""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Jumat, 03 April 2009

Di Persimpangan Putih

Deru kereta perlahan menjauh
Terus dan semakin purba lajunya
Pintu demi pintu tertutup
aku hanya terpaku, tergugu menatapnya
semakin membelah pekat fajar

Hingga sesaat sebelum jarum berdentang 3x,
aku kukuh meneruskan hingga stasiun akhir,
menggapai cintaku.
Namun pada dentang ketiga,
sebuah pesan melabuh di mataku, agar aku tetap tinggal
Pesan dari sang cinta, mengharap kehadiranku
mendukungnya di lorong lorong putih beraroma obat

Kemanusiaanku yang ternyata masih ada,
mengusik dan mendesakku untuk tinggal,
melupakan stasiun terakhir
cintaku pun terdiam

aku menunggu untuk menemui
aku pun akhirnya, mengharap keputusan
yang akhirnya hanya membisu di bangsal putih
ah…inilah persimpangan kosong yang kupilih ternyata pada akhirnya
aku berharap ia mengerti dan memahami

ya Rabbi
jika memang persimpangan ini harus aku lalui,
berilah aku kesabaran dan keikhlasan
agar aku menerima setiap rintik kenyataan dan pernyataan yang aku terima
Beri aku kemampuan untuk menerima
cintaku memang seharusnya luka

ya Rabbi bantu aku jaga cintaku yang berdiri di sisi persimpangan
Jaga hatinya dari setiap luka yang kugoreskan
Keringkan setiap memar dan sayatan yang mengucur merah
Tolong balutlah setiap inci kesakitannya
Kokohkan ia di saat dukunganku tak ada di peluknya

ya Rabbi bantu aku menjaganya
Berikanlah ia kebahagiaan yang tak mampu kucipta
Gantilah lukanya dengan balutan cinta

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...