""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Selasa, 25 Agustus 2009

Di pasar saat Ramadhan Kelima Siang itu

Senja hampir tenggelam dan langit perlahan mulai berubah warna seperti arang. Gelap. Pekat. Tanah di pesisir masih basah. Sisa ombak menggenang di atas permukaan pasir. Jejak kaki masih meninggalkan dingin di pasir biru ini. Pijar cahaya lampu di rumah bambu membiaskan warna keperakan di antara deru ombak.

Pesisir tampak lengang, tak kulihat orang melintas di pesisir. Tetapi, saat aku kembali duduk di diantara bebatuan, samar-samar, aku dengar langkah orang yang berjalan dengan langkah tersaruk. Tak lama kemudian, langkah kakinya berjingkat, lantaran menghindari air di antara riak-riak kecil. Aku melongokkan kepala. Aku lihat sosok perempuan berjalan di pasir. Separuh wajahnya tertutupi kerudung sehingga mataku tidak dapat melihat wajahnya yang mulai tampak dengan jelas kala mendekat ke arahku.

Persis di antara dua batu, perempuan itu membuatku terperanjat kaget. Mulutku serasa terkunci dan mataku terperangkap seraut wajah yang nyaris aku kira seorang pengemis yang tersesat ke pesisir jika saja senyumnya tak membuatku teringat kenangan di masa lalu. perempuan itu adalah Bulan. Kulihat wajahnya murung, tak ada sebuah percakapan sehingga membuatku hanya berdiri mematung. Aku termangu menatap sosoknya. Aku pandangi dari ujung kaki sampai ujung hidung.

"Kenapa kau memandangiku seperti orang asing yang tak pernah kau kenal?"

"Aku kira kau tidak akan datang lagi ke pesisir ini," jawabku

Aku melepaskan pandanganku, seulas senyum memburai di wajahnya yang tadi kulihat nampak letih didera perjalanan. "Maaf..., aku datang tanpa ada kabar. Mungkin aku menginap di sini beberapa hari, tepatnya di rumah budhe" ucapnya ragu, seraya duduk di atas biduk yang membisu.

Aku bengong, kutatap lekat-lekat wajahnya saat ia bercerita jika kini ia begitu menderita. Tak pernah terbersit dalam kepalaku, dia bisa mempertaruhkan hidup di atas kebahagiaan yang belum terbayar.

"Aku balik ke sini, karena ingin selamat. Untung, kini selamat dan tiba di pesisir ini. Aku memang bodoh tapi kini aku sadar bahwa jalan yang kutempuh itu salah. Aku ingin menebus kesalahanku dan ingin menyelesaikan masalahku "

Hatiku tersayat. Aku seperti dibius kesedihannya.

Hari sudah gelap, perempuan yang dulu kukenal baik itu seperti menenggelamkanku dalam duka laranya, ketika adzan maghrib menggema dari mushalla di ujung kampung. Aku bergegas ke kamar mandi, melangkah keluar menuju mushalla di malam kelima pada bulan Ramadhan ini.

***
MALAM itu langit berwarna seperti arang. Gelap. Tanah di halaman rumah masih basah, ketika aku pulang dari mushalla, sehabis tarawih. Di langit, tak kulihat cahaya rembulan. Hanya titik-titik pijar bintang yang bersinar redup. Malam murung, tetapi masih memancarkan secercah cahaya. Sayup-sayup, kudengar gema tadarus dari mushalla.

Malam merambat pelan, dan aku tertidur di ruang tengah. Televisi masih menyala, ketika aku bangun di ujung fajar. Aku bangkit, membasuh muka lalu keluar membeli nasi di warung.
Kulihat Bulan membantu Budhenya menyiapkan pesanan orang-orang yang makan sahur, kusapa dan ia pun bersiap makan sahur.

Tetapi, ia tak bernafsu melahap nasi, tidak terlihat lahap. Ia masih menyisakan beberapa suapan sebelum menuntaskan dahaga dengan menengguk teh hangat untuk menghangatkan tubuh keringnya dari dingin pagi. angin pesisir masih meninggalkan dingin di fajar buta.

"Apa kau yakin besok bisa kuat puasa?" gurauku memancing keteguhannya.

"Gampang!" jawabnya lirih, "Jika tak kuat, ya makan!"

Aku tersenyum. Ia pun tersenyum. angin masih meninggalkan gigil di kaca jendela.

Imsak akhirnya memaksa kami menutup mulut dari seduhan teh hangat. Disusul adzan subuh, lalu aku menunaikan shalat.

***
ESOK HARINYA, ia datang dari pasar dengan langkah tersaruk ketika mentari berada tepat di atas kepala. Langkah kakinya masih sempat aku dengar saat aku bangun dari tidur siangku, kala kedua kakinya menerabas masuk pekarangan. Wajahnya yang tirus kemudian nongol di balik pintu.

"Kenapa kamu kelihatan kusut hari ini"

"Kamu mungkin tak percaya dengan ceritaku ini. Tadi, saat aku ke pasar, hari ini pasar penuh sesak. Entah ini cobaan dari Tuhan atau anugrah. Aku jadi uring-uringan dan tak sabar karena rasa lapar menggerogoti ususku. Karena itu, aku berjanji dalam hati kalau selesai belanja maka akan kutuntaskan rasa laparku ke warung," ujarnya membuatku penasaran.

"Tapi ini lain, aku benar-benar merasakan lapar dan haus yang membuatku pusing! Karena itu, setelah keluar dari pasar , aku segera melangkah dan mencari warung yang dapat mengobati lapar dan hausku. Sejak dari pasar, aku clingukan untuk memastikan bahwa aku tak sedang diawasi orang, lalu aku melangkah ke arah Barat agar jauh dari pasar. Tapi, belum sempat aku menemukan warung, aku justru menjumpai pengemis cilik di perempatan jalan yang membuatku kasihan. Anehnya, di wajah pengemis cilik itu, aku melihat masa laluku. Aku tidak jadi lapar dan malu jika harus masuk ke warung. Lalu, kuberikan uangku pada pengemis cilik di perempatan jalan. Aku tak jadi batal puasa...."

Aku pikir, dia tak serius. Apalagi, dia kerap berbohong kepadaku. Tapi saat kutatap wajahnya, aku tahu ia tak bohong. Selama ini tak pernah kudengar ia mengeluh dari lapar. Kala aku mengais-ngais cerita yang pernah aku dengar, aku sadar jika dia ternyata jarang makan. Lima hari selama tinggal di rumah budhenya, bahkan dia kerap kali tak makan sahur.

Aku menatap wajahnya. Aku sadar kalau wajahnya nyaris tak dipenuhi gundukan lemak, mirip selongsong topeng yang nyaris tanpa daging. Wajahnya seperti sudah kenyang dari derita, diterpa oleh kemiskinan bertahun-tahun. Dan di bulan puasa ini, aku sadar. Ia ternyata sudah bertaubat.

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...