Thursday, March 26, 2009

Biarlah Angin Sejukkan Bathinku (Janur Kuning pucat dimataku 2)


Remang cahaya perlahan menyusup di sela-sela bulu mata dan menelusup jauh menusuk retinaku, perlahan darahku pun terasa mengalir cepat memerintah otak tuk menyangga badan dengan gerak kakiku yang terasa kaku. perlahan leherku pun spontan menggeleng seirama nafasku.

"Aku di mana?......kenapa dengan Aku...?"

"Kamu sudah di rumah
Nang..., tadi kamu kenapa? sakit..?" dari seorang yang tidak asing bagiku

"Nggak papa kok
Mbah..."

" Ndak papa kok di bawa banyak orang, di pesta
nganten lagi?"

Aku tidak bisa menjawab hanya gerak tubuhku yang memaksa ingin duduk, tapi kembali bumi serasa bergoyang hebat. Sepi sesepi rasa dalam benakku, teringat beberapa menit yang lalu aku berada di tengah pesta pernikahan Wisma yang meriah kala bumi kembali membalikkan aku dalam kesunyian.

"sudahlah kamu istirahat saja di
dipan ini..., jangan kemana-mana, senangnya kok merepotkan orang..."

"Iya
Mbah....."

Aku pun manjakan tubuhku diantara anyaman bambu yang mengkilat, entah kali keberapa punggungku bersenggama dengannya, hingga bambu itu bersinar bak pualam. Alunan Musik dari pengeras di rumah Wisma tak terdengar lagi. Ada yang aneh? sebuah perhelatan besar tanpa suara musik. sangat kontras dengan perjalanan waktu yang lalu saat aku juga rebah di
dipan ini.

"Mas dapat titipan dari mbak Wisma....."

"Eeee kamu to...? apa itu?

"gak tahu Mas..., aku hanya mengantar saja kok " dengan kethus dan berlari menjauhiku
Aku cuma bisa menatap kertas lusuh yang nyaris koyak itu.

Huruf demi huruf tulisan tanganku dan tulisan tanganmu ,
Menyatu menjadi kata kemudian terjalin menjadi kalimat
lalu tercipta menjadi rangkaian puisi hidup yang teramat indah.
Banyak sudah kisah tentang tawa kita lewati,

pun perihnya duka yang menghadang terlampaui,
membuat kita sangat bangga pada buah karya itu
dan memastikan semua hati pasti akan iri
saat membaca jalinan kisah kita yang di penuhi wangi semerbak.

meski kita menyadari tinta yang kita gunakan adalah tinta hitam
kertasnya tetaplah kertas putih perlambang cinta nan suci,
buktinya adalah begitu perkasanya ruang dan waktu
melindungi kita dari fitnah yang setiap saat ingin ikut membubuhkan tinta

tinta merahnya yang berintikan bara api…………..
Mungkin …. baru separuh perjalanan kita lalui
tapi teramat banyak angkuh yang telah kita tundukkan,
kitapun segera mengawinkan asa , agar terlahir karya sempurna.

Namun puisi hidup tak bisa terduga kemana ujungnya.
Tak kusangka dengan hanya setitik dusta yang tersiar,
mampu menutup semua pintu kejujuran.

dan imaji kita terhenti………
Tinta hitam kini menjadi bening.
Sebening air mata kita yang membanjir.

Kini … Tak ada jejak hitam yang bisa terbaca lagi,
Kecuali Kebeningan yang pernah kau puja itu.
Melumuri Putihnya segala itikad kita.

Kertas putih …..berisi wangi puisi hidup itu…..
kini lusuh….Basah…………


"Aku pinjam puisi ini special untukmu"

Kristal bening pun menggores
menarik garis lurus hingga sudut bibir, aku tidak bisa mencegah biarlah bening air itu membersihkan dan kuharap bisa menghapus bayangmu dari pelupuk mataku. Maafkan, bila aku hanya ingin sesaat tak melihatmu menari-nari.

Tanpa sadar Kakiku melangkah menuju sepeda tua peninggalan
Simbah Kakung, Kukayuh perlahan kuajak berjalan-jalan mengarungi lautan duka, dering bel di kemudi pun masih nyaring, jeruji berdenting seiring nafasku berkejaran dengan waktu. semakin kupercepat hingga aku pun rebah di gubug tua tempat aku berkeluh kesah bersama cericit emprit , kepiting sawah, serangga padi, serta angin yang setia menyejukkan bathinku.

"
Mbah maafkan aku, aku tidak bisa nemani Mbah makan siang hari ini"


Boja, 27 Maret 2009




3 comments:

Linda said...

pengalaman pribadi ya mas,
ajarin aq dunk mas nulis bagus begini ^^

INNEKE ASRINDANI BLOG said...

wah kapan dibukukan?

:)
keren i...

Dian Maya Kirana said...

Wah, numpang baca deh,, :)

btw, gimana caranya bikin supaya postnya bisa scroll gitu oom?