""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Jumat, 15 Mei 2009

Cerita Lampu Tidur pada Dingin Dinding Kamar


Sebelum jam membangunkan azan yang tidur di kubah masjid,
saat pagi belum bisa melihat ,
tiba-tiba air hangat jatuh dari matamu
menjadi embun di ujung-ujung daun rumput,
jika harus aku menuliskan jejak-jejak kegelisahan kamu
yang tak rela meninggalkan aku,
tentu saja sajak ini akan sangat panjang,
barangkali lebih panjang dari perjalanan yang kamu tempuh sebelum tiba di sana,
di tempat kamu dipenjara kebahagiaan berbalut kegelisahan yang tak mampu kau tampung,

Lampu tidur dikamarmu tetap terjaga walau bermata rabun,
cahayanya kau biarkan separuh hidup separuh redup.
ketahuilah, mata lampu yang hingga kini masih bertahan hidup itu,
selalu bercerita kepadaku tentang kamu yang tak mau meninggalkan bayangan tubuh di dingin dinding kamar

Terdengar sangat tersiksa oleh kata itu
sementara aku tak menghendaki kau tersiksa sedikit pun
namun entah kenapa aku hanya mampu menemukan kata itu
untuk menggambarkan tentang perasaanmu
saat hendak melepaskan diri dari gelisah dan saat kamu
dipenjara kebahagiaan lain

2 komentar:

sungaikuantan.com mengatakan...

1 2 3 bismillah... PertamaXXX.....

salam kenal by wisata riaujalinan kata-ktanya... seksi bro... aku suka...

Sawali Tuhusetya mengatakan...

padahal ini bulan mei. biasanya cuaca panas dan gerah. kok bisa jadi dingin begitu, sampai2 dinding pun seperti membeku, hehe ....

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...