""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Sabtu, 17 Januari 2009

Kang Toyib dan Thole

"Kerinduan tanpa batas menghantui hari-hariku menembus alam dimensi pikiran ku……. Kerinduan tanpa batas membawaku jatuh ke garis titik nadir kehidupan ini….
Sepatah kata rindu yang terucap dari suara hati ku terbawa oleh angin malam dalam mimpi indah mu…..
Semakin berulang kali kata rindu terucap dalam benak ku, semakin aku terbangun memikirkan mu….
Rasa rindu ini berkecamuk dalam sanubari ini membuat raga ini tak berdaya melawan bayang – bayang wajah mu yang selalu mengikuti ku….
Semakin hari rasa kerinduan ini merusak sayap-sayap patahku, Semakin aku terbang jauh ke langit ketujuh lalu jatuh terhempas kehadapanmu…
Sebuah kata rindu yang tidak dapat dilukiskan oleh seribu bait-bait syair seorang pujangga tanpa nama….
sebuah kata rindu yang tidak dapat diukir oleh seribu pahatan seorang seniman tanpa nama……………
biarlah senandung kisah rindu ini menemani khayalan ku…..saat aku berbicara pada dinding – dinding kamar ……."

Cats"Puisicom"09

"Mak, ini maknanya apa Mak?"

"Apalagi si Le....., kamu dapat dari mana tulisan ini?"

"Tadi aku temukan di jalan terserak dalam buaian angin Mak"

"Sudahlah Le..., masih terlalu kecil kamu tuk tahu apa makna tulisan ini...."

"Mak..... , dulu Mak pernah bilang, kalau rindu itu kangen kan mak?"

"Iya....., memangnya kenapa?"

"Berarti yang nulis ini juga lagi kangen ya Mak!"

Kupeluk Thole dan ku pangku dingin sore itu terus mengalir seiring rinai yang sejak pagi tak surut menghempas bumi. Tak pernah kusangka Thole yang masih begitu kecil begitu cepat keingintahuan dan kepekaan terhadap sekelilingnya. aku jadi semakin takut kalau-kalau ia menanyakan kenapa Kang Toyib belum juga pulang.

"Mak...!, Mak rindu nggak sama Bapak, kok Bapak tidak pernah pulang Mak!"

Berdesir hati ini begitu mendengar kata "Bapak". Thole terus memandangiku, aku jadi gelagapan sendiri.

"Kamu makan dulu ya,... kamu kan habis pulang sekolah pasti kamu capek dan lapar, makan duu ya..."

"aku belum lapar kok Mak, Mak belum jawab pertanyaan Thole, Bapak di mana Mak?"

Aku pun tak tahu harus jawab apa, Kang Toyib pergi sejak puasa ketiga saat Thole berumur empat tahun, kini tatkala Thole sudah kelas 2 SD, lebih-lebih lebaran ketiga ini Kang Thoyib belum juga pulang.

"Mak..., Thole kangen bapak Mak!, Thole sering diejek teman-teman Thole gak punya Bapak kata mereka Mak!"

"Sabar ya Le.., bapak pasti pulang, Bapak lagi kerja Le...,"

"Tapi Mak...?"

"sudahlah...., kamu tidur sana.., ntar sore kan kamu ngaji di tempatnya H.Bokir ..., kamu harus selesaiakan Juz amma kamu ya.., sambil berdoa mudah-mudahan Bapakmu segera pulang"

"Bener ya Mak., Bapak segera pulang!"

Aku hanya mengangguk tanpa bisa kukeluarkan kata-kata, seiring thole mengucapkan doa mau tidur, sembab yang kucoba tahan pun meluber tumpah hingga menetes di daguku.

"Bismikallah humma ahya wabismika ammuuuut"

Hanya dinding kamar ini yang bisa aku tatap tanpa bisa jawab, menerawang tembus sukma,

"Dimanakah kamu Kang..., kasihan Thole selalu menanyakanmu. Thole sudah besar Kang.., Thole butuh kamu"

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...