""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 28 Mei 2009

Ku Usung Jenazah Cintaku


Dingin tirai kenanganku
Menyerah di gurun ingatan
Terciptalah savana kehidupan
Percintaan dalam perjuangan

Kesetiaan sebagai pualam
Bisikanmu penuh pengharapan
Tiada garis tanpa batas
Segalanya kodratmu Tuhan

Alam bagai mengerti
Segala yang terjadi
Embun menitis panas
sinarkan simpati


Logika berdarah kuterima
Gugur kuntum di tengah halaman
Medan kini kurasakan sepi
terpaku pilu
Kusemaikan pepohonan kamboja dan bunganya adalah hatiku
Semua hilang dalam kedamainan
semangatku tetap bersamamu

Kan ku usung
ohh jenasah Cinta
Semadikan Nisan kasih suci

Dingin meragut kenangan
Menyeruak dari lamunanku
Percintaan dalam perjuangan
Kau Abadi Srikandi Cintaku

4 komentar:

SanG BaYAnG mengatakan...

Puisi yang lembut dan halus tersampaikan memberi satu arahan peringatan.

Anazkia mengatakan...

Hmmm, ana gak usah koment deh Pak. :)

faiz_oi mengatakan...

puisi itu sifatnya subjektif,yang paling mengerti akan ucapannya secara mandalam hanya penyairnya saja + Tuhan,yang melihat ataupun mendengar syair hanya bisa menebak/menerka,jadi pas aku raba2 judul "Ku Usung Jenazah Cintaku",ko malah puyeng ya? ga ngerti aku..hi..hi...keep smile bos..

irmasenjaque mengatakan...

puisi2 di blog ini keren2 deh...
bolehkah belajar...?

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...