""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Selasa, 17 Maret 2009

Rani Tidak Lagi Menangis



Rani masih menangis digang sempit itu, ketakutan dan rasa cemas masih mengglayuti perasaannya, ya Tuhan jangan ambil nyawa ibuku sebuah kalimat yang keluar dari mulut seorang gadis kecil berusia 9 tahun. Rani berlari dan berlari mencari pertolongan dikegelapan sementara di rumah Rani sedang terjadi pertengkaran hebat antara ibu dan ayah tirinya.Sampailah Rani disebuah rumah tetangga yang menurut Rani bisa menolong dan bisa melerai pertengakaran antara ibu dan ayah tirinya.

"Assalamualaikum...."

"waalaikum salam "

"Tolong Rani tante, ibu Rani mau dibunuh sama papa...tolong Rani tante," pinta Rani sambil melirih dan menangis.

Kejadian ini sudah kesekian kalinya dialami Rani semenjak ibu Rani menikah lagi dengan bajingan itu. Dengan mata berkaca-kaca tante memeluk Rani.

"ya nanti tante tolong, kamu disini aja dulu ya.." jawab si tante.

"ayo tante sekarang nanti ibuku mati dibunuh..." permohonan Rani kembali.

Tante Dewi menjawab, "Rani tante gak bisa menolong kamu, karena itu urusan rumah tangga orang lain, kamu makan aja dulu ya."

Rani menolak tawaran tante Dewi dan pamit pulang.Sambil berjalan pelan Rani membayangkan apa yang sedang terjadi dirumahnya sekarang, apakah ibuku masih hidup..? karena sewaktu Rani pergi tadi ayah tirinya mengeluarkan pisau dan mengancam akan membunuh ibunya. Gadis kecil itu terus menangis, dengan penuh ketakutan dan membayangi ibunya telah mati dibunuh ayah tirinya.

Kembali terdengar suara kecil dari mulut Rani," Ya Tuhan jangan ambil ibuku, cukup cuma papa aja yang Tuhan ambil. kasihanilah aku Tuhan.."Tiba-tiba Rani terjatuh lemas dia baru menyadari bahwa suhu badannya tinggi.

Rani berdiri dan terus berjalan pelan menuju rumahnya. Dengan sejuta harapan dan selalu berdo'a sepanjang perjalanan.Tibalah Rani dirumah. Pelan - pelan sekali Rani memasuki rumahnya sambil mengamati apa yang sedang terjadi.

"Kok sepi sekali..." dihati Rani bertanya, Rani semakin cemas, wajah Rani semakin pucat seluruh badan Rani bergetar ketakutan. Rani terus mencari ibunya disetiap ruangan. Ditengah kecemasan Rani mendengar suara halus yang sedang tertawa kecil, "Loh itukan suara ibu.." Rani terus mengamati suara itu diikutinya dari mana suara itu berasal, ternyata benar itu suara ibunya Rani.

Rani terduduk dan terdiam Rani menangis dan berterima kasih kepada Tuhan " terima kasih Tuhan ibuku gak jadi dibunuh..." Suhu panas di badan Rani semakin tinggi namun Rani tidak merasakannya sama sekali, Rani gadis kecil itu cuma merasakan bahagia untuk sa'at itu.



Cerita Pilu dari sahabatku

Ekspresi-diri

March 09


3 komentar:

Penny mengatakan...

do'a orang yang terdzalimi Insya Allah dikabulkan oleh Nya...
salam kenal ya...

Neng Aia mengatakan...

so sad! :(

Keluarga Fauzi mengatakan...

setuju sama Kak Penny...

kisah nyata ya mas???

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...