Saturday, September 11, 2010

Purnama, Akankah Kembali Esok?

Tertegun tatap rintik saru-satu
kusibak tabir jendela
kutangkap resah pada jarum-jarum bening
menghujam timpa cakrawala

resah itu makin menghujamkan makna
desir di dada bergumam seiring senja selubungi alam
almanak merangkak tertatih di malam ke 2 bulan syawal ini
langit masih berarak mendung
purbakan malam tanpa rembulan

detik menit pada jam usang masih berdentang
angin pun lembabkan udara di awal malam ini
membeku bersama helaan nafas seirama resah
pada gerimis satu-satu

kucari ruang di langit berharap terbuka
ruang tuk rembulanku mengintip
pekat masih saja merajam langit
menipis pun enggan apalagi terbuka

membayang di pelupuk kelam
rembulan pucat tertutup tabir
segumpal awan tlah bawa rembulanku
purnama akankah datang kembali esok?

Wednesday, September 8, 2010

Rembulan di Wajah Emak saat Lebaran Tiba

Riak-riak menggelitik di senja menjelang 1 syawal tahun ini. Kulihat Emak masih saja memandang ombak yang terus bergulung menerpa kakinya. Aku tak berani menyapa, terlalu dalam luka yang Emak rasakan.
Ramadhan tlah berlalu hingga tahun ketiga ini, bahkan 1 syawal tinggal selangkah lagi terbuka gerbangnya. Tapi Mak tak bahagia, selalu saja Emak pandang luas samudra tiap lebaran menjelang. Hanya angin, ombak, pasir, camar, kepiting kecil dan biduk tertidur mungkin yang bisa maknai isi hati Emak. Aku hanya bisa pandang lelehan bening membelah pipi Emak hingga lurus menetes di sudut dagu Emak. Tak pernah Emak mengusap airmata itu.
Sering tak sengaja aku lihat coretan-coretan Emak di kertas kumal robekan buku tulisku, berserak di meja yang Emak lupa menyimpannya.
"Mengapa siang terasa cepat berganti menjadi malam, dan benderang berubah menjadi kegelapan, sementara harapan-harapanku masih mencari dan mengharapkan terang, akankah aku selalu berjalan meraba-raba pada malam tanpa dirimu Kang, hari terus saja berjalan menuju malam, dan langit pun kudapati telah menghamparkan renda-renda kegelapan. Malam telah menangguhkan mimpi-mimpiku menjadi kenyataan, malam yang menjadikan kesepianku makin sering menyapa dan kesunyianku makin terasa. Tak ada yang dapat kulakukan, tak ada yang dapat kutemukan. Kini setiap langkah yang kujejakkan hanya berakhir pada janji-janji belaka. Kebencian pun makin menerobos masuk melalui celah-celah kulitku, mencari dirimu, lalu diam dijiwamu. Lalu, akankah hari-hariku yang penuh kegelapan kan melahirkan kebahagiaan, ataukah akan berakhir dalam sedu-sedan ?, Kang mengertilah Kang..... sampai kapan kau buat aku begini Kang, kasihan Thole Kang....."
Itulah coretan Mak yang selalu membuat aku sadar, bahwa Bapak tak pernah lagi pedulikan Emak dan Aku..., seperti senja ke 30 ramadhan ini, Mak masih saja memandang laut, Emak sadar bahwa lebaran ini Bapak takkan lagi pulang, hanya aku dan laut yang bisa buat Emak tenteram.
"Bersyukurlah Kang, Thole tak pernah punya rasa iri pada teman-temannya, selama ini Thole nurut Kang, tak pernah minta baju baru, seperti layaknya teman-teman Thole saat lebaran tiba. Aku tak bisa berpikir lagi Kang seandainya Thole tidak patuh padaku Kang."
"Aku masih menantimu Kang, entah sampai kapan aku bertahan begini Kang, Kau masih ingat Kang kepiting kecil yang kukejar-kejar dulu masih saja menggodaku tiap kali aku dipesisir ini, atau kupu-kupu putih yang selalu mengitariku di terik senja, tak bosan aku bercanda dengan mereka, aku masih ingat ucapan kamu Kang, bercandalah dipesisir ini bila kamu rindukan aku.. ajaklah kepiting dan kupu-kupu putih ini" Tapi kenapa kamu tak pernah mengingat itu lagi Kang"
Kuperhatikan EMak yang tiba-tiba berjongkok membelai pasir dan menggapai kepiting kecil yang berlari masuk lobang di debur ombak yang tiba-tiba menghempas. Mak kecewa karena kepiting kecil tersapu ketengah buih-buih putih. Aku hanya tersenyum pandangi kekecewaan EMak.
Sayup adzan maghrib berkumandang perlahan, sayup-sayup pula alunan takbir menggema di seantero pesisir bersahutan dari langgar satu dan langgar yang lain.
"Mak, lebaran dah tiba Mak"
"Oh Thole, sejak kapan kamu di sini,... Mak sampai kaget"
"Barusan kok Mak bersamaan dengan adzan yang Mak dengar"
"Iya Le,.... maafin Bapakmu ya..., sampai kini tak pernah rayakan lebaran bersamamu"
Aku tak bisa bicara, kupeluk Emak erat. Tanpa kata, emak benar-benar larut dalam dukanya. aku tahu dari getar dan isak Emak berusaha hibur aku. kulihat teman-temanku berlarian menuju langgar dengan sarung dan peci baru.
"sabar ya Nang..."
"Iya Mak..."
Benar-benar rembulan bersinar di hati Emak, tiga tahun berlalu tanpa Bapak, begitu sabar Emak jalaninya, Kulihat purnama di wajah Emak, walau baru tanggal 1 terasa tanggal 15 purnama.
Kembali lebaran tahun ini aku tanpa Bapak, tanpa baju, sarung dan peci baru.., hanya Emak dan rembulan di hati Emaklah yang selalu menemani lebaranku seperti 2 tahun lalu. dan kumaknai ramadhan ini sebagai kerendahan diri di mata Allah, keikhlasan telah Mak ajarkan padaku. Tak perlu baju, sarung dan peci baru, tapi hati inilah yang jadi ukuran berhasilkah menjalani ramadhan sebagai kewajiban seorang hamba.
"Sana mandi dulu Nang..."
"Iya Mak..., "
"Allahu Akbar, Allahu Akbar....Allahu Akbar.... Laa Illah ha illahahu allahu akbar......... allahu akbar walillahilham"
"Aku sudah maafkan kamu Kang seperti lebaran tahun lalu walau kamu tidak pulang. Tiga piring berisi lontong dan sayur nangka muda pun sudah aku siap untukmu Kang, meski tanpa opor ayam seperti keluarga lain. "
Kulihat Emak kembali menangis, terduduk di sudut amben, pandang pintu terbuka yang tak pernah di ketuk lagi oleh Bapak, hanya laut lepas yang bisa dipandang Emak. Pesisir tak lagi sepi, petasan pun berentetan dan kembang api menerangi pesisir malam lebaran ini. aku pun menikmati indah malam lebaran dipelukan Emak tanpa harus beli petasan dan kembang api.







Tuesday, September 7, 2010

Persembahan Lebaran (buat Bapak/Ibu Partner, Atasan, Teman, Sahabat dan Orang Terdekat)




Sebelas bulan Kita kejar dunia,
Kita umbar napsu angkara.
Sebulan penuh Kita gelar puasa,
Kita bakar segala dosa.
Sebelas bulan Kita sebar dengki Dan prasangka,
Sebulan penuh Kita tebar kasih sayang sesama.
Dua belas bulan Kita berinteraksi penuh salah Dan khilaf,
Di Hari suci nan fitri ini, Kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin

Ada yang sudah bergegas pergi meninggalkan sekeping jiwa yang senantiasa merindukan bulan penuh kemudliaan Syawal menjelang. Taqobalallahu minna wa minkum.

Hari ini kunantikan sejenak langkahmu, untuk memohon tulus maafmu, atas ucap laku yang tercela dulu. Ku ingin bayang salah yang pernah ada terhapus bersama gema takbir. Mohon maaf lahir dn batin.

Mencari setetes air penghapus dosa terkadang terasa sulit dan berat. Namun bukan berarti tidak dapat dilakukan selagi Allah berkenan. Mohon maaf lahir dan batin.




Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.”


Fitrah sejati adalah meng-Akbarkan Allah..
Dan Syariat-Nya di alam jiwa..
Di dunia nyata, dalam segala gerak..
Di sepanjang nafas Dan langkah..
Semoga seperti itulah diri Kita di Hari kemenangan ini..
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah Ada
Tuk khilaf yg sempat terucap
Pintu maaf selalu kuharap
Met Idul Fitri

Satukan tangan,satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di Hari kemenangan Kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

Tuesday, August 31, 2010

Mimpi-mimpi dalam Sajakku

bisik angin pada dinding bersama awan
aku terpaku dalam ruang bersama anganku
derit roda perlahan tertatih terhenti kala merah menyala

jerit malam pada bulan dan bintang membisu
purba menjelma seketika dibalik jendela
bias lampu - lampu merayap susuri dingin
sibak kabut bandung dalam balutan mendung

aku tak tahu lagi harus bagaimana,
korden jendela pun mengejekku
kembali kutatap sepi jalanan di hadapanku

kau muncul bersama senyum dan kerling matamu
menatap tajam ke arahku
aku hanya bisa diam tanpa pembelaan
tersudut dalam beku kerinduan

aku tak tahu lagi harus bagaimana
selimut putih pun turut lantang memakiku
kembali kutatap sepi jalanan dihadapanku

rebah lelah tubuh dalam buai pendingin ruang
kususun kembali bayangmu dalam teka-teki hidup
bias sinar dan senyummu menyembul tiba-tiba
aku menghiba pada malam
akankah kau kan datang distasiun mimpiku
seperti mimpi-mimpi dalam sajakku

Wednesday, August 25, 2010

Sepasang Kupu-kupu dalam Buai Purnama

Senja berselendang semburat merah
dua kepompong bergelayut pada dahan pisang
terayun-ayun dalam buai angin senja
perlahan mendung berarak selimuti senja

dalam temaram senja kepompong bergerak
perlahan menjelma kupu-kupu
terbuka mata pandangi musim cinta
terbang beriring di remang petang

beriring serasi hangatkan rasa
indah purnama perlahan biaskan sinar
kemilau di kedua sayap pun membias
tebarkan pesona di musim cinta

kupu-kupu terbang dalam ayunan purnama
diantara tebaran lampu-lampu dunia
kupu-kupu tetap beriring menari
tebas purnama berkali hingga bayang pun menjelma

bayang sepasang kupu-kupu
dimalam purnama kedua ini
membuai hati dan rasa
dalam sajak-sajakku

Tuesday, August 24, 2010

Pelangi Lingkari Purnama dalam Sajakku

langit benderang dalam buaian purnama
karpet biru tergelar memayung di langit
dingin pun turut kian menggigit
pendarkan rasa dalam sajakku

senja tadi kau merasuk perlahan
sandingkan rasa dalam kalbuku
dalam buaian gerimis satu-satu

bayang matamu siratkan sejuta makna
hingga sajak-sajak baru tertoreh
rangkai makna hujamkan rasa
indah dalam tiap sudut

malam ini kau kembali hadir
bersanding bersama pelangi lingkari purnama
pandangi aku yang tersketsa
pada senyum dan sayu matamu
hingga kata pun terangkai
tingkahi sajak-sajakku

Monday, August 23, 2010

Purnama, Mendung dan Sajakku

masih basah tanah tersiram gerimis satu-satu
senja itu pun muram dalam balutan mendung
merangkak perlahan tertatih renungi langkah

tanah basah, dingin mewabah kelam pun sekarat
tersibak tiba-tiba dalam balutan purnama
bulan tak lagi separoh, binar cahaya berpendar
langit biru pun tergelar

lukisan itu,
biru yang berpendar bersama purnama musnah
terbalut kabut yang menghitam tiba-tiba
kulihat kelam kembali selimuti purnama

purnama malam ini
tak seterang purnama dalam sajakku
kata kan tetap terangkai
frasa kan tetap tereja
bait kan tetap bermakna
walau mendung selimuti langit dan rembulanku

Tuesday, August 17, 2010

Dalam Telaga Matamu

Tiap kali terbayang kornea itu
serasa rasa meradang
seperti menatap telaga
di bening mengalir makna
kucoba rangkai makna menjadi sajak
kulihat jernih kaca bergelombang
aku pun berkaca pada korneamu mencermati diriku

Kutatap diam-diam dalam telaga bening itu
Riak itu menyembul mengalir satu-satu
Perlahan membentuk butiran-butiran bening.
Telaga itu pun berkabut.
perlahan rasa itu tak bernama
otakku tak sanggup menguraikan
Ada gairah di setiap langkah kaki, ringan, melayang
Bernyanyi, tersenyum riang

Semuanya menjadi abu-abu. Tak ada hitam, tak ada putih
tak dapat kubedakan
Tetapi aku semakin terpenjara rasa
Rasa itu kembali hadir dalam memori pertemuan
Aku marah pada waktu yang merangkak bak siput

Aku tersenyum mengingat
walau tak ada yang lucu
Mencermati wajah setiap senti dalam ingatan.
Aku tak lupa. Aku pun tak tahu apa sebabnya.
Tetapi aku tak kuasa melawan rasa
di Aryaduta merangkak rindu perlahan

Monday, August 16, 2010

Mendung Berarak di atas Aryaduta

jendela bisu memandangku penuh tanya
"adakah yang kau lamunkan kenapa diam?"
kupandangi kunang-kunang jalanan
berarak di bawah gelayut awan pagi ini

sendiri mematung di atas gedung aryaduta
menerawang jauh menghempas pada sebuah wajah
remeh remeh yang berserak terhempas
membentur dinding dinding kesadaran

gedung-gedung tinggi bagai tembok jiwa
halangi hati tuk satukan remeh berserak
emosi angin cerai beraikan titik-titik kenangan
tak mampu satukan lukisan indah dalam lembar jiwa

sendiri mematung di gedung artayuda
menerawang menghempas pada sebuah wajah

Tuesday, August 10, 2010

Almanak Lusuh di Dinding Bisu

satu per satu tanggal berlalu dalam bisu
almanak lusuh masih bertahta diantara memori
berkali tanggal tersketsa bayangmu

detik tak peduli tanggal yang berteriak
detik tetap berlalu dengan cerita sajak-sajakku

aku hanya bisa mengeja
hanya bisa merangkai
retak-retak yang melebar

almanak lusuh tetap membisu
dalam detik tinggalkan cerita lalu

Saturday, August 7, 2010

Kemarau pun Membasah tiap Waktu

kemarau tak lagi gersangkan pekarangan
kering yang dulu terjadi
kini selalu basah dengan rintik satu-satu

seperti indah senyummu
seperti indah kerling matamu
seperti damai di sisimu
kemarau pun membasah tiap waktu

Wednesday, August 4, 2010

Senja dalam Kabut Bisu

Tanpa kata kau tatap aku dengan korneamu
tanpa kata kau rangkai senyum di bibirmu
tanpa kata telapak tangan kita menyatu
hanya rasa berkecamuk seiring gerimis satu-satu

senja, gerimis, hujan dan kita diam
nikmati senja dalam kabut bisu

Tuesday, August 3, 2010

Kau pun Mengembara di tiap Tidurku

Kau yang kini hadir menyapaku
yang tak lelah berputar dipelupuk mataku
yang selalu manja bergelayut dipundakku
yang menyatu dalam desah nafasku

kerling korneamu malu tuk sapa pelangi di mataku
kau pun mengembara ditiap tidurku
hanyut dalam lingkar semu abu-abu
semakin bergolak berteriak hingga degup pun
berdetak melintas bawa kerinduan
adakah rindu yang sama tergurat di lembar memorimu?