""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 27 Desember 2012

Desah Duka

Pekat rajut malam semakin angkuh rengkuhku dalam bisu,
jika memang waktu masih beri aku kesempatan tuk selalu eja kata,
selalu saja namamu dan satu rasa yang kan kutulis dalam sajakku

Penat semakin mencumbu dalam desah duka,
ku eja kembali namamu pada malam, pada gerimis, dan pada hati
simpan segumpal rindu kupersembahkan pada suatu waktu

kusibak awan sekedar usir pucat di langit,
satu per satu kelopak langit tanggal dan menyembul wajahmu,
terangi langit sesaat, rintik cahyamu satu per satu rebah dalam pangkuanku

belum sempat kutimang cahya itu,
kupu-kupu putih rentangkan sayap bawa pergi,
seiring kunang-kunang redup temani kembali pekat bersama gerimis duka

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...