Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Friday, April 3, 2009
Di Persimpangan Putih
Terus dan semakin purba lajunya
Pintu demi pintu tertutup
aku hanya terpaku, tergugu menatapnya
semakin membelah pekat fajar
Hingga sesaat sebelum jarum berdentang 3x,
aku kukuh meneruskan hingga stasiun akhir,
menggapai cintaku.
Namun pada dentang ketiga,
sebuah pesan melabuh di mataku, agar aku tetap tinggal
Pesan dari sang cinta, mengharap kehadiranku
mendukungnya di lorong lorong putih beraroma obat
Kemanusiaanku yang ternyata masih ada,
mengusik dan mendesakku untuk tinggal,
melupakan stasiun terakhir
cintaku pun terdiam
aku menunggu untuk menemui
aku pun akhirnya, mengharap keputusan
yang akhirnya hanya membisu di bangsal putih
ah…inilah persimpangan kosong yang kupilih ternyata pada akhirnya
aku berharap ia mengerti dan memahami
ya Rabbi
jika memang persimpangan ini harus aku lalui,
berilah aku kesabaran dan keikhlasan
agar aku menerima setiap rintik kenyataan dan pernyataan yang aku terima
Beri aku kemampuan untuk menerima
cintaku memang seharusnya luka
ya Rabbi bantu aku jaga cintaku yang berdiri di sisi persimpangan
Jaga hatinya dari setiap luka yang kugoreskan
Keringkan setiap memar dan sayatan yang mengucur merah
Tolong balutlah setiap inci kesakitannya
Kokohkan ia di saat dukunganku tak ada di peluknya
ya Rabbi bantu aku menjaganya
Berikanlah ia kebahagiaan yang tak mampu kucipta
Gantilah lukanya dengan balutan cinta
Wednesday, April 1, 2009
Goresan Hati di Awal April

bagai titik terang diujung malam
Derai lari waktu menderu mendentam
Mengingatkan sebuah kisah indah gemilang menerang
Kukirimkan rindu menumpang angin pesisir
Bersurat cinta dengan nada indah
Berlari dan kehilangan sebuah harap
Awal pagi itu adalah terakhir kutatap
Sebuah mata indah yang begitu berharap
Semua kan hilang bagai kenanganan
pada bahtera sebuah kehilangan
Biar kukayuh sampan yang takkan berlabuh
Mengikuti riak sungai yang membiru
Sekulum senyum remuk dari hati yang syahdu
Merelekan semua menjadi sebuah kisah bisu
Tuesday, March 31, 2009
Secangkir Teh di Senja Akhir Maret

Angin pesisir berhembus mesra menyapa biduk.
Tiang tali tertambat malas dalam pelukan senja
Kutuangkan secangkir teh yang penuh dengan gula manis.
kau minum dengan penuh rasa dahaga yang tinggi.
Kau berikan sisanya untukku tanda kita berbagi rasa.
Rasa yang ada padamu membuat akupun luluh .
Kau membuatku terpesona akan aura yang kau pancarkan.
Kau pancarkan seberkas harapan tuk saling bersama.
Kau berikan impian-impian yang begitu indah.
Seuntai asa yang kita rangkai bersama menjadi tanda.
Namun semuanya tlah sirna dan berbekas pahit.
Aku tak sanggup merasakan kepahitan itu.
Apakah kaupun ikut merasakan kepahitan itu?
Mungkinkah kepahitan itu berubah kembali menjadi manis?
Semanis gula yang pernah kita rasakan dalam secangkir teh waktu itu.
Thursday, March 26, 2009
Biarlah Angin Sejukkan Bathinku (Janur Kuning pucat dimataku 2)

"Aku di mana?......kenapa dengan Aku...?"
"Kamu sudah di rumah Nang..., tadi kamu kenapa? sakit..?" dari seorang yang tidak asing bagiku
"Nggak papa kok Mbah..."
" Ndak papa kok di bawa banyak orang, di pesta nganten lagi?"
Aku tidak bisa menjawab hanya gerak tubuhku yang memaksa ingin duduk, tapi kembali bumi serasa bergoyang hebat. Sepi sesepi rasa dalam benakku, teringat beberapa menit yang lalu aku berada di tengah pesta pernikahan Wisma yang meriah kala bumi kembali membalikkan aku dalam kesunyian.
"sudahlah kamu istirahat saja di dipan ini..., jangan kemana-mana, senangnya kok merepotkan orang..."
"Iya Mbah....."
Aku pun manjakan tubuhku diantara anyaman bambu yang mengkilat, entah kali keberapa punggungku bersenggama dengannya, hingga bambu itu bersinar bak pualam. Alunan Musik dari pengeras di rumah Wisma tak terdengar lagi. Ada yang aneh? sebuah perhelatan besar tanpa suara musik. sangat kontras dengan perjalanan waktu yang lalu saat aku juga rebah di dipan ini.
"Mas dapat titipan dari mbak Wisma....."
"Eeee kamu to...? apa itu?
"gak tahu Mas..., aku hanya mengantar saja kok " dengan kethus dan berlari menjauhiku
Aku cuma bisa menatap kertas lusuh yang nyaris koyak itu.
Huruf demi huruf tulisan tanganku dan tulisan tanganmu ,
Kristal bening pun menggores menarik garis lurus hingga sudut bibir, aku tidak bisa mencegah biarlah bening air itu membersihkan dan kuharap bisa menghapus bayangmu dari pelupuk mataku. Maafkan, bila aku hanya ingin sesaat tak melihatmu menari-nari.
Tanpa sadar Kakiku melangkah menuju sepeda tua peninggalan Simbah Kakung, Kukayuh perlahan kuajak berjalan-jalan mengarungi lautan duka, dering bel di kemudi pun masih nyaring, jeruji berdenting seiring nafasku berkejaran dengan waktu. semakin kupercepat hingga aku pun rebah di gubug tua tempat aku berkeluh kesah bersama cericit emprit , kepiting sawah, serangga padi, serta angin yang setia menyejukkan bathinku.
"Mbah maafkan aku, aku tidak bisa nemani Mbah makan siang hari ini"
Tuesday, March 24, 2009
Janur Kuning Pucat di Mataku

Janur kuning berdiri kokoh di depan rumahmu, terjulur hampir menyentuh tanah berjuntai-juntai seakan menyambut salam pada tamu.Wangi melati pun semerbak menghembus bersama harum kamarmu, sementara harum bawang goreng dan bumbu pun mulai menodai udara kampung.Telah tertata rapi di depan rumah ugo rampe di bawah teduhnya tenda biru putih. Semua saudaramu, tetanggamu pun sibuk bersatu tangan menyambut hari istimewa bagi keluargamu.
Sementara di kamar, kamu mencoba baju pengantin berkali-kali sebelum calon suamimu datang, cincin tlah melingkar di jari manis sebagai tanda ikatan sunnah Rosul. Kamu tlah siapkan buku tamu yang kan berisi semua karib dan rekan kerja. kamu membaca undangan yang tersisa dari yang telah tersebar, daftar nama pun kembali kamu baca "adakah yang terlewat" dalam bathinmu berucap.
Tepat pagi itu Tanggal yang kamu dan Orang tuamu nantikan. Suara Kebo giro mengalun menyayat hati, hilir mudik kendaraan dan orang tiba-tiba meramaikan jalan yang biasanya purba ini. Aku terdiam tatap padi yang mulai menguning seiring dengan bunga mangga yang tak kalah semerbak dengan melati. Burung sawah pun berlomba dengan angin tuk hinggap di ujuang padi, sementara suara kaleng ditarik penunggu sawah berdenting dengan alunan kebo giro membising di pagi itu.
Ada yang aneh, tidak seperti biasa aku enggan beranjak dari dipan ini. Aku tlah berkali rebah, namun rebah yang paling menyentuh dasar hati hingga aku enggan beranjak. Kebo giro tlah berganti irama dangdut, Kak Rhoma pun bersenandung dengan "Kehilangan" yang makin membuat aku rebah. Ya aku kehilangan sesuatu yang memang tidak seharusnya aku miliki.
"Kalau sudah tiada baru terasa"
"Bahwa kehadirannya sungguh berharga"
"sungguh berat aku rasa kehilangan dia"
" sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia"
Tak terasa aku pun semakin terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam yaitu jurang kekecewaan. Ngarai yang begitu terjal semakin menghempaskan hati yang tlah terluka. Entah sampai kapan luka ini kan mengering. Kembali kuberusaha bangkit dari keterpurukan akal dan pikiranku. Kulihat burung, padi, awan dan mentari yang semakin terik ditengah pesta meriah pernikahanmu .
"Kamu kok masih tiduran to? mbok sana bantu-bantu, wong ada orang mantu kok di rumah saja?" Suara yang begitu kukenal mendesing bagai peluru ditengah kegalauanku.
"Nantilah mbah..., sudah banyak yang bantu kok, tanpa aku pesta juga masih berlanjut mbah"
"He ladalah..., kamu kan teman dekat wisma..., gak baik ditengah pestanya kamu tidak membantu...., ada apa to Nang?"
"Ndak ada apa-apa kok Mbah.., ya sudah sebentar lagi Nang ke sana...."
"Yo wis, Dah mandi sana..., kamu itu Nang! Nang!...."
Angin kembali berhembus bersama langkah Simbah menyibak tirai menyekat serambi dan ruang tamu. Angin yang begitu menyesakkan, kembali membuat aku terpenjara dalam rana.
Sepenggal tanah tlah aku jalani dan detik waktu tak pernah mampu menentramkan perasaanku. aku berada dalam kebimbangan antara datang dan pergi jauh meninggalkan desa yang sedang menggelar hajat besar dari sebuah pernikahan Wisma. Batik kesukaanku tlah memeluk erat, bau khas "Fougere" pun tlah mengharumkan tubuhku hingga menusuk ruang kamarku. cericit burung sawah seakan mengejekku berteriak agar aku segera menentukan sikap.
Kubiarkan kaki ini melangkah mengikuti asa dalam jiwaku, tanpa sadar entah mengapa lajuku justru menuju keramaian yang sangat ingin aku hindari. Mengalun lagu "Arjun" dari pengeras suara.
"Mengapa......dalam perjalanan cintaku......"
"Selalu ada yang merintang.........."
"Pada diriku....... yang Hinaaaaaaa"
Aku makin terhimpit dalam keraguan yang memuncak haruskah aku teruskan langkah ini menuju ke depan pelaminan, atau aku harus ke belakang membantu para Ibu-ibu memasak. Kutatap mata tetanggaku yang entah apa makna yang tersimpan di dalamnya. Tak satu pun mata yang tak memandangku tiap aku melangkah. Aku berdiri di persimpangan antara dapur dan tenda pelaminan.
Wisma berdiri di altar menatapku. Tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat. Matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Aku temukan pelangi indah di matamu, tapi sayang pelangi itu tidak untukku. Dan aku disini, berjalan dengan lambat, mencoba menenangkan degup jantungku. Keraguan itu kembali datang, haruskah aku terus berjalan, ataukah aku berhenti dan lari meninggalkan tempat ini pergi kemana angin membawaku.
Mataku tiba-tiba gelap, langit terasa berputar membawaku ke tengah pusaran duka, gempa kecil terasa menggetarkan seluruh tubuhku. Tanah tak lagi bersahabat, kaki ku pun tak lagi mampu menopang tubuh, aku limbung sejurus dengan teriakan tamu undangan.
Cerita Untuk Dia
Dia menggeleng. Tatapannya menerawang ke angkasa, ke langit bertabur bintang. “Entahlah. Mencari jalan pulang mungkin. Mencari jalan kembali.”
Dia tersenyum kecil.
Dia tertawa kecil. Tawa tanpa perasaan bahagia. Angin berhembus. Aku menggigil. Aku menaikkan kerah jaket, menghalangi tengkukku dari terpaan angin dingin.
Suaranya bergetar. Mungkin karena dinginnya udara. Atau dinginnya hati?
Angin lagi-lagi bertiup. Dia memejamkan mata. Setetes air mata jatuh. Aku memalingkan wajah, tidak sanggup melihat pemandangan ini. Entah mengapa hatiku sakit. Aku mendengarnya menghela nafas. Tuhan… Aku makin merasa sakit… Sakit sekali…
“Tapi…” aku hendak menyampaikan sesuatu tapi dia mengangkat tangannya menyuruhku diam.
“Karena aku… Akulah yang menyebabkan dia terluka. Dan juga kamu…” dia menambahkan pelan sekali, nyaris berbisik.
Dia tertawa lagi. “Jangan bohong. Aku mengenalmu. Matamu itu… Matamu tidak pernah bohong.”
Aku mencerna kata-katanya. Aku juga tidak pernah tahu kalau gadis yang diceritakannya selemah itu.
Untuk pertama kalinya dia menatapku. “Begitukah?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Mungkin,” jawabku pelan seolah ditujukan untuk diri sendiri. “Paling tidak aku tidak perlu berharap lagi. Dan menurutku dia juga berpikiran yang sama.”
Aku tersenyum menenangkan. Matanya kembali melayang ke bulan.
Dia mengangkat bahu.
Nada suaraku yang meninggi membuatnya terlonjak kaget. Dia menoleh ke arahku. Aku dapat merasakan dadaku bergemuruh. Tidak seharusnya aku marah. Tidak di saat-saat seperti sekarang.
Hening kembali meraja. Aku disibukkan oleh pikiranku sendiri. Sementara dia tercenung di sampingku, lagi-lagi memandang ke atas, ke arah langit.
“Aku tidak tahu.”
“Mungkin dia masih tidur,” jawabku.
“Mungkin juga dia masih terjaga, aku merasa dia belum tidur. Sama seperti kita.”
“Yah, mencari tahu kenapa dia bisa begitu menderita.”
“Dan jawabannya…”
“Ada padamu. Jawaban yang mungkin tidak akan pernah dia ketahui kan?” kataku padanya.
Dia tidak menjawab.
Setelah berkata begitu, dia melangkah pergi. Namun sebelum langkahnya menjauh, dia berhenti dan membalikkan tubuhnya.
Perih…
Sunday, March 22, 2009
Profesor dan Sopirnya
"Iya, Prof...!" jawab sang sopir
Percakapan di atas sering terdengar antara seorang profesor pakar pendidikan dengan sopir setianya. Undangan mengisi seminar, workhsop, dan pelatihan bagi calon sarjana, guru, bahkan mahasiswa s2 serta pemerhati pendidikan hampir setiap minggu selalu dilakukan dan tidak hanya di satu tempat. Minggu ini di kota magelang, minggu selanjutnya di Salatiga dan begitulah kehidupan Profesor dan sopir setianya.
Profesor selalu membaca saat berada di mobil guna menyiapkan bahan yang akan disampaikan, sehingga dalam mobil itu tidak hanya sopir dan profesor tetapi juga buku-buku menjadi penumpang lainnya.
Profesor selalu memberi kesempatan pada sang sopir untuk selalu mendengarkan setiap kali ia mengisi ceramah. Panitia tidak bisa menghalangi sang sopir untuk duduk dikursi peserta walaupun hanya di kursi sudut belakang, karena permintaan sang profesor. Begitulah setiap kali profesor berbicara sang sopir pun menjadi pendengar setia. Satu dua kali hingga akhirnya sang sopir hafal betul apa saja yang disampaikan tuannya.
Setiap kali selesai acara dalam perjalanan pulang sang profesor selalu berdiskusi dengan sang sopir, awalnya memang sang sopir ragu, tetapi atas desakan dan ajakan profesor untuk memberikan tanggapan dari proses seminar akhirnya sang sopir terbiasa berdiskusi dengan tuannya.Bahkan sang sopir berani mengkritik sang profesor.
Hari itu jadwal seminar di kota Kendal akan dilaksanakan pukul 08.00 Wib di Pendopo Kabupaten. Profesor datang atas undangan praktisi pendidikan dengan peserta dari pejabat dikpora baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat kecamatan, para guru, dan tenaga kependidikan lainnya. Hingga pukul 06.30 sang profesor merasa tidak nyaman dan ada yang aneh hari itu. Profesor mengeluh sakit pada lambung hingga mempengaruhi kerja darah dan merasakan pusing.
"Pak...., hari ini jadwal seminar di kota mana?" tanya sang sopir
"Hari ini kita ke Kabupaten Kendal..., tapi khusu hari ini kamu yang mengisi menggantikan saya"
Tersentak sang sopir mendengar kalimat tuannya.
"Tapi Pak? saya hanya lulusan SD, SMP saja tidak tamat... bagaimana mungkin saya harus ngomong dihadapan para sarjana dan guru Pak?"sanggah sang sopir
"Kamu kan setiap kali saya ceramah selalu mendengarkan di belakang..., nah hari ini materinya sama persis dengan seminar kemarin ketika di Ungaran" jawab profesor sambil mengambil Jas di lemarinya.
"Tapi.. Pak!" sergah sang sopir
"Sudahlah kamu pakai Jas ini dan saya akan memakai baju kamu.
"Nanti kamu tetap kendarai mobil ini bila menjelang tempat seminar aku yang gantikan."
"Iya Pak" jawab sopir dengan setengah hati
Akhirnya mereka tiba di pendopo kabupaten kendal, sang sopir yang telah menjelma jadi profesor disambut pejabat penting bahkan diajak berdiskusi singkat di ruang transit. sementara sang profesor yang telah berbaju sopir duduk di kursi paling belakang seperti halnya sopirnya.
Dag dig dug jantung profesor ketika sopirnya tampil di podium utama memaparkan makalahnya. Lega campur haru sang profesor tersenyum ternyata sopirnya mampu menjelaskan dengan lancar bahkan sama persis seperti apa yang sering ia sampaikan.
Tiba saatnya sesi tanya jawab. Ini adalah bagian yang paling ditakutkan profesor. Di luar dugaan profesor ternyata sang sopir mampu menjawab dengan lancar semua pertanyaan pada sesi pertama. Demikian juga pada sesi kedua sang sopir mampu menjawab 2 dari tiga pertanyaan peserta karena kebetulan pertanyaannya sama dengan pertanyaan yang ditanyakan peserta di kota kabupaten lain. Satu pertanyaan belum terjawab jantung profesor berdegup kencang karena memang pertanyaan ini baru muncul di Kabupaten Kendal.
"Baiklah hadirin, pertanyaan yang sangat bagus dan terus terang pertanyaan ini baru ditanyakan di Kota ini selama saya berkeliling tidak ada peserta yang bertanya pada masalah ini, jadi ini pertanyaan yang sangat bagus" jawab sopir sambil tersenyum
Profesor terperangah atas jawaban sang sopir, "bagimana mungkin dia menjawab, membaca bukunya dan mendengar jawaban saya juga belum pernah" pikir sang profesor
"Pada kesempatan ini, biarlah sopir saya yang akan menjawab" sambil menunjuk profesor yang duduk di kursi belakang.
Profesor kaget tetapi ia kagum dengan kecerdikan sang sopir, Ia pun dengan santai maju menuju mimbar dengan diiringi tatapan mata peserta. Ia pun menjawab dengan lancar karena sebetulnya Ia profesor yang asli. Tepuk tangan pun membahana ketika sopir yang sebenarnya profesor itu selesai menjawab dengan lancar.
"Hadirin sekalian, sopir saya saja bisa menjawab, apalagi saya.........." mengakhiri ceramahnya
Tepuk Tangan kembali membahana mengiringi turunya sang sopir dari mimbar, sang profesor tersenyum haru di belakang dengan linangan airmata yang melintas tanpa bisa dicegah.
Thursday, March 19, 2009
Catatan Kenangan
Apakah saya rindu?
ya, saya rindu saat itu, dan seketika mencintai, saat saat dimana kesunyian terasa sangat erat mendekap.
Beginilah yang sering dikatakan orang, rasa mencintai itu akan terasa lebih besar ketika kita tak lagi bisa dekat dengannya (siapapun…apapun..)
Hanya bisa mengenang dengan senyum kecil yang tersungging tulus…
Secarik kertas kumal terbuka, secara manual mata ini meraba tiap jengkal kalimat yang tertuang. Tak terasa lembut mengalir menyentuh sudut bibir menoda dan menggores pipi. Kenangan itu kembali menebar ditiap rongga fikiran. Tertegun aku tatap langit begitu indah langit yang selama ini jarang aku pandang.
Kuresapi kembali memori yang tlah tersimpan rapat dalam fikiranku, satu per satu berloncatan, ada yang berloncatan dengan lincahnya, ada yang merangkak tertatih-tatih mengiba, bahkan ada yang terbaring enggan keluar.
Semua hanya bermuara pada satu kata "Rindu datang, kita merasa kehilangan, apabila semua telah meninggalkan kita"
Aku rebahkan diri di Bale-bale sambil mengintip langit dari sela-sela daun yang merentang. Aku renungkan kalimat dalam kertas kumal bersama ukiran jiwa yang tiba-tiba membentang bersama bintang-bintang.
Organ Tunggal (Sebuah Kado yang Maradang)
Mahnun betul-betul meradang. Ia merasa sangat marah melihat pertunjukan organ tunggal yang berlangsung di halaman samping rumahnya itu. “Ini sudah keterlaluan, tidak ada toleransi untuk maksiat macam begini.”
Ia merasa tidak bisa terima pakaian penyanyi seminim itu. Tanpa risih sedikit pun ia melenggok di panggung dengan rok yang jauh di atas lutut sehingga memperlihatkan celana dalam hitam ketatnya, baju tanpa lengan yang memperlihatkan pusar dan sebagian perutnya serta membiarkan punggung bagian atasnya terbuka.
“Memang begitu tradisinya, Mas.” Mugi, adiknya menanggapi. “Namanya juga menghibur.”
“Dia menghibur dengan nyanyian atau tubuhnya? Kau mengundang organ tunggal untuk mendengar musik bukan? Bukan untuk tubuh terbuka dan goyangan demikian.” Sungutnya.
“Ya bagaimana lagi?!” Mugi menjawab setengah kesal setengah bercanda. “Sudah satu paket dari sananya.”
Mendengar itu Mahnun kian marah dan berbalik meninggalkan adiknya yang hanya bisa melongo.
Mugi menggaruk kepalanya. Ia heran dengan tingkah kakaknya. Bukankah organ tunggal memang identik dengan goyangan. Soal pakaian, itu kan hanya baju panggung. Mugilmengenal satu-dua orang penyanyi organ tunggal. Bahkan dia juga nyaris berpacaran dengan Lisya, salah satu artis organ tunggal yang agak populer dan masih sekolah. Jika itu terjadi yang menjadi pendampingnya sekarang bisa-bisa bukan Yeyen. Atau sama sekali belum menikah saat ini. Siapa tahu!
“Kalau tidak berani begitu, tak akan ada yang mau ngajak kita manggung, Mas.” Mugi ingat kata-kata Lisya dulu. “Mana ada orang mau mengundang kita yang menyanyi dengan pakaian rapi.”
Mugi paham akan hal itu. Ia biasa dengan hiburan organ tunggal dan hampir selalu mengikuti di setiap hajatan. Lisya benar, jika penyanyi tidak berpenampilan seksi mana ada yang mau menonton pertunjukan itu. Dan biasanya, sepanjang yang dibicarakan juga soal artisnya, cantik-tidak cantiknya, soal goyangnya, dan semacamnya. Tak ada pembahasan masuk ke soal suara dan teknik bernyanyi. Baginya, lagu apa pun yang dibawakan para penyanyi oke aja. Yang penting goyangnya, Mas!
***
Wiwin Kombor yang menjadi MC sekaligus yang mendapat tanggung jawab kelompok organ tunggalnya, merasa kalang kabut setelah didamprat Mahnun. Ia bingung sekaligus heran, biasanya tuan rumah yang meminta penyanyi organ yang cantik dan berpakaian yang lebih terbuka. Tetapi kali ini kok ada tuan rumah yang tersinggung karena pakaian artisnya?
“Pokoknya, kalau sampai artismu tidak berganti pakaian, acara ini akan dihentikan pada pukul dua belas pas.”
Wiwin melongo. Jika berhenti jam 12 malam, teman-teman pemuda yang setengah teler itu bisa ngamuk. Padahal di jam-jam itulah para pemuda bertingkah agresif, meminta dinyanyikan lagu dengan irama triping dan para penyanyi organ harus bergoyang lebih hot. Inilah puncak acara bagi pemuda dan pertunjukan kebolehan bagi sang artis. Pemuda terhibur, tuan rumah senang, si artis bisa terkenal!
Ia lalu mengadu pada mugi.
“Kami tidak ada masalah sebenarnya kalau acara ini diberhentikan jam 12 malam atau sekarang. Tapi kami ndak tanggung jawab kalau pemuda nanti pada ngamuk.” Cerocos Wiwin Kombor
Mugi melamun sejanak. Wah, gawat juga! Pikirnya. Ia serba tidak enak. Kakaknya ini baru beberapa hari ini di rumah. Ia sengaja pulang ke rumah untuk merayakan lebaran sekaligus ingin melihat pernikahan adnya. Ini kepulangan pertama sejak empat tahun belakangan. Semula bahkan Mugil berpikir kakaknya itu tak akan pulang menyaksikan pernikahannya ini. Di kampung ini, tidak etis seorang adik melangkahi kakaknya dengan menikah lebih dulu. Untuk membicarakan pernikahan melalui telepon pun Mugi rasa begitu sungkan dan hati-hati. Tetapi kakaknya yang kuliah di Yogyakarta itu terdengar sangat riang mendengar kabar tersebut dan berjanji akan segera pulang jika acara pernikahan itu bertepatan dengan waktu liburnya.
“Memang harus begitu,” ucap kakaknya dari seberang. “Jika merasa sudah mampu harus segera menikah. Agama menganjurkan berbuat demikian, agar tercipta keluarga yang mawaddah warahmah…”
Kakaknya tidak bertanya lebih jauh lagi soal siapa calon istrinya atau tempat tinggal dan semacamnya. Ia lebih banyak memberi nasehat dan dukungan. Mugi tentu sangat senang mendengar reaksi kakaknya itu.
Setelah melakukan rapat dengan keluarga besar, akhirnya pernikahan itu disepakati akan diadakan selepas lebaran, agar kuliah Mahnun tidak terganggu lantaran kepulangannya tersebut. Dan kini, kakaknya ngamuk, itu membuat Mugi tak enak hati. Ia tak ingin kakaknya kecewa, tetapi ia juga tak ingin mengusik ketenangan orang-orang dan kawan-kawannya yang menonton.
Mugi tahu, kalau kakaknya tidak senang dengan sikap kawan-kawannya tersebut. Mereka meminta minuman dan rokok pada tuan rumah. Tetapi hal itu bukan pula rahasia. Siapa pun yang bikin hajat untuk acara apa pun, sudah menyiapkankan hal tersebut. Itu menjadi tradisi bagi anak muda dan pemilik hajatan. Mereka sudah menyiapkan berbotol-botol minuman, berslop-slop rokok untuk para pemuda setempat untuk keberlangsungan acara.
. “Tidak ada uang untuk membeli minuman haram, tidak ada uang untuk rokok dan keamanan segala. Kalau mereka mabuk dan terus merokok, bukannya keamanan yang tercipta…” Kata Mahnun menentang
Mugi mengiyakan keinginan kakaknya tersebut, tetapi diam-diam tetap memberi lembaran uang pada teman-temannya untuk membeli minuman dan rokok.
Mugi tak tak ingin bertengkar soal tradisi anak muda dengan kakaknya itu. Sudah pasti akan sangat bertentangan. Dulu, pernah terjadi pertengkaran hebat antara kakaknya dengan sahabat ayahnya gara-gara omong-omong soal partai. Teman sang ayah ngambeg. Mahen dibujuk-bujuk untuk meminta maaf. “Meminta maaf apa? Bukankah dalam sebuah debat ada ide yang paling unggul? Dia saja yang tidak bisa menalar logikaku.”
Pada akhirnya, sang bapaklah yang mengalah dan kembali berkunjung. Untunglah tak terjadi pertengkaran lagi. Selama kunjungan itu tak satu pun yang mengungkit sesuatu yang sifatnya ideologis.
“Bagaimana kalau kau turuti saja keinginan dia, Jang?” Ucap Mugil putus asa.
“Menuruti bagaimana?” Tanya Wiwin Kombor bingung.
“Ya, suruh semua artismu ganti baju. Yang lebih sopan saja…”
“Lho bukankah biasanya juga begitu? Yang diprotes cuma Sheila. Dian Arista dan Yayuk Pratiwi ndak masalah. Sheila Pustipa kan bintang organ kami. Kalau dia pakai baju tertutup wah bisa ngamuk Bos Tasman. Bakalan gak laku organ ini.”
Mugi mengangguk bingung.
“Kamu tahu kan, Sheila itu sedang naik daun? Tak gampang mengajak dia untuk main di acara kita. Ini karena aku yang ngajak. Dan aku mengajaknya juga karena kamu kawanku, lo..”
“Iya, aku paham. Tapi bagaimana usulku tadi?” Mugi kembali menawar.
“Bukan kami menolak. Mereka bawa kostum panggung kan cuma satu. Nyari di mana sekarang? Nah, kalau diberitahu sama Sheila, kemungkinan dia bisa tersinggung. Apa yang mereka pakai kan sudah standar pentas?”
***
“Ndak bisa lagi, Bang. Kalau dari awal dibilangin tentu akan lain masalahnya. Kita juga ndak bisa menghentikan acara ini begitu saja.” Kata Mugi pada kakaknya yang sedang marah itu.
“Ndak bisa bagaimana? Orang yang mengundang mereka itu kita. Mereka kan kita bayar untuk mengikuti permintaan kita. Kalau kita bilang berhenti sekarang mereka juga harus berhenti.”
“Bukan itu perkaranya. Anak-anak muda bisa ngamuk kalau sampai acara dihentikan.”
“Kalau begitu, mereka, para artis itu harus berganti pakaian yang sopan. Apa kau tak malu, melihat penyanyi setengah telanjang itu. Hei, keluarga besar kita sedang berkumpul lho. Kau tak malu pada Meksi adikmu. Apa kau senang melihat Nanda, dan ponakan-ponakanmu yang lain melihat goyangan porno tersebut?”
“I-iya..!! Tapi…”
***
Rapat keluarga kemudian digelar. Mahnun memaparkan lagi hal-hal yang dia tidak senangi dari pertunjukan itu.
“… Ini menunjukan kelemahan iman kita.” Kata Mahnun setengah emosi mengakhiri kalimatnya. Mugi dan ibunya saling pandang. Bapaknya tampak bergetar menahan diri. Hampir dalam banyak hal Mahnun selalu bertentangan dengan bapaknya. Laki-laki di atas limah puluhan itu biasa dipanggil Dukun oleh orang-orang. Mahnun yang paling tak suka dengan panggilan itu.
“Sudahlah, kita ikuti saja kata kakakmu itu, Gi.” Ibunya kemudian bersuara.
Tapi bapaknya tidak setuju. “Kenapa harus meributkan soal iman. Inikan hanya hiburan. Biarkan sajalah…”
“Ini mengundang dosa ke rumah sendiri…” Mahnun segera memotong.
“Kalau dia beriman tak akan dia terpengaruh melihat itu. Selama ini tak ada yang merasa kalau itu mengumbar birahi. Mereka tahu itu bagian dari pertunjukan dan bukan porno. Kamu tahu apa soal itu...”
“Bukan porno bagaimana. Orang jelas-jelas dia telanjang di depan umum.”
“Menurutmu, dia harus pakai jilbab? Kalau dia berceramah tempatnya kan di masjid.”
Mahnun ingin bicara, tapi cepat-cepat dilerai ibunya. Perempuan itu kemudian menggiring suaminya menjauh. “Ndak elok bertengkar di hari baik ini.”
“Anakmu itu sudah disekolahkan jauh-jauh kok malah makin bodoh saja. Sudah besar di kota masih saja pikirannya seperti itu. Ini salah, itu salah, apa-apa salah.” Maki si Bapak.
Sementara, Mugi juga berusaha membujuk kakaknya yang tampak emosi itu.
Setengah berbisik, setengah memohon Mugi berkata, “Saya tahu pemikiran Abang akan bertentangan dengan keinginan Ayah dan yang lainnya. Tapi, ini kan hari istimewa saya. Abang tak ingin membahagiakan saya di hari istimewa ini?”
“Sekarang, terserah Mas saja bagaimana baiknya. Di sini yang paling tua kan Mas.” Mugi melanjutkan.
“Kalau memang acaranya dihentikan sekarang, ya kita hentikan saja. Ndak apa-apa. …”
Mendadak ruangan itu menjadi lengang. Di luar terdengar suara genit berteriak pada penonton, “Masih mau digoyang sayang? Tapi goyangnya bareng-bareng ya, biar enak..tarik maasssss......”
Yogyakarta, 2009
Digubah seperlunya berdasar cerita nyata
Dari Kado Pernikahan sahabatku di Yogjakarta
Tatapan Mata Itu
Bergelayut manja tubuh itu di dipan bambu teras rumah yang semakin renta. senja pun bergelayut mulai merangkul pekat seiring cericit kelelawar memanggil manggil malam.
"Ada apa to Nduk....? akhir-akhir ini kamu selalu gelisah?" suara parau menegur pelan
"Ndak ada apa-apa kok Mbah..."
"Kamu banyak pekerjaan, apa sedang ada masalah?
"Ya sudah kalau kamu memang tidak apa-apa, aku hanya kuatir saja..."
"Matur nuwun Mbah......"
Rasa malas tlah hinggapi benaknya, dengan gontai ia raba lantai tak berubin dengan telapak kakinya. tiap jengkal Ia lalui menuju kamar yang tlah menunggu. Dingin udara pegunungan menyusup perlahan, Wisma pun membuka buku kumal yang selalu jadi tumpahan perasaannya. dengan cepat tangannya menari bersama pena diantara baris-baris putih belum terisi.
Tuesday, March 17, 2009
Rani Tidak Lagi Menangis

Tragedi

Monday, March 16, 2009
Ikhlaskan Hatimu Tuk memaafkanku
