya Bintang yang terang to Nang"
"Tapi, aku belum bisa melupakan Bulan Mak,bulan begitu kuat mencengkeram tiap jengkal hati ini Mak"
"Nanti kan lama-lama bintang juga bisa kan Nang"
"Tapi Mak, aku takut bulan tahu"
"Nanti emak yang atur, biar bintang tidak bersamaan dengan bulan"
"Mana mungkin Mak?, Emak kok begitu sih, sejak kapan emak berpaling dari bulan. Bukankah emak juga suka bulan kan?"
"Maafkan Emak, Nang, memang emak suka bulan. Tapi emak hanya kasihan sama kamu."
"sudahlah, Mak. Biduk tlah berlayar, busur tlah terlepas, dan altar tlah dibangun. Aku tetap mencari bulan mak."
Rinai kembali menyeruak di kedua pelupuk mataku, bersamaan dengan isakkan Emak. Kulihat guratan pipi emak keemasan tersentuh lelehan rinai yang bergelayut manja.
"Maafkan aku mak, aku harus temukan bulan demi kebahagiaan ku dan bhaktiku pada emak, dan bulanlah yang tlah mampu beri semangat bagi hidup emak."
Tak kudengar jawaban emak, hanya hembusan angin dari tirai kamar yang di kibas emak kala meninggalkanku.

Bulan di Sayap Kupu-Kupu

Selimut jingga tlah tersingkap di ufuk timur. Jari jemari kakiku merangkak di lembutnya pasir, kucoba buang bayang bulan pagi ini. Aku tahu terlalu berlebihan apa yang kuinginkan. Tapi, salahkah apa yang aku lakukan?. aku merindukan bulan yang mampu terangi malam-malamku, mampu basahi keringnya mimpiku, kaulah lilin kecil yang pancarkan asa di tiap jengkal lelapku.
Segar udara pagi ini tetap tak mampu gairahkan tiap langkahku. sepasang kupu-kupu kasmaran diantara putik dan kembangsari, bercengkerama, dan bersenggama dengan mentari yang mulai menyengat. Kudengar mereka membicarakan tangis rembulan semalam. aku terhenyak.
"rembulan menangis dalam luka, aku baru tahu saat purnama lima hari yang lalu"
"Kapan itu?"tanya pasangannya
"Ia menangis hingga tak sadar saat mentari membentaknya tuk segera ke peraduan."
"Lalu kenapa bulan terluka?"
"bulan tlah redupkan sinarnya, walau hati kecilnya menangis "
Aku terhenyak untuk kedua kalinya.Kalau rembulanku bersedih, kenapa juga harus redupkan sinarnya. Aku sadar bahwa aku tak sempurna. tapi kurasa bukan itu alasanmu, aku ingin kau kembali kepangkuanku, ku ingin bercengkerama
dalam tiap detik waktu yang kita lalui.
"Lho Bulan yang meninggalkan kenapa juga bulan yang bersedih?"
"Seseorang itu begitu bulan cintai, tapi bulan tidak bisa apa-apa.bulan ingin bahagiakan, tapi bulan merasa bahwa cinta itu tidak seharusnya terjadi"
Aku merenung mendengar cerita mereka, kuselami kembali tiap deret cerita yang telah tertasbih dalam memori ingatanku.Kucoba stabilo tiap kejadian yang membuat bulan bahagia, bersedih atau pun bulan tertawa.
"Nang, cepat kemari, kamu laki-laki Nang! jangan memperhatikan kupu-kupu terus! malu dilihat orang!"
Buyar lamunanku mendengar bentakkan emak.
Bukannya aku menghilangkan kelelakianku dengan memperhatikan kupu-kupu. Aku hanya merasa Bulan kini sedang disayap kupu-kupu, mengeluh dalam tiap peluh kesedihannya.

Dalam Rinai Kamu membayang

Tik tik tik
hujan menderai diantara genting dan daun yang terlena. aku terpekur dalam kegundahan. kau yang jauh di sana entah mengerti apa yang aku rasakan. gerimis semakin menusuk pikiranku.
"Ran, Ran kau dimana Ran?"
Terhenyak aku, suara yang lembut perlahan bangunkan lamunanku.
"Ran, ingat Ran...., Intan bukan gadis satu-satunya di dunia ini Ran....!"
sembab yang kucoba tahan tak kuasa mencair diantara ujuang mataku perlahan menetes menyentuh sudut bibirku, kala kudengar nama itu kembali menyeruak dikedua telingaku.
"Ran..., makan dulu. Nanti keburu dingin..lho."
aku hanya terdiam, bayang itu kembali tersketsa diantara awan dan gerimis yang semakin mengiris.
maafkan aku Bu, kalau aku harus tetap terdiam, merenung dan membayangkan Dia yang pernah menempati bagian terindah dalam kepingan hati yang kini terluka.

Kamis, 07 Agustus 2008

Kidung Bersama Ombak

Kurentangkan sayap tuk menyentuhmu
Tengok hari lalu, kumencarimu
Aku melangkah
Namun hatiku selalu menoleh
Awan kertas sampaikan rasamu
kenangan itu lekat di pelupuk mataku

bayangmu menjeratku
Langit sore tetap membisu

Diantara beribu karya
Terserak luas bagai bulir udara
Semua indah tak ada yang sia-sia
Semua tetaplah ungkapan rasa

Riak ombak kecil dibatas cakrawala
riak tenang kan selalu menemani

keromantisan ombak yang selalu bernyanyi

menambah riang camar bersayatan

kidung hati bergumam dan berdengung
adakah hari esok kan berpihak pada kita

Minggu, 03 Agustus 2008

Pada Senja Aku Berbisik

Pada senja ku berbisik padamu
Sepanjang kisah yang terlewatkan
Dari sebuah perjumpaan

lintang pukang peristiwa
Di dinding-dinding kisah
Tinggalkan kenangan berharga
Pada sebuah hati yang resah

Pada senja ku berbisik padamu
Bahwa alam tak akan kecewa
Ketika kita tlah pautkan hati
Hanya kebersamaan fatamorgana
membuat kita tak sempurna


Aku tak akan mengurangi
Rasa bahagia di hatiku
Biar senja menjadi saksi

Pada senja ku berbisik padamu
Kupersembahkan ini
Kepadamu yang merasa sendiri
Kepadamu yang sepi
Semoga senja menjadi saksi

Seberkas cahaya dalam Pagutan Matamu

aku masih menyibak

pagutan hitam matamu

malam itu kala ku menatapmu

bagai kegelapan
yang menyelinap
dalam hutan sepi
kau sembunyikan
hasratmu

diam.............
tak berkata sedikit pun

hanya senyum tersungging

dan tatapan malu retina matamu

mengapa kau pilih diam

sejenak perlahan memejam
aku goyah dalam terpaan cahaya
yang menenggelamkanku di dasar relung hati kerinduan

kamu cantik
seperti bayangan rembulan di kala purnama walau

malam itu bulan sedang sabit

indah

semakin indah

saat kau rengkuh aku dalam

pagutan hatimu

Jumat, 01 Agustus 2008

Pada sayap Kupu-kupu Kecilku

kucari jejakmu
hingga jauh ke sudut cakrawala
Bahkan jejakmu pun tak dapat kueja
Lebur dalam waktu yang berlari
rasi di lipat bintang menggambar denah

sejauh mana kan dicipta cahaya
dihitungnya celah
di jaraknya batas terhenti
di lipat semesta tak hendak menyerah
memenuhi isi
menggali keluasan hati

sepanjang cumbu angin pada awan
tak pernah henti kau yakini perciknya

kau seperti kupu - kupu
selalu saja lintang melintang melambat karena genangan warnamu
dan kaulah kupu-kupu kecilku
menari menantang pagi

hingga luluhkan hati
wahai kupu-kupu dalam jambangan hati

aku benar-benar tlah luluh dalam
sayapmu kupu-kupu kecilku




Padamu yang Menjaga Senja

Pada merah yang melilit senja langit pesisir.
aku menaruh harap
Pada mentari yang kian temaram
Kelelawar mengeja kelam dalam kemuraman

Di ujung bentang langit,
Sepasang burung kembali ke utara.
Di pematang yang sempit,
terdengar riuh serangga malam

sementara di sudut gang pinggir kota

Di ramai trotoar itu, Pengamen bernyanyi diiringi gitar usang
"Bila kamu disisiku, hati rasa syahdu, satu hari tak bertemu hati rasa rindu...."

kota ini tlah beri aku kenangan
tentang senja dan seseorang
Yang terus membayang
Meski malam sempurna telah terang

Untukmu Yang Aku Sayangi

Di jerat urat waktu
Kita berpadu dalam angan
Semu atau palsu?
Aku tak tahu ...

Aku menjelajah lelah
Hati mencari dimanakah tempat bercurah
Resah lara berkisah

untukmu yang aku sayangi
Bisikkan untukku kalimat pemusnah resah itu
jujurlah aku bukan tempatmu menuju...

untukmu yang aku sayangi
Tanya-pun ’kan bisu
Ragu-pun cair membias dalam kias
Karena yang aku tahu kini
Hanya aku dan kau yang tidak mungkin saling memiliki

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...