""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Selasa, 18 Desember 2012

Menggantung pada Ujung Daun

Perlahan secarik kertas kumal dan usang kubuka
rangkaian alur t'lah tertulis,
kucari namamu dalam tiap baris, tiap paragraf
tak jua kau di sana

Jejak yang tertapak menghilang dari transkrip hati
kertas lusuh kembarakan kembali aku,
halaman penuh tanda tempat persinggahan
buka kembali kenangan, penjarakan mata dan hati, tuk sekedar
ingin tahu, "masihkah kamu di sudut lain memaknai sajak-sajakku?"

mendung semakin angkuh berkendara angin
tersingkap siluet hati pada rumpang malam,
lalu muncul wajahmu, rekah diantara rimbunan perdu ilalang

irama hati berdegup seiring detak
alunkan simponi rindu bagai "kebo giro" iringi pengantin muda
menjadi suguhan di pelataran hati, membuka jejakku dan jejakmu yang lalu

Kantuk semayamkan lelah, gigilpun enggan rebah
persimpangan malam ini terlalu indah untuk kulewatkan
walau embun kerinduan  menggantung pada ujung daun
menunggu detik kan terjatuh lalu sirna kembali ke bumi
karena kau tiada lagi singkap makna embun kerinduan  ini

@ 16 desember 2013

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...