memandang deretan lampu memanjang di antara kerlip lalulalang
dan lagilagi kamu menggoda dari balik jendela
berkendara angin kau ketuk jendela
walau aku tiada mengerti makna senyum itu
aku tahu, kau pun merindu
Literasikan hatimu dengan membaca dan menulis karya. Hiasilah hidup dengan bersastra.
Friday, November 7, 2014
Friday, October 24, 2014
Selalu Ada Malam
selalu ada malam seluas lengkung sunyi
temaram deretan senja menyepi muarakan bayang
di tepian mata
selalu ada malam menjelma dingin
merintik meresap hentakkan kantuk
terjaga menatap ilusi di ujung beranda
selalu ada malam menjelma rindu
hangat mengendap menggandeng bayangmu
menyisir gugurkan daun, rebah melayang
kau gandeng kata, dan.....
masih ada malam untuk sajaksajakku
temaram deretan senja menyepi muarakan bayang
di tepian mata
selalu ada malam menjelma dingin
merintik meresap hentakkan kantuk
terjaga menatap ilusi di ujung beranda
selalu ada malam menjelma rindu
hangat mengendap menggandeng bayangmu
menyisir gugurkan daun, rebah melayang
kau gandeng kata, dan.....
masih ada malam untuk sajaksajakku
Satu Muharam
Senja tlah beranjak tinggalkan detik berlalu begitu cepat
Almanak lusuh menggantung bisu
Tlah berlalu langkah diri
Sambut malam tuk sapa hari baru
Basuh diri dalam percik suci
Tetes membasah
Singkap debu pendarkan hasrat
PadaMu Ya Rabb kutinggalkan catatan,
Buka lembaran baru dalam restuMu
Almanak lusuh menggantung bisu
Tlah berlalu langkah diri
Sambut malam tuk sapa hari baru
Basuh diri dalam percik suci
Tetes membasah
Singkap debu pendarkan hasrat
PadaMu Ya Rabb kutinggalkan catatan,
Buka lembaran baru dalam restuMu
Wednesday, October 22, 2014
Gerimis Pertama
aroma tanah basah menyengat
menyeruak iringi gerimis pertama
mengalir perlahan melata mencari celah tanah
merembes peluk bumi, selimuti senja gelap berarak
menapak jejak, tapak terukir, lumpur menoda
hari kian merangkak cepat bawa malam tinggalkan senja
masihkah sudi kau me-Roh dalam tiap sajakku
sedang sapa hati tlah tinggalkan bibirmu
aku masih saja sandingkan wajahmu
pada tiap sajak yang kutulis
walau kini tak lagi bisa kucerita
manja pada bahumu
menyeruak iringi gerimis pertama
mengalir perlahan melata mencari celah tanah
merembes peluk bumi, selimuti senja gelap berarak
menapak jejak, tapak terukir, lumpur menoda
hari kian merangkak cepat bawa malam tinggalkan senja
masihkah sudi kau me-Roh dalam tiap sajakku
sedang sapa hati tlah tinggalkan bibirmu
aku masih saja sandingkan wajahmu
pada tiap sajak yang kutulis
walau kini tak lagi bisa kucerita
manja pada bahumu
Monday, August 11, 2014
Kertas
kertas, mana kertas
kertas yang t'lah kau nodai dengan merah
emosimu
akan kukubur anakanak yang t'lah lahir
dari rahimmu
anakanak bernama katakata yang membunuhku
perlahan
11082014
Kupinang Kertas
ciumlah kertas itu dengan rasamu lalu peluklah dalam hangatmu
ingin kupinang kertas, kunikahi dan lahir anakanak di setiap telaga malam,
hurufhuruf merangkak, berdiri dan bergandengan bahkan berlarian
Lalu, kan aku bimbing kalian hingga tercipta barisbaris baru
selipkanlah kertas pada selasela rambut harummu
biarlah angin lukiskan kabut dalam tiap lembar itu
kita benarbenar pasangan serasi serupa kekasih di malam purnama
10082014
ingin kupinang kertas, kunikahi dan lahir anakanak di setiap telaga malam,
hurufhuruf merangkak, berdiri dan bergandengan bahkan berlarian
Lalu, kan aku bimbing kalian hingga tercipta barisbaris baru
selipkanlah kertas pada selasela rambut harummu
biarlah angin lukiskan kabut dalam tiap lembar itu
kita benarbenar pasangan serasi serupa kekasih di malam purnama
10082014
Wednesday, July 2, 2014
Tiada Lagi Pelangi Untukku
Rintik satusatu begitu mendenting
menusuk meresap membawa sejuta makna
kucoba maknai kepergianmu
kucoba maknai jarum perihkan luka
menyibak waktu simponikan kidung duka
jerit lara tiada kau dengar
sayatan serupa duri kian tajam tiap detik kau tancapkan
menjerit pada ruang sepi tiada gapai jemarimu
tiada dengar rajuk manjamu
sendiri maknai puisi luka pada
langit panas merintik tetes embun
namun tiada pelangi di sana
menusuk meresap membawa sejuta makna
kucoba maknai kepergianmu
kucoba maknai jarum perihkan luka
menyibak waktu simponikan kidung duka
jerit lara tiada kau dengar
sayatan serupa duri kian tajam tiap detik kau tancapkan
menjerit pada ruang sepi tiada gapai jemarimu
tiada dengar rajuk manjamu
sendiri maknai puisi luka pada
langit panas merintik tetes embun
namun tiada pelangi di sana
Friday, June 6, 2014
Menggenang Kenangan Itu
Pernah kucoba tak lagi hadirkan kamu dalam sajakku
tentang kupukupu putih manja hinggap di daun cengkeh
tentang betapa kamu tidak menyukai "bang Rhoma" tapi kamu senang
lagu "syahdu" dalam sebuah buku
Juga tentang pantai dan laut bila senja di matamu
aku telah coba tak lagi tulis kamu dalam sajakku
tentang ego kaku, dan tak mau mengalah
tentang betapa kamu sangat senang angka itu ya "keramat"
atau pun tentang bingungmu bila diam dan menjauh
aku benar mencoba tak lagi imajikan kamu dalam sajakku
tentang ucapmu yang kadang tak sepaham dengan tatapanmu
tentang betapa senyum itu masih saja bersemayam
atau pun tentang sudut simpul di pipi ranummu
aku berkali coba tak hadirkan rohmu dalam sajakku
tapi, masih saja kamu hadir, masih saja ada kamu
mungkin memang aku belum bisa berhenti
menggenang kenangan itu, menggenang tenggelamkan kamu
dalam kata ditiap bait sajaksajakku
tentang kupukupu putih manja hinggap di daun cengkeh
tentang betapa kamu tidak menyukai "bang Rhoma" tapi kamu senang
lagu "syahdu" dalam sebuah buku
Juga tentang pantai dan laut bila senja di matamu
aku telah coba tak lagi tulis kamu dalam sajakku
tentang ego kaku, dan tak mau mengalah
tentang betapa kamu sangat senang angka itu ya "keramat"
atau pun tentang bingungmu bila diam dan menjauh
aku benar mencoba tak lagi imajikan kamu dalam sajakku
tentang ucapmu yang kadang tak sepaham dengan tatapanmu
tentang betapa senyum itu masih saja bersemayam
atau pun tentang sudut simpul di pipi ranummu
aku berkali coba tak hadirkan rohmu dalam sajakku
tapi, masih saja kamu hadir, masih saja ada kamu
mungkin memang aku belum bisa berhenti
menggenang kenangan itu, menggenang tenggelamkan kamu
dalam kata ditiap bait sajaksajakku
Tuesday, May 27, 2014
Rembulan Berkerudung
menetas perlahan lampu taman iringi redup pucat senja dalam pelukan
teriakkan ngengat, mrutu, dan serangga malam tanpa lelah putari lampu taman
bersandar pada tembok di bawah tugu kala itu
ada rasa menggelayut pada angin yang menghasut
gemerisik dedaun, klakson, serta derit sepeda tua
hantarkan hadirmu tiba-tiba rembulan berkerudung
Kau bercanda dengan rumput, kau mainkan mata indahmu pada dahan waktu
Sesekali senyum itu hantarkan jawab pada tanya yg kupendam
Rembulan berkerudung keemasan semakin silaukan senja,
pekat memudar dalam buai imaji, bersenandung hantarkan irama hati,
padamu yang hadir mewaktu, kutitipkan secuil asa.
teriakkan ngengat, mrutu, dan serangga malam tanpa lelah putari lampu taman
bersandar pada tembok di bawah tugu kala itu
ada rasa menggelayut pada angin yang menghasut
gemerisik dedaun, klakson, serta derit sepeda tua
hantarkan hadirmu tiba-tiba rembulan berkerudung
Kau bercanda dengan rumput, kau mainkan mata indahmu pada dahan waktu
Sesekali senyum itu hantarkan jawab pada tanya yg kupendam
Rembulan berkerudung keemasan semakin silaukan senja,
pekat memudar dalam buai imaji, bersenandung hantarkan irama hati,
padamu yang hadir mewaktu, kutitipkan secuil asa.
Monday, May 26, 2014
Kutitipkan Padamu Luka ini
sendiri memilah kisah tentangmu
kuserat pada derai daun-daun kehidupan
pagutan angin begitu kuat kecup luka daripada tawa
rintik satusatu nodai kisah anak manusia menyapa tibatiba
menyeruak hingga kembali menganga
berkisah tentang mata, bibir, hati yang tak selalu sama
bibirmu berkata, tapi hatimu bergolak
dan pada matamu aku temukan "kasunyatan"
kau lumuri diri dengan luka,
tuk tanggalkan setandan nyaman,
pada sajak kutitipkan luka setapak.
25052014
kuserat pada derai daun-daun kehidupan
pagutan angin begitu kuat kecup luka daripada tawa
rintik satusatu nodai kisah anak manusia menyapa tibatiba
menyeruak hingga kembali menganga
berkisah tentang mata, bibir, hati yang tak selalu sama
bibirmu berkata, tapi hatimu bergolak
dan pada matamu aku temukan "kasunyatan"
kau lumuri diri dengan luka,
tuk tanggalkan setandan nyaman,
pada sajak kutitipkan luka setapak.
25052014
Kau Hadirkan Rindu pada Jemari Senja
Kau dekap aku dalam buai jemarimu
Tikaman hasrat ikat nafas dalam seteguk nadi
Aku tak mampu berkata hanya mata kan sampaikan semua
Kenangkenanglah gemulai waktu yang terus mendetik
Sisakan nafas dalam buai keheningan
Senja tanpa eja “tertulis” cerita, masih dan masih saja selalu
ada rindu yang berlari memburu dan memaksaku untuk berkata......
Pun aku limbung dalam pause waktu yang tiba-tiba
Sandarkan engkau dalam kehangatan dadaku
Senja tak mampu kelabui malam
Menepikan kenangan dalam pelaminan alam
Kusunting tatap matamu, seirama senyum simpulmu
Tak lagi ada suara, tak ada lagi
Semua senyap sekejap sisakan pigura hati
Tertulis kata di sudut atas bertinta keringat, luka, dan airmata
26052014
Tikaman hasrat ikat nafas dalam seteguk nadi
Aku tak mampu berkata hanya mata kan sampaikan semua
Kenangkenanglah gemulai waktu yang terus mendetik
Sisakan nafas dalam buai keheningan
Senja tanpa eja “tertulis” cerita, masih dan masih saja selalu
ada rindu yang berlari memburu dan memaksaku untuk berkata......
Pun aku limbung dalam pause waktu yang tiba-tiba
Sandarkan engkau dalam kehangatan dadaku
Senja tak mampu kelabui malam
Menepikan kenangan dalam pelaminan alam
Kusunting tatap matamu, seirama senyum simpulmu
Tak lagi ada suara, tak ada lagi
Semua senyap sekejap sisakan pigura hati
Tertulis kata di sudut atas bertinta keringat, luka, dan airmata
26052014
Tuesday, May 20, 2014
Azimat Pemakaman Hati
Lalu di mana akan kusemayamkan jenazah hati yang kau penggal,
waktu kian gelisah, tak mampu sumpahi tanya yang membuncah.
luka terkafani mendung memucat bersandar pada kenangan lalu
kau tlah ucap pada senja cerita tentang tepian indah
entah kapan lagi kan ziarah pada nisan bisu
jangan kau rapal azimat tentang catatan lalu
tlah kau hapus semua, dalam sekejap tertatih,
cengkeram tanah merah teteskan peluh menahan luka
menepi sendiri pada puisi "pemakaman hati"
17 Mei 2014
waktu kian gelisah, tak mampu sumpahi tanya yang membuncah.
luka terkafani mendung memucat bersandar pada kenangan lalu
kau tlah ucap pada senja cerita tentang tepian indah
entah kapan lagi kan ziarah pada nisan bisu
jangan kau rapal azimat tentang catatan lalu
tlah kau hapus semua, dalam sekejap tertatih,
cengkeram tanah merah teteskan peluh menahan luka
menepi sendiri pada puisi "pemakaman hati"
17 Mei 2014
Tuesday, May 13, 2014
Lelaki Terluka
NASKAH MONOLOG LELAKI TERLUKA
(by Didik Al Mahadhir dan Istiqomah almaky)
(Panggung gelap, suara teriakkan berat terdengar perlahan semakin mengeras seiring lampu perlahan terang, sosok lelaki menggenggam pena dan secarik kertas membelakangi penonton)
“Akan kutulis ratusan puisi atau bahkan cerita bahwa aku sebenar-benarnya terluka!!!
Berkali kupahami peristiwa demi peristiwa, selalu saja berakhir senyum pada bibirmu sementara aku terpuruk dalam duka.”
Tik, tik, tik, tik (pegang telinga dan menjatuhkan diri tersungkur, menggigil enggan mendengar suara detik itu)
“jangan bunyikan jam itu, buang detiknya hilangkan suaranya, aargghhhh, detik itu..., ya detik itu tlah siksa aku tlah tusuk tusuk aku bertubi dalam tiap kilometer kulalui...., matikan jam itu....”
(Mencari jam di meja dan membantingnya suasana hening lelaki itu perlahan melangkah menuju kursi panjang, merebahkan diri dan masih sibuk dengan kertas serta pena di jemarinya)
“Kulangitkan doa berharap menyibak kabut tipis di remang malam, aku berkendara kunang-kunang kugendong luka, bersenandung lagu sendu, ingin kusapa ngengat dan kelelawar, mana ngengat, mana kelelawar ingin aku bercerita tentangnya yang tlah hempaskan embun sebelum pagi menjemput, di mana mereka??”
Suara ghaib muncul tiba-tiba
“Berapa kali harus kutumpahkan kata Tentang luka yang tak layak kau bawa berlayar, Cukupkanlah padaku berkabar Jangan lagi kau tebar, Di sini saja, di sini, Di ruang dadaku raungkan dukamu, Akan kugubah agar nganga lukamu terobati.”
(lelaki itu bangun perlahan melangkah mencari suara itu dari mana asalnya, gelisah dan tergagap dia mondar mandir kiri kana depan belakang terdiam di tengah panggung)
“Tak semudah itu luka kau gubah, Aku buang segala kata Agar segera berakhir, Biarpun berlembar PUISI kutulis Tetap saja ITU luka”
Suara ghaib
“Sudah kubilang berulang kali, jangan kau dekati Luka, karena luka bagimu (lelaki) akan lebih lama Membungkam malam, diam-diam dia berda di kelopak paling dalam. Bahkan Ketika mimpi menepi Ia menyergap, menyisakan geragap lalu bayang-bayang kekasih Jadi duri paling sempurna Tajamnya. Tak cukupkah kau hentikan virus lukamu itu Atau harus kuliriskan larik-larik miris, agar Engkau makin tenggelam?,”
Lelaki itu perlahan bersimpuh
“Tenggelam dalam Luka bersimbah kenangan adalah kenikmatan tersendiri, Aku masih sanggup ubah luka mnjadi cerita Satire, mellow, atau balada sekalipun, PUISI hanyalah pemadatan Luka
Bagai kukurung di kutub yang entah kapan kan kembali mencairkan airmata luka”
(suara angin menghembus kencang diam tiba-tiba suasana merasuki panggung)
“Di mana kamu... hei di mana? Mengapa kau diam?”
(berjalan mengambil tikar dan menariknya hingga terbuka, rebahkan diri perlahan )
“aku mengenangmu dengan sebenar-benarnya mengenang, walau aku tahu mengenangmu adalah memboreh luka dengan bara. Oh Tuhan......... nyenyakkan tidurku malam ini, lelapkan mimpiku malam ini, walau pun jarum kan kembali tusuk seribu kali, entah malam ini, entah esok, aku hanya ingin dekap luka lagukan hati dalam sajak kehidupan”
(musik petikan gitar mengalun iringi tidur sang lelaki itu)
“Ingin kembali kutapaki setapak penuh cerita, Pun aku terluka kini, aku ingin mengenangmu, mengenang Bias pendar aroma wangimu, mengenang Sekerat lengkung pipi ranummu, semoga kutemukan kembali fatamorgana hati hingga hilang luka ini”
(alunan lagu iringi lampu perlahan meredup dan gelap)
@5 MEI 2014
(by Didik Al Mahadhir dan Istiqomah almaky)
(Panggung gelap, suara teriakkan berat terdengar perlahan semakin mengeras seiring lampu perlahan terang, sosok lelaki menggenggam pena dan secarik kertas membelakangi penonton)
“Akan kutulis ratusan puisi atau bahkan cerita bahwa aku sebenar-benarnya terluka!!!
Berkali kupahami peristiwa demi peristiwa, selalu saja berakhir senyum pada bibirmu sementara aku terpuruk dalam duka.”
Tik, tik, tik, tik (pegang telinga dan menjatuhkan diri tersungkur, menggigil enggan mendengar suara detik itu)
“jangan bunyikan jam itu, buang detiknya hilangkan suaranya, aargghhhh, detik itu..., ya detik itu tlah siksa aku tlah tusuk tusuk aku bertubi dalam tiap kilometer kulalui...., matikan jam itu....”
(Mencari jam di meja dan membantingnya suasana hening lelaki itu perlahan melangkah menuju kursi panjang, merebahkan diri dan masih sibuk dengan kertas serta pena di jemarinya)
“Kulangitkan doa berharap menyibak kabut tipis di remang malam, aku berkendara kunang-kunang kugendong luka, bersenandung lagu sendu, ingin kusapa ngengat dan kelelawar, mana ngengat, mana kelelawar ingin aku bercerita tentangnya yang tlah hempaskan embun sebelum pagi menjemput, di mana mereka??”
Suara ghaib muncul tiba-tiba
“Berapa kali harus kutumpahkan kata Tentang luka yang tak layak kau bawa berlayar, Cukupkanlah padaku berkabar Jangan lagi kau tebar, Di sini saja, di sini, Di ruang dadaku raungkan dukamu, Akan kugubah agar nganga lukamu terobati.”
(lelaki itu bangun perlahan melangkah mencari suara itu dari mana asalnya, gelisah dan tergagap dia mondar mandir kiri kana depan belakang terdiam di tengah panggung)
“Tak semudah itu luka kau gubah, Aku buang segala kata Agar segera berakhir, Biarpun berlembar PUISI kutulis Tetap saja ITU luka”
Suara ghaib
“Sudah kubilang berulang kali, jangan kau dekati Luka, karena luka bagimu (lelaki) akan lebih lama Membungkam malam, diam-diam dia berda di kelopak paling dalam. Bahkan Ketika mimpi menepi Ia menyergap, menyisakan geragap lalu bayang-bayang kekasih Jadi duri paling sempurna Tajamnya. Tak cukupkah kau hentikan virus lukamu itu Atau harus kuliriskan larik-larik miris, agar Engkau makin tenggelam?,”
Lelaki itu perlahan bersimpuh
“Tenggelam dalam Luka bersimbah kenangan adalah kenikmatan tersendiri, Aku masih sanggup ubah luka mnjadi cerita Satire, mellow, atau balada sekalipun, PUISI hanyalah pemadatan Luka
Bagai kukurung di kutub yang entah kapan kan kembali mencairkan airmata luka”
(suara angin menghembus kencang diam tiba-tiba suasana merasuki panggung)
“Di mana kamu... hei di mana? Mengapa kau diam?”
(berjalan mengambil tikar dan menariknya hingga terbuka, rebahkan diri perlahan )
“aku mengenangmu dengan sebenar-benarnya mengenang, walau aku tahu mengenangmu adalah memboreh luka dengan bara. Oh Tuhan......... nyenyakkan tidurku malam ini, lelapkan mimpiku malam ini, walau pun jarum kan kembali tusuk seribu kali, entah malam ini, entah esok, aku hanya ingin dekap luka lagukan hati dalam sajak kehidupan”
(musik petikan gitar mengalun iringi tidur sang lelaki itu)
“Ingin kembali kutapaki setapak penuh cerita, Pun aku terluka kini, aku ingin mengenangmu, mengenang Bias pendar aroma wangimu, mengenang Sekerat lengkung pipi ranummu, semoga kutemukan kembali fatamorgana hati hingga hilang luka ini”
(alunan lagu iringi lampu perlahan meredup dan gelap)
@5 MEI 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)