""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Sabtu, 09 Mei 2009

Dalam Ketidakberdayaan Masih Merindumu

Membayangkan seraut wajah yang tak nyata itu membuatku ingin melakukan sesuatu pada khayal itu. Kubayangkan kamu terbawa angin yang tak keras namun lembut, seperti yang biasa menerbangkan nyiur – nyiur di pantai. Dan kamu akan melayang perlahan dari singgasana yang tak nyamanmu itu menuju tempat yang berhingga namun aku tahu kamu akan bahagia walaupun hanya merupakan sebuah tempat yang mungkin tak kan pernah ada yang abadi di dalamnya, kecuali cinta.
Ya, cinta… aku tahu cuma itu yang kamu harap dari tempat yang bukan tidak berhingga, dan aku tahu akulah yang ada di dalam kulitnya. Meringkuk tak nyaman karena dibahanakan oleh kerinduan yang nyata walaupun hanya dalam pikiran yang tak pernah nampak dan tak pernah terucap. Menjalani perkelanaan di kulit itu tanpa pernah keluar menembus belulang dan urat – urat yang bergelimpangan. Namun aku tersiksa dan aku merasa terpaksa. Kuberjalan dan berkelana dalam kulit itu dengan seluruh penderitaanku. Kulit itu tak sesuai dengan cita dan anganku sebenarnya, dan hanya dalam kulit itu aku tak pernah keluar dan tersiksa di dalamnya, dan tersiksa oleh kata rindu hanya untukmu.
Aku rindu dan benar – benar rindu, jikalau kamu punya waktu beberapa hari seperti dulu dan mampu terbang dan tinggal menuju kulit di mana aku tinggal dengan tak nyaman namun berusaha aku nyaman – nyamankan, aku akan menyatakan aku akan bahagia dengan senyata – nyatanya. Senyata kamu yang mengucapkan kata cinta padaku, walaupun tanpa bisa bertatap wajah, dan hanya bisa merasakan kesepian dan kesenduan belaka. Namun aku percaya aku dan kamu, satu, cinta.
Tak tahu mengapa ada sesorang yang namanya pun aku tak ingat dan aku tak pernah tahu wajahnya mengatakan kita akan abadi dan dikenang, dipuja oleh kebanyakan orang yang tergila – gila akan cinta, dan kita akan menjadi contoh bagi mereka yang gila. Aku sebenarnya tak begitu percaya. Aku hanya percaya hanya Romeo dan Julietlah yang mampu mempertahankan cinta yang agung di antara mereka walaupun nasib kematianlah yang ternyata mengakhiri jawaban cinta mereka. Atau Layla dan Qays, dua pendahulu cinta yang karena sebegitu hebatnya cinta mereka berdua, hingga Qays rela menjadi si gila dan ikhlas saat orang – orang mengatakan ia adalah Majnun (gila) karena mencari Layla, tetapi ia adalah Majnun yang beruntung karena ia sempat bertemu dengan Layla. Walaupun sekali lagi, mereka tak pernah bisa bersatu.
Tak pernah bersatu? Apakah itu jawaban dari sebuah cinta? Lalu kenapa kamu dan aku merasakannya, kalau akhirnya kita terpisahkan nantinya? Dan apa guna aku terus – menerus meringkuk di kulitku ini tanpa pernah keluar, tersiksa berkepanjangan karena merindukanmu dalam nerakaku. Jika aku ingin melihat surga buatanku, aku akan mengunjungi kamu di singgasanamu, keluar dari kulitku lalu menatapmu lama dan lama sekali hingga sedikit terpuaskan. Lalu kamu akan mencium lembut kerinduanku yang terpecah, membahana perlahan dalam hangatnya pelukan. Lalu kita akan merasa bahagia tanpa ujung. Tertawa dalam kehangatan yang masing – masing dari kita perlihatkan. Tak peduli masalah dan tak peduli akan beban yang mengintai dan memasang alarm pengingat masing – masing untuk kita.
Namun tanpa kita sadari kesedihan akan menjemput akhirnya. Dan kita akan berpisah menuju tempat kita terlelap masing – masing. Dan aku akan melambaikan tangan pada segala kenanganku hari itu. Kamu dan semua yang telah kamu lakukan. Dan akhirnya aku akan pulang pada kulit tempatku meringkuk tak nyaman dan berharap ringkukan tak nyamanku itu akan sesegera mungkin usai, walaupun aku tahu itu benar – benar sulit.
***
Aku teringat saat singgasanamu tak lagi aman. Seseorang yang kusebut sebagai orang beruntung itu menghampiri singgasanamu. Merebut erat kebahagiaan kita selama ini yang hanya setengah. Orang beruntungitu mengeluarkan segala seberani mungkin dengan alasan ia mencintai yang aku cintai. Aku geram namun tak mampu marah, atau lebih tepatnya tak tahu bagaimana cara untuk marah padanya. Lalu aku hanya menangis karena kenyataan yang terjadi bahwa kamu, orang yang aku cintai tak lagi nyaman berada di singgasanamu, singgasanamu seakan menyerangmu dan bersiap penuh untuk menghujamku. Aku jelas – jelas sedih sedemikian dalam.
Kusumpah – sumpah orang beruntung itu akan tetapi aku tahu kepercumaan tindakanku itu. Aku hanya bisa diam dan hanya bisa percaya bahwa aku akan menang. Aku terus menerus mengingat kata – kata seseorang yang tak pernah aku ingat itu, kami akan abadi dan dikenang. Dan semua itu tak akan terjadi tanpa suatu pertahanan yang besar atas cinta. Ah, cinta… apakah kamu masih berharga saat ini, melihat segala kenyataan yang telah terjadi dan terus menerus mengujimu?
Kita bertahan dalam ujian terberat itu dan segala ujian yang pernah ada. Dan aku mulai tak nyaman sekali tinggal dalam kulitku, ingin kutinggalkan jauh kulitku ini hingga ruhku dapat terbang bebas dan memelukmu dalam terpaan angin yang meniup lembut rambutmu yang lurus itu, lalu aku akan memulai percintaanku yang tenang dan damai padamu dan tak perlu kita dapatkan kedamaian itu di pinggir pantai, tetapi hanya di ruang waktu yang berjarak ini. Akan tetapi apakah masih ada percintaan yang tenang dan damai saat ini? Entah. Aku masih bersyukur aku masih merindukanmu. Karena lewat merindukanmu, berarti aku masih mencoba mengingatmu dan segala tentangmu. Mencoba membiarkanmu memelukku dan mendekat mengelus wajah dan rambutku dengan semua cintamu, walaupun hanya dalam bayangan saat aku meringkuk dalam kulitku yang tak nyaman.
Ternyata rindu itu sebegitu hebat, dengan mudahnya ia memupuskan perasaan kesal karena segala yang tak kan pernah nyata, wajah tak nyata, belaian tak nyata, ungkapan cinta tak nyata, suara tak nyata, namun rindu itu meyakinkan bahwa tak usahlah berpikir akan segala yang tak nyata, karena cinta ada dan nyata, walau tak pernah tersembur ke luar permukaan kulit, hanya mampu mengendap dalam suatu tempat di dalam kulit dan otot, daging, tulang yang kita tak tahu pasti di mana, namun bersyukurlah bagi kita yang pernah merasakan dan mampu memperjuangkannya. Walaupun akhirnya berujung kelabu.
Sehingga aku akan terus merindukanmu dalam ringkukan tak berujungku di kulit yang tak nyaman ini, karena aku tahu dengan begitu aku akan memperjuangkanmu atas segala cinta yang mengendap di suatu tempat di dalam kulit dan otot, daging, tulang yang kita tak tahu pasti di mana, juga tak pernah bernama, bahkan Tuhan pun tak memberikan nama pada tempat itu. Aku akan terus begitu walaupun aku kan terus tak pernah mengerti bagaimana akhir semuanya. Walaupun aku tak pernah tahu apakah kamu juga terus merindukanku dalam singgasanamu yang tak pernah kusentuh lagi lewat nyata, dan hanya kusentuh lewat coretan kata.

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...