""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Rabu, 29 Juli 2009

Senja di Lobi Garden Ussu

Di lobi Garden Ussu menatap pangrango kala senja hari itu
langit Cisarua mengajak bercerita tentang rindu dan cinta
aku pun kembali menepi pada tiap makna sajak
seiring denting waktu memburu kelam
saat engkau berlayar di tiap jengkal resah dalam hatiku

Hati mengembara melayang membisik pada angin gunung
larut bersama indahnya semesta
pada hamparan tingkap tingkap perbukitan hijau
yang tak lagi ranum ternoda villa dan hotel
hingga menggapai kaki langit

dingin semakin menusuk
kusampaikan rindu pada kelelawar yang mulai berkelepak
mengangkasa tak bosan melepas rindu pada malam
mematunglah aku di lobi Garden Ussu
memandang bayang wajahmu di senja kala itu

aku rasakan kau semakin dekat
bahkan lebih dekat dan membatu di korneaku

Cisarua, 25 Juli 2009

Rabu, 22 Juli 2009

Sajak Purnama Rapuh Terlukis dalam Cermin

Kau tak akan pernah mengerti
ketika kutitipkan rasa pada kupu-kupu yang bersemayam di hatimu
hingga membuat bibirku ingin mengecup pipi ranummu
rindu pun menjelma sajak bergulungan dalam ruang hatiku

di lingkar mataku kau adalah pelabuhan rindu
setumpuk rasa ini telah kusulam menjadi sepasang baju untukmu
menyebut namamu bak gemuruh ombak yang kubaca dari getar bibirmu

ada yang tak tereja dengan sempurna ketika kau panggil namaku
tapi mungkin kau takkan pernah tahu

sajak purnama tlah rapuh terlukis dalam cermin
menjelma bayang bayang retak
tapi nafas ini masih sempurna
berhembus dan berdetak merajut namamu

masih saja harum terselip sepi
pelita asa menyala hidup dan mati
tetap menyala dalam buaian pesisir
di antara sajak-sajak satir

Minggu, 19 Juli 2009

Ingin Rasanya Aku Menjadi Malam

Ingin rasanya aku menjadi malam
setiap hari di deret kalander bisu ini
Agar mampu datangi tidurmu
Menemanimu tanpa gaduh
kecup keningmu hingga kau lelap
Lalu kumasuki mimpimu yang tlah ber alur
Kan ku apresiasi adakah aku dimimpimu

Ingin rasanya aku menjadi malam
setiap hari di deret kalander bisu ini
Kan kurangkai cahaya purnama walau sabit baru tersenyum
Ku sunting dalam guratan kelopak matamu
Agar cahaya asa terpancar disana
hingga keraguanmu sirna

Ku ingin pinjam bahumu sejenak saja
tuk sekedar bersandar dari lelah di mimpimu
jangan kau tanya mengapa, apalagi bicara tentang rasa
kau tak akan mengerti secuil hati ini tlah kau bawa
semua kata tanya dan cerita kadang hanya sia-sia saja
bila tak mampu kau maknai
tersentak aku kala bibir basahmu tlah hangatkan pipiku
kuterjaga dan melayang
malam bagai purnama walau sabit baru menghias cakrawala

aku pun melangkah, sesaat
Karna secuil mentari tlah usirku di muara malam
Hanya rasa membekas yang kan mengingatmu
Merasa bahwa aku pernah ada di sudut korneamu
dan di setiap bagian hatimu

Kamis, 16 Juli 2009

Bulan Sabit Masih Setia

saat sang jantan bercakap dengan mentari
bulan sabit beringsut dalam kelelahan,
setelah semalam mengusir kabut dan awan
yang semakin menyuramkan perasaan

angin pun berhembus menyibak tirai dengan hangatnya
seonggok kenangan terpuruk di sudut jiwa,
engkau tahu kerinduan ini mulai menguras rasa perih

mungkin kau mampu menawarkannya
tiap kali kurasa torehan kenangan di dada
sebanyak rasa yang kuhembuskan
bersama asa yang semakin lelah

bulan sabit enggan beranjak dari tempatnya
bahkan ketika mentari menampakkan cengkeramannya
bulan sabit masih setia mendengar kesedihan ini

Rabu, 15 Juli 2009

Di Pesisir Ini Kembali Aku Berbagi

senja masih saja meniti lembayung merah
kelamnya lukisan cintaku pun tertoreh diujung cakrawala
terombang-ambing bersama biduk dalam gelombang rindu

perlahan kelam tampar senja hingga tengelam di ujung samudra
aku terpekur diantara bebatuan berteman riak-riak berbusa
alunan azan semayub bersama semilir angin pesisir
menggugah lamunan biru

wajahmu membayang bersama kenangan
selalu kucoba untuk melupakan
tapi selalu saja kau datang menjelma
merangkai memori dan sajak-sajak yang t'lah tertoreh

cericit kelelawar ramaikan senja itu
hiruk pikuk dan derit sepeda tua tertatih, terseok dalam kendali
seraut wajah penuh pengharapan
dalam segulung mimpi bersama keranjang ikan

aku hanya bisa tengadah
kembali kurangkai wajahmu
sketsa yang tlah hilang,
terbentang bersama bintang
di pesisir senja ini kembali aku berbagi

Dalam Debur Pantai Ngebum,
15 Juli 2009

Sabtu, 11 Juli 2009

Dimanakah Kau Bersembunyi

masih terngiang kala senja melangkah
menyusuri jejak purnama semalam
bayang kabut sore ini pun menggumpal,
gelap mencekam dan berarak menghitam
menunggu detik per menit berlalu tanpa bayangmu

pesisir bisu dingin dan beku
biduk tertambat di ujung bambu,
diam diterjang riak yang terus berdebur

pesisir tetap setia menanti walau tahu
hidup bergulir musim menjadi butiran debu
hingga sekelebat awan berayun di angkasa
melahirkan kapas-kapas dalam dada
menyesak
menjejal
asa pun membabi buta

kutertatih memecah buih rasa dalam kawah kerinduan
di manakah kau bersembunyi
di balik cakrawalakah kau berselendang kabut
atau di haribaan belantara dan gunung
dimanakah kau bersembunyi
dipesisir ini aku masih merindumu

Jumat, 10 Juli 2009

Bias Awan Tampar Aku ke Sudut Cakrawala

Kulari dari tatap mimpi-mimpiku
Kubiarkan mengalir tiap kenangan purnama di muara ini,
biarkan riaknya membawa kisah ini pergi.
Biarkan sejuk angin pesisir biaskan bayangmu.
Biarlah lukisan wajahmu indah di tiap gelombang pesisir
dan biarkan langit menabur senyum pada raut bayangmu.
Di korneamu kulihat wajahku, dalam aku tatap
tak ingin lepas menatap wajahku di teduh korneamu
aku melihat tubuhku menari-nari, tersenyum dan terlena

kini aku tak lagi melihat wajahku di teduh korneamu
meski mataku dan matamu saling bertatapan dalam angan dan mimpi
seraut roman tak dapat kutatap
Kini aku tergagap bawa namamu ke ujung langit,
Bias awan semakin menamparku di sudut cakrawala
aku hanyalah Majnun dengan syair dan sajak kala menyapamu.
Sungguh tak pantas mengharap Laila berkelana membawa sekeranjang mimpi

Aku ingin suatu pagi terbangun dengan mimpi baru
Tuk membuatku berpijak.
Tapi kembali namamu menyapa pelan dari kotak memori
bersama Kisah dongeng putri dan pangeran
berarak bait sajak pun
takkan kembalikan purnama rengkuh pesisir

Kamis, 09 Juli 2009

Masihkah Aku di Ujung Korneamu


goresan kata kelu dan puisi pun membisu
membalut jejak di ujung korneamu
hanya tubuh menyangga renta
masihkah aku di ujung korneamu
hanya sebait sajak larut dalam asa
sampai waktu pulang merangkulku

purnama tlah berlalu
aku kembali termangu
kendati kado jiwa telah kubawa
masihkah aku di hadapan ujung korneamu

coretan takdir masihkah tertulis untuk kita bertemu
aku tidak mengerti, kegagapanku akan menjelma sajak
yang kapan saja kau baca kala waktu enggan berpadu

Senin, 06 Juli 2009

Purnama di Awal Juli

Kutulis sajak ingin kubuat jadi purnama
bait-bait kisah terangkai dalam diksi bercahaya cinta
kububuhkan kata “purnama mendekap dirimu dalam hangat”

Malam takkan lagi jaga kelam
awan berarak menuju lembah jauh dari pesisir
tinggalkan kamu dan aku, dalam pakeliran pemimpi
tiba-tiba menjelma purnama di wajahmu
Ada kehangatan purnama menerobos garis-garis rasa
saat kilau pelangi rengkuh wajahmu
Tatapanmu menyejukkan udara di ruang hatiku
sayup kudengar degup jantungmu merajut syair

Kusuguhkan rindu hangat dalam sajak
biarlah uapnya menyatu disudut hatimu
terbayang romanmu merona nodai pipi ranummu
Majnun kan tetap melangkah dengan tongkat kata-kata
Laila pun hanya tersipu dengan kerudung cinta
Tapi purnama tetap akan purnama
Walau langit tak akan sempurna

Biarkan Rasa Ini Mengalir

Bertemu dan berakhir adalah sebuah pilihan
Ketika bola mata bertemu di persinggahan terakhir
sebuah kenangan menyeruak di tiap jengkal rongga memori
rasa di hati menarik batas demi kata bebas
tanpa keyakinan semuanya jelas terbentang
di matamu dan mataku
tajam hendak membungkam awan yang berarak
dalam sebuah penantian panjang
langit tlah ucap janji pada bumi, tiada akan berakhir
sampai langit runtuh tetap dekap bumi
akankah mengakui semuanya
bisakah bebaskan keinginan yang selalu tertunda
rasa pun ingin membuncah sanubari yang selalu tertekan
biarkan rasa ini mengalir seiring penantian
Akankah majnun menyunting laila
di tengah badai cibiran dan sebuah kehormatan singgasana
kita pasti akan merasakan bersama
hingga janji di batas langit tetap ada
hadir di pesisir cakrawala

Minggu, 05 Juli 2009

Memori Bersama Kabut di Puncak Ungaran


Sore Itu 4 Juli 2009 di bawah payung kabut kami, aku dan 20 an mahasiswa yang tergabung dalam KSR IKIP PGRI Semarang melakukan satu ekspedisi ke Puncak Ungaran dalam rangka PTKK bagi anggota KSR. Setelah tiba di desa Medini kami pun mulai menapaki jalan setapak terjal dan berdebu di hamparan pohon teh. Tujuan kami adalah menuju desa Promasan atau yang dikenal oleh masyarakat dengan nama desa Candi adalah sebuah desa terakhir yang merupakan bascampe bagi para pendaki. Langit yang memayungi kami pun tampak pucat bahkan gerimis menyambut perjalanan kami. setelah 2 jam berjalan kami pun akhirnya tiba. Tepat pukul 15.05 kami pun dapat menyandarkan sejenak pungggung dan memanjakan kaki untuk mengembalikan tenaga dan nafas kami sesaat sebelumnya memburu bersama dingin lereng ungaran.

setelah sejenak istirahat dan sholat. kami lanjutkan susur Goa. sebuah Goa peninggalan penjajah jepang.
Sebuah Goa alami di bawah hamparan pohon teh dengan keadaan alami tanpa renovasi kami masuki. Gelap dan pengap pun menyambut kami. Sorotan lampu baterai pun menerangi Goa yang biasanya sunyi. Aura mistik pun membuat merinding tiap kami sorot kamar2 bekas penyiksaan bagi rakyat pada masa lalu.(dikisahkan oleh pak Pasimin salah satu penduduk asli desa Promasan) setelah 15 menit akhirnya cahaya putih terlihat begitu kami sampai di ujung Goa. alhamdulillah kami pun kembali tatap hamparan pohon teh dengan langit hitam dengan hembusan dingin yang makin menusuk pori-pori.


"Pak, jadi muncak tidak.., sudah pukul 01.30." aku pun tersentak karena memang hanya memejamkan mata sekitar 30 menit. Yah aku masih ingat, terakhir aku menguji praktik pada pukul 23.30. Setelah berusaha memejamkan mata karena dingin masih saja mengganggu mata untuk sekedar terpejam. Tepat pukul 02.00 Wib 5 Juli 2009 setelah packing dan persiapan kami pun mulai menapaki jalan terjal berbatu dan berdebu yang menanjak menuju puncak ungaran. Bulan pun terang bersinar menjelang purnama. jadi lampu alam sangat membantu kami dalam perjalanan malam itu. Pohon teh lebih tinggi dari tubuh kami dan jalan setapak yang dalam menjadikan kami seakan berjalan di bawah lorong. Setelah 30 menit berjalan kami pun tiba di pos pertama yaitu sebuah gubug beratap seng yang merupakan tempat beristirahat sejenak bagi para pendaki.


Tantangan semakin berat selepas dari pos pertama dan membuat kami termotivasi walaupun ada satu dua peserta putri yang mulai mengeluh dengan fisiknya, bahkan salah satunya mengalami kram perut.
setelah tertangani kami pun lanjutkan, kabut tebal menghalangi pandangan kami. Biasanya selepas pos pertama kami dapat melihat lautan lampu di kota bawah, ungaran, semarang, ambarawa, salatiga. Tetapi karena kabut benar2 telah menghilangkan pemandangan tersebut. Walaupun demikian perjalanan kabut yang silih berganti tetap memberikan jeda sesaat bagi mata kami untuk bisa menikmati pemandangan tersebut. Pukul 03.30 Wibkami pun tiba di pos kedua atau sebuah dataran kecil di atas batu besar. Disitulah angin kencang semakin mendinginkan tubuh kami. Akhirnya kami berada di lereng seakan di atas awan. karena jelas awan berada di bawah kami. Ttebal putih bergulungan di hamparan mata memandang, berjalan berarak tiada henti dengan jeda kilauan lampu kota dan perumahan yang silih berganti memanjakan mata kami.

Akhirnya pukul 04.12 menit seiring adzan subuh kami pun tiba di pos ketiga atau hamparan sempit di atas batu besar yang berjarak 100 meter dengan puncak uangaran.

Keadaanku sendiri dalam kondisi kurang fit karena cidera otot tungkai atas kiri setelah sembuh dua bulan lalu, serta cidera pergelangan tangan kanan setahun yang lalu tiba-tiba nyeri hebat disebabkan dingin, agak menghambat lajuku yang biasanya leader, tongkat leader pun aku serahkan ke komandan KSR dan kini aku menjadi penyapu ranjau atau penutup rombongan sebagai pengawas di akhir rombongan. Akhirnya bangunan tugu Benteng Raiders dan sebuah tiang bendera kami pandang, yang merupakan puncak tertinggi dari gunung ungaran. Allahu Akbar... sekitar 120 an pendaki telah berada di sana belum lagi yang di belakang kami. Rombongan pekalongan bahkan telah menginap sejak jumat yang lalu. Hawa dingin semakin membekukan darah kami. kami pun survive dengan menyalakan api dan tungku untuk sekedar memasak air guna mematangkan kopi, susu dan mie instan. sementara kabut semakin tebal hingga kami bersabar untuk merasakan hangatnya matahari. Awan bergulung berada di bawah kami dapat terabadikan sebagai kenangan terindah. Hampir semua mata tiba2 menatap arah timur laut saat sinar kuning keemasan mulai menodai awan. jepretan blitz pun terlihat di setiap sudut puncak dan setiap rombongan pendaki. Saat sunrise yang ditunggu pun kami nikmati saat itu. Allahhu akbar sebuah kebesaran dan keagungan Sang Pencipta kembali menggugah keimanan kami.

Setelah puas dengan pose narsis masing-masing akhirnya pukul 06.30 kami pun menuruni puncak guna menghindari jilatan matahri yang menyengat untuk kembali ke bascampe tempat kami istirahat sejenak malam tadi. Akhirnya tepat pukul 08.30 kami disambut kepulan asap nasi di atas piring dengan sayur khas "Jipang" makanan khas desa Promasan, serta segelas teh yang juga mengepulkan asap dengan bau khas daun teh alami membuat kami terasa tiada letih setelah berjalan dari pukul 02.00 s.d. 08.30. Aku pegang gelas dengan menatap puncak ungaran yang tiba2 cerah dengan rasa bersyukur puncak itu telah kami rengkuh hari ini.


Promasan 4-5 Juli 2009

sebuah catatan kecil Ekpedisi Ungaran





Jumat, 03 Juli 2009

Pada Senja Yang Mengantar Bayangmu

Pada senja yang mengantar bayangmu
pesisir terasing tanpa sepatah kata
ketika bercerita tentang ombak bisu
membawa sebilah rindu pada riaknya yang abadi

bergegas kemasi sunyi di ujung waktu
saat senyummu mencumbu aliran darah
memuncakterus saja menatap bayangmu
pada selingkar kenangan
bersama angin pesisir

terlihat bagai sebuah kegamangan
padahal bayang yang mengalir
terkadang hanya lewat sebentar di pelupuk mata
lalu melompat diantara ingatan

kisah membendung cerita lewat airmata
dan temukan kesedihan tiada terkira
bagai teriak camar yang terluka
episode hidup yang tak pernah tersambut
di rahim malam

ketika senja singgah dengan seikat janji
yang telah terkumpul sejak pertemuan itu
maka di sanalah puisiku jadi nyata
puisiku tak akan menebarkan aroma
sewangi parfum yang dijajakan supermaket
tapi puisiku, menawarkan kebahagian
sewangi parfum walau di emper toko

pejamkan mata dan tatap siluet senja
aku terus dan terus berdiri menatapmu
dalam degup rindu yang terus memburu
menyeruak dalam pelukan pesisir

Bersama Purnama Menjelang

bulan tlah cemari cakrawala
terang pun meradang
hingga kelam terbirit dalam selimut awan

dingin menusuk pori-pori
jelang purnama sempurna
kau membayang di pelupuk mata
retina membulat menggedor jiwa

akankah terengkuh jiwa
rasa yang tersembunyi menggelitik
dan selalu membangkitkan asa

purnama pun bungkam kelam
hingga terang buka tirai
tabir kerinduan
di pesisir ini dingin kudekap
bersama purnama menjelang

Rabu, 01 Juli 2009

Malam Tak Sempurna dalam Pelukan



Senja memeluk bias temaram
Mengabarkan satu perjalanan rahasia
Menceritakan sesuatu tentang kita
yang mencinta seuntai larik lembayung


senja ini, melumpuhkan lututku
terombang-ambing luka-luka jiwa,
berharap pelukan ombak menyelamatkan kerapuhan.
Aku tahu, Jika tenggelam ragaku ditelan badai,
Mutiara dibawah senja tiadalah terasa
penyebab gundah gelisah

Ah, keanehan melanda kewajaran,
menjelang senja kepedihan dan kesedihan berselimut malam
Seketika pandang mataku beralih
wajahmu tlah bawaku ke sini
tersenyum melihatku
malam tak sempurna dalam pelukan angin pesisir

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...