""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Senin, 08 Agustus 2016

Menulis Prosa itu mudah

Siang terik yang tibatiba gelap dan perlahan gerimis pun merintik satusatu, beberapa menit yang lalu jamaah telah usai. Berhenti beberapa pengendara terlihat membelokkan motornya, entah ingin berteduh atau menjalankan kewajiban sebagai muslim.

Aku lepas sepatu dan bergegas menuju tempat wudlu, surau yang sederhana begitu berarti bagi musafir.
Sosok tua khusyuk berdoa terlihat dari tempatku berdiri, seorang lelaki muda keluar dan tersenyum sambil mengulurkan salam, kusambut kemudian ia bergegas meninggalkan surau di antara gerimis.
 

"mari pak jamaah ..." seorang siswa menyapaku
"iya mari....."
 

ia pun berlari kecil menata sajadah
 

"Mbak bolehkah aku menjadi Imam kamu, maukah kamu menjadi makmumku..." spontan kuucap ketika perempuan itu selesai berwudlu
 

Kulihat sekilas wajahnya memerah, ia menatapku tajam dan matanya berkaca-kaca, kemudian melangkah ia kembali ke tempat wudlu. 

"Allahu akbar Allahu Akbar......"
 

kudengar iqamah dari siswa yang mengajakku jamaah.
 

"mari pak, ......" sapanya kembali

hingga salam ku usai, tak lagi kulihat perempuan itu, entah menghilang ke mana.

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...