""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 02 Februari 2012

Sore itu di taman


"Kenapa kamu diam?"
"aku tidak tahu harus bicara apa?"

Memandang jauh pada sepasang sosok tua tertatih bergandengan menuju rindangnya pepohonan, bekas hujan sore itu masih membasah. Jingga memerah terselempang di ufuk barat membuka malam, kelepak merpati berpulang berganti kelelawar.

"sampai kapan kita disini?"
"sampai kamu katakan sesuatu"

Lampu taman menyala satu per satu ngengat, serangga malam mulai berhamburan dari daun-daun beterbangan mencari kehangatan, dingin sepoi merambah perlahan menusuk menelusup pori-pori.

"petang hampir usai, akankah menunggu sampai gelap datang?"
"Kalau perlu, kenapa harus terburu, toh kamu belum katakan apa-apa"

Kembali tenggelam dalam kebisuan, tiada bergerak tiada berkata, dua gelas plastik bekas juss masih teronggok. Bungkusan berwarna putih bekas tempat kentang goreng itu pun tak tersentuh lagi

"tuut, tuut, tuut"
"angkat, hpmu bunyi, dari Ibu kamu kali?"
"biar saja, aku tak mau apapun apalagi terima telepon"
"kamu kenapa sih?"
"aku sudah katakan berkali, aku tidak apa-apa"

tiba-tiba sirine meraung membahana membuyarkan lamunan, ambulance melaju kencang membuka jalan yang lumayan padat menyusup sana-sini. taman kembali tenang, gelap mulai menyergap.Gigil daun pada ranting tak mampu kumaknai, seperti diammu senja ini.

"yuk pulang, sudah magrib nih"
"pulang kemana?"
"ya pulang ke rumah, masak ke hutan!"
"kamu pulang saja sendiri nanti aku gampang"
"tapi kamu ke sini kan aku yang ajak, jadi tanggungjawabku jika kamu tidak pulang"

Suara azan membahana bergema dari masjid di sekitar taman. aku bangkit dan dua langkah kuberjalan, berhenti dan kutunggu reaksinya.

"ayo kita pulang.."
"kamu pulang saja, kan rumahku di sini, maafkan aku, aku baru mengatakan padamu"
"apa...?

Aku balikkan badan, tergagap aku terhempas dalam sepi. Kutatap sekeliling, sepi dan benar-benar sepi dua pasang sosok tua t'lah juga tiada dari rindangnya pepohonan. semerbak wangi menyusup dihidung, aku hanya bergumam.

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...