""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Jumat, 30 Januari 2015

Kemana Anak-anak Surau Pergi?

Sayup meretas pekat menyusup bertengger pada sayap ngengat dan laron, huruf hijaizah itu terlafal dengan mahraj yang menyejukkan. Suara parau guru ngaji pada sebuah surau di pinggir hutan itu masih bertahan, walau rintik masih menderas, angin makin tajam membuat gigil pada daun. Suara serempak menirukan sang guru. Aku terdiam di sudut serambi menunggu hujan usai, begitu damai mereka lantunkan. Langit terbuka tiba2 dengan cahaya terang, lantunan itu melangit meruang.
"Masuk saja, mari duduk di dalam, sebentar lagi isyak"
"Pada ke mana anak-anak yang mengaji tadi?"
"Anak-anak yang mana mas? Hanya saya sendiri sedari magrib di sini"
"Trus tadi suara anak-anak yang mengaji menirukan.., siapa mereka?"
"Ah mas ini, saya azan dulu mas, kita jamaah, syukurlah ada mas, jadi aku bisa melaksanakan jamaah isya di surau tua ini, mas ambil air wudlu dulu ya"
aku hanya terdiam mematung memandang sekeliling.

28 Januari 2015

1 komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...