""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Rabu, 08 September 2010

Rembulan di Wajah Emak saat Lebaran Tiba

Riak-riak menggelitik di senja menjelang 1 syawal tahun ini. Kulihat Emak masih saja memandang ombak yang terus bergulung menerpa kakinya. Aku tak berani menyapa, terlalu dalam luka yang Emak rasakan.

Ramadhan tlah berlalu hingga tahun ketiga ini, bahkan 1 syawal tinggal selangkah lagi terbuka gerbangnya. Tapi Mak tak bahagia, selalu saja Emak pandang luas samudra tiap lebaran menjelang. Hanya angin, ombak, pasir, camar, kepiting kecil dan biduk tertidur mungkin yang bisa maknai isi hati Emak. Aku hanya bisa pandang lelehan bening membelah pipi Emak hingga lurus menetes di sudut dagu Emak. Tak pernah Emak mengusap airmata itu.

Sering tak sengaja aku lihat coretan-coretan Emak di kertas kumal robekan buku tulisku, berserak di meja yang Emak lupa menyimpannya.

"Mengapa siang terasa cepat berganti menjadi malam, dan benderang berubah menjadi kegelapan, sementara harapan-harapanku masih mencari dan mengharapkan terang, akankah aku selalu berjalan meraba-raba pada malam tanpa dirimu Kang, hari terus saja berjalan menuju malam, dan langit pun kudapati telah menghamparkan renda-renda kegelapan. Malam telah menangguhkan mimpi-mimpiku menjadi kenyataan, malam yang menjadikan kesepianku makin sering menyapa dan kesunyianku makin terasa. Tak ada yang dapat kulakukan, tak ada yang dapat kutemukan. Kini setiap langkah yang kujejakkan hanya berakhir pada janji-janji belaka. Kebencian pun makin menerobos masuk melalui celah-celah kulitku, mencari dirimu, lalu diam dijiwamu. Lalu, akankah hari-hariku yang penuh kegelapan kan melahirkan kebahagiaan, ataukah akan berakhir dalam sedu-sedan ?, Kang mengertilah Kang..... sampai kapan kau buat aku begini Kang, kasihan Thole Kang....."

Itulah coretan Mak yang selalu membuat aku sadar, bahwa Bapak tak pernah lagi pedulikan Emak dan Aku..., seperti senja ke 30 ramadhan ini, Mak masih saja memandang laut, Emak sadar bahwa lebaran ini Bapak takkan lagi pulang, hanya aku dan laut yang bisa buat Emak tenteram.

"Bersyukurlah Kang, Thole tak pernah punya rasa iri pada teman-temannya, selama ini Thole nurut Kang, tak pernah minta baju baru, seperti layaknya teman-teman Thole saat lebaran tiba. Aku tak bisa berpikir lagi Kang seandainya Thole tidak patuh padaku Kang."

"Aku masih menantimu Kang, entah sampai kapan aku bertahan begini Kang, Kau masih ingat Kang kepiting kecil yang kukejar-kejar dulu masih saja menggodaku tiap kali aku dipesisir ini, atau kupu-kupu putih yang selalu mengitariku di terik senja, tak bosan aku bercanda dengan mereka, aku masih ingat ucapan kamu Kang, bercandalah dipesisir ini bila kamu rindukan aku.. ajaklah kepiting dan kupu-kupu putih ini" Tapi kenapa kamu tak pernah mengingat itu lagi Kang"

Kuperhatikan EMak yang tiba-tiba berjongkok membelai pasir dan menggapai kepiting kecil yang berlari masuk lobang di debur ombak yang tiba-tiba menghempas. Mak kecewa karena kepiting kecil tersapu ketengah buih-buih putih. Aku hanya tersenyum pandangi kekecewaan EMak.

Sayup adzan maghrib berkumandang perlahan, sayup-sayup pula alunan takbir menggema di seantero pesisir bersahutan dari langgar satu dan langgar yang lain.

"Mak, lebaran dah tiba Mak"

"Oh Thole, sejak kapan kamu di sini,... Mak sampai kaget"

"Barusan kok Mak bersamaan dengan adzan yang Mak dengar"

"Iya Le,.... maafin Bapakmu ya..., sampai kini tak pernah rayakan lebaran bersamamu"

Aku tak bisa bicara, kupeluk Emak erat. Tanpa kata, emak benar-benar larut dalam dukanya. aku tahu dari getar dan isak Emak berusaha hibur aku. kulihat teman-temanku berlarian menuju langgar dengan sarung dan peci baru.

"sabar ya Nang..."

"Iya Mak..."

Benar-benar rembulan bersinar di hati Emak, tiga tahun berlalu tanpa Bapak, begitu sabar Emak jalaninya, Kulihat purnama di wajah Emak, walau baru tanggal 1 terasa tanggal 15 purnama.

Kembali lebaran tahun ini aku tanpa Bapak, tanpa baju, sarung dan peci baru.., hanya Emak dan rembulan di hati Emaklah yang selalu menemani lebaranku seperti 2 tahun lalu. dan kumaknai ramadhan ini sebagai kerendahan diri di mata Allah, keikhlasan telah Mak ajarkan padaku. Tak perlu baju, sarung dan peci baru, tapi hati inilah yang jadi ukuran berhasilkah menjalani ramadhan sebagai kewajiban seorang hamba.

"Sana mandi dulu Nang..."

"Iya Mak..., "

"Allahu Akbar, Allahu Akbar....Allahu Akbar.... Laa Illah ha illahahu allahu akbar......... allahu akbar walillahilham"

"Aku sudah maafkan kamu Kang seperti lebaran tahun lalu walau kamu tidak pulang. Tiga piring berisi lontong dan sayur nangka muda pun sudah aku siap untukmu Kang, meski tanpa opor ayam seperti keluarga lain. "

Kulihat Emak kembali menangis, terduduk di sudut amben, pandang pintu terbuka yang tak pernah di ketuk lagi oleh Bapak, hanya laut lepas yang bisa dipandang Emak. Pesisir tak lagi sepi, petasan pun berentetan dan kembang api menerangi pesisir malam lebaran ini. aku pun menikmati indah malam lebaran dipelukan Emak tanpa harus beli petasan dan kembang api.








Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...