""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 19 Maret 2009

Tatapan Mata Itu

Ku rasa getaran cinta di setiap tatapan matanya andai ku coba tuk berpaling akankah sanggup ku hadapi kenyataan ini oh tuhan tolonglah aku janganlah kau biarkan diriku jatuh cinta kepadanya sebab andai itu terjadi akan ada hati yang terluka Tuhan tolong diriku walaupun terasa indah andaikan ku dapat juga dirinya namun ku harus tetap bertahan menjaga cinta yang tlah lebih dulu ku jalani


Sekejap lirik itu berbisik mengalun menyentakkan lamunannya. Rasa takut tiba-tiba menyusup dalam benak Wisma. Ia tidak dapat berpikir lagi. Bayang tatapan mata yang begitu tajam selalu menghujam retinanya setiap detik, setiap menit, dan setiap kali bertemu dengan sosok yang mulai bersemayam di hati, ada yang kurang lengkap jika tidak melihat sehari saja.
Bergelayut manja tubuh itu di dipan bambu teras rumah yang semakin renta. senja pun bergelayut mulai merangkul pekat seiring cericit kelelawar memanggil manggil malam.

"Ada apa to
Nduk....? akhir-akhir ini kamu selalu gelisah?" suara parau menegur pelan
"Ndak ada apa-apa kok
Mbah..."
"Kamu banyak pekerjaan, apa sedang ada masalah?
"Betul Mbah tidak ada apa-apa"
"Ya sudah kalau kamu memang tidak apa-apa, aku hanya kuatir saja..."
"Matur nuwun
Mbah......"

Rasa malas tlah hinggapi benaknya, dengan gontai ia raba lantai tak berubin dengan telapak kakinya. tiap jengkal Ia lalui menuju kamar yang tlah menunggu. Dingin udara pegunungan menyusup perlahan, Wisma pun membuka buku kumal yang selalu jadi tumpahan perasaannya. dengan cepat tangannya menari bersama pena diantara baris-baris putih belum terisi.
Aku masih disini dalam dekapan rindu yang begitu sangat, kilatan matamu bagai sebuah garis asa yang tegak. Sadarkah kau kalau dalam setiap tarikan nafasku hanya dirimu yang selalu kurindu. apakah serpihan hati ini tak membuat karangmu luluh mencair betapa berat.. hati yang biasa kosong tiba2 terisi oleh tatapan matamu.Matamulah yang sanggup mengangkat dunia beserta isinya, yang memaksa mentari menebarkan cahayanya di atas gemerlip percikan riak ombak, betapa menenangkan, saat tiap masalah dalam kehidupan ini dapat menghilang dengan tatapan matamu, jika rembulan itu tak mau bercahaya, kan kutorehkan kata-kata indah hingga matamu berkaca-kaca bak kristal menaburi mayapada.Aapabila pelangi tak lagi menorehkan warna-warna indah, aku tetap akan melihat keindahan dari tatapan matamu. karena matamu adalah pelita hati dalam dunia penuh kegelapan ini.wahai pelita, tetaplah bersinar walau malam telah datang dan gelap pekat telah mencekam.ahhh.. sinar itu selalu menutupi kelamnya jendela-jendela rasa yang bergerak tak teratur dalam metabolisme perasaanku.sinar itu pun bagai mentari yang memberi cahaya terang pada setiap pekat dari partikel hatiku. yaa...mentari yang selalu datang di setiap fajarku dan kuhalang pergi walau tau senja kan segera pulang.Tapi kenapa kau hanya singgah bagai embun yang menghilang terserap berlahan-lahan di telan semakin telanjangnya sinar mentari yang menyapu kisi-kisi repuh hatimu.Haruskah sang ranting ini bertanya-bertanya, mengapa angin itu selalu menyapu daun-daun kering yang begitu rapuh menempel.Seperti angin yang menyapu dedaunan. Seperti itu juga kau menyapu setiap hentak cerita mengapa aku harus bertanya kepadamu? sementara punai lain beterbangan diatas mayapada menyapaku indah.Betapa ingin kamu melegakan.. dengan suara lembut dirimu dapat selalu menemani dan mengisi kehampaan dari hidupku ini. Desiran bisik renyahmu kuharap menyusup tak terbendung menumpahkan asa yang mulai merekah.Tumbuh menjadi bait-bait harapan, beranting syair-syair indah masa depan, berbuah anggur syahdu.Betapa memabukkan.. kala desir rasa merasuki relung hampa. Tapi aku hanya temui tatapan matamu tanpa sepatah kata pun terucap.
Tetes rinai tertoreh membekas di kertas putih mengakhiri kalimat dari curahan hati yang selama ini hanya terkubur dalam lubuk hatinya.
"Nduk makan dulu nanti keburu dingin lho"
"Iya Mbah......"
Gontai dan malas, kakinya pun kembali bangkit meraba ubin tak berlantai, dingin semakin menyusup bersama hawa dingin yang terus menusuk tiap jengkal pori-pori kulitnya. Bantal kumal dan seprei putih pun membisu diantara hiasan dinding yang menatap tajam tiap laku yang Ia lakukan. Entah sampai kapan Ia harus seperti ini.
"Maafkan aku Mbah untuk kali ini Aku tidak bisa jujur"
Wisma terpaksa sembunyikan perasaanya. kembali lirik lagu itu mengusik dan mengaduk-aduk perasaannya.
Ku rasa getaran cinta di setiap tatapan matanya andai ku coba tuk berpaling akankah sanggup ku hadapi kenyataan ini oh tuhan tolonglah aku janganlah kau biarkan diriku jatuh cinta kepadanya


Maret 09

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...